Kematian Rasa

Kematian itu rasanya menyakitkan tapi mudah. Pergi. Begitu saja dan tak pernah kembali.

Berandai-andai mana bila kau tak pernah meninggalkanku. Aku tak perlu mencicip luka berulang kali setelah kau pergi. Bila kau tak meninggalkanku, aku masih bersamamu tanpa perlu berusaha percaya pada yang lain yang akhirnya pun menyakitiku.

Rasaku sudah pergi entah sejak kapan. Aku bagai sendirian. Bahkan kamu yang kukira memahamiku pun meninggalkan aku.

Kematian rasa itu terasa menyakitkan kalau kau tau. Membiarkannya membekukan dan membakarmu secara bersamaan. Dia mengoyakku meruntuhkan aku sepenuhnya hingga aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Kukira aku berhenti hidup karena rasanya begitu menyesakkan. Kukira semua akan usai sesudahnya tapi ragaku masih hidup, hatiku yang mati.

Setelahnya mungkin terlampau mudah untuk dilalui. Aku kehilangan rasa layaknya rongga yang kosong. Bahkan aku lupa bagaimana beda amarah dan sedih. Mana yang lebih menyakitiku kehilanganmu atau melihat kau bahagia? Mana yang membuatku lebih sedih, terluka atau kehilangan rasa? Semua perasaan itu hampir sama. Seperti menjatuhkan berat di dada. Kebas.

Kematian rasa itu bahkan lebih baik pada akhirnya aku tak kan percaya lagi pada manusia lain. Bagiku permainan perasaan dalam hidup ini terasa konyol dan memuakkan. Aku tak ingin percaya siapa pun lagi.

Kematian ini bukan salahmu. Kematian ini pilihan. Perlindungan agar paling tidak, aku tak perlu berdarah kembali saat kamu atau lainnya bermain perasaan dan berakhir melukai aku.

KKEUT.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s