Combine as One (Chapter 6)

Combine as One

Chapter 6 – Choi Min Ho – Feeling

Minchan hilang selama berhari-hari. Aku tidak bisa memikirkan hal lain kecuali menemukannya. Aku bingung dan merasa bersalah. Menyakiti jiwa yang sudah begitu baiknya padaku? Adakah solusi yang menguntungkan kami berdua?

Aku benci ini. Tapi Minchan adalah tujuanku ketika aku sedang kesepian. Mungkin aku terlalu memanfaatkannya? Entahlah. Tapi dia kan sudah pergi. Aku belum sempat mengucapkan terimakasih padanya atau setidaknya bersikap baik padanya. Hanya itu kan yang bisa kulakukan untuk membalas nyawanya? Namun tak satu pun pernah kulakukan. Bodoh. Aku terlalu bodoh!

***

Aku sedang bermimpi. Ini sih asumsiku. Settingnya lebih mirip kotak putih. Semuanya putih. Kemudian muncul gambar-gambar berwarna hitam. Seperti film. Tabrakan itu… Aku menyaksikannya kembali. Dalam sudut pandangku dan Minchan. Aku menitikkan air mata saat dia berteriak menyelamatkanku. Bodoh. Aku benar-benar bodoh! Gadis itu terlalu baik padaku. Aku berteriak. Bingung. Satu hal yang ada dalam pikiranku, aku harus memanggilnya, kembali. Setidaknya jika dia harus pergi, aku harus bisa berterima kasih kepadanya!

Aku memenuhi ruangan itu dengan meneriakkan namanya. Dan tubuhku tertarik oleh tornado berwarna abu-abu. Dan aku terbangun.

“Minchan,” panggilku saat aku terbangun. Setengah berteriak.

“Nuga?” tanya Krystal.

“Bukan siapa-siapa. Kau masih di sini ya?” tanyaku.

“Tentu. Aku tidak akan meninggalkanmu,” katanya.

“Terimakasih, Krystal,” kataku sambil menggenggam tangannya. Dia tersenyum manis menatapku.

Aku mulai bermain pikiran lagi, hal yang paling kubenci. Aku bakal memikirkan Minchan lagi. Minchan Minchan dan cuman Minchan! Aku mulai mengalihkan pikiran ke hal-hal seperti TV an lagu. Oke ini berhasil tapi tetap tidak membuatku lupa.

“Hai,” sapanya. Membuatku kaget.

“Minchan?”

“Perlu dijawab? Siapa lagi?”

“Ya ampun kamu ke mana aja sih? Aku nyariin kamu tau gak!” aku memarahinya.

“Anggap aja aku tidur. Memangnya kenapa? Ada perkembangan apa aja? Eh kamu pulang kapan sih? Gak ada jadwal? Aku bosen liat kamar ini.” dia mencecarku dengan pertanyaan.

“Babo. Kalau aja kamu lagi di depanku, aku bakal menjitakmu!”

“Kan aku juga perlu tidur. Mengendalikan emosiku.”

“Emangnya kenapa? Marah sama aku?”

Dia cuman diam saja. Topiknya sulit.

“Minchan? Maaf.”

Dia kembali mengunci pikirannnya. Aku mencoba menembusnya tapi tidak bisa. Memaksanya dan tetap saja gagal.

“Berhentilah! Kau menyakitiku!” teriaknya.

“Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau meminta maaf. Berhentilah!” lanjutnya.

“Oh maaf,” kataku cepat-cepat.

“Sudahlah. Itu bukan hal yang penting,” dia mengalihkan topik.

“Lalu mengapa pergi?”

“Aku memikirkan hal lain yang selalu membuatku pusing.”

Bersamaan dengan itu, gambar tentang seseorang memenuhi pikiran kami. Gadis itu berambut panjang bergelombang dan berwarna coklat. Belum sempat dia berbalik, Minchan mengunci pikirannya lagi.

“Wae?”

“Aku tidak perlu menceritakannya. Tidak apa-apa tidak penting.”

“Aku kan satu-satunya temanmu sekarang.”

“Teman ya? Sejak kapan kita berteman huh?”

“Saat ini? Setidaknya kita bisa saling berbagi kan?”

Dia menimbang-nimbang sejenak. Memainkan perasaan.

“Ayolah,” rayuku.

“Oke deh. Bisa diterima.”

“Aa terimakasih Minchan. Aku mencintaimu.”

Jantungku seakan melompat. Kaget dan syok. Aku memahami kalimat terakhirku. Oh Ya Tuhan aku salah ngomong lagi. Pasti sakit buatnya. Tapi dia sudah terlanjur hilang sebelum aku meminta maaf. Parah. Kapan aku tidak menyakitinya? Kapan kami benar-benar berteman?

“Secepatnya Minho,” dia menjawab pertanyaanku. Membuatku terbengong syok.

***

Pagi ini aku sendirian. Lebih tepatnya memilih sendirian. Aku memang sedang tidak ingin diganggu. Aku kan juga butuh waktu sendirian. Minchan selalu memenuhi pikiranku bahwa sesekali aku perlu sendiri. Katanya, sendiri itu damai, tenang, dan menyenangkan. Maka aku mencobanya. Menikmati kesendirianku.

10 menit, 15 menit, 20 menit, aku mulai bosan.

“Lakukan sesuatu yang lebih berguna!” perintahnya padaku.

“Seperti apa?”

“Basket? Di sini ada lapangan basket? Atau berlari atau apa sajalah. Kau gak bisa memanfaatkan kesendirianmu,” sarannya. Mengomel.

“Oke. Aku ganti baju dulu. Kau tutup mata bisa?”

“Tanpa disuruh ya Choi Minho, memangnya aku apaan. Gini-gini aku gak pernah ngintip kamu mandi tau!”

“Oke-oke. Aku percaya deh.”

“Sejak kapan kau percaya sama aku?”

“Kapan aku ganti bajunya??!!!” aku meneriakkinya.

Dia mendesah sebentar sebelum lenyap. Pikiranku kembali kosong. Dor. Aku mengageti diriku sendiri agar tidak melamun. Menyebalkan rasanya.

Aku mengganti pakaianku secepat mungkin. Umh, basket ya? Sepertinya aku lama gak basket. Ah pasti menyenangkan bisa pamer keahlian.

Aku telah selesai berganti pakaian dan sedang berdiri di lapangan basket. Memegang bola. Hari masih pagi jadi aku bisa berolahraga cukup lama. Aku memainkan bola basket di tanganku memutarnya di atas jari telunjukku. Bola berputar tak lama kemudian hampir jatuh jika aku tak memeganginya.

“Lakukanlah lagi!” perintah Minchan.

Aku menurut. Kembali memainkan bola tersebut di atas telunjukku.

“Sekarang putarlah bolanya. Semakin cepat putarannya semakin bagus.”

“Untuk apa?”

Dia tidak menjawab. Oke aku kembali menurutinya. Bola berputar lebih stabil di atas telunjukku. Aku mengulanginya saat hampir jatuh. Wow ini keren banget. Bola ini bakal terus berputar selama aku mau!

“Mau main?” tegur seseorang. Aku kaget dan menjatuhkan bolanya.

“Memangnya kau mau?” tanyaku.

“Boleh sih. Sama mereka aja ya? ”

“Umh, oke.”

Aku berjalan menuju tengah lapangan. Ada 4 orang menunggu. Aku mendapat tim 1 orang lelaki gemuk dan satunya seseorang yang kurus dan pucat. Oh ini gak adil!

Permainan mulai dimulai dan aku menikmatinya. Ini menyenangkan banget aku lama gak seperti ini. Dan laki-laki ini jago banget. Dia udah memasukkan 3 bola ke ringku padahal aku belum berhasil memasukkan satu bola pun ke ringnya. Ah ya timnya juga kompak sih parah.

“Kau mau menang kan?” tanya Minchan mengagetkanku.

“Tentu saja!”

“Sekarang oper bolanya ke laki-laki gemuk itu!”

Aku menuruti perintahnya.

“Lari ke sudut kanan. Biar mereka yang memainkan.”

Aku kembali menurutinya.

“Tangkap bola dan berikan ke lelaki gemuk itu lagi lewat belakang. Bisa kan?”

“Kayak apa?”

“Biar aku yang mengendalikan. Bisa kan?”

“Caranya? Aku gak ngerti Minchan!”

Tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan aku tidak lagi mengendalikan tubuhku. Minchan mengendalikannya. Wow bagaimana bisa? Apalagi sih ini.

Aku malah menjadi penonton. Lebih mirip seperti itu sih. Minchan bermain sangat baik. Aku memahami jalan pikirannya. Setiap strategi yang dia bangun. Dia bisa main basket ternyata.

“Kau bisa main basket?” tanyaku.

“Jangan membuyarkan konsentrasi! Nanti aja tanyanya!”

Kenapa dia malah sibuk sendiri begini ya ampun ini kan tubuhku. Keegoisanku mulai keluar. Eh ya ampun, sekali-sekali lah dia kan juga pasti pengen bergerak. Aku kembali menekuni pikirannya. Aku mengerti sekarang apa kelemahan dan kelebihan lawan, dan timku juga. Minchan ini keren banget!

“Trims.”

Aku serasa tersedak saat dia mengomentari pikiranku.

Skor berakhir dengan 20-15 timku memenangkan game ini.

“Trims ya, Minho,” katanya. Kemudian kepalaku pusing dan aku kembali mengendalikan tubuhku saat aku membuka mata.

“Ini aneh. Bagaimana bisa?”

“Apanya?”

“Kau… mengendalikan tubuhku? Yang benar saja!”

“Oh rahasia itu.”

“Ah Minchan gak asik deh.”

“Beneran ini rahasia tau. Haha,” katanya sambil tertawa.

“Dulu kau pemain basket…?”

“Emh, aku cuma suka main basket aja. Lagian itu kan game yang bisa aku mainin sama anak-anak cowok. Aku gak punya temen cewek tau!”

“Oh ya? Kupikir kau cewek tulen.”

“Eh aku emang cewe tulen cuma aku gak suka aja main sama anak-anak cewek yang ribet gitu.”

Aku memahami bahwa Minchan ini sangat cuek. Ketera sekali dari nada suaranya.

“Bukannya kau punya Eonni?” tanyaku.

“Terus kenapa?”

“Yakan kau bakal mirip dia gitu. Ya paling enggak mencontoh dia. Atau dia juga kayak kamu gitu?”

“Yah dia mah terlalu tulen mungkin. Aku sama dia tuh beda banget tau! Aku kan lebih berisik. Aku gak nyangka kau bakal banyak bicara gini Minho. Beneran kupikir kau pendiem banget. Lebih mirip patung,” katanya kembali sambil tertawa-tawa.

“Gimana aku bisa diem kalau di kepalaku ada anak yang selalu mencecarku dengan pertanyaan, cerita aneh, dan lain sebagainya!” sindirku.

“Ya deh, maaf ya.”

“Niat gak tuh minta maafnya?”

“Niat dong. Minchan gitu.”

“Eh kok kamu gak pernah cerita soal keluargamu?”

“Aku gak mau mikirin mereka. Lebih mudah kalau aku mencoba ngelupain mereka. Aku kan sudah mati,” jawabnya sedih.

“Oh, maaf, Park Minchan,” aku merasa bersalah.

“No problem.”

“Tapi kau gak bakal mati di hati mereka kok. Aku yakin,” hiburku.

“Terimakasih Choi Minho. Itu berarti banget bagiku.”

“Aku senang berarti buatmu. Setidaknya cuma itu kan yang bisa kulakukan buatmu?”

“Yap.”

Kami kembali menjaga pikiran masing-masing. Aku masih bisa melihat pikiran yang tak dia jaga dengan ketat. Dia memikirkan jawaban terakhirnya. Aku tau apa yang akan dia katakan atau lebih tepatnya apa yang sebenarnya ingin dia katakan.

“Kau kan udah berarti banget buatku. Sejak dulu. Kau cuman terlalu bodoh gak mengerti itu. Selalu saja ya semua laki-laki seperti itu. Gak peka. Oh dan ya, kau kan cuma butuh berbahagia untuk membuatku bahagia. Sorry sih soal Krystal. Aku emang iri sama dia. Tapi bener deh Minho aku rela kamu sama siapa pun selama kamu bahagia. Seandainya aku punya keberanian buat ngomong, aku bakal ngomong kalo aku itu cuma pengen kamu bahagia. That’s what I called Love. Making you happy in your… err second life?”

Aku bergidik. Sedalam itu kah perasaan gadis ini? Aku kembali merasa bingung. Manakah yang harus kulakukan? Membahagiakannya? Dengan cara yang dia inginkan sepertinya bisa dicoba, aku cuma butuh bahagia. Benarkah dia akan bahagia? Kenapa aku tidak yakin? Bukankah wanita selalu ingin cintanya terbalaskan? Rumit. Aku memang tidak pernah mengerti cara berpikir mereka.

Tapi dalam setiap pikirannya tadi, dia benar-benar bersungguh-sungguh. Aku masih menjaga pikiranku sebaik mungkin. Takut dia mencuri dengar. Jadi dia benar-benar rela berkorban? Setelah nyawanya, jantungnya, ginjalnya, kini perasaannya? Tegakah aku merenggut segalanya dari dia? Semua yang seharusnya menjadi miliknya? Aku sudah mengambil 3 yang penting lalu sekarang satu lagi? Dan sepertinya aku tidak memanfaatkannya dengan baik. Pantaskah aku berbahagia di atas sakit hatinya? Atau kalau boleh kubilang, pengorbanannya yang terlalu mustahil dilakukan oleh orang lain.

Aku menghembuskan nafas panjang. Dia juga telah memberikan kebahagiaan untukku. Apalagi yang harus kudapatkan darinya? Entahlah seakan semuanya kurang dan belum cukup saja.

Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan menanyainya soal permainan tadi. Dia menjelaskan banyak hal padaku. Setidaknya ini bisa menjadi pelarian sementara dari pikiran yang menyesakkan seperti tadi.

***

“Selamat pagi Choi Minho,” sapanya padaku.

“Ne, pagi Park Minchan.”

Aku bangun dan menghadapi rutinitas pagiku seperti mandi, sarapan dan sebagainya. Pukul 09.00 Dokter Dongjin tiba di kamarku.

“Pagi Dokter,” sapaku masih setengah mengunyah sushi.

Aku tersedak dan langsung meraih air putih.

“Ah ya ampun Minho kalau makan gak usah nyapa,” kata Dokter Dongjin sambil geleng-geleng kepala. Aku cuma meringis.

“Bagaimana harimu? Udah dua hari aku tidak mengunjungimu. Dia masih sering ke sini ya?” tanya Dokter Dongjin.

“Siapa?”

“Gadis itu. Yang kurus tinggi putih berambut panjang. Dia pacarmu ya?” tanyanya lagi. Menggodaku.

“Krystal? Bukan. Memangnya kenapa?” aku balik bertanya.

“Tidak apa-apa. Sepertinya dia naksir padamu.”

“Ya ampun Dok. Kau kan udah ehek, tua tapi sumpah nih jiwamu muda banget. Masih sempet-sempetnya godain aku.”

Dia mulai serius memeriksaku. AKu agak khawatir dengan mukanya yang tegang, mengendur, kembali tegang dan terus begitu. Apa jantungku aneh? Walau aku merasa biasa saja sih. Kan pemiliknya sering marah saat aku membicarakan Krystal. Upss apakah dia dengar itu? Kuharap tidak. Bisa-bisa aku serangan jantung dadakan.

“Ada yang salah ya?” tanyaku khawatir.

Dokter Dongjin tidak menjawab pertanyaanku. Menulis hasil pemeriksaannya.

“Dok?” ulangku.

“Tidak. Justru kupikir kau perlu berkemas-kemas.”

“Aku boleh pulang?” tanyaku kegirangan.

“Umh, harus banyak istirahat seminggu ke depan tapi kufikir akhir bulan ini kau sudah bisa mejalani jadwalmu. Ah Minho, aku bakal merindukanmu.”

“Dokter jangan gitu ah. Aku bakal sering main ke sini kok. Sesibuk apa pun Shinee nanti Dokter gak akan terlupakan. Kan karena dokter juga aku bisa kembali.”

Aku memeluk Dokter Dongjin yang selama hampir satu tahun ini menjadi teman terbaikku. Menjadi ayahku. Aku menyayanginya untuk alasan yang jelas dimengerti semua orang.

Aku turun dari tempat tidurku. Agak merasa aneh juga karena 3 hari ini aku tidak memakai infuse. Tapi itu justru baik sih.

Aku berjalan menuju almari pakaianku dan mengemasi pakaianku. Aku tidak akan lagi tinggal di sini, batinku. Aku mulai mengemasi seluruh barang yang ada di ruangan. Parfum, segala macam gadget, obat dan lainnya. Dokter Dongjin dengan setia menemani serta membantuku.

“Kau pulang naik apa?” tanya Dokter Dongjin.

“Entahlah. Menelepon Minsuk mungkin. Tapi aku lebih baik memanggil taksi.”

“Kalau ku antar saja bagaimana?” tanya Dokter Dongjin.

“Baiklah. Ke dorm Shinee saja. Aku mau pulang. Aku kangen sekali dengan mereka.”

“Ke mana pun yang kau mau,” katanya sambil keluar. Kepikir dia mengambil kunci mobil.

Aku menggeledek koper besarku keluar kamar. Semuanya sudah bersih. Tak ada yang tersisa. Aku mencangklong tas besar. Aku memandangi berkeliling. Ah ya ampun teddy itu. Hampir saja lupa. Aku mengambilnya dan tertegun sejenak. Memikirkan pemberinya. Kemudian keluar dan menutup pintu rumah sakit itu. Baiklah kuharap aku tak kan dirawat lagi di sini. Aku berjalan menuju pintu keluar.

“Kenapa kau senang?” tanyaku pada Minchan.

“Mwo?”

“Aduh jangan pura-pura gak ngerti gitu Park Min Chan.”

“Sejak kapan kau jadi cerewet Choi Minho?”

“Sejak kau ada di kepalaku. Sepertinya kau mengajariku banyak kosakata sehingga aku selalu punya hal untuk dikatakan.”

“Beneran itu maksa banget!”

“Jawab pertanyaanku tadi bocah tuyul!”

“Yang mana?”

“Kenapa kau senang? Ah sebodo amat ngomong sama orang gila mana ngerti.”

“Ciye manyun. Haha ya gak papa dong kan sekali-kali.”

“Gila.”

“Emang.”

“Menular.”

“Kau kan juga udah tertular. Gak usah munafik! Kekeke.”

Aku membayangkan dia sedang menari di depanku berputar-putar seperti orang gila di sepanjang lorong. Tiba-tiba aku berhenti.

“Kenapa berhenti?” tanyanya.

Aku kembali teringat saat suara-suara memenuhi kepalaku. Saat aku koma, antara hidup atau tidak. Boneka, nyawa, Tuhan. Jantungku berdetak kencang, keringatku mulai menetes padahal hari tidak panas.

“Kau kenapa?” tanya Minchan lagi.

“Minho! Jawab aku? Kau kenapa? Apa yang bisa kulakukan? Minho tolong jangan begini. Ini menyulitkanku!” katanya. Meneriakkiku.

“Jika kau yang menukar nyawa, kau yang berdoa di saat aku koma, kau juga yang memberi boneka ini?” tanyaku.

Dia hanya diam saja. Takut menjawab atau bingung.

“Memang itu merubah keadaan?” tanyanya.

“Tidak kufikir. Tapi itu benar kan?”

“Kufikir kau tau jawabannya,” jawabnya kemudian menghilang.

Jadi kami pernah bertemu. Fans terakhir yang kutemui? Maksutku, saat kecelakan itu kufikir dia fans terakhir yang kutemui. Aku merasa aneh. Perasaanku kacau balau. Mengingatnya menatapku menohok hatiku. Aku masih ingat tatapan berbinar gadis itu, dia kini sudah tiada. Aku merasa kehilangan padahal aku kan bukan siapa-siapanya tapi aku benar-benar tidak rela melihat cahaya itu lenyap dari matanya.

“Jangan menyalahkan diri sendiri. Itu kemauanku. Sudahlah. Itu tidak penting. Ayo cepat turun. Kufikir Dokter Dongjin sudah menunggu kita di bawah,” katanya tiba-tiba.

Aku menuruti apa yang dia inginkan. Untuk pertama kalinya, aku bukannya merasa ingin membalas budi baiknya, tapi aku merasa bahwa aku memang membutuhkannya. Aku berjanji pada diriku sendiri tak akan pernah melenyapkannya walau dalam posisi apa pun. Aku tidak akan egois lagi, tidak kepadanya. Perasaanku berubah seketika. Aku merasa bersyukur bahwa aku dicintai dengan begitu dalamnya. Minchan, membuatku mengerti apa yang dimaksut cinta. Kufikir ini memang rumit, tapi begitulah kenyataannya kau rela mengorbankan apa pun jika telah jatuh cinta. Hanya untuk melihat orang yang kau cintai bahagia.

Park Min Chan telah mengubah pandanganku terhadap hidup keduaku…

Combine as One (chapter 5)

Combine as One

Chapter 5 – Choi Min Ho – Terbuang

Aku menikmati suasana ini. Taemin mengajakku menari walau aku tidak boleh kelelahan. Aku renyum di sana sini. Secepat itukah jantung ini bisa diajak berkompromi? Aku heran dengan Dokter Dongjin yang biasanya sangat mengkhawatirkan kondisi jantungku. Aku baru saja tersadar dari obat biusku kan. Umma justru bilang bahwa aku tidak perlu khawatir soal itu, Dokter Dongjin tau mana yang terbaik untukku.

Aku senang para fansku tersenyum. Kebanyakan dari mereka justru menangis waktu aku melihat mereka. Yang terbaik, pesta kembang api khas mereka. Ini indah. Terimakasih Tuhan sudah memberiku jantung baru. Kesempatan hidup kedua.

Deg. Jantungku seakan melompat. Bukan sakit, hanya mengingatkan. Pikiran itu. Gadis yang ada dalam otakku. Terlalu jahatkah aku? Tidak termaafkan? Aku tidak tau.

“Kau kenapa, Oppa?” tanya Krystal padaku.

“Tidak apa-apa. Apa kabar? Lama tidak bertemu,” kataku.

Kami berpelukan.

“Merindukanku ya?” godanya.

“Kau pasti lebih merindukanku,” aku balas menggoda.

“Sangat merindukanmu kalau begitu!” katanya.

“Aku lebih merindukanmu.”

“Aku lebih dari lebih merindukanmu.”

“Aku lebih dari lebih dari lebih merindukanmu.”

Dia hanya tertawa.

“Oya, selamat ulang tahun,” katanya sambil mencium pipiku. Aku salah tingkah.

“Oh, emh, terimakasih,” aku tersenyum tulus. “Kau baik banget,” kataku.

“Masak cuma dengan begitu aku dibilang baik?”

“Bagaimana dengan jahat? Kau tidak mau menjadi baik kan?” candaku.

“Tentu aku mau! Ah yasudah aku baik saja. Kau yang jahat!”

“Aku juga baik!” aku protes.

“Baik dari mana,” katanya dalam pikiranku.

“Diamlah!” bentakku.

Dia kembali menghilang.

YoonA noona memberikanku kado berupa bola basket bergambar wajah chibiku. Lucu juga. Changmin Hyung malah memberiku hadiah sebotol sampanye yang langsung kutolak. Dia malah menghabiskannya bersama Kyuhyun Hyung, Sungmin Hyung dan beberapa lainnya. Kado terindah bagiku adalah aku bisa memeluk keluarga Shineeku yang paling aku rindukan. Onew Hyung, Jjong Hyung, Key Hyung, Taeminnie, dan Shawol. Hidup ini indah.

Pesta sudah usai karena satu jam lagi hari berganti. Aku harus kembali ke ruang rawat. Aku bertemu dengan Krystal di lorong.

“Hai,” sapaku.

“Oh hai,” jawabnya.

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Keluar. Mau balik ke kamar ya? Aku antar mau gak?” tawarnya.

“Boleh,” jawabku.

Kami bergandengan sepanjang jalan. Aku senang berada di samping Krystal. Dia gadis yang menarik, baik dan cantik. Aku senang tertawa bersamanya. Dia lucu.

“Nah sudah sampai,” katanya sambil melepaskan tanganku.

“Kau mau pergi?” tanyaku memgang tangannya.

“Eh? Memangnya kenapa?”

“Mau menemaniku gak? Kita kan udah lama gak ketemu,” kataku.

“Sepertinya menarik.”

Aku senang mendengarnya, aku memeluknya.

Kami hanya berbincang-bincang. Dia tinggal cukup lama. Krystal sangat mengerti posisiku. Dia mau menerimaku apa adanya. Mungkinkah aku mencintainya?

“Menurutmu bagaimana?” tanya pikiran itu.

“Kau ngapain sih. Ganggu.”

“Oke. Silahkan bermesraan dengan gadismu yang menyenangkan, lucu dan lain sebagainya.”

“Diam!”

“Aku mencoba diam! Jangan membentakku!”

Aku menggebrak meja di depanku. Mengagetkan Krystal.

“Waeyo, Minho?” tanya Krystal.

“Anio. Tidak apa-apa. Aku hanya agak pusing,” aku berbohong.

“Baiklah mungkin aku terlalu lama di sini. Aku akan memanggil perawat untuk memasang infusmu. Istirahatlah,” katanya.

Aku memeluknya lagi. Lalu mencium keningnya.

“Terimakasih,” kataku.

“Oke tidak apa-apa Minho. Aku senang melakukannya.”

Aku menarik tangannya lagi.

“Krystal,”

“Ne?”

Aku mencium pipinya. Terasa lembut.

“Aku permisi dulu,” katanya sambil berlalu. Pipinya berwarna merah. Akankah dia juga menyukaiku?

Aku memilah-milah kemungkinan kebahagian dan yang melukaiku nantinya. Sepertinya aku bakal bahagia kalau seandainya aku bakal bersama Krystal. Setidaknya selama ini aku bahagia jika selalu bersamanya. Di sampingnya selalu membuatku nyaman.

“Kau bisa kan menjaga pikiranmu itu?” bentak pikiran yang lain.

“Kenapa? Kau tidak suka?” aku mencoba meneriakkan pikiranku. Seakan tamparan.

“Setidaknya kau kan bisa menghormati perempuan!” dia membentak.

“Salah siapa kau ada di sana? Salah siapa kau mau menukar nyawamu?”

Aku menggebrak meja di depanku. Di luar kemauanku. Aku terhenyak. Sepertinya dia kelewat marah. Aku merasakan sakit hati dan terluka memenuhiku. Bukan perasaanku. Perasaannya.

“Seharusnya aku tidak melakukan itu. Bodohnya aku. Maaf. Aku hanya seorang…” katanya, terluka. Dia tidak meneruskannya. Pikiran itu lebih mirip suatu silet yang mengiris kulit. Bukan sakit tapi perih.

Jantungku memompa cepat. Dia tidak menyukaiku sekarang. Apalagi aku sudah menyakiti pemiliknya. Aku merasa bersalah tapi tidak menunjukkannya Aku perlu waktu untuk memahami ini semua.

Seorang perawat masuk dan memasangkan infuse untukku. Aku kembali berbaring. Merasa tidak berdaya kembali. Ruangan berubah menjadi sepi, dia lenyap. Benar-benar tidak ada. Aku memejamkan mata. Tidur adalah hal yang kubutuhkan saat ini.

***

Hari-hariku di rumah sakit membosankan. Minsuk sering pergi. Dia tidak bisa terus-terusan cuti. Sesekali anak Shinee mengunjungiku. Mereka masih sibuk menyiapkan album baru. Aku mungkin harus banyak bekerja keras ketika keluar dari sini. Aku tidak mau menggagalkan harapan mereka.

Aku sering sendirian. Membaca buku dan berjalan-jalan. Aku mati bosan. Dokter Dongjin sering menemaniku, dia sepertinya tau aku butuh ditemani.

“Dokter itu ke mana,” tanyaku pada Dokter Dongjin.

“Oh Rara. Dia keluar dari sini. Pindah sejak beberapa hari yang lalu. Dia kembali mengalami masa sulit. Dia pergi ke luar negeri melanjutkan studinya,” jelas Dokter Dongjin.

“Umh,” kataku kecewa.

“Aku permisi dulu. Maaf ya,” kata Dokter Dongjin sambil memberesi barang-barangnya.

“Tidak apa-apa dokter.”

Aku kembali merasa keseepian. Lebih tepatnya semakin kesepian. Aku mencoba menelefon Taemin tapi HP nya mati. Begitu pula dengan yang lainnya. Mereka sedang sibuk sepertinya.

Tiba-tiba aku merindukannya. Biasanya dia berisik di pikiranku.

“Hai, halo kau di sana?” tanyaku pada pikiran itu.

Tak ada jawaban. Aku merasa hampa.

“Hai, jawablah! Aku sendirian,” ulangku lagi. Masih tak ada jawaban.

“Ah sudahlah tidak ada artinya berbicara denganmu,” kataku lagi. Kesal.

***

Sudah dua minggu aku di sini dan aku justru bakal gila seandainya aku tidak segera dikeluarkan dari sini.

“Woi! Aku membutuhkanmu tau!” aku meneriakkinya.

“Oh ya?” tanyanya datar. Benar-benar tanpa nada.

“Ke mana aja sih?”

Dia diam saja.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Park Min Chan.”

“Umurmu berapa?”

“Tujuh belas. Ada apa? Tumben kau menyanyaiku?”

“Aku hanya ingin tau. Seandainya aku bisa melihat wajahmu.”

“Tutup matamu!” perintahnya.

Aku menurut. Awalnya aneh. Kepalaku agak sedikit pusing. Kemudian aku melihat bayangan seorang gadis di kaca. Seakan itulah bayanganku.

“Kau melihat apa yang aku lihat,” katanya.

Aku perlu memahami perkataannya. Jadi akan seperti memori bagiku? Bisa diterima.

Minchan suka menggunakan kaos. Itu kesimpulan pertama. Rambutnya panjang berwarna hitam jika pada tidak terkena cahaya dan coklat jika terkena cahaya. Cantik. Matanya berwarna kecoklatan. Kulitnya sangat putih seputih Kyuhyun Hyung. Dia memiliki kelopak mata asli yang tidak dimiliki oleh orang Korea asli.

“Darah campuran?”

“Kayak di Harry Potter aja. Gatau hehe. Setauku aku lahir dan besar di sini. Orangtua ku juga cuma di sini. Mereka tidak memberitauku soal keluarga mereka. Sepertinya bukan hal yang baik. Dan aku tidak mau mengetahui hal itu,” jelasnya.

Aku kembali terlarut bersama kenangannya. Mirip film yang tidak jelas mau dibawa ke mana. Tidak ada arah. Aku hanya perlu memahami wajah gadis itu. Tingginya mungkin sedadaku atau lebih tinggi? Entahlah. Dia tidak terlalu dekat dengan para gadis. Katanya kurang menarik. Aku tidak peduli. Film itu berhenti saat ia memutar wajah teman kakaknya, Chan Gi. Dia seperti mual. Menghentikan semua pikirannya mengalihkan pikiran.

“Memikirkan kakakmu?” tanyaku.

“Emm, bisa ditebak ya?” tanyanya.

“Memangnya kakakmu seperti apa? Mungkin aku bisa mencarinya dan mengatakan bahwa kau masih ada dalam kepalaku.”

“Tidak perlu Minho. Biarkan dia mencoba melupakanku.”

“Memang kau tidak merindukannya?”

“Tidak merindukannya? Aku sangat merindukannya tau! Tapi ya sudahlah. Ngapain mikir itu.”

Aku heran kenapa aku tidak melihat wajah kakaknya. Bahkan namanya aku tak tau. Dia mencoba menutupinya sepertinya.

“Kau bisa mengendalikan pikiranmu ya?” tanyaku.

“Ya begitulah. Agar kau gak keganggu lagi.”

“Oh!” aku kaget. “Maaf ya soal beberapa hari yang lalu. Aku membentakmu.”

“Aku sudah memaafkannya sebelum kau minta maaf.”

“Umh, oke. Terimakasih.”

Dia diam saja.

***

Belakangan ini Krystal banyak nongkrong bersamaku. Dia sering menemaniku seharian. Hal itu jelas mengurangi frekuensi berbicaraku dengan Minchan. Krystal tidak suka aku melamun, berfikir atau membiarkanku bermain dengan pikiranku. Sepertinya dia tau, atau mungkin punya firasat untuk hal itu. Hal itu juga menurunkan tingkat kegilaanku.

“Kau idiot!” kata Minchan tiba-tiba.

“APA?”

“Mau ku ulang? Bodoh kau tidak mendengarnya?”

Aku tau dia bosan setengah mati. Dia sedang mencari topik.

“Mau makan apa, Minho?” tanya Krystal.

“Pancakes? Grilled Cheese Sandwich? Terserahlah.”

“Sejak kapan kau suka makanan seperti itu?” tanya Krystal heran.

“Sejak aku menginginkannya!” teriak Minchan di kepalaku.

“Diamlah. Kau menyulitkanku,” perintahku pada Minchan.

“Ya sepertinya enak sih,” aku mencari alasan.

“Umh, oke. Aku akan tanya Dokter dulu apa kau boleh makan itu,” kata Krystal.

“Oke. Terimakasih Krystal. Kau yang terbaik.”

“Huh! Kenapa kau selalu menganggapnya manis?” tanya Minchan sewot.

“Kenapa sih. Kau gak suka sama dia ya? Bagaimana kalau sama YoonA noona? Kau mau aku sama siapa? Kau? Kau kan gak ada,” cibirku.

Dia sepertinya tersinggung.

“Aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku kok. Silahkan saja lakukan apa yang kau sukai. Aku tau aku sudah tak ada,” katanya sebelum pergi. Dia kembali hilang.

“Minchan!” aku mencoba memanggilnya.

Dia tidak menjawab. Keheningan kembali melingkupiku. Aku merasa bersalah.

“Hai, lama menunggunya ya?” tanya Krystal sambil membuka pintu. Dia membawa dua piring berisi pancake strawberry.

“Tidak kok.”

Aku memakan pancake ku bersamanya.

“Krystal,” kataku begitu kami selesai makan.

“Ya?”

Aku mendekatkan tubuhku kepadanya. Dia tidak menjauh. Aku menahan tangannya. Aku menatap matanya lurus-lurus, mungkin membuatnya terpaku. Perutku justru mulas, jantungku mulai sakit. Wajahku semakin dekat dengan wajahnya, dan semakin dekat, dan aku menciumnya. Dia membalas ciumanku. Lembut, sederhana. Prosesnya hanya sebentar karena jantungku tidak menyukainya sehingga aku menarik diriku menjauhinya. Membuatnya kaget.

“Aku keluar dulu ya, kau tidak apa-apa kan?”

“Tidak-tidak. Pergilah. Aku baik-baik saja.”

“Istirahatlah.”

Aku berbaring di tempat tidurku. Memaksanya bicara padaku.

“Katakan aku kenapa?!” teriakku padanya.

Tak ada hal lain. Aku merasa bodoh. Selama ini aku membayangkan seorang berbicara denganku padahal itu hanya aku sendiri? Imposibble ya ampun ini keterlaluan.

“Aku benar-benar ada!” teriaknya. Marah saat aku memikirkan bahwa dia hanya hayalanku.

“Bagaimana mungkin kau nyata?”

“Aku tidak tau. Suatu saat kau akan tau.”

“Kenapa jantungku seperti tadi?”

“Reaksiku berlebihan. Maaf. Aku tidak bisa menahan diri,” jelasnya.

Aku tau perasaannya. Seakan aku yang mengalaminya. Bingung karena harus bagaimana. Aku tidak ingin menyakitinya tapi aku juga tak ingin mengabaikan perasaanku.

“Aku tidak apa-apa. Berbahagialah,” katanya. Kemudian dia menghilang.

Kata terakhirnya menusukku hingga ke dalam. Benarkah aku dibolehkan berbahagia? Dengan menyakitinya? Sebagian hatiku menolak keegoisanku tapi separuhnya justru memaksaku untuk memenuhi hakku. Mana yang harus kupilih? Aku mencoba memahami apa yang aku inginkan namun tak sanggup memutuskan. Aku menjaga baik-baik pikiranku, takut tiba-tiba Minchan mendengarnya tanpa sengaja.

Entah sampai mana aku berkelana aku tidak tau. Memilah mana yang baik mana yang buruk. Kemungkinan bahwa dia akan mengambil jantungnya kembali membuatku bergidik. Sesulit inikah jika satu tubuh dihidupi dua jiwa? Aku pusing memikirkannya. Benarkah dia nyata? Haruskah aku menomor satukan perasaannya? Atau justru aku sudah kelewat egois untuk hal ini? Aku memejamkan mataku. Tidur adalah hal terbaik, begitulah kata gadis ini, Minchan.

Combine as One (chapter 4)

Combine as One

Chapter 4

Park Hyun Ra

Aku kaget saat akan membayar makananku. Bukannya aku tadi sudah membawa dompet? Aku yakin seyakin yakinnya. Perasaanku tiba-tiba menjadi tidak karuan. Aku meninggalkan makananku di meja kasir. Berlari menuju rumah sakit.

Sulit untuk masuk ke dalam rumah sakit karena banyak orang berkumpul di depan rumah sakit. Menyalakan lilin sepertinya. Beberapa diantaranya menangis dengan hebat. Sepertinya rombongan itu belum cukup saja, masih terus berdatangan orang-orang yang lain. Sepertinya ada artis yang sakit parah, atau emm entahlah mungkin akan meninggal. Aku melihat beberapa tulisan besar ucapan semoga lekas sembuh dan wajah yang tidak terlalu jelas karena hari masih pagi.

Aku tidak terlalu memikirkan hal itu, ada yang lebih penting, Min Chan. Perasaanku sungguh tak nyaman.

Aku tiba di kamar dan tak menemuinya. Aku panik dan bingung, berteriak-teriak. Hingga seorang suster masuk dan menenangkanku. Aku duduk sementara suster itu mencari Min Chan. Aku mengalami mual yang biasa disebut khawatir berlebihan.

Mungkin hampir 15 menit aku menunggu. Hingga beberapa orang masuk sambil mendorong tempat tidur. Tubuhnya di tutup kain putih. Aku seperti tersengat listrik. Aku hampir pingsan. Aku berjalan mendekatinya. Membuka kain tersebut. Dugaanku tepat, Min Chan. Aku menjerit dan menangis histeris. Aku menyentuh tangannya dan menggenggamnya, dingin. Benarkah dia pergi? Bukankah dia tadi terlihat sangat sehat?

Aku menciummi tangannya. Melihat wajahnya, dia tersenyum bahagia. Terlalu bahagia untuk ukuran senyum Min Chan. Tangan kirinya seperti habis menggenggam sesuatu.

“Dia kenapa?” tanyaku. Tidak percaya. Masih menggenggam tangannya.

“Ditemukan begitu di atas kursi rodanya, tidak ada tanda kecelakaan atau luka lain selain lukanya kemarin,” jelas seseorang.

Aku tidak peduli ini Rumah Sakit atau apa. Aku juga tidak peduli bahwa aku dokter di sini, aku hanya ingin Min Chan.

“Min Chan, bangunlah. Bangun, Min Chan,” kataku sambil mengguncang-guncang tubuhnya.

“Dia sudah pergi, Dok,” kata seorang suster.

“Dia tidak pergi. Yakan, Min Chan? Kau gak akan meninggalkan Unni kan?”

“Kami hanya mau memberitahumu bahwa dia telah mendonorkan tubuhnya. Bolehkan kami mengambilnya sekarang?” tanya seorang perawat sambil menyodorkan surat donor Min Chan.

“Ne, tentu, apa pun yang membuatnya bahagia,” kataku sambil melepaskan genggamanku.

Min Chan telah pergi. Meninggalkan aku. Setega itukah Tuhan padaku? Bukankah dia baru saja mengambil Umma? Maksutku, aku kan belum bisa menerima itu walaupun sudah beberapa tahun. Aku tidak ingin Min Chan pergi. Siapa yang akan mengurusnya di sana? Siapa yang nanti akan mendengarkan tangisku? Aku sendirian. Seakan masuk ke lubang yang gelap, pandanganku mulai kabur dan semuanya menjadi gelap.

“Min Chan di mana?” tanya Chan Gi begitu aku sadar.

Aku tersedak saat meminum espresso hangatku.

“Aku tidak melihat dia,” katanya lagi.

“Ti-dak akan pernah me-li-hat dia… lagi,” kataku.

“Maksutnya?”

“Dia… … per-gi. Benar-benar…” aku menghela nafas panjang untuk menyelesaikannya, “pergi.”

“Bukankah tadi pagi kau bilang Min Chan baik-baik saja?” tanyanya syook.

“Tadinya. Aku juga tak tau,” jawabku menyandarkan tubuhku yang terasa terlalu berat ini ke tembok.

“Dia pergi?”

Aku diam saja.

“Bagaimana bisa?” tanyanya lagi.

“Aku tidak tau. Dia ditemukan begitu.”

“Tidak ada luka lain…” lanjutku.

“Aku tidak mengerti,” ucapnya frustasi.

“Aku lebih tidak mengerti.”

Aku menyandarkan tubuhku ke bahu Chan Gi. Aku tidak sanggup kehilangan lagi, setelah Umma. Tapi aku selalu dipaksa kehilangan. Jika seseorang yang menjadi tumpuanku pergi, ke mana lagi aku harus bertumpu di saat terjatuh?

***

Karangan bunga terus-menerus datang. Aku tidak menangis. Kelewat lelah mungkin. Aku tidak berbicara. Tidak merasakan apa-apa. Berasa hampa? Mungkin. Aku hanya butuh Min Chan, Park Min Chan, satu-satunya adikku.

Appa datang pagi hari. Menangis di depan pintu saat melihat peti Min Chan. Teriakkannya mengiris hatiku. Hidup ini sulit. Tapi menerima kematian seseorang yang kau cintai jauh lebih sulit.

Min Chan dikuburkan. Aku tidak mengetahui bagaimana tanah yang tadinya berupa lubang tiba-tiba sudah tertutup? Begitu cepatnya prosesi pemakaman itu atau aku yang terlalu lama melamun? Aku menabur bunga di atas pusaranya. Menaruh buket bunga di atasnya. Cakram warnanya tidak beraturan, tulip ungu, anggrek, sunflower, mawar, lily, krysan, dan daisy. Aku mengelus pusaranya. Masih tidak percaya. Kepalaku pusing.

Hyun Ji, teman terdekat Min Chan menangis di sampingku. Ketera sekali dia sangat kehilangan Minchan. Berkali-kali dia mengucapkan bahwa Minchan adalah satu-satunya orang yang mau menerimanya dengan baik. Tidakkah dia mengerti tangisannya semakin memilukan hatiku? Bodoh aku kelewat sensitive. Atau justru menyalahkan semua orang atas ketidakadilan ini? Terserah. Aku tidak peduli.

***

Aku memutuskan meninggalkan Seoul, terlalu banyak kenangan Min Chan di sana-sini. Aku pergi ke Inggris. Menempuh pendidikan S2 untukku. Meninggalkan segala memori pahitku di Korea.

***

Choi Minho

Aku mengemudi dengan kecepatan yang cukup tinggi. Berharap bisa sampai di dorm lebih cepat. Aku gak mau terjebak oleh rombongan Shawol. Bukannya aku sombong, tapi aku kan capek banget hari ini. Kalo aku terjebak dan serangan jantung di tengah-tengah ulang tahun kan gak lucu.

Sebuah mobil Honda Jazz meluncur di belakangku, mencoba menyalipku. Mobil kami berdampingan. Aku kaget karena tiba-tiba sebuah truck oleng. Aku mencoba mengerem, tapi gagal, remnya tidak mempang. Aku panik. Truck tersebut semakin dekat saja, lampunya mulai menyilaukan mataku. Aku meraih kado terakhir dari fansku. Boneka teddy yang memegang bola basket dengan tulisan saranghae di atasnya. Biasa sih, tapi setidaknya aku mengingat jelas wajah gadis itu, membuat boneka ini berharga. Aku memasukkannya ke dalam jaketku.

Jadi beginikah setting kematianku? Ironis. Tapi cukup baik. Aku tidak perlu merepotkan para Shawol. Mereka kan hanya bakal tau aku mati karena tabrakan. Cukup adil. Aku memejamkan mata.

Sedetik kemudian, truck tersebut benar-benar menabrak mobil kami. Aku syok mendengar suara berdebam. Mobilku terguling, miring. Kacanya pecah. Satu hal yang pasti, aku kaget. Jantungku seakan melompat kuat dan menunjukkan kekuatannya. Aku yakin tubuhku tak terluka parah, tapi dadaku terlalu sesak. Rasanya terlalu sakit, tidak tergambarkan. Aku tidak merasakan kakiku, tanganku, bahkan pandanganku. Aku pusing dan dadaku sakit, aku mendekap dada dan bonekaku, mencoba rileks tapi sia-sia. Parah, aku tidak kuat menahannya, mungkin aku tidak mati karena tabrakan ini, tapi aku mati karena jantungan pada tabrakan ini, konyol.

Aku mulai memikirkan wajah-wajah orang yang aku sayangi, Umma, Appa, Minsuk, Hyung-Hyungku, Taemin, Hyung-hyung di SJ dan DBSK, YoonA, Yuri, Goo Hara, dan lainnya, semuanya berputar membentuk rentetan film panjang. Ditutup oleh wajah gadis yang memberiku boneka ini. Aku menutup mataku dan semuanya gelap. Selamat tinggal… Aku menyayangi kalian…

***

“Minho, aku mencintaimu. Seandainya aku punya cara untuk menghidupkanmu.”

“Hai, Minho. Aku Minchan. Kau menyimpan hadiahku tadi ya?”

“Seharusnya, kau hari berulang tahun kan Minho? Saengil Chukkae, Oppa.”

“Tuhan, jika kau ijinkan, bolehkah aku menukar nyawaku dengannya? Aku mencintai laki-laki ini Tuhan. Tuhan, aku yakin jika dia hidup dia akan lebih berarti daripada aku. Aku tidak akan bunuh diri. Aku hanya ingin Kau menukar nyawaku dengannya. Boleh ya Tuhan? Plis, plis. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagiMu? Tapi sebelum itu, biarkan aku menyampaikan beberapa hal untuknya…… Minho, aku mencintaimu. Aku memang fansmu tapi kau seseorang yang emh, tidak bisa digambarkan. Seseorang yang bisa menjadi motivasiku selama beberapa tahun ini. Minho, jika Tuhan mengijinkan niatku ini, maukah kau menjaga nyawamu nanti? Cintailah fansmu. Mereka sangat menyayangimu. Mungkin lebih daripada aku semoga kita bertemu suatu saat. Terimakasih Minho ……Tuhan, aku sudah selesai. Tolong kabulkanlah doaku tadi.”

“Aku mencintamu, Hyun Ra, Appa… dan kau, Minho.”

Suara itu terus-menerus terulang. Aku sampai hafal setiap perkataannya. Aku tidak merasakan apa pun kecuali gelap. Bukankah aku seharusnya sudah mati? Ini surga atau neraka? Ini putih atau hitam? Keadaannya aneh.

Suara itu tak mau berhenti. Min Chan? Siapa dia? Boneka? Aku tidak mengerti. Rumit. Mungkin aku perlu menanyakan hal seperti ini kepada Key Hyung atau Jjong Hyung? Atau justru Minsuk? Tapi kupikir Changmin Hyung lebih mengerti aku. Ah bodoh, mikir apa sih aku. Mereka kan berada di dunia. Dan aku? Entahlah aku sendiri tidak tau ini di mana.

Aku mulai merasakan sesuatu. Kehangatan mulai menjalari tubuhku. Sepertinya. Aku mulai mendapati kakiku, kemudian naik-naik-dan terus naik. Hingga aku mendengar detak jantungku sendiri. Masihkah aku punya jantung? Otakku mulai terasa ringan. Aneh. Aku tidak cukup mengerti tentang ini. Ah sudahlah. Biarkan Tuhan yang mengurus.

Suara itu berhenti, kemudian aku melihat ingatan tabrakan tadi. Seperti ingatan orang lain, bukan aku, mungkin orang dalam mobil Honda Jazz tadi? Aku tidak tahu. Gambarannya berubah. Kebanyakan besar tentang aku, atau lebih tepatnya perasaan orang itu terhadapku, aku merasa tersanjung dicintai dengan sebegitu besarnya. Aku melihat wajahku, selalu wajahku, mulai dari poster, album, konser, bahkan aku mendengar suaraku. Siapakah dia? Aku bingung memahami semua ini. Gila. Cukup. Ini terlalu, ah tidak tergambarkan.

Semua berhenti saat cahaya mulai menyilaukan mataku. Sebenarnya tidak terlalu terang, tapi aku kan baru saja dari tempat yang terlalu gelap jadi kepalaku pusing saat terkena cahaya itu. Aku melihat wajah-wajah keluargaku, teman-temanku. Seindah inikah surga? Bukankah seharusnya mereka tidak di sini? Atau, aku yang tidak mati? Aku meragukan pikiran terakhirku.

“Minho, kau bangun juga akhirnya?” suara Minsuk membuka. Tepat di dekat telingaku.

Beberapa orang menangis, aku yakin itu Umma dan Taemin. Ah ya Taemin.

“Di mana aku?” tanyaku. Aku sulit berbicara.

“Rumah sakit, Minho. Tabrakan itu membuatmu koma semalaman, untung operasi berjalan lancar.”

“Aku tidak punya jantung lagi ya?” tanyaku.

Semua terdiam. Sepi.

“Jantung buatan kan? Ah untuk apa aku hidup, Umma, Appa bukankah ini akan menyusahkan kalian saja?” aku berkata tanpa memandang.

“Kau punya jantung, Minho. Tapi itu bukan jantungmu.”

Aku merasa tersengat listrik.

“Seseorang mendonorkan jantungnya untukmu, bahkan ginjalnya juga.”

Aku tidak tau harus merasa bagaimana, senang atau justru sedih. Bingung. Intinya aku masih hidup.

“Siapa dia?”

“Kami tidak diperkenankan memberi tau, kebijakan rumah sakit,” ucap seorang perawat.

Aku memandang wajah mereka semua. Orang-orang yang menyayangiku, aku merasa terharu diliputi rasa bahagia seperti itu.

“Kau harus melihat keluar,” kata Minsuk sambil membuka gorden.

“Memang ada apa?”

Aku mencoba turun dari tempat tidurku, dibimbing oleh Appa dan Onew Hyung.

“Lihatlah ke bawah, mereka menantimu sejak kemarin,” kata Minsuk.

Aku terkejut melihat lautan manusia terlihat dari jendela. Mereka berteriak begitu aku menyibakkan gorden.

“Oppa!” teriak mereka. Wow aku sampai bisa mendengarnya. Aku merasa terharu.

Aku melihat spanduk besar ucapan selamat ulang tahun untukku. Aku menitikkan air mata. Ya ampun hari ini aku ultah ya? Sampai lupa. Sungguh beruntungnya aku, mendapatkan hidup yang baru di ulangtahun ke 20 ku. Tuhan ternyata sangat baik.

“Kau ultah kan, Hyung?” tanya Taemin.

Aku hanya ber hem-hem ria.

“Bagaimana kalau kita rayakan ulang tahunmu kali ini? Sekalian dengan kesembuhanmu,” saran Appa.

“Ya ampun, Appa ini apa-apaan sih. Kayak anak kecil ah. Lagian aku juga belum sembuh,” kataku.

“Ya anggap aja merayakan kehidupanmu,” ujar Changmin Hyung sambil merangkulku.

“Oh oke-oke. Payah kalau semua mulai memaksa begini,” aku menggerutu.

Mereka semua cuma tertawa.

“Gantilah pakaianmu, Minho. Kau benar-benar…mengerikan,” ucap YoonA Noona.

Aku melihat tubuhku. Pakaian yang sama dengan kemarin. Dan benar saja. Aku lebih mirip vampire yang habis makan manusia. Penuh darah.

“Oya, kami akan memberimu waktu. Bersihkanlah dirimu. Sekalian mempersiapkan pesta,” kata Umma yang masih dirangkul Appa sejak tadi.

“Memangnya aku boleh keluar rumah sakit?” tanyaku.

“Rumah sakit ini punya ruangan yang cukup luas untuk itu,” kata Minsuk Hyung.

“Lapangan basket,” aku menyimpulkan.

Seorang perawat membantuku melepas infuse ku.

“Panggil aku jika kau sudah selesai” ucapnya.

Aku mengangguk.

Mereka keluar dari kamar rawatku. Ruangan menjadi terasa besar. Aku mencari pakaian di almari kecil Di samping kaca besar. Ini sih bukan kamar rawat, lebih mirip apartemen, batinku.

“Hai,” sapa seseorang.

Aku melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Dan bukannya tadi aku tidak mendengar suara? Tidak ada suara. Aku bergidik.

“Kau kelewat sehat tau gak, Minho,” seseorang mengajakku bicara.

“Kau siapa?” tanyaku. Bersuara.

Bukan. Aku tadi tidak mendengar suara. Tidak ada suara kecuali kerumunan di bawah. Itu juga tidak terlalu berisik. Seperti… ada di pikiranku.

“Aku juga bingung sih, Minho. Kenapa bisa begini. Mungkin karena kau punya jantung dan ginjalku?” dia mengobrol sendiri.

Percakapan ini benar-benar tanpa suara. Opsi pertama, aku sudah gila karena merasa ada seseorang. Opsi kedua, aku bermain pikiran.

“Kau gak gila kok,” katanya.

Aku malah terpaku di depan kaca. Memandangi bayangan tubuhku.

“Kau ganteng banget tau gak?” katanya sambil tertawa.

“Trims,” kataku akhirnya.

Bodoh. Ini kelewat bodoh. Aku berasa ngomong sendiri sama diriku.

“Lebih tepatnya sama pikiranku sih, Minho. Pikiran kita bisa saling berbicara,” jelasnya.

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah. Tanya pada Tuhan.”

Aku membayangkan dia sedang mengangkat bahu sambil mengangat alisnya.

“Kau cewek kan?” tanyaku.

“Aham. Dari mana kau tau?” tanyanya.

“Insting. Kalau kau laki mana mungkin bilang aku tampan.”

“Jangan kepedean gitu deh, Minho. Kau jadi mirip sama Jonghyun tau gak?”

Kepalaku sakit jadi aku memejamkan mata. Kemudian aku melihat kenangan masa lalu. Seakan itu pernah terjadi padaku. Ummanya meninggal, Appanya, kakaknya, dia. Konser Shinee. Dan hal-hal lain. Semuanya.

“Kenapa aku bisa tau itu?” tanyaku. Agak kesal.

“Err maaf sih, Minho. Aku cuman sedang memikirkan mereka. Aku gak yakin mereka baik-baik saja.”

“Aku gak ngerti.”

“Aku tukar nyawa sama kamu. Ya aku gatau sih tapi Tuhan ngijinin cuman kupikir aku rada seperti benalu gini. Mending gak ada sekalian deh.”

“Tukar nyawa? Emang bisa?”

“Ya anggep gitu deh. Aku kan gak ngerti geblek. Memangnya aku Tuhan apa. Aku kan cuma berdoa gitu aja sama Tuhan.”

“Berarti kamu tadi minta sama Tuhan? Ngapain sih repot-repot. Aku gak butuh bantuanmu,” kataku marah.

Dia sepertinya sangat syok dengan kata-kataku. Dia menjadi tidak berdaya.

“Aku cuma ingin kamu tetep hidup. Kamu gak tau gimana perasaan fansmu seandainya mereka kehilangan kamu! Aku juga gak mau jadi benalu buatmu kok! Aku kan udah bilang lebih baik gak ada daripada jadi benalu gini!” ucapnya.

Setiap kata seakan menohokku keras. Aku yakin dia sedang menangis saat ini. Aku bisa merasakan perasaannya. Aku terlalu tega? Tapi aku membencinya.

“Apa kau tau pikiranku dan perasaanku saat ini?” tanyaku. Agak merasa bersalah karena memikirkan bahwa aku membencinya.

“Ng ng… Enggak sepertinya. Aku cuma tau kalau kau emang membaginya denganku. Tapi kau bakal selalu tau pikiranku.”

Aku ingat untuk apa aku tadi ditinggal sendirian. Aku mengambil kaos hitam. Aku membuka bajuku. Dia melompat kaget. Aku diam sejenak.

“Ya ampun kau gak kalah seksi sama yang di foto!” batinnya. Aku tau dia gak berniat mengutarakannya padaku.

Aku malah memandangi bayanganku. Benarkah? Sebegitu menawannya aku bagi dia? ya ampun ngomong apa sih. Jangan sombong, Minho. Aku mengingatkan diriku sendiri.

“Aku mau ganti baju. Kamu pergi dulu deh!” kataku. Agak membentaknya.

Tiba-tiba dia hilang. Tak ada lagi pikiran-pikiran lain selain pikiranku sendiri. Aku bergegas mengganti pakaianku. Kemudian memasukkan pakaianku tadi ke keranjang cucian.

“Udah?” tanyanya.

Aku terlonjak kaget.

“Lain kali jangan ngagetin. Kok bisa hilang tiba-tiba?”

“Mana aku tau. Aku cuma coba memikirkan menutup pintu karena kau mau ganti. Anggap aja gitu. Suwer aku gak ngintip. Kau tau kan aku gak liat apa-apa? Tenang nanti kalau kau lagi  mandi aku juga bakal hilang kok,”katanya. Aku mengakui bahwa dia jujur.

“Kenapa gak bisa hilang selamanya?” tanyaku. Dia tersentak. Reaksinya melalui tubuhku.

“Kau bisa mengendalikanku?” tanyaku lagi.

“Aku gak tau,” jawabnya lemah. Menjawab dua pertanyaan sekaligus. Dia agak tersinggung sepertinya.

Aku diam saja.

“Udah seleai belum sih, Minho?” tanya kakakku. Dia menjulurkan kepalanya.

“Aku gausah mandi ya?”

“Oke. Tapi ke kamar mandi dulu sana, cuci muka, sikat gigi. Pakai parfum biar wangi.”

“Oke Hyung. Siap!” kataku langsung bergegas melaksanakannya.

Aku memakai jas hitam agar terlihat lebih formal.

“Pakai yang abu. Kaosmu sudah hitam,” sarannya.

Aku mengembalikan jas hitamku dan menggunakan yang warna abu.

Kesimpulannya, aku tidak peduli dengan dia ada di sana atau tidak. Kedua, aku membencinya itu pasti, walau sebenarnya separuh hatiku menolak kejahatan pribadiku. Alasan kebencianku? Aku seakan tidak memiliki privasi. Hal lain? Tukar nyawa masih menjadi tanda tanya.

“Maaf,” katanya. Sepertinya aku tidak sengaja membuka pikiran.

“Enyahlah!”

Dia menghilang. Entah ke mana. Intinya otakku hanya berisi pikiranku. Cukup melegakan. Toh aku kan bakal senang-senang. Well, setidaknya aku bisa membagi kebahagianku dulu dengan para fans yang seharian menungguku di sana. Mereka juga diundang sepertinya.

Aku bergegas keluar kamar dan mengunci pintunya. Aku harus membahagiakan diriku sekarang, sudah lama aku tidak merasa bahagia. Setidaknya tidak sejak… dokter itu. Aku kaget. Ah sudahlah, malah memikirkan itu. Payah. Merusak suasana deh. Well, let’s start the party!

Combine as One (Chapter 3)

Combine as One

Chapter 3 – Park Min Chan

Namaku Park Min Chan. Usiaku 17 tahun dan aku bersekolah di SMA Jung Yang, salah satu SMA terkenal di Seoul. Umma ku meninggal saat aku masih SD, 2 tahun kemudian Appa meninggalkan aku dan kakakku untuk bekerja di Kapal Pesiar. Dulunya Umma lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Beliau bekerja sebagai staff perusahaan ponsel di Korea. Sedangkan Appa bekerja sebagai pelayan restoran.

Kematian Umma berdampak besar bagi keadaan ekonomi keluarga kami. Aku sangat menyayangi keluargaku. Tapi aku berusaha untuk menerima kematian Umma yang mendadak itu dengan lapang hati.

Aku satu-satunya yang paling tegar ketika Umma meninggalkan kami. Appa sangat menyayangi Umma dan sangat-sangat memujanya, suatu cinta yang mungkin akan jarang kau temui. Bahkan setelah sekian tahun lamanya Appa masih menyimpan perasaan itu, hanya untuk Umma. Unnie ku, Hyun Ra, dia bukan orang yang cukup tegar untuk menghadapi kematian. Dia mengalami masa sulit sebagai remaja karena cintanya yang selalu saja kandas. Aku ckup prihatin tentang hal itu. Maka, jika kedua orang yang kau sayangi berpegang padamu, siapa yang harus kau pegang untuk membuatmu tidak terjatuh? Tidak ada kecuali Tuhan.

Aku tidak cukup dekat dengan teman-teman wanita. Bukan karena aku kuper atau bagaimana, aku hanya tidak menyukai dunia mereka. Aku seorang yang realistis walau dalam beberapa hal aku pemimpi yang sangat hebat. Seperti, aku mencintai Choi Minho. Rapper Shinee. Perasaanku benar-benar tak tergambarkan. Aku tidak pernah cemburu soal kedekatannya dengan gadis lain, toh dia juga bukan punyaku. Tapi aku selalu berharap suatu saat aku bisa mengatakan cintaku padanya, walau ¾ pikiranku mengatakan tak akan terbalas. Aku tidak peduli soal hal-hal semacam itu.

***

Rumahku masih berbentuk setengah Hanbok, dengan halaman besar di tengahnya. Yang berbeda adalah isi rumahku. Benar-benar modern. Kebanyakan lantainya dari kayu walau dalam beberapa ruangan adalah keramik atau tegel. Temboknya kebanyakan sudah berupa bata. Kamar mandinya menempel dengan tanah, jadi selalu ada undak-undakan rendah untuk menuju ke dalamnya.

Satu hal yang menjadi favoritku dari rumah ini adalah kamarku. Aku menyukai kamarku. Itu wajar. Tapi kamarku terlalu berharga buatku.

Temboknya berwarna putih gading. Barang-barangnya kebanyakan terbuat dari kayu cokelat tua. Sebuah doube bed menghadap jendela rayban yang dinding disampingnya berupa bambu-bambu yang ditata apik. Aku yang merengek kepada Appa tahun lalu karena melihat desain seperti ini di sebuah tabloid.

Kaca rayban merupakan kaca yang terlihat putih dari dalam dan hitam dari luar. Jadi kau tetap bisa menikmati pemandangan dan tetap mendapatkan privasi. Berpuluh-puluh atau mungkin beratus-ratus foto Minho tertempel di Styrofoam yang ada di dinding. Di samping lemari pakaianku, terdapat meja belajar. Kebanyakan sih memang buku-buku pelajaran dan gadget favoritku. Tapi pada bagian atasnya terdapat DVD plus tape yang biasa aku gunakan untuk mendengarkan lagu-lagu favoritku. Aku mempunyai hampir semua album Shinee. Berpuluh-puluh poster dan ratusan foto dalam laptopku. Sudah kubilang, aku jatuh cinta dengan Minho tanpa alasan yang jelas.

***

Aku tidak cukup peduli soal sekolah. Sangat berbeda dengan Hyun Ra Unnie. Aku lebih memilih nonton konser ke luar kota dan pulang larut malam ketimbang belajar semalaman untuk ulangan besok. Toh nilaiku juga tak pernah parah-parah amat. Aku punya teman untuk hal-hal seperti itu, namanya Hee Yun Ji. Dia seorang laki-laki dan seumuran denganku. Keluarganya berantakan jadi dia menjadi agak bad boy. Tapi dia lebih baik daripada teman lelakiku yang lain. Maksutku dia bisa dan mau menjagaku untuk urusan pergi jauh-jauh.

Jadi beberapa hari yang lalu aku pergi ke konser Shinee. Dengan Yun Ji tentu saja. Aku tidak akan melewatkan konser ini setelah kevakuman Minho sekian lamanya. Aku juga tidak mengerti kenapa dia harus vakum seperti itu. Jika hanya sakit atau kelelahan, dia kan hanya bakal beristirahat beberapa hari. Tapi sudahlah aku tidak peduli. Yang penting aku akan ketemu Minho! Bagaimanakah wajahnya? Masihkah tetap tampan seperti biasanya? Suaranya yang berat itu… Ya Tuhan, jantungku akan selalu berdetak lebih kencang saat bertemu atau memikirkannya.

Aku sudah mengantri seharian. Dan aku berada di barisan paling depan. Aku meminjam Toyota Prius milik Unnie karena Fortunerku kehabisan bensin. Uang sakuku sudah habis untuk membeli tiket konser ini. Aku cukup pintar untuk membawa sandwich. Makan siang ingat?

Konser berlangsung meriah hampir 2 jam. Minho tidak banyak menari. Aku cukup penasaran soal itu. Aku sangat senang memandang matanya. Indah. Dengan suara Jonghyun sebagai backsound, kau bisa bayangkan seberapa cepatnya jantungku berdetak. Dia seperti malaikat, batinku. Aku kelelahan malam ini, meneriakkan nama-nama mereka, bernyanyi dan berjoget. Tapi aku benar-benar puas karena Minho memandangku dalam waktu yang lama. Bolehkan sesekali aku GR.

Aku sampai rumah saat Hyun Ra sudah tidur. Aku makan Philly Cheese Steak nya dengan lahap. Yang paling aku sukai darinya adalah, Hyun Ra sangat pintar memasak. Bisa diterima.

***

Aku tidak menemukan Hyun Ra pagi ini. Sepertinya dia sudah ada pekerjaan di rumah sakit. Tak ada makanan yang ditinggalkannya maka, aku memilih memakan cereal favoritku. Ruang makanku memiliki TV dan ini bagus karena jika tidak, aku bakal tidak menggunakannya seumur hidup.

Aku jarang berbelanja, jarang berdandan dan jarang melakukan hal-hal yang sering dilakukan perepuan pada umumnya. Kecuali nonton konser tentu saja.

Hyun Ra pulang sekitar pukul 7 malam. Sepertinya dia agak kelelahan.

“Sudah pulang?” tanyaku begitu melihatnya keluar dari mobil.

“Tentu. Maaf tidak sempat membuatkanmu makan. Kau makan apa seharian?”

“Cereal. Dan delivery ayam. Sudahlah biasa saja.”

“Kemarin Appa menelefon.”

“O ya apa katanya? Kapan pulang?”

“Masih tidak bisa dipastikan katanya. Dia menyampaikan salam untukmu.”

“Ummh,” aku cukup kecewa mendengarnya.

“Aku juga merindukannya,” ucap Hyun Ra seakan membaca raut sedihku.

Aku tidak mau percakapan sedih ini berlangsung. Hyun Ra pasti akan menangis dan aku harus kuat di depannya. Padahal aku sendiri justru sangat ingin menangis. Aku dulu sangat dekat dengan Appa, lebih dari Hyun Ra. Kami sering berkebun, memancing, mengecat pagar dan lainnya. Kini semuanya tinggal memori.

Aku menyandarkan diriku di tembok. Kemudian berjalan masuk ke kamarku. Lebih baik aku tidur. Besok kan sekolah.

***

“Min Chan, udah beli tiket?” tanya Chae Yun saat aku tiba di kelas.

“Konser minggu depan ya?” tanyaku.

“Iya. Kau mau lihat? Katanya Minho akan berulang tahun keesokan harinya?” tanyanya lagi.

“Umh, well aku tidak tahu. Aku agak malas menyetir ke daerah itu. Ramai dan sepertinya Hyun Ra tidak akan mengijinkan aku membawa mobil sendiri,” kataku.

“Yah.”

“Maaf.”

“Kau bawa mobilku saja,” sahut seorang temanku. Yeon Shi. Dia gadis paling kaya di kelasku. Atau mungkin di sekolah? Dia selalu berganti-ganti mobil.

“Sudah kubilang daerah itu ramai. Aku tidak diijinkan menyetir sendirian.”

“Aku yang menyetir. Ayolah,” Yeon Shi mulai merengek.

“Oke-oke. Oya nanti aku nitip tiket deh ya?”

Mereka berdua mengangguk setuju.

Untuk hal-hal seperti nonton konser aku selalu menjadi sasaran. Aku bakal selalu ‘bisa’ untuk diajak. Walau kadang melalui hal-hal yang cukup rumit seperti ijin dari Hyun Ra.

***

“Unnie, bolehkan aku nonton konser minggu depan?” tanyaku pada Hyun Ra.

“Pokoknya dilarang menyetir,” katanya.

“Aku bersama Yeon Shi dan Chae Yun,” kataku.

“Sejak kapan kau berteman dengan mereka?”

“Sejak mereka memberiku tumpangan.”

Hyun Ra agak bingung dengan jawabanku tapi aku tak ambil pusing. Intinya aku boleh melihat konser itu.

***

Pagi ini aku sudah bersiap-siap untuk berangkat.

“Min Chan?” sapanya pagi itu. Aku sedang sarapan sambil menonton kartun.

“Kenapa, Un?”

“Kau benar-benar akan nonton konser?”

“Tentu saja.”

“Berhati-hatilah. Aku meyayangimu,” kata Hyun Ra sambil memelukku.

“Oh well, aku juga. Unnie kenapa sih?”

“Tidak apa-apa hanya merasa aneh.”

“Kau mungkin kurang istirahat.”

“Mungkin.”

Usai makan aku berangkat bersama Yeon Shi dan Chae Yun berangkat menggunakan mobilnya. Pada akhirnya akulah yang menyetir karena Yeon Shi mual, perjalanan kami kan cukup panjang.

Konser malam itu tetap seperti biasanya. Meriah, ramai, dan menyenangkan. Kecuali untuk satu hal, Minho. Untuk alasan yang tidak aku mengerti, dia selalu menangis saat mendengar “Minho, kami mencintaimu.”  Toh biasanya dia juga selalu mendengar itu dan hanya tersenyum. Dia berkali-kali meminta maaf jika tidak menjadi idola yang baik. Mengucapkan terima kasihnya karena telah dicintai selama ini dan lain-lain. Pada intinya dia mengatakan hal-hal aneh. Kebanyakan para Shawol menangis saat mendengar hal tersebut tapi entah mengapa aku tidak menangis.

Konser usai sekitar pukul 10 malam. Besok Minho ulang tahun, batinku. Aku sudah menyiapkan kado khusus untuknya. Aku akan menunggu mereka sampai mereka pulang.

“Kau mau menungguku?” tanyaku pada Yeon Shi dan Chae Yun.

“Berapa lama?” tanya Chae Yun.

“Tidak tau.”

“Aku harus pulang,” kata Chae Yun.

“Aku juga,” kata Yeon Shi.

Aku merasa sedih.

“Kupikir kau bisa membawa mobilku. Aku bisa pulang dengan Chae Yun. Yakan, Chae Yun?” ucap Yeon Shi sambil menatap Chae Yun.

“Tentu saja,” ucap Chae Yun.

“Umh, okelah,” aku menyetujui.

Yeon Shi memberikan kunci mobilnya padaku. Aku menunggu di depan gerbang. Perasaanku tak menentu. Aku melihat Minho dan bergegas menghampirinya.

“Minho, aku Shawol,” kataku begitu di depannya.

“Oh ya? Sedang apa kau di sini?” tanyanya.

“Ini untukmu. Dua jam lagi kan kau ultah,” kataku sambil menyerahkan kado.

“Oh terima kasih sekali.” Dia tersenyum sangat manis.

“Mungkin itu tak seberapa. Tapi terimalah,” kataku. Memamerkan senyumku.

Dia menatapku kaget. Seperti syok. Seakan pernah melihatku. Kemudian menatap mataku dan kembali tenang.

“Oh tidak. Aku sangat menghargainya kok,” katanya menenangkan pikiranku.

Aku masih senyam-senyum bahagia tentu saja. Sangat bahagia. Hampir pingsan atau mati berdiri? Malaikat itu berdiri di depanku. Dan dia tersenyum padaku, hanya untukku.

“Aku permisi dulu ya,” dia pamit.

Aku menuju ke mobil Honda Jazz merah milik Yeon Shi. Tak selang berapa lama, sebuah mobil hitam keluar. Aku melihat Minho sendirian menyetir. Walau memang tidak jelas. Tapi aku meyakininya dengan pasti. Aku mengikutinya.

***

Jalanan terlalu ramai, atau justru sepi dan mereka bergerak terlalu cepat? Aku berusaha mengikuti mobil Minho. Bisa dibilang aku ngebut. Entah hal apa yang terjadi semuanya terjadi terlalu cepat, sebuah truk menabrakku dan aku pusing setengah mati. Sedetik yang lalu aku berhasil menyusul mobil Minho. Jika truk itu menabrakku, aku juga yakin mobil Minho juga tertabrak. Aku berusaha sekeras mungkin untuk keluar dari truk. Adrenalinku memompa cepat. Aku tidak peduli seluruh tubuhku kesakitan. Dalam pikiranku hanya satu, Minho.

Beberapa menit kemudian seseorang menarikku keluar. Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku berlari, aku melihat kaosku yang tadinya berwarna putih telah terlumur darah. Jika saat aku mengikuti tadi aku masih tidak yakin itu Minho atau bukan, maka untuk kali ini, seluruh tubuhku mengatakan itu Minho. Aku menarik lelaki itu. Minho. Tubuhnya hanya lecet di beberapa bagian, tapi detak jantungnya terlalu cepat. Aku panik seketika.

“Kita harus menyelamatkan wanita itu lebih dulu. Kita hanya punya satu kendaraan,” kata seorang pria. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Kepalaku terlalu pusing dan bau darah di mana-mana.

Beberapa detik kemudian seseorang menarikku.

“Tidak! Selamatkan dia!” teriakku.

Aku tidak mengerti, aku kan masih bisa bangun. Aku jauh lebih sehat bila dibandingkan dengan Minho.  Mungkin darahku lebih banyak keluar, mungkin. Aku menangis. Ketakutan memikirkan detak jantung Minho. Aku memegang dadanya. Tuhan, tolong selamatkan dia. Dengan cara apa pun, Tuhan.

Lelaki itu mungkin menimbang sejenak sebelum menarik Minho dari pelukanku. Aku merasa lega. Pandanganku kemudian berubah gelap dan semuanya lenyap.

***

Aku terbangun dengan melihat cahaya putih menyilaukan mataku. Itu pasti lampu. Aku melihat wajah Hyun Ra menangis di sampingku.

“Dia baik-baik saja,” kupikir seorang Dokter mengatakannya pada Hyun Ra.

Hyun Ra masih menangis sambil memegangi tanganku.

“Unnie aku baik-baik saja,” kataku.

Dia memelukku seketika.

Aku masih merasa tidak tenang. Aku mencarinya. Apakah aku berada di rumah sakit yang berbeda darinya? Kemudian aku mendengar beberapa orang berbicara di luar.

“Jantungnya tidak berfungsi.”

“Jantung buatannya tak akan bertahan lama.”

“Kita butuh donor secepatnya.”

“Jika tidak ada respon sampai besok pagi, kita harus melepas jantung buatan itu.”

“Kumungkinan terburuk.”

Pendengaranku jauh lebih jernih ketimbang penglihatanku. Aku kelewat syok saat mendengar nama Minho berada di antara rentetan kalimat-kalimat kabar buruk itu. Separah itu kah keadaan Minho? Jadi selama ini dia sakit jantung dan berusaha menyembunyikannya? Seakan aku terjatuh ke suatu tempat gelap dari tebing tertinggi. Minho, orang yang aku cintai…

“Unnie akan kembali sebentar lagi,” kata Unnie ku sambil mengecup keningku.

Aku memencet bel pemanggil suster di samping tempat tidurku. Tak lama kemudian seorang suster masuk ke kamarku.

“Ada apa?” tanyanya.

“Bisa mengantarku ke kamar Minho?” tanyaku.

“Kamu kan baru sembuh,” kata suster itu.

“Siapa tau ini terakhir kali aku melihatnya. Aku fansnya,” aku membujuk.

Suster itu mendorong kursi rodaku. Aku sangat sehat. Hanya luka di seluruh tubuh. Aku masuk ke kamar Minho dan pertahananku mungkin akan runtuh seketika jika tidak dipegangi oleh suster dan kenyataan bahwa aku sedang duduk di kursi roda. Aku melihatnya tidak berdaya di ranjang.

“Bisa tinggalkan aku sebentar?” tanyaku.

Suster itu mengangguk setuju.

Aku mendekati Minho. Dia tersenyum. Dia separuh hidup. Minho tidak memiliki jantung. Au tidak menyukai kalimat terakhirku. Menggigit bibir.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Aku tidak ingin dia pergi. Bukankah dia begitu berharga bagi fans-fansnya. Hari telah berganti. Aku merasakan mual berlebih. Dia hanya punya waktu beberapa jam dan kemungkinannya terlalu tipis…

Aku membuka jendela di kamarnya. Menghadap ke arah jalan. Aku melihat lautan lilin dinyalakan di bawah. Aku melihat beberapa diantara mereka menangis. Mewakili perasaanku yang terlanjur mati mungkin. Aku merasakan keputus asaan yang mendalam. Mereka meneriakkan nama Minho saat melihat gorden jendela ini disibakkan. Aku sangat mengerti perasaan mereka. Aku satu diantara mereka. Aku tidak bisa memikirkan apa pun kecuali  mukzizat Tuhan.

Aku kembali mendekati Minho.

“Minho, aku mencintaimu. Seandainya aku punya cara untuk menghidupkanmu.”

Aku keluar dan menemui seorang Dokter.

“Jika seseorang meninggal dan orang itu mendonorkan tubuhnya, apakah Minho pasien pertama yang akan mendapatkannya?” tanyaku pada Dokter itu.

“Tentu saja.”

“Tolong bawakan aku surat pendonoran sekarang.”

Dokter itu berlari. Sedikit bingung dengan perkataanku tadi mungkin. Dia tiba dengan stopmap berisi surat-surat. Aku mengisinya secepat mungkin.

“Jangan katakan pada siapa pun,” kataku.

“Kau tidak berniat bunuh diri kan?” tanya Dokter itu khawatir.

“Tidak tentu saja.”

“Karena kupikir lukamu tidak parah. Dan kau akan sembuh total.”

“Tentu-tentu.”

Aku kembali ke tempatku semula. Aku memegang tangan Minho. Dulunya dia seseorang yang hanya ada dalam khayalanku. Kini dia berbaring di depanku. Aku tidak percaya.

“Hai, Minho. Aku Minchan. Kau menyimpan hadiahku tadi ya?” tanyaku begitu melihat boneka beruang ada di atas meja, di sampingnya.

“Seharusnya, kau hari berulang tahun kan Minho? Saengil Chukkae, Oppa,” aku mencium bibirnya. Tanpa ijin. Terserahlah. Mau dia marah yasudah. Aku kan tidak bisa menahan diri. Bibirnya kelewat dingin di bibirku. Seperti orang yang mati. Aku kaget.

Pikiranku berkelana entah ke mana, aku menemukan ide. Seandainya aku bisa menukar nyawaku… Aku berdoa pada Tuhan.

“Tuhan, jika kau ijinkan, bolehkah aku menukar nyawaku dengannya? Aku mencintai laki-laki ini Tuhan. Tuhan, aku yakin jika dia hidup dia akan lebih berarti daripada aku. Aku tidak akan bunuh diri. Aku hanya ingin Kau menukar nyawaku dengannya. Boleh ya Tuhan? Plis, plis. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagiMu? Tapi sebelum itu, biarkan aku menyampaikan beberapa hal untuknya…… Minho, aku mencintaimu. Aku memang fansmu tapi kau seseorang yang emh, tidak bisa digambarkan. Seseorang yang bisa menjadi motivasiku selama beberapa tahun ini. Minho, jika Tuhan mengijinkan niatku ini, maukah kau menjaga nyawamu nanti? Cintailah fansmu. Mereka sangat menyayangimu. Mungkin lebih daripada aku semoga kita bertemu suatu saat. Terimakasih Minho ……Tuhan, aku sudah selesai. Tolong kabulkanlah doaku tadi.”

“Aku mencintamu, Hyun Ra, Appa… dan kau, Minho.”

Aku memejamkan mataku. Semuanya berubah terlalu menyilaukan. Putih. Bukankah seharusnya semuanya hitam saat aku menutup mata? Aku tidak tahu. Mungkin Tuhan mengabulkan permintaanku. Aku merasa bahagia. Bukankah tadi aku sedang menggenggam lelaki yang kucintai? Kematian yang indah jika begitu. Hatiku makin bahagia, seakan semakin lama semakin tidak muat saja, kebahagiannya terlalu besar dan hatiku terlalu kecil untuk merasakannya. Wow seperti akan meledak. Aku tidak merasakan apa-apa lagi. Semuanya seperti tinggal cahaya-cahaya dan cahaya. Putih. Kosong. Menyilaukan. Aku sudah mati, sepertinya. Hidup Minho jauh lebih berarti. Kematian ini indah, terimakasih Tuhan.

Combine as One (Chapter 2)

Combine as One

Chapter 2 – Park Hyun Ra

Aku sudah cukup lelah menghadapi masalah cintaku selama ini. Bodoh semuanya berakhir sia-sia. Mau bagaimana lagi? Aku kan memang tidak beruntung dalam hal itu. Walaupun kau seorang dokter muda sekali pun.

Aku sudah kebal untuk disakiti. Bahkan untuk yang ini sekali pun. Namanya Goo Chun Li. Dia temanku di SMA ku dulu. Lebih tepatnya satu angkatan di atasku. Kufikir dia orang yang tepat. Tetapi dia sama saja. Ternyata dia hanya meminta bantuanku untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Setelah dia lulus, dia justru langsung bertunangan dengan seorang model.

Aku sudah tidak lagi peduli. Tapi aku sering tidak bisa membendung perasaanku untuk tidak jatuh cinta. Tetapi akhirnya sama saja, aku terlalu mudah ditaklukan, begitu kata adikku, Park Min Chan. Sahabatku, Shin Chan Gi justru bilang aku terlalu baik atau dalam kamusku, terlalu bodoh. Mungkin sih tapi bukankah manusia seharusnya menjadi baik?

Satu yang lalu aku berhasil menyelesaikan beasiswa kuliah 3 tahun di Universitas Nasional Seoul. Jurusan kedokteran. Kini aku menjadi dokter muda di sebuah rumah sakit swasta. Aku sungguh bersyukur untuk hal yang satu ini, aku terlahir dengan kepintaran yang lumayan bisa dibanggakan.

***

“Unnie,” teriak adikku pagi itu.

“Ada apa sih, Minchan?”

“Unn aku mau pergi. Boleh ya pinjam mobil?”

“Emang mobil kamu ke mana?”

“Bensinnya tinggal dikit. Aku gak punya uang buat beli bensin Un.”

“Alah ngeles, bilang aja mau mejeng.”

“Ah beneran, Un. Aku gak punya uang.”

“Emang uang sakumu ke mana?”

“Abis. Buat beli tiket. Tambahin dong, Un,” dia mulai merayu.

Aku masuk ke kamar dan mengambilkannya kunci mobil lengkap dengan STNKnya serta beberapa lembar uang.

“Nih,” kataku sambil menyodorkan kunci serta uang kepadanya.

“Ah Unnie cantik deh. Aku pergi dulu ya,” pamitnya sambil mencium pipiku.

Minchan berlari keluar.

Aku yakin dia akan menonton konser idolanya, Shinee. Dia kan ngefans banget sama personelnya, namanya Choi Minho kalau gak salah. Tuh aku sampai hafal. Semua yang dibicarakannya selalu tentang Minho. Kufikir sih dia cuman fans fanatik begitu tapi dia bilang dia suka beneran, apalah.

Minchan bagi aku adalah segalanya. Sejak Umma meninggal bertahun yang lalu, aku tidak memiliki siapa-siapa kecuali Minchan. Appa terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Menghidupi kami. Aku yang harus menggantikan peran Umma. Mulai dari mencuci, membersihkan dan lainnya. Untungnya Minchan selalu membantuku. Dia tidak pernah sedih terhadap kepergian Umma. Dia pernah bilang, bahwa semua orang harus kembali kepada Tuhan. Jadi tidak perlu khawatir jika kita tiba-tiba dipanggil karena seharusnya kita memang harus kembali kepada pencipta.

Minchan tingginya sekitar sebahuku. Menurutku dia cantik hanya saja tidak terlalu peduli tentang hal-hal seperti itu. Rambutnya coklat gelap, jika tidak terkena cahaya terlihat berwarna hitam mirip dengan mendiang Umma. Matanya persis sepertiku. Coklat. Dia juga memiliki lesung pipi. Bedanya Minchan itu lebih cuek daripada aku. Dia tidak peduli soal penampilan atau hal semacamnya. Teman-teman Minchan sendiri kebanyakan lelaki. Aku kadang suka khawatir memikirkan itu, takut dia terkena pergaulan bebas. Tapi aku percaya Minchan bisa menjaga dirinya.

Aku menghentikan lamunanku. Karena aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Itu pasti Chan Gi, batinku. Aku berlari membukakan pintu untuknya.

“Hai, Hyun Ra,” sapanya.

“Sendirian?” tanyaku.

Kami masuk ke dalam rumah.

“Tentu saja. Mau dengan siapa lagi?”

“Kau ngapain ke sini?”

“Mau minta makan. Kau masak apa?” tanyanya.

“Philly Cheese Steak. Kau mau?”

“Aku kan lapar. Jadi apa pun yang kau masak akan aku makan. Kau sudah makan?”

“Belum sih.”

Kami makan bersama di ruang makan. Chan Gi menjadi sahabat karibku sejak SD. Dia selalu masuk di sekolah yang sama. Bahkan selalu satu kelas. Kecuali saat kuliah, kami berbeda jurusan. Dia mengambil jurusan ekonomi.

“Kau akan datang?” tanya Chan Gi tiba-tiba.

Aku tersedak.

“Maaf sudah menanyakannya,” ucapnya lagi.

“Tidak. Apa-apa. Aku mengerti. Kau datang? Aku datang jika mendapat pasangan,” kataku setelah meminum segelas air putih.

“Benarkah? Aku tidak percaya. Bukankah dia sudah menghianatimu?”

“Sudahlah. Lupakan. Aku kan tadi juga bilang, jika mendapat pasangan. Kufikir undangan dengan pasangannya itu hanya alasan agar aku tidak datang. Lagian juga masih lama kan.”

“Ne. Aku kan cuman ingin tau. Gak ku sangka jawabanmu bakal begitu.”

“Lebih baik sih aku datang. Nanti dipikirnya aku tidak bisa melupakan dia.”

“Betul,” dia membenarkan.

Kami kembali tenggelam dengan makanan masing-masing.

Chan Gi nongkrong seharian di rumahku. Aku juga sedang libur, dan pasienku sedang baik-baik saja. Aku senang-senang saja dia di sini, paling tidak aku tidak akan kesepian ditinggal Michan.

“Michan ke mana?” tanya Chan Gi setelah menyadari Minchan tidak ada seharian.

“Sepertinya pergi nonton konser. Dia selalu antri untuk dapat tempat paling depan.”

“Nonton Shinee pasti?”

“Siapa lagi?”

“Katanya Minho habis sakit. Dia sudah lama tidak terlihat.”

“Mana aku tau lah, Chan Gi. Aku gak terlalu peduli soal begituan.”

“Sesekali bersenang-senanglah,” sarannya.

“Aku juga udah senang kok saat ini,” belaku.

“Terserah. Aku kan cuma ngasi tau. Kau mah mana mau mendengarkan aku.”

“Habis saranmu selalu aneh sih, Chan.”

“Kau yang aneh, Hyun Ra.”

Aku malas berdebat dengan Chan Gi. Akhirnya dia akan selalu menang. Atau justru aku yang lebih suka diam? Intinya berdebat dengan Chan Gi tidak ada habisnya.

Aku menelefon Minchan.

“Yeoboseyo?” ucapnya dari seberang.

“Yeoboseyo. Kau pulang jam berapa?” tanyaku.

“Aku tidak tau. Mungkin malam. Unnie makan saja dulu. Sisakan saja untukku. Sudah ya Un konsernya hampir mulai,” katanya. Langsung menutup telefon, dasar anak gila.

Aku memasak makan malam. Aku lebih sering masak makanan luar ketimbang makanan Korea. Karena aku pernah bekerja di sebuah café yang hanya menyediakan makanan ala Eropa. Lidahku mungkin terlalu terbiasa dengan makanan di café itu. Aku kan bekerja di sana cukup lama sejak masih di SMP.

Aku memasak Teriyaki untuk malam ini. Chan Gi sama sekali tidak membantuku. Dia tidak bisa masak! Jika aku memaksanya, justru dapurku yang bakal menjadi kapal pecah. Toh aku juga lebih suka memasak sendiri.

Kami makan kembali, berdua. Chan Gi sempat mandi di rumahku. Rumahku ini mungkin bagai rumah kedua Chan Gi. Begitu pula rumah Chan Gi.

Telefon rumahku berdering saat aku tengah mencuci piring. Chan Gi mengangkatnya.

“Yeoboseyo,” kata Chan Gi.

Aku tidak mendengar percakapan mereka setelah itu. Aku hanya tau saat Chan Gi memanggilku tepat aku menyelesaikan piring terakhir.

“Dari siapa?” tanyaku.

“Ayahmu,” bisiknya.

“Yeoboseyo,” kataku.

“Yeoboseyo,” kata Appaku.

“Ada apa, Appa?”

“Adikmu di mana?”

“Sedang bermain bersama teman-temannya. Ada apa? Ada yang bisa aku sampaikan?”

“Tidak. Chan Gi di rumah ya? Dia masih sering nongkrong bersamamu?”

“Tentu saja. Bagaimana kabar Appa? Baik-baik saja bukan?”

“Aku baik. Kau sendiri?”

“Lumayan lah. Bagaimana dengan pekerjaan Appa? Kapan Appa pulang?”

“Masih tidak tentu. Tergantung kapan ada yang menggantikan Appa.”

Appa bekerja di sebuah kapal pesiar. Aku tidak tau persis pada bagian apa ia bekerja. Dia jarang pulang. Namun gaji yang diberikan untuknya memang cukup besar sehingga mampu menghidupi aku beserta adikku.

“Hyun Ra kangen sama Appa.”

“Appa juga kangen sama Hyun Ra. Jaga diri baik-baik ya. Appa masih ada kerjaan. Dah. Sampaikan salamku untuk Minchan.”

“Tentu, Appa. Appa juga jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit. Hyun Ra sayang Appa.”

“Siap, Bu Dokter. Appa juga sayang sama Hyun Ra dan Minchan.”

Appa menutup telefonnya. Setiap kali Appa menelefon, aku selalu menangis. Aku jarang bertemu Appa. Aku sangat merindukannya.

Dulunya Appa bekerja di restoran, tetapi setelah Umma meninggal, tidak ada yang membantu apa mencari biaya untuk menghidupi aku dan Minchan. Aku pernah ikut bekerja di sebuah café untuk membantu Appa tetapi gajinya tetap tidak seberapa padahal biaya sekolah semakin mahal saja. Akhirnya Appa memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di sebuah kapal pesiar walaupun dengan begitu Appa harus meninggalkan aku dan Minchan dalam waktu yang lama.

Maka sejak itulah Minchan adalah satu-satunya hal yang berarti dalam hidupku. Kedua adalah Appa dan kemudian Chan Gi. Wow, suatu kematian bisa mengubah seluruh jalan hidupmu.

***

Pagi ini, seniorku, Dokter Dongji menyuruhku ke kantornya. Dia memintaku menggantikannya. Katanya dia belum kembali dari China, pesawatnya delay beberapa jam. Dia akan terlambat memeriksa pasiennya, yang katanya sangat penting.

Aku pergi menuju rumah sakit dengan Toyota Prius warna putihku. Hadiah dari Appa pada tahun pertama kuliahku. Aku sedikit ngebut saat itu, mumpung jalanan belum padat. Aku tiba di rumah sakit sekitar 15 menit kemudian, setelah menggunakan jas putih kebanggaanku dan menarik tas hitam, aku segera turun.

Kantor Dokter Donjin sangat bersih. Semua yang masuk ke sini akan merasa nyaman. Warna temboknya kuning kalem, dengan laintai putih bersih. Perabotannya kebanyakan berupa kayu-kayu tua berwarna coklat tua. Seleranya lumayan tinggi juga. Mejanya menghadap ke sebuah jendela besar yang memperlihatkan sekotak besar tanah dengan bunga poppy di atasnya. Ruangannya berbau citrus. Doket Dongjin memiliki ciri khas!

Aku mengambil beberapa dokumen dari lemari kayu besarnya, mapnya berwarna biru tua, begitu kata Dokter Dongjin. Aku mengambil bebrapa kertas yang diperlukan dan keluar dari ruangan yang nyaman itu.

Sempat membaca data pasienku dalam perjalanan menuju kantorku. Namanya Choi Minho, wow seperti idola adikku. Bukan hanya idola katanya, cinta sejatinya. Aku merasa konyol memikirkan hal ini. Belum selesai aku membaca data tersebut, aku sudah tiba di depan kantorku dan berbelok masuk.

Kantorku sendiri sangat berbeda dari kantor Dokter Dongji. Warna dindingnya putih gading, dengan ornament-ornament bunga di pinggir-pinggirnya. Perabotnya kebanyakan berupa kayu yang dicat putih. Ada kursi-kursi empuk berwarna hitam. Kebanyakan peralatanku di sini berwarna hitam putih. Aku ingat Minchan pernah protes saat pergi ke sini, dia menambahkan beberapa hal seperti vas berwarna biru tua dengan bunga lily putih di dalamnya. Pot-pot pohon pendek-pendek di dekat pintu. Dan lukisan abstrak berwarna-warni.

Aku duduk di kursi kesayanganku. Aku mengambil bolpoin, kertas serta beberapa alat dan menuju kamar pasienku.

Kuketuk beberapa kali pintunya tetapi tidak ada jawaban. Setelah ketukan mungkin yang kesepuluh, barulah pintu dibuka dan seorang lelaki tinggi berdiri di depanku.

“Annyeonghaseyo,” sapaku.

“Annyeong,” jawabnya. Wajahnya bertanya-tanya.

“Saya mendapat tugas dari Dokter Dongji untuk memeriksa Choi Minho. Beliau belum kembali dari China,” jelasku.

“Oh yaya. Mari silahkan masuk. Aku Minsuk. Kakak Minho,” katanya.

Aku masuk ke ruangan itu. Seorang pria sedang bermain PSP. Dia tidak kelihatan sakit. Justru sangat sehat. Aku sempat berasumsi bahwa aku salah orang, orang yang akan aku periksa kan sakit jantung tingkat tinggi dan komplikasi ginjal stadium rendah.

“Anda Minho?” tanyaku pada laki-laki yang berbaring itu.

“Ye,” dia menurunkan PSP nya. Mematikannya mungkin.

“Boleh saya memeriksa anda?” tanyaku.

“Tentu saja.”

Aku memeriksanya. Kondisinya baik. Sangat baik untuk kategori sakit parah. Aku kadang cukup tidak mengerti dengan hal-hal yang kadang aneh seperti ini. AKu perlu meminta penjelasan dari Dokter Dongjin.

“Kondisimu baik jadi tidak perlu di rawat. Tapi Dokter Dongjin mengatakan padaku agar kau dirawat hingga besok pagi. Dia akan memeriksamu besok,” kataku.

“Nah lebih baik kau memanggil dirimu dengan aku daripada saya dan memanggilku dengan kamu atau kau, jangan memakai anda. Itu sangat aneh,” protesnya.

“Tentu-tentu akan aku lakukan,” jawabku.

“Bolehkah aku berjalan-jalan?” tanyanya.

“Silahkan saja. Tapi kau dengan siapa?” aku melihat sekeliling kakaknya telah pergi.

“Sendiri sepertinya.”

“Aku akan mengantarmu,” aku memutuskan.

Aku mengembalikan hasil tesnya ke meja Dokter Dongjin kemudian kembali ke kamarnya.

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Halaman belakang. Melihat basket.”

Aku berjalan di sampingnya. Dia berjalan seperti layaknya orang biasanya. Jika kau melihat mungkin seperti aku berjalan dengan teman atau kekasihku. Tinggiku mungkin sejajar dengan matanya. Dia memiliki senyum yang indah itu asumsiku. Dan dia tidak banyak berbicara.

“Umurmu berapa?” tanyaku.

“20 tahun. Akhir tahun ini. Kamu?”

“Sama. Untuk awal tahun depan.”

“Masih sangat muda.”

“Kau juga.”

“Aku lebih tua darimu tau!”

“Hanya beberapa bulan atau lebih tepatnya beberapa minggu.”

Kami duduk di kursi taman yang menghadap ke lapangan basket. Dia duduk di sampingku.

“Mereka staf di sini kan?” tanyanya padaku.

“Tentu saja. Kadang beberapa anggota keluarga juga ikut. Mengusir jenuh,” jawabku.

“Namamu siapa?” tanyanya lagi.

“Park Hyun Ra. Kau Choi Minho kan?”

“Ne.”

“Seperti nama idola adikku saja. Dia selalu menceritakan Minho Minho dan Minho.”

“Pernah melihat wajah Minhonya adikmu itu?” tanyanya. Menahan tawa.

“Tidak. Cukup dengan mendengarnya dari Minchan saja.”

“Nama adikmu Minchan?”

“Yaap.”

“Bolehkah aku main basket?” dia bertanya tiba-tiba.

“Tidak!” larangku. Kaget dengan permintaannya.

Dia memasang wajah sedih. Aku menatap matanya dan merasa tidak tega.

“Tidak dengan mereka. Kau bisa bermain denganku. Aku kan tidak terlalu hebat, maka kau tidak akn terlalu capek,” kataku kemudian.

Untuk hal yang tidak aku mengerti, dia memelukku secara tiba-tiba.

“Ayo!” dia menarikku menuju lapangan. Aku bermain basket dengannya dan menurutku dia pemain yang sangat baik. Aku mengajaknya kembali ke kamarnya karena takut dia kelelahan.

“Terimakasih,” katanya dalam perjalanan.

“Aku sangat merindukan berain basket,” dia melengkapi.

Aku tersenyum.

“Aku akan kembali nanti, mandi dan sarapanlah dulu,” begitu kataku begitu kami sampai di depan kamarnya.

Aku berlalu meninggalkannya.

Untuk hal yang tidak aku mengerti, aku merasakan kehangatan yang aneh dalam hatiku. Seakan hatiku tertawa setelah sekian lama, sejak setahun yang lalu, sejak Goo Chun Li memutuskan untuk meninggalkanku. Aku memeluk diriku sendiri. Akankah aku jatuh cinta lagi? Atau bersiap untuk terluka lagi?

 

 

Combine as One (Chapter 1)

Combine as One

Chapter 1 – Choi Min Ho

Aku setengah kelelahan ketika tiba di dorm Shinee. Konser malam ini begitu melelahkan. Akhir-akhir ini aku selalu kelelahan. Dan aku khawatir ini bukan penyakit biasa. Bukannya berfirasat buruk atau bagaimana, hanya saja ini berlebihan. Gejalanya seperti gagal ginjal. Aku mual saat memikirkannya. Aku kan sudah menjalani hidup sehat, makanku teratur, olahragaku tentu saja, apalagi yang kurang?

Aku merebahkan diri ke sofa, dadaku mulai sakit. Bukan dadaku, jantungku. Berdetak lebih cepat. Darahku mengalir deras. Keringatku bercucuran. Semakin lama dadaku semakin sakit, tapi aku tak mampu mengaduh atau apalah, tenagaku sudah hampir habis untuk menahan rasa sakit ini. Tanganku memegangi dadaku. Tuhan, apa yang terjadi padaku? Aku menutup mataku. Kini hanya rasa sakit yang terasa di dadaku.

“Hyung Hyung? Kau kenapa?” Taemin berjongkok di dekatku. Mengguncang-guncang tubuhku.

Aku ingin menjawabnya tetapi jantungku seperti tidak mengijinkan. Semakin aku berusaha berbicara, semakin sakit saja rasanya. Seakan meminta agar dijadikan pusat perhatian olehku.

“Hyung! Jawablah! Kau sakit? Atau kenapa?” ulang Taemin.

Sudahlah Taemin, aku tak bisa menjawabnya. Pergilah. Cari obat atau apa untukku. Aku hanya menyuarakan dalam hati. Tanganku masih menempel pada dada. Sakitnya bukan main.

“Key Hyung, Onew Hyung, Jjong Hyung!” teriak Taemin mulai panik.

Kudengar langkah kaki berlarian mendekat.

“Ada apa?”

“Kenapa?”

“Ada masalah?”

Suara itu. Bersahut-sahutan. Aku mengenalinya. Tentu saja. Mereka keluargaku yang paling dekat saat ini.

“Tentu saja Hyung! Lihatlah!” ujar Taemin, menahan tangis. Aku mengenali suara ketakutan itu.

Taemin, jangan menangis, kumohon. Aku ingin memeluknya, menghentikan tangisnya dan menenangkannya. Tuhan, jangan buat semua orang kerepotan dengan sakitku ini.

“Minho, kau kenapa? Kau bisa mendengarku kan?” tanya Key Hyung tepat di telingaku.

“Kau bisa memberiku tanda kan? Kalau kau tidak pingsan atau apa?” tanya Onew.

Aku melepaskan tangan dari dadaku, berusaha sekuat mungkin mencari tangan. Aku menggenggamnya. Jantungku tidak memberiku ruang, lagi. Aku mungkin meremas tangan tersebut terlalu keras hingga dia berteriak.

“Sepertinya kita bawa saja ke rumah sakit,” suara Onew Hyung.

Aku yakin, yang lain sekarang sedang manggut-manggut.

Sakitku mulai bisa kukendalikan. Aku merasa lebih lega, walau tetap saja bukan main sakitnya!

Beberapa menit kemudian, ada beberapa langkah orang masuk ke dorm. Mereka mengangkatku dengan tandu. Sepertinya. Aku mengambil kesimpulan, semakin aku rileks semakin sakit ini hilang maka aku mencoba merilekskan seluruh tubuhku dan tidur. Toh aku juga kelelahan.

Aku membuka mata dan menemukan seberkas cahaya. Rasanya sudah terlalu lama aku berada dalam gelap. Aku merasakan perasaan bahagia berlebih saat menemukan wajah Taemin menangis menatapku. Aku tersenyum kepadanya. Dia memelukku. Kemudian pandanganku semakin luas, aku menemukan wajah seluruh temanku, sahabatku, bahkan keluargaku. Bagaimana bisa hanya dengan lolos dari rasa sakit itu tadi aku merasa benar-benar bahagia.

“Kau tadi kenapa, Hyung?” tanya Taemin.

“Entahlah aku sendiri juga tak tahu,” tipuku.

“Sudah baikan kan?” tanya Key.

“Tentu saja. Aku benar-benar sehat,” kataku.

“Kau bikin kita hampir jantungan tau!” kata Jjong.

Mendengar kata jantung, aku teringat akan rasa sakitku tadi. Aku bergidik ngeri.

“Kau kenapa lagi?” tanya Jjong.

“Tidak apa-apa kok, Hyung,” jawabku.

“Apa kata dokter soal sakitku?” tanyaku.

“Ah? Dokter sendiri belum tau kau sakit apa, cuman kau disarankan untuk dirawat beberapa saat,” jelas Onew.

“Berapa lama?” tanyaku lagi.

“Mungkin beberapa bulan ke depan,” kata Onew, nadanya sedih.

“Bagaimana dengan…”

“Tenang Minho, kau istirahatlah saja, jaga kesehatanmu jangan pikirkan soal pekerjaan,” Key menasehati.

“Aku tidak merepotkan kan?”

“Tidak, Hyung,” ucap Taemin. Dia masih memelukku. Untuk alasan apa yang tidak aku mengerti, wajahnya kelihatan sedih sekali.

“Minho!” teriak kakakku dari pintu.

“Ya ampun, Minsuk Hyung. Kau ke sini?” tanyaku.

“Tentu saja mereka mengabarkan kau sakit! Aku khawatir tau!” katanya.

“Ah kau berlebihan, Hyung. Aku sangat baik-baik saja!”

“Ah terimakasih anak-anak sudah menjaga adikku ini dengan baik,” kata Minsuk pada teman-temanku.

“Sudah menjadi kewajiban kami, Hyung,” kata Key.

“Kalian pulanglah saja, aku akan menjaganya,” kata Minsuk.

“Baiklah, kami permisi dulu,” pamit Onew. “Minho cepat sembuh ya, kami akan mengunjungimu setiap hari, jangan pikirkan soal pekerjaan,” lanjutnya.

“Tentu, Hyung,” aku mengiyakan.

“Taemin, ayo pulang!” ajak Key.

“Hyung, kau tidak apa-apa kan aku tinggal?”

“Tentu saja tidak apa-apa. Pulanglah, Taemin. Istirahatlah. Kau kelihatan benar-benar lelah,” saranku.

Taemin memelukku dengan erat. Sebelum meninggalkanku.

Hyungku, menyuruhku istirahat karena ini benar-benar sudah malam. Aku mengiyakan saja. Toh aku juga capek banget. Aku memejamkan mata dan tidur pulas, tak lama kemudian.

***

Dokterku bernama Kim Dong Jin. Dia lelaki yang berwibawa. Usianya mungkin hampir 65 tahunan, atau lebih. Dia dokter yang berpengalaman menurutku. Dan dia juga sangat baik. Dia dokter spesialis jantung, jangan kaget, menurut perkataan beliau, tanda-tanda sakitku mirip sakit jantung.

Setiap pagi aku selalu berkeliling rumah sakit dengan menaiki kursi roda. Kadang didorong teman-temanku, kadang Minsuk Hyung atau kadang perawat di rumah sakit ini. Menjadi sakit itu benar-benar menjenuhkan. Aku merindukan bernyanyi dan berlatih bersama anak-anak Shinee, mengikuti suatu acara, atau bermain basket atau apalah. Aku merindukan saat-saat itu.

Aku hampir dua minggu berada di rumah sakit ini dan sama sekali tidak pernah kumat lagi. Aku mulai suka protes, mencari alasan untuk dirawat di rumah atau di tempat lain. Aku mencoba membujuk Dokter DongJin tapi beliau bersikukuh tetap merawatku di rumah sakit. Padahal tak terbukti aku sakit jantung. Minsuk bukannya mendukungku tetapi malah sebaliknya. Dia sekarang juga overprotective seperti anak-anak Shinee. Aku merasa janggal.

Hari itu aku sedang berjalan-jalan dengan kursi rodaku, sendirian. Aku hafal jalanan rumah sakit ini. Aku iseng melewati kantor Dokter DongJin dan pintunya terbuka. Aku mendapati Minsuk sedang berbicara serius kepada beliau. Aku penasaran juga. Aku memutar kursi rodaku mendekat. Mencoba mendengar pembicaraan mereka. Aku menguping.

“Bagaimana, Dok? Dia mulai tidak betah,” kata Minsuk.

“Aku tidak yakin.”

“Mengapa?”

“Tubuhnya membaik tapi jantungnya memburuk.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Sudah kubilang, ini penyakit langka. Sifatnya menurun. Aku takut jantungnya tidak kuat lagi,” kata Dokter Dongjin sedih.

“Berapa lama akan bertahan?”

“Beberapa bulan. Kemudian bisa diganti dengan jantung buatan. Tetapi juga tidak akan bertahan lama, kita membutuhkan donor secepat mungkin,” jelas Dokter Dongjin.

Aku tidak percaya bahwa aku menangis. Kepalaku mulai pusing. Hidupku tidak akan lama lagi, aku belum siap untuk meninggalkan dunia ini. Nafasku sesak dan jantungku kembali berdetak lebih kencang. Keringatku mengucur deras. Aku tidak tahu apa yang terjadi sesudahnya yang ada hanya gelap, sakit dan gelap.

***

“Apa yang terjadi?” tanya sebuah suara. Seperti suara Key.

“Aku tidak tahu. Aku keluar dari ruangan Dokter Dong Jin dan menemukannya pingsan di atas kursi rodanya. Kupikir dia mendengar semuanya…” jelas suara Minsuk.

“Semuanya?”

“Bahkan yang terburuk,” jawab suara Minsuk.

“Bagaimana bisa? Aku kan sudah bilang dia tidak boleh tau! Jangan sampai dia tau! Kau bagaimana sih, Hyung! Kau kan kakak kandungnya tapi malah tidak menjaganya dengan baik,” suara Taemin seperti marah, putus asa.

“Taemin, jangan begitu,” ingat Key.

“Dia berharga untukku Hyung!” Taemin mulai menangis.

“Dia berarti untuk kita semua,” ucap suara Onew. Menengahi.

Aku tidak merasakan tubuhku. Apa aku akan lumpuh? Ini kejam. Setidaknya aku berharap bakal main basket hingga akhir hayat atau bermain sepakbola lah. Ya kalau pun itu terlalu muluk, paling tidak hingga aku tua. Umurku belum seberapa tua, ya ampun aku masih muda banget! Tapi tubuhku gak berdaya gini? Gak adil.

Aku berkelana soal bagaimana setting aku pergi nanti. Aku memikirkan mulai dari yang terbaik sampai terburuk. Mencoba mengenyahkan rasa sakitku. Aku sudah terlalu kebal untuk mau memperdulikan rasa sakit itu. Aku mencari hal lain untuk dipikirkan selain kematian yang membuatku bergidik ngeri itu.

Aku memikirkan tentang cinta. Awalnya hanya tentang keluargaku, kemudian sahabatku, semakin meluas dan meluas. Aku mulai memikirkan soal gadis yang akan aku cintai. Masih adakah waktu untukku jatuh cinta lagi? Sebelum aku mati dan meninggalkan semua kehidupan ini. Aku kembali lagi pada topik awal, kematian. Aku benci pikiranku.

Aku lupa apa yang terjadi. Sepertinya aku dibius karena sakit itu tiba-tiba hilang dan berubah menjadi kantuk yang dahsyat. Yasudahlah, mendingan juga tidur. Aku kembali rileks, dan menemukan diriku kembali berkelana dalam dunia yang lain, mimpi.

***

“Kau mendengar apa saja?” tanya Minsuk ketika aku bangun.

“Semuanya,” jawabku.

“Kau sedih? Atau bagaimana?” tanyanya lagi.

“Entahlah. Aku hanya tidak punya semangat,” kataku.

Minsuk memelukku.

“Berusahalah tetap bersemangat, aku akan berusaha untukmu dan terus bersamamu sampai kapan pun,” katanya.

“Trims, Hyung. Itu sangat berarti buatku,” ucapku sambil melepaskan pelukannya.

“Ngomong-ngomong kau beruntung banget punya teman sebaik mereka.”

“Siapa? Anak-anak Shinee?”

“Tentu saja. Siapa lagi?”

“Umh. Mereka memang baik sama aku. Setidaknya aku mendapatkan cukup banyak hal selama bersama mereka.”

Kami bercengkrama sambil berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit. Aku duduk di kursi roda tentu saja. Minsuk mengajakku ke bagian belakang rumah sakit, sebuah lapangan basket. Tamannya luas dengan rumput hijau dan pepohonan yang rindang. Bungabunga juga menambah warn ataman. Menyenangkan di sini. Sejuk dan bahagia.

“Kau iri dengan mereka?” tanya Minsuk padaku. Mengetahui aku memandangi orang-orang yang bermain basket.

“Tidak. Saat ini tidak untuk alasan apa yang tidak aku mengerti, aku tidak iri,” jawabku.

“Kufikir aku bakal merasa berdosa kalau membawamu ke sini,” gumamnya.

“Tidak, Hyung. Ini asik banget. Makasih ya,” kataku.

Aku menikmati pagiku dengan menonton basket. Cukup asyik. Minsuk membawakan sarapanku. Dia bercerita tentang penyakitku. Aku sih sudah ikhlas mendengarnya, intinya umurku tak akan lama lagi. Aku mengalami keputus asaan itu jelas, tapi aku meninggalkan karirku di saat kebintangan? Sebenarnya bukan soal itu juga. Sebenarnya tentang para Flames, Shawol. Aku tidak ingin mereka menjadi sedih karenaku. Aku memikirkan berbagai cara untuk menutupi keadaanku.

“Hyung,” panggilku.

“Ya, Minho?”

“Apa mereka tau tentang keadaanku?”

“Siapa? Onew dan lainnya? Tentu saja. Dia yang pertama kali tau.”

“Bukan. Bukan anak-anak Shinee, tapi mereka, Shawol, Flames,” jawabku.

“Oh. Mereka tidak tau.” “Lebih tepatnya belum tau,” dia mengoreksi.

“Bisakah kita rahasiakan ini?” pintaku.

“Mengapa?”

“Aku tidak ingin dikasihani. Ya anggap saja aku tidak ingin mereka bersedih karenaku.”

“Aku akan mengusahakannya, aku akan mengatakannya pada teman-teman dan managermu.”

“Terimakasih Hyung. Kau yang terbaik,” kataku.

“Sama-sama. Sudahlah jangan mellow begitu Minho.”

Dia memang pandai mencari topik. Kami cukup lama menghabiskan waktu di taman ini, agaknya terlalu lama malah. Kami kembali untuk cek pagi ini dan mandi. Aku harus banyak beristirahat. Dalam ini kuanggap sebagai tidak melakukan apa pun dan tidak memikirkan apa pun. Bisa kan kau bayangkan betapa membosankannya ini?

“Bagaimana, Dok?” tanyaku pada Dokter Dongji.

“Baik. Tapi tetap tidak bisa diduga,” jawabnya.

Aku tersenyum cukup lebar mungkin.

“Tapi kau harus menjaga kesehatanmu, jika terjadi serangan terhadap jantungmu, kemungkinanannya mungkin buruk. Semakin sering terjadi, maka semakin lemah keadaanmu. Dan ya ginjalmu juga mengalami gagal ginjal stadium awal. Jangan bersedih tetaplah semangat,” ujar Dokter Dongjin.

Aku mengangguk. Dokter Dongjin keluar dari kamarku. Jadi begitu cara kerja jantungku? Aku sedikit protes terhadap diriku sendiri. Dan gagal ginjal? Wow seperti penyakitku kurang saja ya.

“Kau tidak apa-apa kan?” tanya kakakku khawatir.

“Tidak. Aku lebih suka begini, tidak ada rahasia,” aku meyakinkannya.

Aku bisa menerima segalanya dengan mudah. Bisa dibilang begitu sih, kalau aku menangis atau bagaimana akhirnya juga tidak  berarti kan? Membuang tenaga. Lebih baik aku mencari hal yang bisa aku kerjakan.

Aku kini suka membaca, lebih dari yang dulu-dulu. Aku melatih otakku bermain catur. Atau kadang membuat lagu. Aku masih suka menyanyi di sini. Cuman tidak bisa berolahraga lagi, ya ampun cita-citaku tak kan terwujud. Ah sudahlah, aku tidak ingin memikirkan hal itu.

***

Aku sudah berbulan-bulan berada di sini. Aku tidak lagi jenuh, aku mencoba menikmatinya. Aku berteman dengan beberapa pasien di sini, Shinee sering menghibur mereka. Shinee adalah keluarga terbaikku. Mereka selalu menemuiku walaupun jadwal kegiatan mereka sangat padat. Tapi mereka tetap menyempatkan diri. Aku merasa senang setiap kali mendengar celotehan Taemin dan Key Hyung atau kekonyolan Onew Hyung. Jjong Hyun sering mengajariku membuat lagu. Dia musisi yang sangat baik.

Aku melupakan kapan aku akan pergi atau settingnya nanti akan bagaimana. Aku hanya perlu bahagia selama sisa hidupku ini. Semuanya karena Taemin, dia adalah penghibur terbaik. Mungkin dialah alasan aku tidak ikhlas untuk pergi. Taemin, satu-satunya adikku. Aku masih mengingatnya setiap momen ketika dia meminta bantuan padaku. Ketika dia mengungkapkan kejujurannya, kepolosannya. Aku menyayanginya, mungkin lebih dari Minsuk. Entahlah aku sendiri juga tidak tau.

Shawol memahami kesehatanku yang sedang buruk. Itu hanya alasan. Onew Hyung pernah bilang di suatu acara bahwa aku harus menjaga kesehatan karena sempat terdampar di rumah sakit karena kelelahan. Bodoh aku masih terus di sini. Tapi aku lega mendengarnya. Dia juga bilang bahwa aku sedangg berlibur ke tempat rahasia. Dan menurutku itu konyol, berlibur? Sakit dibilang berlibur. Mereka aneh-aneh saja.

Warga rumah sakit ini juga sangat baik. Aku sendiri juga bingung, mengapa keberadaanku di sini masih menjadi rahasia? Tidakkah para pasien yang telah keluar dari rumah sakit ini menyebarkan berita tersebut? Atau mereka mengerti keadaanku? Yang tidak boleh diganggu. Well, aku tidak terlalu peduli juga, toh aku kan untung. Mereka orang-orang yang baik, aku menyimpulkan.

***

Ini sudah hampir 4 bulan dan aku mulai bisa leluasa. Aku sering pulang, aku bisa mengisi 2-3 acara dalam sehari. Tetapi hanya menari maksimal 4 lagu. Aku merasa jauh lebih baik. Jantungku sama sekali tidaka pernah protes seperti bebrapa bulan yang lalu. Aku lebih sering membintangi iklan dan menjadi model majalah. Itu pekerjaaan yang cukup ringan. Aku maish tidak boleh berolahraga. Dan Shawol masih tidak mengetahui penyakitku yang berangsur membaik.

Aku kembali di rawat di rumah sakit, untuk menjalani pemeriksaan. Bukan karena kumat sih hanya ingin mengetahui perkembangan jantungku.

Pagi ini Dokter Dongjin ijin dan digantikan oleh seorang dokter muda. Dia seorang wanita, kupikir dia masih sangat muda. Namanya Park Hyun Ra. Dia cantik, tubuhnya sangat bagus. Tingginya semataku, rambutnya sangat hitam, dia memiliki lesung pipi. Seandainya dia tidak menggunakan kacamata, mungkin aku akan sesering mungin memandang matanya, warnanya coklat tua.

Hyun Ra wanita yang sangat kalem. Dan pagi itu dia mengajakku jalan-jalan. Ke taman belakang kesayanganku.

“Mereka staf di sini kan?” tanyaku pada Hyun Ra begitu sampai di taman.

“Tentu saja. Kadang beberapa anggota keluarga juga ikut. Mengusir jenuh,” kata Hyun Ra.

Dia duduk di sebelahku.

“Bolehkah aku main basket?” tanyaku padanya.

“Tidak!” larangnya.

Aku memasang wajah sedih.

“Tidak dengan mereka. Kau bisa bermain denganku. Aku kan tidak terlalu hebat, maka kau tidak akn terlalu capek,” katanya.

Aku senang setengah mati. Respek mendadak, aku memeluknya.

“Ayo!” aku menariknya menuju lapangan. Aku bermain basket dengannya, tidak terlalu lama hanya 10 menitan. Dan aku sama sekali tidak lelah. Kami kembali menuju kamarku, dia mengantarku.

“Aku akan kembali nanti, mandi dan sarapanlah dulu,” katanya.

Kemudian dia berlalu meninggalkanku. Aku menatap punggungnya. Dia gadis pertama yang memeberiku kebahagiaan setelah sekian lama, batinku.

Aku masuk dan mandi segera mandi. Seperti apa yang dia perintahkan tadi.