Requiem on Water (SongFic)

tumblr_lwrt7tWdoI1r6gaumo1_500

Tittle: Requiem on Water (SongFic)
Author: Minchan
Length: 1200+ words
Genre: Angst, Romance
Cast: Noname

Disclaimer:
This is another old fic ngendon in my notebook. So let me bring you to the Breaking Down First Part Era (eventho the story didn’t interface BD Part 1 at all). The poster belongs to howcold. All the plot are mine. Please appreciate by give a comment. Thankyou 🙂

It’s recommended listening to the song while reading.
Soundtrack: Requiem on Water by Imperial Mammoth (Twilight Saga breaking Dawn Soundtrack)

***

Requiem on Water

Slow we paddle through the lake

Aku terus menatapnya dari tempatku. Aku sedang berada di atas perahu bersamanya. Tertawa bersama karena lelucon bodohnya. Dia bodoh, dia cerewet, dia menyebalkan. Tapi aku mencintainya. Semua penghuni danau ini tau aku mencintainya. Dia memamerkan sebuah bulan sabit dengan bibir tipisnya. Aku lebih suka menyebutnya senyuman. Salah satu ciptaan Tuhan yang paling kukagumi. Satu, yang membuat segala penat di hati lenyap. Seperti kau terlepas dari segala rutinitas bodoh yang membosankan dan pergi ke tempat yang telah kau impikan setiap harinya. Tidak, sensasi yang ditimbulkan lebih dari itu. Seperti saat ini, sebuah senyum itu membuatku melayang, seakan dia gadis paling bahagia yang ada di dunia. Sementara perasaan bahagia itu menulariku bagai oksigen. Terhirup bersama kesakitan tapi terlepas begitu tiba di paru-paru, hanya menyisakan bahagia, mengalir melewati pembuluhku, berdenyut bersama jantungku, menjalar di setiap ujung tubuhku dan sampai di otakku. Memerintahkan seluruh sistem pada tubuhku untuk merasakan kebahagiaan. Menimbulkan euphoria seakan aku baru saja mengkonsumsi heroin.

Straight to the very center of the darkest water

Where we can embrace the shadows of the surface

 

Aku kadang lupa, semakin kita mencintai seseorang semakin sulit bagi kita untuk melepasnya. Kadang kita terbuai dengan kebahagiaan sementara yang ada di sekitar kita. Lupa, bahwa ini semua akan lenyap. Entah kapan. Lalu saat semuanya lenyap, kita baru menyadari bahwa kita belum melakukan hal yang berguna. Kita tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan. Terbuai dengan kebahagiaan…

Aku merasakan kebas luar biasa, saat tubuh yang sangat kucintai terbaring tak berdaya. Wajahnya masih tersenyum, seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Pernahkah dia peduli bahwa orang lain akan sangat kehilangan dia begitu dia jatuh sakit? Atau dia justru terlalu bahagia dengan kehidupannya? Terlalu asik mungkin.

Aku cukup kuat untuk tidak menangis. Aku bahkan tidak sedih. Aku tidak bisa menangis. Nyatanya tubuhku tak lagi terasa. Terlalu kebas. Oksigen kebahagiaan yang dulu diberikannya, kembali diserap oleh pemiliknya saat aku mendapati matanya tertutup. Tak lagi dapat terbuka. Aku kehilangan bola mata coklat tua yang berkilau bagai kristal, membuatmu terhanyut dalam kepekatan coklat itu. Lalu kau hanya ingin menatapnya lebih dalam lagi.

Aku menegakkan tubuhku. Mengembalikan kesadaran yang sempat terbuai dengan kenangan tentangnya. Aku membuka telapak tanganku di depan wajahnya yag berjarak beberapa centimeter. Dengan kelembutan. Tapi aku justru merasakan dingin saat tak sengaja aku menyentuh pipinya. Aku memeluk tubuhku sendiri, takut bila tiba-tiba pecah. Tapi tubuhku hanya seperti asap. Tak tersentuh. Mirip bayangan hanya bisa dilihat, tak tersentuh, tak terasa. Dingin – bagai mati. Seperti dia.

The eyes that look up lifeless from our twins below

 

Aku kembali terhanyut menatap matanya yang kini tertutup. Tetap indah dilihat. Kulit kuning langsatnya begitu indah terterpa sinar matahari.

Aku ingat, ketika dia mengungapkan ingin memiliki saudara kembar. Lalu kita berencana memiliki anak kembar. Sebuah topik yang seharusnya masih jauh dari jangkauan pikiranku. Tapi kami pernah bermimpi seperti itu. Dia ingin anak lelaki itu bermain basket bersamaku setiap hari minggu, sementara dia dan anak perempuannya menyiapkan pesta barbeque. Lalu kami berkemah bersama dan menatap bintang di atas permadani hijau buatan Tuhan, rumput.

Aku tersenyum mengingat khayalan kekanak-kanakanku bersamanya. Beberapa orang mulai berisik karena aku justru tertawa sambil menatapnya. Tapi mereka tidak paham apa yang aku rasakan. Dia tertidur, bermimpi persis seperti yang aku impikan.

And though your arms and legs are under

Love will be the echo in your ears when all is lost and plunder

My love will be there still

 

Sederhana, tubuhnya terkulai tak berdaya. Dingin seperti orang mati. Suara-suara dibelakangku tak akan terdengar olehnya. Tapi aku yakin, suara hatiku akan didengarnya. Walau aku belum mengatakan sepatah kata pun sejak aku tiba di sini. Walau mungkin hanya sebuah gema yang tidak jelas bunyinya tapi aku tau dia tau, aku ada di sini. Untuknya.

Aku akan tetap di sini walau yang lain-lain telah pergi. Walau semua yang dimilikinya telah dirampas dan kemudian hilang, musnah. Aku akan terus di sini. Bersama satu-satunya yang kumiliki perasaanku untuknya.

True it’s chilling to behold

 

Benar, itu memang mengerikan untuk dilihat…

Menatap gadis paling bahagia di dunia ini sedang terkulai lemah tak berdaya.

Up close we stumble backwards laughing in our boats

 

Lalu aku meraih tangan dinginnya. Tak peduli kalau pun nantinya akan membuat tanganku beku. Aku tersenyum menatap wajahnya yang masih tersenyum. Menceritakan beberapa kisah kepadanya. Cerita hidupku yang membosankan tapi selalu menarik perhatiannya. Melakukan komunikasi ini tanpa perlu berbicara. Mudah, intinya hanya membuatnya mengerti.

Aku mengingatkannya tentang kencan tiap akhir bulan, mengendarai perahu berkeliling danau dan sambil bercengkrama. Lalu aku tertawa, kemudian menangis, tertawa lagi, mengusap air mataku. Ekspresi yang selalu kudapatkan saat melakukan kegiatan bodoh itu. Tapi aku mempraktikkannya sekarang tak peduli orang-orang menatapku. Jadi aku tertawa, menangis, tertawa lagi begitu seterusnya. Hingga aku merasa kepalaku terlalu berat untuk sekedar membuka mata. Aku membiarkan kesadaran diriku membebaskan diri. Aku kelelahan. Aku mirip orang gila. Aku memang sudah gila.

Till the image sinks away to someplace far but certain

Bayangan bahwa pagi ini dia akan menyapaku dengan tersenyum dan mengatakan selamat pagi sepertinya harus ketelan mentah-mentah. Pahit.  Yang kudapati hanya sebuah ranjang kosong dan berita mengerikan. Kebas, tubuhku kembali kebas. Kehilangan rasa. Tak cukup kuat untuk tidak menangis. Tapi tak cukup kuat untuk sekedar membuat bulir air mata. Mati rasa. Hampa. Kosong.

Bayangan itu pergi. Ke tempat di mana dia seharusnya berada. Tak seharusnya malaikat berada di dunia. Dia pergi jauh, meninggalkan aku. Ke suatu tempat entah di mana itu berada. Suatu tempat yang memang menjadi tujuan hidupnya, surga.

Aku heran mengapa tubuhku masih berdiri tegak sementara aku sudah tak lagi merasakan kakiku. Udara di sekitarku terasa sesak. Aku membutuhkan oksigenku. Aku membutuhkannya, tapi tak sanggup meraihnya karena dia terlanjur pergi… ke surga.

A land of mere suspension where someday we must go

 

Aku nyatanya cukup kuat untuk menatap sebuah gundukan tanah tanpa menangis. Suatu saat aku pasti juga akan pergi ke sana. Menyusulnya. Ke sebuah tempat di mana aku juga akan kembali pada Penciptaku.

Sementara yang lain sibuk menaburkan bunga, aku justru menatapnya. Merapikan kelopak-kelopak bunga yang berserakan di atas tanah tempat dia beristirahat. Cakram warna merah-pink-putih kali ini tidak menunjukkan kebahagiaan justru duka yang mendalam. Wangi menyengat yang seharusnya menyegaran kini justru memuakkan.

Gelombang kegundahan kembali hadir saat beberapa teman datang, bersama pasangannya. Mendoakan malaikatku dan mencoba menguatkanku. Tapi tak berguna. Aku mencoba mengusir kegalauan sia-sia ini. Aku harus mengikhlaskan dia. Walau kufikir itu hal yang paling mustahil.

And though your arms and legs are under

Kini tubuhnya tak lagi berada di hadapanku. Lengan dan kakinya terkulai lemah di bawah sana. Jiwanya tak lagi berada dalam tubuh itu.

Love will be the echo in your ears when all is lost and plunder

 

Tapi aku tau jiwanya berada di suatu tempat, terlalu bahagia, di sana dia bisa mendengar suara hatiku. Aku akan tetap ada untuknya sementara yang lain meyakini dia telah tiada. Tubuhnya memang telah tiada tapi semua kenangan akan dirinya akan terus melekat di hati orang-orang yang menyayanginya.

My love will be there still

 

Aku bersumpah tidak akan pernah sekali pun mencoba mengenyahkannya dari pikiranku. Aku tidak perlu berhenti mencintainya untuk mencintai orang lain. Aku tidak berniat untuk terus berada dalam keadaan ini karena malaikatku juga tidak akan menyukainya. Tapi tidak untuk saat ini. Tidak ada satu pun yang dapat menggantikan sosoknya. Sementara dia pergi membawa hatiku. Di tempat yang nun jauh di sana aku tau dia sedang tersenyum. Hanya untukku… Satu-satunya orang yang masih mencintainya.

Though your arms and legs are under

Love will be the echo in your ears when all is lost and plunder

My love will be there still…

Advertisements

2 thoughts on “Requiem on Water (SongFic)

  1. Firstly, I wanna say lot of Thanks to You, Author.
    and secondly, this story is so perfect.
    Perfectly read my mind.
    This is reminded of my dad, who passed away about a year ago.
    I know how Kris felt.
    Too much know :’).

    Well, my tears came out little bit.
    but in the end, it’s the best songfic I’ve ever read so far.

    So don’t give up on writing,
    I’ll be waiting for others ff (every genre fr sure, up to you.)
    Fighting! 🙂

    • hello makasih ya udah mampir dan baca dan komen. means a lot.
      I’m sorry to hear the news but I’m sure he got a better place. Cheers!
      Thankyou for your support, I’ve been really busy recently and I still have no mood to write… sooo, I hope your support will be a spirit for me. Thanks a lot XX 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s