Combine as One (chapter 4)

Combine as One

Chapter 4

Park Hyun Ra

Aku kaget saat akan membayar makananku. Bukannya aku tadi sudah membawa dompet? Aku yakin seyakin yakinnya. Perasaanku tiba-tiba menjadi tidak karuan. Aku meninggalkan makananku di meja kasir. Berlari menuju rumah sakit.

Sulit untuk masuk ke dalam rumah sakit karena banyak orang berkumpul di depan rumah sakit. Menyalakan lilin sepertinya. Beberapa diantaranya menangis dengan hebat. Sepertinya rombongan itu belum cukup saja, masih terus berdatangan orang-orang yang lain. Sepertinya ada artis yang sakit parah, atau emm entahlah mungkin akan meninggal. Aku melihat beberapa tulisan besar ucapan semoga lekas sembuh dan wajah yang tidak terlalu jelas karena hari masih pagi.

Aku tidak terlalu memikirkan hal itu, ada yang lebih penting, Min Chan. Perasaanku sungguh tak nyaman.

Aku tiba di kamar dan tak menemuinya. Aku panik dan bingung, berteriak-teriak. Hingga seorang suster masuk dan menenangkanku. Aku duduk sementara suster itu mencari Min Chan. Aku mengalami mual yang biasa disebut khawatir berlebihan.

Mungkin hampir 15 menit aku menunggu. Hingga beberapa orang masuk sambil mendorong tempat tidur. Tubuhnya di tutup kain putih. Aku seperti tersengat listrik. Aku hampir pingsan. Aku berjalan mendekatinya. Membuka kain tersebut. Dugaanku tepat, Min Chan. Aku menjerit dan menangis histeris. Aku menyentuh tangannya dan menggenggamnya, dingin. Benarkah dia pergi? Bukankah dia tadi terlihat sangat sehat?

Aku menciummi tangannya. Melihat wajahnya, dia tersenyum bahagia. Terlalu bahagia untuk ukuran senyum Min Chan. Tangan kirinya seperti habis menggenggam sesuatu.

“Dia kenapa?” tanyaku. Tidak percaya. Masih menggenggam tangannya.

“Ditemukan begitu di atas kursi rodanya, tidak ada tanda kecelakaan atau luka lain selain lukanya kemarin,” jelas seseorang.

Aku tidak peduli ini Rumah Sakit atau apa. Aku juga tidak peduli bahwa aku dokter di sini, aku hanya ingin Min Chan.

“Min Chan, bangunlah. Bangun, Min Chan,” kataku sambil mengguncang-guncang tubuhnya.

“Dia sudah pergi, Dok,” kata seorang suster.

“Dia tidak pergi. Yakan, Min Chan? Kau gak akan meninggalkan Unni kan?”

“Kami hanya mau memberitahumu bahwa dia telah mendonorkan tubuhnya. Bolehkan kami mengambilnya sekarang?” tanya seorang perawat sambil menyodorkan surat donor Min Chan.

“Ne, tentu, apa pun yang membuatnya bahagia,” kataku sambil melepaskan genggamanku.

Min Chan telah pergi. Meninggalkan aku. Setega itukah Tuhan padaku? Bukankah dia baru saja mengambil Umma? Maksutku, aku kan belum bisa menerima itu walaupun sudah beberapa tahun. Aku tidak ingin Min Chan pergi. Siapa yang akan mengurusnya di sana? Siapa yang nanti akan mendengarkan tangisku? Aku sendirian. Seakan masuk ke lubang yang gelap, pandanganku mulai kabur dan semuanya menjadi gelap.

“Min Chan di mana?” tanya Chan Gi begitu aku sadar.

Aku tersedak saat meminum espresso hangatku.

“Aku tidak melihat dia,” katanya lagi.

“Ti-dak akan pernah me-li-hat dia… lagi,” kataku.

“Maksutnya?”

“Dia… … per-gi. Benar-benar…” aku menghela nafas panjang untuk menyelesaikannya, “pergi.”

“Bukankah tadi pagi kau bilang Min Chan baik-baik saja?” tanyanya syook.

“Tadinya. Aku juga tak tau,” jawabku menyandarkan tubuhku yang terasa terlalu berat ini ke tembok.

“Dia pergi?”

Aku diam saja.

“Bagaimana bisa?” tanyanya lagi.

“Aku tidak tau. Dia ditemukan begitu.”

“Tidak ada luka lain…” lanjutku.

“Aku tidak mengerti,” ucapnya frustasi.

“Aku lebih tidak mengerti.”

Aku menyandarkan tubuhku ke bahu Chan Gi. Aku tidak sanggup kehilangan lagi, setelah Umma. Tapi aku selalu dipaksa kehilangan. Jika seseorang yang menjadi tumpuanku pergi, ke mana lagi aku harus bertumpu di saat terjatuh?

***

Karangan bunga terus-menerus datang. Aku tidak menangis. Kelewat lelah mungkin. Aku tidak berbicara. Tidak merasakan apa-apa. Berasa hampa? Mungkin. Aku hanya butuh Min Chan, Park Min Chan, satu-satunya adikku.

Appa datang pagi hari. Menangis di depan pintu saat melihat peti Min Chan. Teriakkannya mengiris hatiku. Hidup ini sulit. Tapi menerima kematian seseorang yang kau cintai jauh lebih sulit.

Min Chan dikuburkan. Aku tidak mengetahui bagaimana tanah yang tadinya berupa lubang tiba-tiba sudah tertutup? Begitu cepatnya prosesi pemakaman itu atau aku yang terlalu lama melamun? Aku menabur bunga di atas pusaranya. Menaruh buket bunga di atasnya. Cakram warnanya tidak beraturan, tulip ungu, anggrek, sunflower, mawar, lily, krysan, dan daisy. Aku mengelus pusaranya. Masih tidak percaya. Kepalaku pusing.

Hyun Ji, teman terdekat Min Chan menangis di sampingku. Ketera sekali dia sangat kehilangan Minchan. Berkali-kali dia mengucapkan bahwa Minchan adalah satu-satunya orang yang mau menerimanya dengan baik. Tidakkah dia mengerti tangisannya semakin memilukan hatiku? Bodoh aku kelewat sensitive. Atau justru menyalahkan semua orang atas ketidakadilan ini? Terserah. Aku tidak peduli.

***

Aku memutuskan meninggalkan Seoul, terlalu banyak kenangan Min Chan di sana-sini. Aku pergi ke Inggris. Menempuh pendidikan S2 untukku. Meninggalkan segala memori pahitku di Korea.

***

Choi Minho

Aku mengemudi dengan kecepatan yang cukup tinggi. Berharap bisa sampai di dorm lebih cepat. Aku gak mau terjebak oleh rombongan Shawol. Bukannya aku sombong, tapi aku kan capek banget hari ini. Kalo aku terjebak dan serangan jantung di tengah-tengah ulang tahun kan gak lucu.

Sebuah mobil Honda Jazz meluncur di belakangku, mencoba menyalipku. Mobil kami berdampingan. Aku kaget karena tiba-tiba sebuah truck oleng. Aku mencoba mengerem, tapi gagal, remnya tidak mempang. Aku panik. Truck tersebut semakin dekat saja, lampunya mulai menyilaukan mataku. Aku meraih kado terakhir dari fansku. Boneka teddy yang memegang bola basket dengan tulisan saranghae di atasnya. Biasa sih, tapi setidaknya aku mengingat jelas wajah gadis itu, membuat boneka ini berharga. Aku memasukkannya ke dalam jaketku.

Jadi beginikah setting kematianku? Ironis. Tapi cukup baik. Aku tidak perlu merepotkan para Shawol. Mereka kan hanya bakal tau aku mati karena tabrakan. Cukup adil. Aku memejamkan mata.

Sedetik kemudian, truck tersebut benar-benar menabrak mobil kami. Aku syok mendengar suara berdebam. Mobilku terguling, miring. Kacanya pecah. Satu hal yang pasti, aku kaget. Jantungku seakan melompat kuat dan menunjukkan kekuatannya. Aku yakin tubuhku tak terluka parah, tapi dadaku terlalu sesak. Rasanya terlalu sakit, tidak tergambarkan. Aku tidak merasakan kakiku, tanganku, bahkan pandanganku. Aku pusing dan dadaku sakit, aku mendekap dada dan bonekaku, mencoba rileks tapi sia-sia. Parah, aku tidak kuat menahannya, mungkin aku tidak mati karena tabrakan ini, tapi aku mati karena jantungan pada tabrakan ini, konyol.

Aku mulai memikirkan wajah-wajah orang yang aku sayangi, Umma, Appa, Minsuk, Hyung-Hyungku, Taemin, Hyung-hyung di SJ dan DBSK, YoonA, Yuri, Goo Hara, dan lainnya, semuanya berputar membentuk rentetan film panjang. Ditutup oleh wajah gadis yang memberiku boneka ini. Aku menutup mataku dan semuanya gelap. Selamat tinggal… Aku menyayangi kalian…

***

“Minho, aku mencintaimu. Seandainya aku punya cara untuk menghidupkanmu.”

“Hai, Minho. Aku Minchan. Kau menyimpan hadiahku tadi ya?”

“Seharusnya, kau hari berulang tahun kan Minho? Saengil Chukkae, Oppa.”

“Tuhan, jika kau ijinkan, bolehkah aku menukar nyawaku dengannya? Aku mencintai laki-laki ini Tuhan. Tuhan, aku yakin jika dia hidup dia akan lebih berarti daripada aku. Aku tidak akan bunuh diri. Aku hanya ingin Kau menukar nyawaku dengannya. Boleh ya Tuhan? Plis, plis. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagiMu? Tapi sebelum itu, biarkan aku menyampaikan beberapa hal untuknya…… Minho, aku mencintaimu. Aku memang fansmu tapi kau seseorang yang emh, tidak bisa digambarkan. Seseorang yang bisa menjadi motivasiku selama beberapa tahun ini. Minho, jika Tuhan mengijinkan niatku ini, maukah kau menjaga nyawamu nanti? Cintailah fansmu. Mereka sangat menyayangimu. Mungkin lebih daripada aku semoga kita bertemu suatu saat. Terimakasih Minho ……Tuhan, aku sudah selesai. Tolong kabulkanlah doaku tadi.”

“Aku mencintamu, Hyun Ra, Appa… dan kau, Minho.”

Suara itu terus-menerus terulang. Aku sampai hafal setiap perkataannya. Aku tidak merasakan apa pun kecuali gelap. Bukankah aku seharusnya sudah mati? Ini surga atau neraka? Ini putih atau hitam? Keadaannya aneh.

Suara itu tak mau berhenti. Min Chan? Siapa dia? Boneka? Aku tidak mengerti. Rumit. Mungkin aku perlu menanyakan hal seperti ini kepada Key Hyung atau Jjong Hyung? Atau justru Minsuk? Tapi kupikir Changmin Hyung lebih mengerti aku. Ah bodoh, mikir apa sih aku. Mereka kan berada di dunia. Dan aku? Entahlah aku sendiri tidak tau ini di mana.

Aku mulai merasakan sesuatu. Kehangatan mulai menjalari tubuhku. Sepertinya. Aku mulai mendapati kakiku, kemudian naik-naik-dan terus naik. Hingga aku mendengar detak jantungku sendiri. Masihkah aku punya jantung? Otakku mulai terasa ringan. Aneh. Aku tidak cukup mengerti tentang ini. Ah sudahlah. Biarkan Tuhan yang mengurus.

Suara itu berhenti, kemudian aku melihat ingatan tabrakan tadi. Seperti ingatan orang lain, bukan aku, mungkin orang dalam mobil Honda Jazz tadi? Aku tidak tahu. Gambarannya berubah. Kebanyakan besar tentang aku, atau lebih tepatnya perasaan orang itu terhadapku, aku merasa tersanjung dicintai dengan sebegitu besarnya. Aku melihat wajahku, selalu wajahku, mulai dari poster, album, konser, bahkan aku mendengar suaraku. Siapakah dia? Aku bingung memahami semua ini. Gila. Cukup. Ini terlalu, ah tidak tergambarkan.

Semua berhenti saat cahaya mulai menyilaukan mataku. Sebenarnya tidak terlalu terang, tapi aku kan baru saja dari tempat yang terlalu gelap jadi kepalaku pusing saat terkena cahaya itu. Aku melihat wajah-wajah keluargaku, teman-temanku. Seindah inikah surga? Bukankah seharusnya mereka tidak di sini? Atau, aku yang tidak mati? Aku meragukan pikiran terakhirku.

“Minho, kau bangun juga akhirnya?” suara Minsuk membuka. Tepat di dekat telingaku.

Beberapa orang menangis, aku yakin itu Umma dan Taemin. Ah ya Taemin.

“Di mana aku?” tanyaku. Aku sulit berbicara.

“Rumah sakit, Minho. Tabrakan itu membuatmu koma semalaman, untung operasi berjalan lancar.”

“Aku tidak punya jantung lagi ya?” tanyaku.

Semua terdiam. Sepi.

“Jantung buatan kan? Ah untuk apa aku hidup, Umma, Appa bukankah ini akan menyusahkan kalian saja?” aku berkata tanpa memandang.

“Kau punya jantung, Minho. Tapi itu bukan jantungmu.”

Aku merasa tersengat listrik.

“Seseorang mendonorkan jantungnya untukmu, bahkan ginjalnya juga.”

Aku tidak tau harus merasa bagaimana, senang atau justru sedih. Bingung. Intinya aku masih hidup.

“Siapa dia?”

“Kami tidak diperkenankan memberi tau, kebijakan rumah sakit,” ucap seorang perawat.

Aku memandang wajah mereka semua. Orang-orang yang menyayangiku, aku merasa terharu diliputi rasa bahagia seperti itu.

“Kau harus melihat keluar,” kata Minsuk sambil membuka gorden.

“Memang ada apa?”

Aku mencoba turun dari tempat tidurku, dibimbing oleh Appa dan Onew Hyung.

“Lihatlah ke bawah, mereka menantimu sejak kemarin,” kata Minsuk.

Aku terkejut melihat lautan manusia terlihat dari jendela. Mereka berteriak begitu aku menyibakkan gorden.

“Oppa!” teriak mereka. Wow aku sampai bisa mendengarnya. Aku merasa terharu.

Aku melihat spanduk besar ucapan selamat ulang tahun untukku. Aku menitikkan air mata. Ya ampun hari ini aku ultah ya? Sampai lupa. Sungguh beruntungnya aku, mendapatkan hidup yang baru di ulangtahun ke 20 ku. Tuhan ternyata sangat baik.

“Kau ultah kan, Hyung?” tanya Taemin.

Aku hanya ber hem-hem ria.

“Bagaimana kalau kita rayakan ulang tahunmu kali ini? Sekalian dengan kesembuhanmu,” saran Appa.

“Ya ampun, Appa ini apa-apaan sih. Kayak anak kecil ah. Lagian aku juga belum sembuh,” kataku.

“Ya anggap aja merayakan kehidupanmu,” ujar Changmin Hyung sambil merangkulku.

“Oh oke-oke. Payah kalau semua mulai memaksa begini,” aku menggerutu.

Mereka semua cuma tertawa.

“Gantilah pakaianmu, Minho. Kau benar-benar…mengerikan,” ucap YoonA Noona.

Aku melihat tubuhku. Pakaian yang sama dengan kemarin. Dan benar saja. Aku lebih mirip vampire yang habis makan manusia. Penuh darah.

“Oya, kami akan memberimu waktu. Bersihkanlah dirimu. Sekalian mempersiapkan pesta,” kata Umma yang masih dirangkul Appa sejak tadi.

“Memangnya aku boleh keluar rumah sakit?” tanyaku.

“Rumah sakit ini punya ruangan yang cukup luas untuk itu,” kata Minsuk Hyung.

“Lapangan basket,” aku menyimpulkan.

Seorang perawat membantuku melepas infuse ku.

“Panggil aku jika kau sudah selesai” ucapnya.

Aku mengangguk.

Mereka keluar dari kamar rawatku. Ruangan menjadi terasa besar. Aku mencari pakaian di almari kecil Di samping kaca besar. Ini sih bukan kamar rawat, lebih mirip apartemen, batinku.

“Hai,” sapa seseorang.

Aku melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Dan bukannya tadi aku tidak mendengar suara? Tidak ada suara. Aku bergidik.

“Kau kelewat sehat tau gak, Minho,” seseorang mengajakku bicara.

“Kau siapa?” tanyaku. Bersuara.

Bukan. Aku tadi tidak mendengar suara. Tidak ada suara kecuali kerumunan di bawah. Itu juga tidak terlalu berisik. Seperti… ada di pikiranku.

“Aku juga bingung sih, Minho. Kenapa bisa begini. Mungkin karena kau punya jantung dan ginjalku?” dia mengobrol sendiri.

Percakapan ini benar-benar tanpa suara. Opsi pertama, aku sudah gila karena merasa ada seseorang. Opsi kedua, aku bermain pikiran.

“Kau gak gila kok,” katanya.

Aku malah terpaku di depan kaca. Memandangi bayangan tubuhku.

“Kau ganteng banget tau gak?” katanya sambil tertawa.

“Trims,” kataku akhirnya.

Bodoh. Ini kelewat bodoh. Aku berasa ngomong sendiri sama diriku.

“Lebih tepatnya sama pikiranku sih, Minho. Pikiran kita bisa saling berbicara,” jelasnya.

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah. Tanya pada Tuhan.”

Aku membayangkan dia sedang mengangkat bahu sambil mengangat alisnya.

“Kau cewek kan?” tanyaku.

“Aham. Dari mana kau tau?” tanyanya.

“Insting. Kalau kau laki mana mungkin bilang aku tampan.”

“Jangan kepedean gitu deh, Minho. Kau jadi mirip sama Jonghyun tau gak?”

Kepalaku sakit jadi aku memejamkan mata. Kemudian aku melihat kenangan masa lalu. Seakan itu pernah terjadi padaku. Ummanya meninggal, Appanya, kakaknya, dia. Konser Shinee. Dan hal-hal lain. Semuanya.

“Kenapa aku bisa tau itu?” tanyaku. Agak kesal.

“Err maaf sih, Minho. Aku cuman sedang memikirkan mereka. Aku gak yakin mereka baik-baik saja.”

“Aku gak ngerti.”

“Aku tukar nyawa sama kamu. Ya aku gatau sih tapi Tuhan ngijinin cuman kupikir aku rada seperti benalu gini. Mending gak ada sekalian deh.”

“Tukar nyawa? Emang bisa?”

“Ya anggep gitu deh. Aku kan gak ngerti geblek. Memangnya aku Tuhan apa. Aku kan cuma berdoa gitu aja sama Tuhan.”

“Berarti kamu tadi minta sama Tuhan? Ngapain sih repot-repot. Aku gak butuh bantuanmu,” kataku marah.

Dia sepertinya sangat syok dengan kata-kataku. Dia menjadi tidak berdaya.

“Aku cuma ingin kamu tetep hidup. Kamu gak tau gimana perasaan fansmu seandainya mereka kehilangan kamu! Aku juga gak mau jadi benalu buatmu kok! Aku kan udah bilang lebih baik gak ada daripada jadi benalu gini!” ucapnya.

Setiap kata seakan menohokku keras. Aku yakin dia sedang menangis saat ini. Aku bisa merasakan perasaannya. Aku terlalu tega? Tapi aku membencinya.

“Apa kau tau pikiranku dan perasaanku saat ini?” tanyaku. Agak merasa bersalah karena memikirkan bahwa aku membencinya.

“Ng ng… Enggak sepertinya. Aku cuma tau kalau kau emang membaginya denganku. Tapi kau bakal selalu tau pikiranku.”

Aku ingat untuk apa aku tadi ditinggal sendirian. Aku mengambil kaos hitam. Aku membuka bajuku. Dia melompat kaget. Aku diam sejenak.

“Ya ampun kau gak kalah seksi sama yang di foto!” batinnya. Aku tau dia gak berniat mengutarakannya padaku.

Aku malah memandangi bayanganku. Benarkah? Sebegitu menawannya aku bagi dia? ya ampun ngomong apa sih. Jangan sombong, Minho. Aku mengingatkan diriku sendiri.

“Aku mau ganti baju. Kamu pergi dulu deh!” kataku. Agak membentaknya.

Tiba-tiba dia hilang. Tak ada lagi pikiran-pikiran lain selain pikiranku sendiri. Aku bergegas mengganti pakaianku. Kemudian memasukkan pakaianku tadi ke keranjang cucian.

“Udah?” tanyanya.

Aku terlonjak kaget.

“Lain kali jangan ngagetin. Kok bisa hilang tiba-tiba?”

“Mana aku tau. Aku cuma coba memikirkan menutup pintu karena kau mau ganti. Anggap aja gitu. Suwer aku gak ngintip. Kau tau kan aku gak liat apa-apa? Tenang nanti kalau kau lagi  mandi aku juga bakal hilang kok,”katanya. Aku mengakui bahwa dia jujur.

“Kenapa gak bisa hilang selamanya?” tanyaku. Dia tersentak. Reaksinya melalui tubuhku.

“Kau bisa mengendalikanku?” tanyaku lagi.

“Aku gak tau,” jawabnya lemah. Menjawab dua pertanyaan sekaligus. Dia agak tersinggung sepertinya.

Aku diam saja.

“Udah seleai belum sih, Minho?” tanya kakakku. Dia menjulurkan kepalanya.

“Aku gausah mandi ya?”

“Oke. Tapi ke kamar mandi dulu sana, cuci muka, sikat gigi. Pakai parfum biar wangi.”

“Oke Hyung. Siap!” kataku langsung bergegas melaksanakannya.

Aku memakai jas hitam agar terlihat lebih formal.

“Pakai yang abu. Kaosmu sudah hitam,” sarannya.

Aku mengembalikan jas hitamku dan menggunakan yang warna abu.

Kesimpulannya, aku tidak peduli dengan dia ada di sana atau tidak. Kedua, aku membencinya itu pasti, walau sebenarnya separuh hatiku menolak kejahatan pribadiku. Alasan kebencianku? Aku seakan tidak memiliki privasi. Hal lain? Tukar nyawa masih menjadi tanda tanya.

“Maaf,” katanya. Sepertinya aku tidak sengaja membuka pikiran.

“Enyahlah!”

Dia menghilang. Entah ke mana. Intinya otakku hanya berisi pikiranku. Cukup melegakan. Toh aku kan bakal senang-senang. Well, setidaknya aku bisa membagi kebahagianku dulu dengan para fans yang seharian menungguku di sana. Mereka juga diundang sepertinya.

Aku bergegas keluar kamar dan mengunci pintunya. Aku harus membahagiakan diriku sekarang, sudah lama aku tidak merasa bahagia. Setidaknya tidak sejak… dokter itu. Aku kaget. Ah sudahlah, malah memikirkan itu. Payah. Merusak suasana deh. Well, let’s start the party!

Advertisements

Combine as One (Chapter 2)

Combine as One

Chapter 2 – Park Hyun Ra

Aku sudah cukup lelah menghadapi masalah cintaku selama ini. Bodoh semuanya berakhir sia-sia. Mau bagaimana lagi? Aku kan memang tidak beruntung dalam hal itu. Walaupun kau seorang dokter muda sekali pun.

Aku sudah kebal untuk disakiti. Bahkan untuk yang ini sekali pun. Namanya Goo Chun Li. Dia temanku di SMA ku dulu. Lebih tepatnya satu angkatan di atasku. Kufikir dia orang yang tepat. Tetapi dia sama saja. Ternyata dia hanya meminta bantuanku untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Setelah dia lulus, dia justru langsung bertunangan dengan seorang model.

Aku sudah tidak lagi peduli. Tapi aku sering tidak bisa membendung perasaanku untuk tidak jatuh cinta. Tetapi akhirnya sama saja, aku terlalu mudah ditaklukan, begitu kata adikku, Park Min Chan. Sahabatku, Shin Chan Gi justru bilang aku terlalu baik atau dalam kamusku, terlalu bodoh. Mungkin sih tapi bukankah manusia seharusnya menjadi baik?

Satu yang lalu aku berhasil menyelesaikan beasiswa kuliah 3 tahun di Universitas Nasional Seoul. Jurusan kedokteran. Kini aku menjadi dokter muda di sebuah rumah sakit swasta. Aku sungguh bersyukur untuk hal yang satu ini, aku terlahir dengan kepintaran yang lumayan bisa dibanggakan.

***

“Unnie,” teriak adikku pagi itu.

“Ada apa sih, Minchan?”

“Unn aku mau pergi. Boleh ya pinjam mobil?”

“Emang mobil kamu ke mana?”

“Bensinnya tinggal dikit. Aku gak punya uang buat beli bensin Un.”

“Alah ngeles, bilang aja mau mejeng.”

“Ah beneran, Un. Aku gak punya uang.”

“Emang uang sakumu ke mana?”

“Abis. Buat beli tiket. Tambahin dong, Un,” dia mulai merayu.

Aku masuk ke kamar dan mengambilkannya kunci mobil lengkap dengan STNKnya serta beberapa lembar uang.

“Nih,” kataku sambil menyodorkan kunci serta uang kepadanya.

“Ah Unnie cantik deh. Aku pergi dulu ya,” pamitnya sambil mencium pipiku.

Minchan berlari keluar.

Aku yakin dia akan menonton konser idolanya, Shinee. Dia kan ngefans banget sama personelnya, namanya Choi Minho kalau gak salah. Tuh aku sampai hafal. Semua yang dibicarakannya selalu tentang Minho. Kufikir sih dia cuman fans fanatik begitu tapi dia bilang dia suka beneran, apalah.

Minchan bagi aku adalah segalanya. Sejak Umma meninggal bertahun yang lalu, aku tidak memiliki siapa-siapa kecuali Minchan. Appa terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Menghidupi kami. Aku yang harus menggantikan peran Umma. Mulai dari mencuci, membersihkan dan lainnya. Untungnya Minchan selalu membantuku. Dia tidak pernah sedih terhadap kepergian Umma. Dia pernah bilang, bahwa semua orang harus kembali kepada Tuhan. Jadi tidak perlu khawatir jika kita tiba-tiba dipanggil karena seharusnya kita memang harus kembali kepada pencipta.

Minchan tingginya sekitar sebahuku. Menurutku dia cantik hanya saja tidak terlalu peduli tentang hal-hal seperti itu. Rambutnya coklat gelap, jika tidak terkena cahaya terlihat berwarna hitam mirip dengan mendiang Umma. Matanya persis sepertiku. Coklat. Dia juga memiliki lesung pipi. Bedanya Minchan itu lebih cuek daripada aku. Dia tidak peduli soal penampilan atau hal semacamnya. Teman-teman Minchan sendiri kebanyakan lelaki. Aku kadang suka khawatir memikirkan itu, takut dia terkena pergaulan bebas. Tapi aku percaya Minchan bisa menjaga dirinya.

Aku menghentikan lamunanku. Karena aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Itu pasti Chan Gi, batinku. Aku berlari membukakan pintu untuknya.

“Hai, Hyun Ra,” sapanya.

“Sendirian?” tanyaku.

Kami masuk ke dalam rumah.

“Tentu saja. Mau dengan siapa lagi?”

“Kau ngapain ke sini?”

“Mau minta makan. Kau masak apa?” tanyanya.

“Philly Cheese Steak. Kau mau?”

“Aku kan lapar. Jadi apa pun yang kau masak akan aku makan. Kau sudah makan?”

“Belum sih.”

Kami makan bersama di ruang makan. Chan Gi menjadi sahabat karibku sejak SD. Dia selalu masuk di sekolah yang sama. Bahkan selalu satu kelas. Kecuali saat kuliah, kami berbeda jurusan. Dia mengambil jurusan ekonomi.

“Kau akan datang?” tanya Chan Gi tiba-tiba.

Aku tersedak.

“Maaf sudah menanyakannya,” ucapnya lagi.

“Tidak. Apa-apa. Aku mengerti. Kau datang? Aku datang jika mendapat pasangan,” kataku setelah meminum segelas air putih.

“Benarkah? Aku tidak percaya. Bukankah dia sudah menghianatimu?”

“Sudahlah. Lupakan. Aku kan tadi juga bilang, jika mendapat pasangan. Kufikir undangan dengan pasangannya itu hanya alasan agar aku tidak datang. Lagian juga masih lama kan.”

“Ne. Aku kan cuman ingin tau. Gak ku sangka jawabanmu bakal begitu.”

“Lebih baik sih aku datang. Nanti dipikirnya aku tidak bisa melupakan dia.”

“Betul,” dia membenarkan.

Kami kembali tenggelam dengan makanan masing-masing.

Chan Gi nongkrong seharian di rumahku. Aku juga sedang libur, dan pasienku sedang baik-baik saja. Aku senang-senang saja dia di sini, paling tidak aku tidak akan kesepian ditinggal Michan.

“Michan ke mana?” tanya Chan Gi setelah menyadari Minchan tidak ada seharian.

“Sepertinya pergi nonton konser. Dia selalu antri untuk dapat tempat paling depan.”

“Nonton Shinee pasti?”

“Siapa lagi?”

“Katanya Minho habis sakit. Dia sudah lama tidak terlihat.”

“Mana aku tau lah, Chan Gi. Aku gak terlalu peduli soal begituan.”

“Sesekali bersenang-senanglah,” sarannya.

“Aku juga udah senang kok saat ini,” belaku.

“Terserah. Aku kan cuma ngasi tau. Kau mah mana mau mendengarkan aku.”

“Habis saranmu selalu aneh sih, Chan.”

“Kau yang aneh, Hyun Ra.”

Aku malas berdebat dengan Chan Gi. Akhirnya dia akan selalu menang. Atau justru aku yang lebih suka diam? Intinya berdebat dengan Chan Gi tidak ada habisnya.

Aku menelefon Minchan.

“Yeoboseyo?” ucapnya dari seberang.

“Yeoboseyo. Kau pulang jam berapa?” tanyaku.

“Aku tidak tau. Mungkin malam. Unnie makan saja dulu. Sisakan saja untukku. Sudah ya Un konsernya hampir mulai,” katanya. Langsung menutup telefon, dasar anak gila.

Aku memasak makan malam. Aku lebih sering masak makanan luar ketimbang makanan Korea. Karena aku pernah bekerja di sebuah café yang hanya menyediakan makanan ala Eropa. Lidahku mungkin terlalu terbiasa dengan makanan di café itu. Aku kan bekerja di sana cukup lama sejak masih di SMP.

Aku memasak Teriyaki untuk malam ini. Chan Gi sama sekali tidak membantuku. Dia tidak bisa masak! Jika aku memaksanya, justru dapurku yang bakal menjadi kapal pecah. Toh aku juga lebih suka memasak sendiri.

Kami makan kembali, berdua. Chan Gi sempat mandi di rumahku. Rumahku ini mungkin bagai rumah kedua Chan Gi. Begitu pula rumah Chan Gi.

Telefon rumahku berdering saat aku tengah mencuci piring. Chan Gi mengangkatnya.

“Yeoboseyo,” kata Chan Gi.

Aku tidak mendengar percakapan mereka setelah itu. Aku hanya tau saat Chan Gi memanggilku tepat aku menyelesaikan piring terakhir.

“Dari siapa?” tanyaku.

“Ayahmu,” bisiknya.

“Yeoboseyo,” kataku.

“Yeoboseyo,” kata Appaku.

“Ada apa, Appa?”

“Adikmu di mana?”

“Sedang bermain bersama teman-temannya. Ada apa? Ada yang bisa aku sampaikan?”

“Tidak. Chan Gi di rumah ya? Dia masih sering nongkrong bersamamu?”

“Tentu saja. Bagaimana kabar Appa? Baik-baik saja bukan?”

“Aku baik. Kau sendiri?”

“Lumayan lah. Bagaimana dengan pekerjaan Appa? Kapan Appa pulang?”

“Masih tidak tentu. Tergantung kapan ada yang menggantikan Appa.”

Appa bekerja di sebuah kapal pesiar. Aku tidak tau persis pada bagian apa ia bekerja. Dia jarang pulang. Namun gaji yang diberikan untuknya memang cukup besar sehingga mampu menghidupi aku beserta adikku.

“Hyun Ra kangen sama Appa.”

“Appa juga kangen sama Hyun Ra. Jaga diri baik-baik ya. Appa masih ada kerjaan. Dah. Sampaikan salamku untuk Minchan.”

“Tentu, Appa. Appa juga jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit. Hyun Ra sayang Appa.”

“Siap, Bu Dokter. Appa juga sayang sama Hyun Ra dan Minchan.”

Appa menutup telefonnya. Setiap kali Appa menelefon, aku selalu menangis. Aku jarang bertemu Appa. Aku sangat merindukannya.

Dulunya Appa bekerja di restoran, tetapi setelah Umma meninggal, tidak ada yang membantu apa mencari biaya untuk menghidupi aku dan Minchan. Aku pernah ikut bekerja di sebuah café untuk membantu Appa tetapi gajinya tetap tidak seberapa padahal biaya sekolah semakin mahal saja. Akhirnya Appa memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di sebuah kapal pesiar walaupun dengan begitu Appa harus meninggalkan aku dan Minchan dalam waktu yang lama.

Maka sejak itulah Minchan adalah satu-satunya hal yang berarti dalam hidupku. Kedua adalah Appa dan kemudian Chan Gi. Wow, suatu kematian bisa mengubah seluruh jalan hidupmu.

***

Pagi ini, seniorku, Dokter Dongji menyuruhku ke kantornya. Dia memintaku menggantikannya. Katanya dia belum kembali dari China, pesawatnya delay beberapa jam. Dia akan terlambat memeriksa pasiennya, yang katanya sangat penting.

Aku pergi menuju rumah sakit dengan Toyota Prius warna putihku. Hadiah dari Appa pada tahun pertama kuliahku. Aku sedikit ngebut saat itu, mumpung jalanan belum padat. Aku tiba di rumah sakit sekitar 15 menit kemudian, setelah menggunakan jas putih kebanggaanku dan menarik tas hitam, aku segera turun.

Kantor Dokter Donjin sangat bersih. Semua yang masuk ke sini akan merasa nyaman. Warna temboknya kuning kalem, dengan laintai putih bersih. Perabotannya kebanyakan berupa kayu-kayu tua berwarna coklat tua. Seleranya lumayan tinggi juga. Mejanya menghadap ke sebuah jendela besar yang memperlihatkan sekotak besar tanah dengan bunga poppy di atasnya. Ruangannya berbau citrus. Doket Dongjin memiliki ciri khas!

Aku mengambil beberapa dokumen dari lemari kayu besarnya, mapnya berwarna biru tua, begitu kata Dokter Dongjin. Aku mengambil bebrapa kertas yang diperlukan dan keluar dari ruangan yang nyaman itu.

Sempat membaca data pasienku dalam perjalanan menuju kantorku. Namanya Choi Minho, wow seperti idola adikku. Bukan hanya idola katanya, cinta sejatinya. Aku merasa konyol memikirkan hal ini. Belum selesai aku membaca data tersebut, aku sudah tiba di depan kantorku dan berbelok masuk.

Kantorku sendiri sangat berbeda dari kantor Dokter Dongji. Warna dindingnya putih gading, dengan ornament-ornament bunga di pinggir-pinggirnya. Perabotnya kebanyakan berupa kayu yang dicat putih. Ada kursi-kursi empuk berwarna hitam. Kebanyakan peralatanku di sini berwarna hitam putih. Aku ingat Minchan pernah protes saat pergi ke sini, dia menambahkan beberapa hal seperti vas berwarna biru tua dengan bunga lily putih di dalamnya. Pot-pot pohon pendek-pendek di dekat pintu. Dan lukisan abstrak berwarna-warni.

Aku duduk di kursi kesayanganku. Aku mengambil bolpoin, kertas serta beberapa alat dan menuju kamar pasienku.

Kuketuk beberapa kali pintunya tetapi tidak ada jawaban. Setelah ketukan mungkin yang kesepuluh, barulah pintu dibuka dan seorang lelaki tinggi berdiri di depanku.

“Annyeonghaseyo,” sapaku.

“Annyeong,” jawabnya. Wajahnya bertanya-tanya.

“Saya mendapat tugas dari Dokter Dongji untuk memeriksa Choi Minho. Beliau belum kembali dari China,” jelasku.

“Oh yaya. Mari silahkan masuk. Aku Minsuk. Kakak Minho,” katanya.

Aku masuk ke ruangan itu. Seorang pria sedang bermain PSP. Dia tidak kelihatan sakit. Justru sangat sehat. Aku sempat berasumsi bahwa aku salah orang, orang yang akan aku periksa kan sakit jantung tingkat tinggi dan komplikasi ginjal stadium rendah.

“Anda Minho?” tanyaku pada laki-laki yang berbaring itu.

“Ye,” dia menurunkan PSP nya. Mematikannya mungkin.

“Boleh saya memeriksa anda?” tanyaku.

“Tentu saja.”

Aku memeriksanya. Kondisinya baik. Sangat baik untuk kategori sakit parah. Aku kadang cukup tidak mengerti dengan hal-hal yang kadang aneh seperti ini. AKu perlu meminta penjelasan dari Dokter Dongjin.

“Kondisimu baik jadi tidak perlu di rawat. Tapi Dokter Dongjin mengatakan padaku agar kau dirawat hingga besok pagi. Dia akan memeriksamu besok,” kataku.

“Nah lebih baik kau memanggil dirimu dengan aku daripada saya dan memanggilku dengan kamu atau kau, jangan memakai anda. Itu sangat aneh,” protesnya.

“Tentu-tentu akan aku lakukan,” jawabku.

“Bolehkah aku berjalan-jalan?” tanyanya.

“Silahkan saja. Tapi kau dengan siapa?” aku melihat sekeliling kakaknya telah pergi.

“Sendiri sepertinya.”

“Aku akan mengantarmu,” aku memutuskan.

Aku mengembalikan hasil tesnya ke meja Dokter Dongjin kemudian kembali ke kamarnya.

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Halaman belakang. Melihat basket.”

Aku berjalan di sampingnya. Dia berjalan seperti layaknya orang biasanya. Jika kau melihat mungkin seperti aku berjalan dengan teman atau kekasihku. Tinggiku mungkin sejajar dengan matanya. Dia memiliki senyum yang indah itu asumsiku. Dan dia tidak banyak berbicara.

“Umurmu berapa?” tanyaku.

“20 tahun. Akhir tahun ini. Kamu?”

“Sama. Untuk awal tahun depan.”

“Masih sangat muda.”

“Kau juga.”

“Aku lebih tua darimu tau!”

“Hanya beberapa bulan atau lebih tepatnya beberapa minggu.”

Kami duduk di kursi taman yang menghadap ke lapangan basket. Dia duduk di sampingku.

“Mereka staf di sini kan?” tanyanya padaku.

“Tentu saja. Kadang beberapa anggota keluarga juga ikut. Mengusir jenuh,” jawabku.

“Namamu siapa?” tanyanya lagi.

“Park Hyun Ra. Kau Choi Minho kan?”

“Ne.”

“Seperti nama idola adikku saja. Dia selalu menceritakan Minho Minho dan Minho.”

“Pernah melihat wajah Minhonya adikmu itu?” tanyanya. Menahan tawa.

“Tidak. Cukup dengan mendengarnya dari Minchan saja.”

“Nama adikmu Minchan?”

“Yaap.”

“Bolehkah aku main basket?” dia bertanya tiba-tiba.

“Tidak!” larangku. Kaget dengan permintaannya.

Dia memasang wajah sedih. Aku menatap matanya dan merasa tidak tega.

“Tidak dengan mereka. Kau bisa bermain denganku. Aku kan tidak terlalu hebat, maka kau tidak akn terlalu capek,” kataku kemudian.

Untuk hal yang tidak aku mengerti, dia memelukku secara tiba-tiba.

“Ayo!” dia menarikku menuju lapangan. Aku bermain basket dengannya dan menurutku dia pemain yang sangat baik. Aku mengajaknya kembali ke kamarnya karena takut dia kelelahan.

“Terimakasih,” katanya dalam perjalanan.

“Aku sangat merindukan berain basket,” dia melengkapi.

Aku tersenyum.

“Aku akan kembali nanti, mandi dan sarapanlah dulu,” begitu kataku begitu kami sampai di depan kamarnya.

Aku berlalu meninggalkannya.

Untuk hal yang tidak aku mengerti, aku merasakan kehangatan yang aneh dalam hatiku. Seakan hatiku tertawa setelah sekian lama, sejak setahun yang lalu, sejak Goo Chun Li memutuskan untuk meninggalkanku. Aku memeluk diriku sendiri. Akankah aku jatuh cinta lagi? Atau bersiap untuk terluka lagi?

 

 

Combine as One (Chapter 1)

Combine as One

Chapter 1 – Choi Min Ho

Aku setengah kelelahan ketika tiba di dorm Shinee. Konser malam ini begitu melelahkan. Akhir-akhir ini aku selalu kelelahan. Dan aku khawatir ini bukan penyakit biasa. Bukannya berfirasat buruk atau bagaimana, hanya saja ini berlebihan. Gejalanya seperti gagal ginjal. Aku mual saat memikirkannya. Aku kan sudah menjalani hidup sehat, makanku teratur, olahragaku tentu saja, apalagi yang kurang?

Aku merebahkan diri ke sofa, dadaku mulai sakit. Bukan dadaku, jantungku. Berdetak lebih cepat. Darahku mengalir deras. Keringatku bercucuran. Semakin lama dadaku semakin sakit, tapi aku tak mampu mengaduh atau apalah, tenagaku sudah hampir habis untuk menahan rasa sakit ini. Tanganku memegangi dadaku. Tuhan, apa yang terjadi padaku? Aku menutup mataku. Kini hanya rasa sakit yang terasa di dadaku.

“Hyung Hyung? Kau kenapa?” Taemin berjongkok di dekatku. Mengguncang-guncang tubuhku.

Aku ingin menjawabnya tetapi jantungku seperti tidak mengijinkan. Semakin aku berusaha berbicara, semakin sakit saja rasanya. Seakan meminta agar dijadikan pusat perhatian olehku.

“Hyung! Jawablah! Kau sakit? Atau kenapa?” ulang Taemin.

Sudahlah Taemin, aku tak bisa menjawabnya. Pergilah. Cari obat atau apa untukku. Aku hanya menyuarakan dalam hati. Tanganku masih menempel pada dada. Sakitnya bukan main.

“Key Hyung, Onew Hyung, Jjong Hyung!” teriak Taemin mulai panik.

Kudengar langkah kaki berlarian mendekat.

“Ada apa?”

“Kenapa?”

“Ada masalah?”

Suara itu. Bersahut-sahutan. Aku mengenalinya. Tentu saja. Mereka keluargaku yang paling dekat saat ini.

“Tentu saja Hyung! Lihatlah!” ujar Taemin, menahan tangis. Aku mengenali suara ketakutan itu.

Taemin, jangan menangis, kumohon. Aku ingin memeluknya, menghentikan tangisnya dan menenangkannya. Tuhan, jangan buat semua orang kerepotan dengan sakitku ini.

“Minho, kau kenapa? Kau bisa mendengarku kan?” tanya Key Hyung tepat di telingaku.

“Kau bisa memberiku tanda kan? Kalau kau tidak pingsan atau apa?” tanya Onew.

Aku melepaskan tangan dari dadaku, berusaha sekuat mungkin mencari tangan. Aku menggenggamnya. Jantungku tidak memberiku ruang, lagi. Aku mungkin meremas tangan tersebut terlalu keras hingga dia berteriak.

“Sepertinya kita bawa saja ke rumah sakit,” suara Onew Hyung.

Aku yakin, yang lain sekarang sedang manggut-manggut.

Sakitku mulai bisa kukendalikan. Aku merasa lebih lega, walau tetap saja bukan main sakitnya!

Beberapa menit kemudian, ada beberapa langkah orang masuk ke dorm. Mereka mengangkatku dengan tandu. Sepertinya. Aku mengambil kesimpulan, semakin aku rileks semakin sakit ini hilang maka aku mencoba merilekskan seluruh tubuhku dan tidur. Toh aku juga kelelahan.

Aku membuka mata dan menemukan seberkas cahaya. Rasanya sudah terlalu lama aku berada dalam gelap. Aku merasakan perasaan bahagia berlebih saat menemukan wajah Taemin menangis menatapku. Aku tersenyum kepadanya. Dia memelukku. Kemudian pandanganku semakin luas, aku menemukan wajah seluruh temanku, sahabatku, bahkan keluargaku. Bagaimana bisa hanya dengan lolos dari rasa sakit itu tadi aku merasa benar-benar bahagia.

“Kau tadi kenapa, Hyung?” tanya Taemin.

“Entahlah aku sendiri juga tak tahu,” tipuku.

“Sudah baikan kan?” tanya Key.

“Tentu saja. Aku benar-benar sehat,” kataku.

“Kau bikin kita hampir jantungan tau!” kata Jjong.

Mendengar kata jantung, aku teringat akan rasa sakitku tadi. Aku bergidik ngeri.

“Kau kenapa lagi?” tanya Jjong.

“Tidak apa-apa kok, Hyung,” jawabku.

“Apa kata dokter soal sakitku?” tanyaku.

“Ah? Dokter sendiri belum tau kau sakit apa, cuman kau disarankan untuk dirawat beberapa saat,” jelas Onew.

“Berapa lama?” tanyaku lagi.

“Mungkin beberapa bulan ke depan,” kata Onew, nadanya sedih.

“Bagaimana dengan…”

“Tenang Minho, kau istirahatlah saja, jaga kesehatanmu jangan pikirkan soal pekerjaan,” Key menasehati.

“Aku tidak merepotkan kan?”

“Tidak, Hyung,” ucap Taemin. Dia masih memelukku. Untuk alasan apa yang tidak aku mengerti, wajahnya kelihatan sedih sekali.

“Minho!” teriak kakakku dari pintu.

“Ya ampun, Minsuk Hyung. Kau ke sini?” tanyaku.

“Tentu saja mereka mengabarkan kau sakit! Aku khawatir tau!” katanya.

“Ah kau berlebihan, Hyung. Aku sangat baik-baik saja!”

“Ah terimakasih anak-anak sudah menjaga adikku ini dengan baik,” kata Minsuk pada teman-temanku.

“Sudah menjadi kewajiban kami, Hyung,” kata Key.

“Kalian pulanglah saja, aku akan menjaganya,” kata Minsuk.

“Baiklah, kami permisi dulu,” pamit Onew. “Minho cepat sembuh ya, kami akan mengunjungimu setiap hari, jangan pikirkan soal pekerjaan,” lanjutnya.

“Tentu, Hyung,” aku mengiyakan.

“Taemin, ayo pulang!” ajak Key.

“Hyung, kau tidak apa-apa kan aku tinggal?”

“Tentu saja tidak apa-apa. Pulanglah, Taemin. Istirahatlah. Kau kelihatan benar-benar lelah,” saranku.

Taemin memelukku dengan erat. Sebelum meninggalkanku.

Hyungku, menyuruhku istirahat karena ini benar-benar sudah malam. Aku mengiyakan saja. Toh aku juga capek banget. Aku memejamkan mata dan tidur pulas, tak lama kemudian.

***

Dokterku bernama Kim Dong Jin. Dia lelaki yang berwibawa. Usianya mungkin hampir 65 tahunan, atau lebih. Dia dokter yang berpengalaman menurutku. Dan dia juga sangat baik. Dia dokter spesialis jantung, jangan kaget, menurut perkataan beliau, tanda-tanda sakitku mirip sakit jantung.

Setiap pagi aku selalu berkeliling rumah sakit dengan menaiki kursi roda. Kadang didorong teman-temanku, kadang Minsuk Hyung atau kadang perawat di rumah sakit ini. Menjadi sakit itu benar-benar menjenuhkan. Aku merindukan bernyanyi dan berlatih bersama anak-anak Shinee, mengikuti suatu acara, atau bermain basket atau apalah. Aku merindukan saat-saat itu.

Aku hampir dua minggu berada di rumah sakit ini dan sama sekali tidak pernah kumat lagi. Aku mulai suka protes, mencari alasan untuk dirawat di rumah atau di tempat lain. Aku mencoba membujuk Dokter DongJin tapi beliau bersikukuh tetap merawatku di rumah sakit. Padahal tak terbukti aku sakit jantung. Minsuk bukannya mendukungku tetapi malah sebaliknya. Dia sekarang juga overprotective seperti anak-anak Shinee. Aku merasa janggal.

Hari itu aku sedang berjalan-jalan dengan kursi rodaku, sendirian. Aku hafal jalanan rumah sakit ini. Aku iseng melewati kantor Dokter DongJin dan pintunya terbuka. Aku mendapati Minsuk sedang berbicara serius kepada beliau. Aku penasaran juga. Aku memutar kursi rodaku mendekat. Mencoba mendengar pembicaraan mereka. Aku menguping.

“Bagaimana, Dok? Dia mulai tidak betah,” kata Minsuk.

“Aku tidak yakin.”

“Mengapa?”

“Tubuhnya membaik tapi jantungnya memburuk.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Sudah kubilang, ini penyakit langka. Sifatnya menurun. Aku takut jantungnya tidak kuat lagi,” kata Dokter Dongjin sedih.

“Berapa lama akan bertahan?”

“Beberapa bulan. Kemudian bisa diganti dengan jantung buatan. Tetapi juga tidak akan bertahan lama, kita membutuhkan donor secepat mungkin,” jelas Dokter Dongjin.

Aku tidak percaya bahwa aku menangis. Kepalaku mulai pusing. Hidupku tidak akan lama lagi, aku belum siap untuk meninggalkan dunia ini. Nafasku sesak dan jantungku kembali berdetak lebih kencang. Keringatku mengucur deras. Aku tidak tahu apa yang terjadi sesudahnya yang ada hanya gelap, sakit dan gelap.

***

“Apa yang terjadi?” tanya sebuah suara. Seperti suara Key.

“Aku tidak tahu. Aku keluar dari ruangan Dokter Dong Jin dan menemukannya pingsan di atas kursi rodanya. Kupikir dia mendengar semuanya…” jelas suara Minsuk.

“Semuanya?”

“Bahkan yang terburuk,” jawab suara Minsuk.

“Bagaimana bisa? Aku kan sudah bilang dia tidak boleh tau! Jangan sampai dia tau! Kau bagaimana sih, Hyung! Kau kan kakak kandungnya tapi malah tidak menjaganya dengan baik,” suara Taemin seperti marah, putus asa.

“Taemin, jangan begitu,” ingat Key.

“Dia berharga untukku Hyung!” Taemin mulai menangis.

“Dia berarti untuk kita semua,” ucap suara Onew. Menengahi.

Aku tidak merasakan tubuhku. Apa aku akan lumpuh? Ini kejam. Setidaknya aku berharap bakal main basket hingga akhir hayat atau bermain sepakbola lah. Ya kalau pun itu terlalu muluk, paling tidak hingga aku tua. Umurku belum seberapa tua, ya ampun aku masih muda banget! Tapi tubuhku gak berdaya gini? Gak adil.

Aku berkelana soal bagaimana setting aku pergi nanti. Aku memikirkan mulai dari yang terbaik sampai terburuk. Mencoba mengenyahkan rasa sakitku. Aku sudah terlalu kebal untuk mau memperdulikan rasa sakit itu. Aku mencari hal lain untuk dipikirkan selain kematian yang membuatku bergidik ngeri itu.

Aku memikirkan tentang cinta. Awalnya hanya tentang keluargaku, kemudian sahabatku, semakin meluas dan meluas. Aku mulai memikirkan soal gadis yang akan aku cintai. Masih adakah waktu untukku jatuh cinta lagi? Sebelum aku mati dan meninggalkan semua kehidupan ini. Aku kembali lagi pada topik awal, kematian. Aku benci pikiranku.

Aku lupa apa yang terjadi. Sepertinya aku dibius karena sakit itu tiba-tiba hilang dan berubah menjadi kantuk yang dahsyat. Yasudahlah, mendingan juga tidur. Aku kembali rileks, dan menemukan diriku kembali berkelana dalam dunia yang lain, mimpi.

***

“Kau mendengar apa saja?” tanya Minsuk ketika aku bangun.

“Semuanya,” jawabku.

“Kau sedih? Atau bagaimana?” tanyanya lagi.

“Entahlah. Aku hanya tidak punya semangat,” kataku.

Minsuk memelukku.

“Berusahalah tetap bersemangat, aku akan berusaha untukmu dan terus bersamamu sampai kapan pun,” katanya.

“Trims, Hyung. Itu sangat berarti buatku,” ucapku sambil melepaskan pelukannya.

“Ngomong-ngomong kau beruntung banget punya teman sebaik mereka.”

“Siapa? Anak-anak Shinee?”

“Tentu saja. Siapa lagi?”

“Umh. Mereka memang baik sama aku. Setidaknya aku mendapatkan cukup banyak hal selama bersama mereka.”

Kami bercengkrama sambil berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit. Aku duduk di kursi roda tentu saja. Minsuk mengajakku ke bagian belakang rumah sakit, sebuah lapangan basket. Tamannya luas dengan rumput hijau dan pepohonan yang rindang. Bungabunga juga menambah warn ataman. Menyenangkan di sini. Sejuk dan bahagia.

“Kau iri dengan mereka?” tanya Minsuk padaku. Mengetahui aku memandangi orang-orang yang bermain basket.

“Tidak. Saat ini tidak untuk alasan apa yang tidak aku mengerti, aku tidak iri,” jawabku.

“Kufikir aku bakal merasa berdosa kalau membawamu ke sini,” gumamnya.

“Tidak, Hyung. Ini asik banget. Makasih ya,” kataku.

Aku menikmati pagiku dengan menonton basket. Cukup asyik. Minsuk membawakan sarapanku. Dia bercerita tentang penyakitku. Aku sih sudah ikhlas mendengarnya, intinya umurku tak akan lama lagi. Aku mengalami keputus asaan itu jelas, tapi aku meninggalkan karirku di saat kebintangan? Sebenarnya bukan soal itu juga. Sebenarnya tentang para Flames, Shawol. Aku tidak ingin mereka menjadi sedih karenaku. Aku memikirkan berbagai cara untuk menutupi keadaanku.

“Hyung,” panggilku.

“Ya, Minho?”

“Apa mereka tau tentang keadaanku?”

“Siapa? Onew dan lainnya? Tentu saja. Dia yang pertama kali tau.”

“Bukan. Bukan anak-anak Shinee, tapi mereka, Shawol, Flames,” jawabku.

“Oh. Mereka tidak tau.” “Lebih tepatnya belum tau,” dia mengoreksi.

“Bisakah kita rahasiakan ini?” pintaku.

“Mengapa?”

“Aku tidak ingin dikasihani. Ya anggap saja aku tidak ingin mereka bersedih karenaku.”

“Aku akan mengusahakannya, aku akan mengatakannya pada teman-teman dan managermu.”

“Terimakasih Hyung. Kau yang terbaik,” kataku.

“Sama-sama. Sudahlah jangan mellow begitu Minho.”

Dia memang pandai mencari topik. Kami cukup lama menghabiskan waktu di taman ini, agaknya terlalu lama malah. Kami kembali untuk cek pagi ini dan mandi. Aku harus banyak beristirahat. Dalam ini kuanggap sebagai tidak melakukan apa pun dan tidak memikirkan apa pun. Bisa kan kau bayangkan betapa membosankannya ini?

“Bagaimana, Dok?” tanyaku pada Dokter Dongji.

“Baik. Tapi tetap tidak bisa diduga,” jawabnya.

Aku tersenyum cukup lebar mungkin.

“Tapi kau harus menjaga kesehatanmu, jika terjadi serangan terhadap jantungmu, kemungkinanannya mungkin buruk. Semakin sering terjadi, maka semakin lemah keadaanmu. Dan ya ginjalmu juga mengalami gagal ginjal stadium awal. Jangan bersedih tetaplah semangat,” ujar Dokter Dongjin.

Aku mengangguk. Dokter Dongjin keluar dari kamarku. Jadi begitu cara kerja jantungku? Aku sedikit protes terhadap diriku sendiri. Dan gagal ginjal? Wow seperti penyakitku kurang saja ya.

“Kau tidak apa-apa kan?” tanya kakakku khawatir.

“Tidak. Aku lebih suka begini, tidak ada rahasia,” aku meyakinkannya.

Aku bisa menerima segalanya dengan mudah. Bisa dibilang begitu sih, kalau aku menangis atau bagaimana akhirnya juga tidak  berarti kan? Membuang tenaga. Lebih baik aku mencari hal yang bisa aku kerjakan.

Aku kini suka membaca, lebih dari yang dulu-dulu. Aku melatih otakku bermain catur. Atau kadang membuat lagu. Aku masih suka menyanyi di sini. Cuman tidak bisa berolahraga lagi, ya ampun cita-citaku tak kan terwujud. Ah sudahlah, aku tidak ingin memikirkan hal itu.

***

Aku sudah berbulan-bulan berada di sini. Aku tidak lagi jenuh, aku mencoba menikmatinya. Aku berteman dengan beberapa pasien di sini, Shinee sering menghibur mereka. Shinee adalah keluarga terbaikku. Mereka selalu menemuiku walaupun jadwal kegiatan mereka sangat padat. Tapi mereka tetap menyempatkan diri. Aku merasa senang setiap kali mendengar celotehan Taemin dan Key Hyung atau kekonyolan Onew Hyung. Jjong Hyun sering mengajariku membuat lagu. Dia musisi yang sangat baik.

Aku melupakan kapan aku akan pergi atau settingnya nanti akan bagaimana. Aku hanya perlu bahagia selama sisa hidupku ini. Semuanya karena Taemin, dia adalah penghibur terbaik. Mungkin dialah alasan aku tidak ikhlas untuk pergi. Taemin, satu-satunya adikku. Aku masih mengingatnya setiap momen ketika dia meminta bantuan padaku. Ketika dia mengungkapkan kejujurannya, kepolosannya. Aku menyayanginya, mungkin lebih dari Minsuk. Entahlah aku sendiri juga tidak tau.

Shawol memahami kesehatanku yang sedang buruk. Itu hanya alasan. Onew Hyung pernah bilang di suatu acara bahwa aku harus menjaga kesehatan karena sempat terdampar di rumah sakit karena kelelahan. Bodoh aku masih terus di sini. Tapi aku lega mendengarnya. Dia juga bilang bahwa aku sedangg berlibur ke tempat rahasia. Dan menurutku itu konyol, berlibur? Sakit dibilang berlibur. Mereka aneh-aneh saja.

Warga rumah sakit ini juga sangat baik. Aku sendiri juga bingung, mengapa keberadaanku di sini masih menjadi rahasia? Tidakkah para pasien yang telah keluar dari rumah sakit ini menyebarkan berita tersebut? Atau mereka mengerti keadaanku? Yang tidak boleh diganggu. Well, aku tidak terlalu peduli juga, toh aku kan untung. Mereka orang-orang yang baik, aku menyimpulkan.

***

Ini sudah hampir 4 bulan dan aku mulai bisa leluasa. Aku sering pulang, aku bisa mengisi 2-3 acara dalam sehari. Tetapi hanya menari maksimal 4 lagu. Aku merasa jauh lebih baik. Jantungku sama sekali tidaka pernah protes seperti bebrapa bulan yang lalu. Aku lebih sering membintangi iklan dan menjadi model majalah. Itu pekerjaaan yang cukup ringan. Aku maish tidak boleh berolahraga. Dan Shawol masih tidak mengetahui penyakitku yang berangsur membaik.

Aku kembali di rawat di rumah sakit, untuk menjalani pemeriksaan. Bukan karena kumat sih hanya ingin mengetahui perkembangan jantungku.

Pagi ini Dokter Dongjin ijin dan digantikan oleh seorang dokter muda. Dia seorang wanita, kupikir dia masih sangat muda. Namanya Park Hyun Ra. Dia cantik, tubuhnya sangat bagus. Tingginya semataku, rambutnya sangat hitam, dia memiliki lesung pipi. Seandainya dia tidak menggunakan kacamata, mungkin aku akan sesering mungin memandang matanya, warnanya coklat tua.

Hyun Ra wanita yang sangat kalem. Dan pagi itu dia mengajakku jalan-jalan. Ke taman belakang kesayanganku.

“Mereka staf di sini kan?” tanyaku pada Hyun Ra begitu sampai di taman.

“Tentu saja. Kadang beberapa anggota keluarga juga ikut. Mengusir jenuh,” kata Hyun Ra.

Dia duduk di sebelahku.

“Bolehkah aku main basket?” tanyaku padanya.

“Tidak!” larangnya.

Aku memasang wajah sedih.

“Tidak dengan mereka. Kau bisa bermain denganku. Aku kan tidak terlalu hebat, maka kau tidak akn terlalu capek,” katanya.

Aku senang setengah mati. Respek mendadak, aku memeluknya.

“Ayo!” aku menariknya menuju lapangan. Aku bermain basket dengannya, tidak terlalu lama hanya 10 menitan. Dan aku sama sekali tidak lelah. Kami kembali menuju kamarku, dia mengantarku.

“Aku akan kembali nanti, mandi dan sarapanlah dulu,” katanya.

Kemudian dia berlalu meninggalkanku. Aku menatap punggungnya. Dia gadis pertama yang memeberiku kebahagiaan setelah sekian lama, batinku.

Aku masuk dan mandi segera mandi. Seperti apa yang dia perintahkan tadi.