Sepi

3615666159_595cd3ec26_z

Tittle: Sepi
Genre: General, Family (recommended by rapunsyoo)
Lenght: 1000+ words

Disclaimer:
This fic is 100% written by me. The plot, the actors are mine. The picture belongs to it’s owner. Please appreciate by comment. Criticize is allowed.

This fic supposed to be send into Gramedia Writing Project, but due to the schedule and also the theme (I didn’t realize the genre required until I finish writing) so it’s better if it’s published here. So please give me your comment 😦 Thankyou! ❤

***

Sepi

Namaku Sepi.

Aku selalu bangun lebih pagi, saat ayam-ayam mulai berkokok dan matahari masih berupa semburat jingga di timur. Sayup-sayup adzan dari saung-saung desa menggelitik telingaku. Setiap pagi aku akan bersembunyi di bilik-bilik kamar mandi agar tak seorang pun sadar aku sedang berada di sana. Atau kadang aku bersembunyi di balik jendela agar tak seorang tetangga sadar aku sedang mengintip dari tralis kayu jendela.

Aku adalah Sepi yang berteman baik dengan siang. Tak seorang pun pemilik rumah berada di rumah ketika siang hadir. Aku rajanya, aku pemilik rumah dan seisinya ketika siang hari. Saat pintu rumah dikunci dan jendela-jendela ditutup, aku bisa menjadi diriku. Aku bisa mendengar gaung suaraku setiap kali aku mencoba berkata, aku bisa merasakan angin mengalir melewati ventilasi depan menuju ke bagian belakang rumah. Di siang hari, di dalam rumah, aku bisa menjadi sepi.

Sepi adalah aku yang ketika senja bergilir akan duduk-duduk saja di teras depan rumah. Pemilik rumah akan menghidupkan letera dan menggantungnya hati-hati di plafon kayu agar tidak membakar atap teras yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Aku sangat suka suara bambu yang saling bergesek, pohon nangka di depan rumah yang tertiup angin senja dan langit yang mulai menghitam perlahan.

Senja adalah favoritku, saat kedua pemilik rumah dan dua anaknya akhirnya pulang. Aku berusaha agar tidak hadir di antara mereka. Aku ingin, sekali saja mereka membiarkanku sendirian.

Malam hari adalah puncak kemuakkanku. Saat mereka terus-menerus memaksaku hadir di antara mereka. Saat aku harus memenjarakan perasaan mereka. Saat kedua anaknya terasa hampir lupa cara berbicara. Saat bahkan angin-angin bisa bersuara di telingaku. Aku bisa mendengar desah nafas tertahan dari keempatnya.

Aku tidak ingin terus berada di rumah ini, aku pribadi yang bebas dan ingin pergi ke mana pun aku ingin. Aku ingin hinggap di setiap tempat yang kurasa perlu kuhinggapi. Aku ingin melihat dunia luar, tidak terkurung di rumah berlantai semen ini. Aku ingin berjalan-jalan menyusuri sungai dan sawah, membiarkan kaki-kakiku kotor oleh lumpur dan air genangan.

Sepi tidak seharusnya berada di antara mereka. Menemani setiap malam yang mereka jalani. Ibu yang menjahit di sudut ruangan, ayah yang sibuk dengan kertas-kertas dan pena tua yang tintanya sudah bocor, anak gadis remaja yang selalu tersenyum manis kepadaku, dan juga adiknya yang berusaha untuk mengusirku namun selalu gagal.

Anak pertama pemilik rumah adalah penghuni yang berteman baik denganku. Kami selalu berbincang sebelum ia beranjak tidur. Dia sering mengulang pertanyaan yang sama ‘Mengapa kau di sini?’, ‘Apa kau suka berada di sini?’, ‘Apa kau tidak ingin pergi dari sini?’ Aku tidak pernah marah dengan pertanyaannya –itu sudah sepantasnya kudapatkan. Gadis remaja itu hanya punya aku, hanya aku temannya, hanya aku yang bisa diajaknya bicara. Aku tidak pernah tahu bagaimana dia di sekolah, bagaimana dia saat bersama dengan temannya. Yang aku tahu, gadis itu membenciku dan menyukaiku di saat yang bersamaan.

Dia selalu memelukku seperti dia memeluk lututnya saat sendirian, seperti dia mendekap gulingnya erat-erat, seperti dia menjaga tubuhnya agar tidak roboh. Gadis itu mencoba mengusirku sekuat tenaganya –aku toh senang-senang saja kalau dia berhasil- tapi nyatanya, dia selalu gagal. Dia tidak sekuat kehadiranku. Karena dia hanya sendirian, karena bagaimanapun juga dia hanya gadis kecil.

Gadis itu suka memanggil namaku setiap kali dia pulang lebih awal. ‘Sepi, Sepi, Sepi’ begitu gumamnya. Aku tidak ingin mendekat padanya, dia sudah terlalu sering bertemu denganku namun, dia terus memanggilku, dia tidak berusaha menghilangkan sepi itu. Setiap kali kami berdua saja, aku bisa mendengar detak jantungnya yang pelan, kadang sengguk tangis juga ikut dalam pembicaraan kami. Tapi tidak ada air mata karena matanya sudah mengering sebelum aku sampai ke rumah ini. Dia hanya ruang kosong dan hampa.

Kalau seandainya saja aku bisa, aku ingin membuatnya menarik ujung bibirnya. Apa itu namanya? Senyum? Tawa? Sesuatu seperti itu. Tapi aku hanyalah sepi yang menggantungi angin-angin dan digelayuti rasa sedih. Bukankah dia seharusnya seperti gadis remaja di seberang rumah? Memakai pita di atas kepala, baju berwarna-warni cerah dan jatuh cinta pada para pemuda dari kampung sebelah yang selalu lewat setiap paginya. Bagaimana kehidupan berlaku tidak adil pada gadis kecilku? Bagaimana dia harus terpenjara bersamaku? Bagaimana dia harus menyalahkan diri atas kesalahan yang tidak dibuatnya?

Aku tidak pernah tahu siapa namanya, tidak sekalipun aku mendengar dia, ibu, ayah maupun adiknya memanggil namanya. Karena aku sangat menyukainya, aku ingin menamainya dengan Senja atau Fajar. Gadis itu seperti senja, sebuah pergantian antara terang menuju gelap. Gadis itu seperti fajar yang berusaha menghadirkan matahari sebagai pengusir malam –kegelapan. Aku lebih suka dia sebagai Fajar karena artinya dia akan melepaskanku suatu hari nanti.

Fajar, mempunyai rambut hitam yang indah, mata hitam yang tajam sayangnya kini terlihat sayu, tubuh tinggi dan kurus. Kulitnya tidak indah, dia tidak punya alasan untuk merawat dirinya. Untuk apa punya tubuh dan wajah yang indah kalau perasaan tidak karuan, kurang lebih seperti itu yang dia katakan padaku di suatu hari. Dia tidak mengikat atau menjepit rambutnya padahal kadang wajahnya sering tertutup oleh helai-helai rambut namun dia sangat menyukainya. Hal itu membuatnya tersembunyi. Hal itu membuatnya tidak terlihat, tidak disadari kehadirannya.

Aku membenci diriku sendiri seperti Fajar membenci dirinya. Aku tidak bisa melakukan apa pun bagi satu-satunya orang yang menganggapku teman, bagi orang yang menyadari kehadiranku untuk pertama kalinya selama eksistensi hidupku. Aku adalah alasannya dia tidak bisa berbahagia tapi dia tidak pernah cukup kuat untuk mengusirku, keluarganya yang merawatku dan menjadikanku anggota keluarga mereka. Aku selalu berusaha pergi, tapi mereka mengurungku. Aku selalu berusaha meloloskan diri, tapi mereka merantaiku. Aku selalu berusaha meminta tolong tapi tidak ada yang lain yang menyadari keberadaanku.

Sepi adalah aku. Sepi adalah teman seorang gadis remaja bernama Fajar. Sepi adalah satu-satunya yang bertahan bersama gadis itu selama masa tumbuhnya. Sepi adalah teman yang tidak pernah meninggalkannya. Sepi adalah hal yang diinkannya untuk musnah. Sepi adalah teman yang ditakutkannya akan hilang lalu dia tidak akan punya teman lagi.

Sepi akan terus menggelayutinya hingga suatu hari di mana dia sanggup mencari matahari untuk mengusir gelap. Sepi akan terus bersamanya hingga dia mampu menemukan suara dan memecah hening. Sepi akan terus menempel padanya merekatinya hingga dia mau melepasnya. Sepi akan terus berada di rumah Fajar hingga gadis itu bisa membuka suara di dalam rumahnya.

Karena tidak seharusnya Sepi berada di rumah seorang gadis remaja yang pantas ceria.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s