Combine as One (Chapter 2)

Combine as One

Chapter 2 – Park Hyun Ra

Aku sudah cukup lelah menghadapi masalah cintaku selama ini. Bodoh semuanya berakhir sia-sia. Mau bagaimana lagi? Aku kan memang tidak beruntung dalam hal itu. Walaupun kau seorang dokter muda sekali pun.

Aku sudah kebal untuk disakiti. Bahkan untuk yang ini sekali pun. Namanya Goo Chun Li. Dia temanku di SMA ku dulu. Lebih tepatnya satu angkatan di atasku. Kufikir dia orang yang tepat. Tetapi dia sama saja. Ternyata dia hanya meminta bantuanku untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Setelah dia lulus, dia justru langsung bertunangan dengan seorang model.

Aku sudah tidak lagi peduli. Tapi aku sering tidak bisa membendung perasaanku untuk tidak jatuh cinta. Tetapi akhirnya sama saja, aku terlalu mudah ditaklukan, begitu kata adikku, Park Min Chan. Sahabatku, Shin Chan Gi justru bilang aku terlalu baik atau dalam kamusku, terlalu bodoh. Mungkin sih tapi bukankah manusia seharusnya menjadi baik?

Satu yang lalu aku berhasil menyelesaikan beasiswa kuliah 3 tahun di Universitas Nasional Seoul. Jurusan kedokteran. Kini aku menjadi dokter muda di sebuah rumah sakit swasta. Aku sungguh bersyukur untuk hal yang satu ini, aku terlahir dengan kepintaran yang lumayan bisa dibanggakan.

***

“Unnie,” teriak adikku pagi itu.

“Ada apa sih, Minchan?”

“Unn aku mau pergi. Boleh ya pinjam mobil?”

“Emang mobil kamu ke mana?”

“Bensinnya tinggal dikit. Aku gak punya uang buat beli bensin Un.”

“Alah ngeles, bilang aja mau mejeng.”

“Ah beneran, Un. Aku gak punya uang.”

“Emang uang sakumu ke mana?”

“Abis. Buat beli tiket. Tambahin dong, Un,” dia mulai merayu.

Aku masuk ke kamar dan mengambilkannya kunci mobil lengkap dengan STNKnya serta beberapa lembar uang.

“Nih,” kataku sambil menyodorkan kunci serta uang kepadanya.

“Ah Unnie cantik deh. Aku pergi dulu ya,” pamitnya sambil mencium pipiku.

Minchan berlari keluar.

Aku yakin dia akan menonton konser idolanya, Shinee. Dia kan ngefans banget sama personelnya, namanya Choi Minho kalau gak salah. Tuh aku sampai hafal. Semua yang dibicarakannya selalu tentang Minho. Kufikir sih dia cuman fans fanatik begitu tapi dia bilang dia suka beneran, apalah.

Minchan bagi aku adalah segalanya. Sejak Umma meninggal bertahun yang lalu, aku tidak memiliki siapa-siapa kecuali Minchan. Appa terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Menghidupi kami. Aku yang harus menggantikan peran Umma. Mulai dari mencuci, membersihkan dan lainnya. Untungnya Minchan selalu membantuku. Dia tidak pernah sedih terhadap kepergian Umma. Dia pernah bilang, bahwa semua orang harus kembali kepada Tuhan. Jadi tidak perlu khawatir jika kita tiba-tiba dipanggil karena seharusnya kita memang harus kembali kepada pencipta.

Minchan tingginya sekitar sebahuku. Menurutku dia cantik hanya saja tidak terlalu peduli tentang hal-hal seperti itu. Rambutnya coklat gelap, jika tidak terkena cahaya terlihat berwarna hitam mirip dengan mendiang Umma. Matanya persis sepertiku. Coklat. Dia juga memiliki lesung pipi. Bedanya Minchan itu lebih cuek daripada aku. Dia tidak peduli soal penampilan atau hal semacamnya. Teman-teman Minchan sendiri kebanyakan lelaki. Aku kadang suka khawatir memikirkan itu, takut dia terkena pergaulan bebas. Tapi aku percaya Minchan bisa menjaga dirinya.

Aku menghentikan lamunanku. Karena aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Itu pasti Chan Gi, batinku. Aku berlari membukakan pintu untuknya.

“Hai, Hyun Ra,” sapanya.

“Sendirian?” tanyaku.

Kami masuk ke dalam rumah.

“Tentu saja. Mau dengan siapa lagi?”

“Kau ngapain ke sini?”

“Mau minta makan. Kau masak apa?” tanyanya.

“Philly Cheese Steak. Kau mau?”

“Aku kan lapar. Jadi apa pun yang kau masak akan aku makan. Kau sudah makan?”

“Belum sih.”

Kami makan bersama di ruang makan. Chan Gi menjadi sahabat karibku sejak SD. Dia selalu masuk di sekolah yang sama. Bahkan selalu satu kelas. Kecuali saat kuliah, kami berbeda jurusan. Dia mengambil jurusan ekonomi.

“Kau akan datang?” tanya Chan Gi tiba-tiba.

Aku tersedak.

“Maaf sudah menanyakannya,” ucapnya lagi.

“Tidak. Apa-apa. Aku mengerti. Kau datang? Aku datang jika mendapat pasangan,” kataku setelah meminum segelas air putih.

“Benarkah? Aku tidak percaya. Bukankah dia sudah menghianatimu?”

“Sudahlah. Lupakan. Aku kan tadi juga bilang, jika mendapat pasangan. Kufikir undangan dengan pasangannya itu hanya alasan agar aku tidak datang. Lagian juga masih lama kan.”

“Ne. Aku kan cuman ingin tau. Gak ku sangka jawabanmu bakal begitu.”

“Lebih baik sih aku datang. Nanti dipikirnya aku tidak bisa melupakan dia.”

“Betul,” dia membenarkan.

Kami kembali tenggelam dengan makanan masing-masing.

Chan Gi nongkrong seharian di rumahku. Aku juga sedang libur, dan pasienku sedang baik-baik saja. Aku senang-senang saja dia di sini, paling tidak aku tidak akan kesepian ditinggal Michan.

“Michan ke mana?” tanya Chan Gi setelah menyadari Minchan tidak ada seharian.

“Sepertinya pergi nonton konser. Dia selalu antri untuk dapat tempat paling depan.”

“Nonton Shinee pasti?”

“Siapa lagi?”

“Katanya Minho habis sakit. Dia sudah lama tidak terlihat.”

“Mana aku tau lah, Chan Gi. Aku gak terlalu peduli soal begituan.”

“Sesekali bersenang-senanglah,” sarannya.

“Aku juga udah senang kok saat ini,” belaku.

“Terserah. Aku kan cuma ngasi tau. Kau mah mana mau mendengarkan aku.”

“Habis saranmu selalu aneh sih, Chan.”

“Kau yang aneh, Hyun Ra.”

Aku malas berdebat dengan Chan Gi. Akhirnya dia akan selalu menang. Atau justru aku yang lebih suka diam? Intinya berdebat dengan Chan Gi tidak ada habisnya.

Aku menelefon Minchan.

“Yeoboseyo?” ucapnya dari seberang.

“Yeoboseyo. Kau pulang jam berapa?” tanyaku.

“Aku tidak tau. Mungkin malam. Unnie makan saja dulu. Sisakan saja untukku. Sudah ya Un konsernya hampir mulai,” katanya. Langsung menutup telefon, dasar anak gila.

Aku memasak makan malam. Aku lebih sering masak makanan luar ketimbang makanan Korea. Karena aku pernah bekerja di sebuah café yang hanya menyediakan makanan ala Eropa. Lidahku mungkin terlalu terbiasa dengan makanan di café itu. Aku kan bekerja di sana cukup lama sejak masih di SMP.

Aku memasak Teriyaki untuk malam ini. Chan Gi sama sekali tidak membantuku. Dia tidak bisa masak! Jika aku memaksanya, justru dapurku yang bakal menjadi kapal pecah. Toh aku juga lebih suka memasak sendiri.

Kami makan kembali, berdua. Chan Gi sempat mandi di rumahku. Rumahku ini mungkin bagai rumah kedua Chan Gi. Begitu pula rumah Chan Gi.

Telefon rumahku berdering saat aku tengah mencuci piring. Chan Gi mengangkatnya.

“Yeoboseyo,” kata Chan Gi.

Aku tidak mendengar percakapan mereka setelah itu. Aku hanya tau saat Chan Gi memanggilku tepat aku menyelesaikan piring terakhir.

“Dari siapa?” tanyaku.

“Ayahmu,” bisiknya.

“Yeoboseyo,” kataku.

“Yeoboseyo,” kata Appaku.

“Ada apa, Appa?”

“Adikmu di mana?”

“Sedang bermain bersama teman-temannya. Ada apa? Ada yang bisa aku sampaikan?”

“Tidak. Chan Gi di rumah ya? Dia masih sering nongkrong bersamamu?”

“Tentu saja. Bagaimana kabar Appa? Baik-baik saja bukan?”

“Aku baik. Kau sendiri?”

“Lumayan lah. Bagaimana dengan pekerjaan Appa? Kapan Appa pulang?”

“Masih tidak tentu. Tergantung kapan ada yang menggantikan Appa.”

Appa bekerja di sebuah kapal pesiar. Aku tidak tau persis pada bagian apa ia bekerja. Dia jarang pulang. Namun gaji yang diberikan untuknya memang cukup besar sehingga mampu menghidupi aku beserta adikku.

“Hyun Ra kangen sama Appa.”

“Appa juga kangen sama Hyun Ra. Jaga diri baik-baik ya. Appa masih ada kerjaan. Dah. Sampaikan salamku untuk Minchan.”

“Tentu, Appa. Appa juga jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit. Hyun Ra sayang Appa.”

“Siap, Bu Dokter. Appa juga sayang sama Hyun Ra dan Minchan.”

Appa menutup telefonnya. Setiap kali Appa menelefon, aku selalu menangis. Aku jarang bertemu Appa. Aku sangat merindukannya.

Dulunya Appa bekerja di restoran, tetapi setelah Umma meninggal, tidak ada yang membantu apa mencari biaya untuk menghidupi aku dan Minchan. Aku pernah ikut bekerja di sebuah café untuk membantu Appa tetapi gajinya tetap tidak seberapa padahal biaya sekolah semakin mahal saja. Akhirnya Appa memutuskan untuk menerima tawaran bekerja di sebuah kapal pesiar walaupun dengan begitu Appa harus meninggalkan aku dan Minchan dalam waktu yang lama.

Maka sejak itulah Minchan adalah satu-satunya hal yang berarti dalam hidupku. Kedua adalah Appa dan kemudian Chan Gi. Wow, suatu kematian bisa mengubah seluruh jalan hidupmu.

***

Pagi ini, seniorku, Dokter Dongji menyuruhku ke kantornya. Dia memintaku menggantikannya. Katanya dia belum kembali dari China, pesawatnya delay beberapa jam. Dia akan terlambat memeriksa pasiennya, yang katanya sangat penting.

Aku pergi menuju rumah sakit dengan Toyota Prius warna putihku. Hadiah dari Appa pada tahun pertama kuliahku. Aku sedikit ngebut saat itu, mumpung jalanan belum padat. Aku tiba di rumah sakit sekitar 15 menit kemudian, setelah menggunakan jas putih kebanggaanku dan menarik tas hitam, aku segera turun.

Kantor Dokter Donjin sangat bersih. Semua yang masuk ke sini akan merasa nyaman. Warna temboknya kuning kalem, dengan laintai putih bersih. Perabotannya kebanyakan berupa kayu-kayu tua berwarna coklat tua. Seleranya lumayan tinggi juga. Mejanya menghadap ke sebuah jendela besar yang memperlihatkan sekotak besar tanah dengan bunga poppy di atasnya. Ruangannya berbau citrus. Doket Dongjin memiliki ciri khas!

Aku mengambil beberapa dokumen dari lemari kayu besarnya, mapnya berwarna biru tua, begitu kata Dokter Dongjin. Aku mengambil bebrapa kertas yang diperlukan dan keluar dari ruangan yang nyaman itu.

Sempat membaca data pasienku dalam perjalanan menuju kantorku. Namanya Choi Minho, wow seperti idola adikku. Bukan hanya idola katanya, cinta sejatinya. Aku merasa konyol memikirkan hal ini. Belum selesai aku membaca data tersebut, aku sudah tiba di depan kantorku dan berbelok masuk.

Kantorku sendiri sangat berbeda dari kantor Dokter Dongji. Warna dindingnya putih gading, dengan ornament-ornament bunga di pinggir-pinggirnya. Perabotnya kebanyakan berupa kayu yang dicat putih. Ada kursi-kursi empuk berwarna hitam. Kebanyakan peralatanku di sini berwarna hitam putih. Aku ingat Minchan pernah protes saat pergi ke sini, dia menambahkan beberapa hal seperti vas berwarna biru tua dengan bunga lily putih di dalamnya. Pot-pot pohon pendek-pendek di dekat pintu. Dan lukisan abstrak berwarna-warni.

Aku duduk di kursi kesayanganku. Aku mengambil bolpoin, kertas serta beberapa alat dan menuju kamar pasienku.

Kuketuk beberapa kali pintunya tetapi tidak ada jawaban. Setelah ketukan mungkin yang kesepuluh, barulah pintu dibuka dan seorang lelaki tinggi berdiri di depanku.

“Annyeonghaseyo,” sapaku.

“Annyeong,” jawabnya. Wajahnya bertanya-tanya.

“Saya mendapat tugas dari Dokter Dongji untuk memeriksa Choi Minho. Beliau belum kembali dari China,” jelasku.

“Oh yaya. Mari silahkan masuk. Aku Minsuk. Kakak Minho,” katanya.

Aku masuk ke ruangan itu. Seorang pria sedang bermain PSP. Dia tidak kelihatan sakit. Justru sangat sehat. Aku sempat berasumsi bahwa aku salah orang, orang yang akan aku periksa kan sakit jantung tingkat tinggi dan komplikasi ginjal stadium rendah.

“Anda Minho?” tanyaku pada laki-laki yang berbaring itu.

“Ye,” dia menurunkan PSP nya. Mematikannya mungkin.

“Boleh saya memeriksa anda?” tanyaku.

“Tentu saja.”

Aku memeriksanya. Kondisinya baik. Sangat baik untuk kategori sakit parah. Aku kadang cukup tidak mengerti dengan hal-hal yang kadang aneh seperti ini. AKu perlu meminta penjelasan dari Dokter Dongjin.

“Kondisimu baik jadi tidak perlu di rawat. Tapi Dokter Dongjin mengatakan padaku agar kau dirawat hingga besok pagi. Dia akan memeriksamu besok,” kataku.

“Nah lebih baik kau memanggil dirimu dengan aku daripada saya dan memanggilku dengan kamu atau kau, jangan memakai anda. Itu sangat aneh,” protesnya.

“Tentu-tentu akan aku lakukan,” jawabku.

“Bolehkah aku berjalan-jalan?” tanyanya.

“Silahkan saja. Tapi kau dengan siapa?” aku melihat sekeliling kakaknya telah pergi.

“Sendiri sepertinya.”

“Aku akan mengantarmu,” aku memutuskan.

Aku mengembalikan hasil tesnya ke meja Dokter Dongjin kemudian kembali ke kamarnya.

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Halaman belakang. Melihat basket.”

Aku berjalan di sampingnya. Dia berjalan seperti layaknya orang biasanya. Jika kau melihat mungkin seperti aku berjalan dengan teman atau kekasihku. Tinggiku mungkin sejajar dengan matanya. Dia memiliki senyum yang indah itu asumsiku. Dan dia tidak banyak berbicara.

“Umurmu berapa?” tanyaku.

“20 tahun. Akhir tahun ini. Kamu?”

“Sama. Untuk awal tahun depan.”

“Masih sangat muda.”

“Kau juga.”

“Aku lebih tua darimu tau!”

“Hanya beberapa bulan atau lebih tepatnya beberapa minggu.”

Kami duduk di kursi taman yang menghadap ke lapangan basket. Dia duduk di sampingku.

“Mereka staf di sini kan?” tanyanya padaku.

“Tentu saja. Kadang beberapa anggota keluarga juga ikut. Mengusir jenuh,” jawabku.

“Namamu siapa?” tanyanya lagi.

“Park Hyun Ra. Kau Choi Minho kan?”

“Ne.”

“Seperti nama idola adikku saja. Dia selalu menceritakan Minho Minho dan Minho.”

“Pernah melihat wajah Minhonya adikmu itu?” tanyanya. Menahan tawa.

“Tidak. Cukup dengan mendengarnya dari Minchan saja.”

“Nama adikmu Minchan?”

“Yaap.”

“Bolehkah aku main basket?” dia bertanya tiba-tiba.

“Tidak!” larangku. Kaget dengan permintaannya.

Dia memasang wajah sedih. Aku menatap matanya dan merasa tidak tega.

“Tidak dengan mereka. Kau bisa bermain denganku. Aku kan tidak terlalu hebat, maka kau tidak akn terlalu capek,” kataku kemudian.

Untuk hal yang tidak aku mengerti, dia memelukku secara tiba-tiba.

“Ayo!” dia menarikku menuju lapangan. Aku bermain basket dengannya dan menurutku dia pemain yang sangat baik. Aku mengajaknya kembali ke kamarnya karena takut dia kelelahan.

“Terimakasih,” katanya dalam perjalanan.

“Aku sangat merindukan berain basket,” dia melengkapi.

Aku tersenyum.

“Aku akan kembali nanti, mandi dan sarapanlah dulu,” begitu kataku begitu kami sampai di depan kamarnya.

Aku berlalu meninggalkannya.

Untuk hal yang tidak aku mengerti, aku merasakan kehangatan yang aneh dalam hatiku. Seakan hatiku tertawa setelah sekian lama, sejak setahun yang lalu, sejak Goo Chun Li memutuskan untuk meninggalkanku. Aku memeluk diriku sendiri. Akankah aku jatuh cinta lagi? Atau bersiap untuk terluka lagi?

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Combine as One (Chapter 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s