Combine as One (Chapter 1)

Combine as One

Chapter 1 – Choi Min Ho

Aku setengah kelelahan ketika tiba di dorm Shinee. Konser malam ini begitu melelahkan. Akhir-akhir ini aku selalu kelelahan. Dan aku khawatir ini bukan penyakit biasa. Bukannya berfirasat buruk atau bagaimana, hanya saja ini berlebihan. Gejalanya seperti gagal ginjal. Aku mual saat memikirkannya. Aku kan sudah menjalani hidup sehat, makanku teratur, olahragaku tentu saja, apalagi yang kurang?

Aku merebahkan diri ke sofa, dadaku mulai sakit. Bukan dadaku, jantungku. Berdetak lebih cepat. Darahku mengalir deras. Keringatku bercucuran. Semakin lama dadaku semakin sakit, tapi aku tak mampu mengaduh atau apalah, tenagaku sudah hampir habis untuk menahan rasa sakit ini. Tanganku memegangi dadaku. Tuhan, apa yang terjadi padaku? Aku menutup mataku. Kini hanya rasa sakit yang terasa di dadaku.

“Hyung Hyung? Kau kenapa?” Taemin berjongkok di dekatku. Mengguncang-guncang tubuhku.

Aku ingin menjawabnya tetapi jantungku seperti tidak mengijinkan. Semakin aku berusaha berbicara, semakin sakit saja rasanya. Seakan meminta agar dijadikan pusat perhatian olehku.

“Hyung! Jawablah! Kau sakit? Atau kenapa?” ulang Taemin.

Sudahlah Taemin, aku tak bisa menjawabnya. Pergilah. Cari obat atau apa untukku. Aku hanya menyuarakan dalam hati. Tanganku masih menempel pada dada. Sakitnya bukan main.

“Key Hyung, Onew Hyung, Jjong Hyung!” teriak Taemin mulai panik.

Kudengar langkah kaki berlarian mendekat.

“Ada apa?”

“Kenapa?”

“Ada masalah?”

Suara itu. Bersahut-sahutan. Aku mengenalinya. Tentu saja. Mereka keluargaku yang paling dekat saat ini.

“Tentu saja Hyung! Lihatlah!” ujar Taemin, menahan tangis. Aku mengenali suara ketakutan itu.

Taemin, jangan menangis, kumohon. Aku ingin memeluknya, menghentikan tangisnya dan menenangkannya. Tuhan, jangan buat semua orang kerepotan dengan sakitku ini.

“Minho, kau kenapa? Kau bisa mendengarku kan?” tanya Key Hyung tepat di telingaku.

“Kau bisa memberiku tanda kan? Kalau kau tidak pingsan atau apa?” tanya Onew.

Aku melepaskan tangan dari dadaku, berusaha sekuat mungkin mencari tangan. Aku menggenggamnya. Jantungku tidak memberiku ruang, lagi. Aku mungkin meremas tangan tersebut terlalu keras hingga dia berteriak.

“Sepertinya kita bawa saja ke rumah sakit,” suara Onew Hyung.

Aku yakin, yang lain sekarang sedang manggut-manggut.

Sakitku mulai bisa kukendalikan. Aku merasa lebih lega, walau tetap saja bukan main sakitnya!

Beberapa menit kemudian, ada beberapa langkah orang masuk ke dorm. Mereka mengangkatku dengan tandu. Sepertinya. Aku mengambil kesimpulan, semakin aku rileks semakin sakit ini hilang maka aku mencoba merilekskan seluruh tubuhku dan tidur. Toh aku juga kelelahan.

Aku membuka mata dan menemukan seberkas cahaya. Rasanya sudah terlalu lama aku berada dalam gelap. Aku merasakan perasaan bahagia berlebih saat menemukan wajah Taemin menangis menatapku. Aku tersenyum kepadanya. Dia memelukku. Kemudian pandanganku semakin luas, aku menemukan wajah seluruh temanku, sahabatku, bahkan keluargaku. Bagaimana bisa hanya dengan lolos dari rasa sakit itu tadi aku merasa benar-benar bahagia.

“Kau tadi kenapa, Hyung?” tanya Taemin.

“Entahlah aku sendiri juga tak tahu,” tipuku.

“Sudah baikan kan?” tanya Key.

“Tentu saja. Aku benar-benar sehat,” kataku.

“Kau bikin kita hampir jantungan tau!” kata Jjong.

Mendengar kata jantung, aku teringat akan rasa sakitku tadi. Aku bergidik ngeri.

“Kau kenapa lagi?” tanya Jjong.

“Tidak apa-apa kok, Hyung,” jawabku.

“Apa kata dokter soal sakitku?” tanyaku.

“Ah? Dokter sendiri belum tau kau sakit apa, cuman kau disarankan untuk dirawat beberapa saat,” jelas Onew.

“Berapa lama?” tanyaku lagi.

“Mungkin beberapa bulan ke depan,” kata Onew, nadanya sedih.

“Bagaimana dengan…”

“Tenang Minho, kau istirahatlah saja, jaga kesehatanmu jangan pikirkan soal pekerjaan,” Key menasehati.

“Aku tidak merepotkan kan?”

“Tidak, Hyung,” ucap Taemin. Dia masih memelukku. Untuk alasan apa yang tidak aku mengerti, wajahnya kelihatan sedih sekali.

“Minho!” teriak kakakku dari pintu.

“Ya ampun, Minsuk Hyung. Kau ke sini?” tanyaku.

“Tentu saja mereka mengabarkan kau sakit! Aku khawatir tau!” katanya.

“Ah kau berlebihan, Hyung. Aku sangat baik-baik saja!”

“Ah terimakasih anak-anak sudah menjaga adikku ini dengan baik,” kata Minsuk pada teman-temanku.

“Sudah menjadi kewajiban kami, Hyung,” kata Key.

“Kalian pulanglah saja, aku akan menjaganya,” kata Minsuk.

“Baiklah, kami permisi dulu,” pamit Onew. “Minho cepat sembuh ya, kami akan mengunjungimu setiap hari, jangan pikirkan soal pekerjaan,” lanjutnya.

“Tentu, Hyung,” aku mengiyakan.

“Taemin, ayo pulang!” ajak Key.

“Hyung, kau tidak apa-apa kan aku tinggal?”

“Tentu saja tidak apa-apa. Pulanglah, Taemin. Istirahatlah. Kau kelihatan benar-benar lelah,” saranku.

Taemin memelukku dengan erat. Sebelum meninggalkanku.

Hyungku, menyuruhku istirahat karena ini benar-benar sudah malam. Aku mengiyakan saja. Toh aku juga capek banget. Aku memejamkan mata dan tidur pulas, tak lama kemudian.

***

Dokterku bernama Kim Dong Jin. Dia lelaki yang berwibawa. Usianya mungkin hampir 65 tahunan, atau lebih. Dia dokter yang berpengalaman menurutku. Dan dia juga sangat baik. Dia dokter spesialis jantung, jangan kaget, menurut perkataan beliau, tanda-tanda sakitku mirip sakit jantung.

Setiap pagi aku selalu berkeliling rumah sakit dengan menaiki kursi roda. Kadang didorong teman-temanku, kadang Minsuk Hyung atau kadang perawat di rumah sakit ini. Menjadi sakit itu benar-benar menjenuhkan. Aku merindukan bernyanyi dan berlatih bersama anak-anak Shinee, mengikuti suatu acara, atau bermain basket atau apalah. Aku merindukan saat-saat itu.

Aku hampir dua minggu berada di rumah sakit ini dan sama sekali tidak pernah kumat lagi. Aku mulai suka protes, mencari alasan untuk dirawat di rumah atau di tempat lain. Aku mencoba membujuk Dokter DongJin tapi beliau bersikukuh tetap merawatku di rumah sakit. Padahal tak terbukti aku sakit jantung. Minsuk bukannya mendukungku tetapi malah sebaliknya. Dia sekarang juga overprotective seperti anak-anak Shinee. Aku merasa janggal.

Hari itu aku sedang berjalan-jalan dengan kursi rodaku, sendirian. Aku hafal jalanan rumah sakit ini. Aku iseng melewati kantor Dokter DongJin dan pintunya terbuka. Aku mendapati Minsuk sedang berbicara serius kepada beliau. Aku penasaran juga. Aku memutar kursi rodaku mendekat. Mencoba mendengar pembicaraan mereka. Aku menguping.

“Bagaimana, Dok? Dia mulai tidak betah,” kata Minsuk.

“Aku tidak yakin.”

“Mengapa?”

“Tubuhnya membaik tapi jantungnya memburuk.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Sudah kubilang, ini penyakit langka. Sifatnya menurun. Aku takut jantungnya tidak kuat lagi,” kata Dokter Dongjin sedih.

“Berapa lama akan bertahan?”

“Beberapa bulan. Kemudian bisa diganti dengan jantung buatan. Tetapi juga tidak akan bertahan lama, kita membutuhkan donor secepat mungkin,” jelas Dokter Dongjin.

Aku tidak percaya bahwa aku menangis. Kepalaku mulai pusing. Hidupku tidak akan lama lagi, aku belum siap untuk meninggalkan dunia ini. Nafasku sesak dan jantungku kembali berdetak lebih kencang. Keringatku mengucur deras. Aku tidak tahu apa yang terjadi sesudahnya yang ada hanya gelap, sakit dan gelap.

***

“Apa yang terjadi?” tanya sebuah suara. Seperti suara Key.

“Aku tidak tahu. Aku keluar dari ruangan Dokter Dong Jin dan menemukannya pingsan di atas kursi rodanya. Kupikir dia mendengar semuanya…” jelas suara Minsuk.

“Semuanya?”

“Bahkan yang terburuk,” jawab suara Minsuk.

“Bagaimana bisa? Aku kan sudah bilang dia tidak boleh tau! Jangan sampai dia tau! Kau bagaimana sih, Hyung! Kau kan kakak kandungnya tapi malah tidak menjaganya dengan baik,” suara Taemin seperti marah, putus asa.

“Taemin, jangan begitu,” ingat Key.

“Dia berharga untukku Hyung!” Taemin mulai menangis.

“Dia berarti untuk kita semua,” ucap suara Onew. Menengahi.

Aku tidak merasakan tubuhku. Apa aku akan lumpuh? Ini kejam. Setidaknya aku berharap bakal main basket hingga akhir hayat atau bermain sepakbola lah. Ya kalau pun itu terlalu muluk, paling tidak hingga aku tua. Umurku belum seberapa tua, ya ampun aku masih muda banget! Tapi tubuhku gak berdaya gini? Gak adil.

Aku berkelana soal bagaimana setting aku pergi nanti. Aku memikirkan mulai dari yang terbaik sampai terburuk. Mencoba mengenyahkan rasa sakitku. Aku sudah terlalu kebal untuk mau memperdulikan rasa sakit itu. Aku mencari hal lain untuk dipikirkan selain kematian yang membuatku bergidik ngeri itu.

Aku memikirkan tentang cinta. Awalnya hanya tentang keluargaku, kemudian sahabatku, semakin meluas dan meluas. Aku mulai memikirkan soal gadis yang akan aku cintai. Masih adakah waktu untukku jatuh cinta lagi? Sebelum aku mati dan meninggalkan semua kehidupan ini. Aku kembali lagi pada topik awal, kematian. Aku benci pikiranku.

Aku lupa apa yang terjadi. Sepertinya aku dibius karena sakit itu tiba-tiba hilang dan berubah menjadi kantuk yang dahsyat. Yasudahlah, mendingan juga tidur. Aku kembali rileks, dan menemukan diriku kembali berkelana dalam dunia yang lain, mimpi.

***

“Kau mendengar apa saja?” tanya Minsuk ketika aku bangun.

“Semuanya,” jawabku.

“Kau sedih? Atau bagaimana?” tanyanya lagi.

“Entahlah. Aku hanya tidak punya semangat,” kataku.

Minsuk memelukku.

“Berusahalah tetap bersemangat, aku akan berusaha untukmu dan terus bersamamu sampai kapan pun,” katanya.

“Trims, Hyung. Itu sangat berarti buatku,” ucapku sambil melepaskan pelukannya.

“Ngomong-ngomong kau beruntung banget punya teman sebaik mereka.”

“Siapa? Anak-anak Shinee?”

“Tentu saja. Siapa lagi?”

“Umh. Mereka memang baik sama aku. Setidaknya aku mendapatkan cukup banyak hal selama bersama mereka.”

Kami bercengkrama sambil berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit. Aku duduk di kursi roda tentu saja. Minsuk mengajakku ke bagian belakang rumah sakit, sebuah lapangan basket. Tamannya luas dengan rumput hijau dan pepohonan yang rindang. Bungabunga juga menambah warn ataman. Menyenangkan di sini. Sejuk dan bahagia.

“Kau iri dengan mereka?” tanya Minsuk padaku. Mengetahui aku memandangi orang-orang yang bermain basket.

“Tidak. Saat ini tidak untuk alasan apa yang tidak aku mengerti, aku tidak iri,” jawabku.

“Kufikir aku bakal merasa berdosa kalau membawamu ke sini,” gumamnya.

“Tidak, Hyung. Ini asik banget. Makasih ya,” kataku.

Aku menikmati pagiku dengan menonton basket. Cukup asyik. Minsuk membawakan sarapanku. Dia bercerita tentang penyakitku. Aku sih sudah ikhlas mendengarnya, intinya umurku tak akan lama lagi. Aku mengalami keputus asaan itu jelas, tapi aku meninggalkan karirku di saat kebintangan? Sebenarnya bukan soal itu juga. Sebenarnya tentang para Flames, Shawol. Aku tidak ingin mereka menjadi sedih karenaku. Aku memikirkan berbagai cara untuk menutupi keadaanku.

“Hyung,” panggilku.

“Ya, Minho?”

“Apa mereka tau tentang keadaanku?”

“Siapa? Onew dan lainnya? Tentu saja. Dia yang pertama kali tau.”

“Bukan. Bukan anak-anak Shinee, tapi mereka, Shawol, Flames,” jawabku.

“Oh. Mereka tidak tau.” “Lebih tepatnya belum tau,” dia mengoreksi.

“Bisakah kita rahasiakan ini?” pintaku.

“Mengapa?”

“Aku tidak ingin dikasihani. Ya anggap saja aku tidak ingin mereka bersedih karenaku.”

“Aku akan mengusahakannya, aku akan mengatakannya pada teman-teman dan managermu.”

“Terimakasih Hyung. Kau yang terbaik,” kataku.

“Sama-sama. Sudahlah jangan mellow begitu Minho.”

Dia memang pandai mencari topik. Kami cukup lama menghabiskan waktu di taman ini, agaknya terlalu lama malah. Kami kembali untuk cek pagi ini dan mandi. Aku harus banyak beristirahat. Dalam ini kuanggap sebagai tidak melakukan apa pun dan tidak memikirkan apa pun. Bisa kan kau bayangkan betapa membosankannya ini?

“Bagaimana, Dok?” tanyaku pada Dokter Dongji.

“Baik. Tapi tetap tidak bisa diduga,” jawabnya.

Aku tersenyum cukup lebar mungkin.

“Tapi kau harus menjaga kesehatanmu, jika terjadi serangan terhadap jantungmu, kemungkinanannya mungkin buruk. Semakin sering terjadi, maka semakin lemah keadaanmu. Dan ya ginjalmu juga mengalami gagal ginjal stadium awal. Jangan bersedih tetaplah semangat,” ujar Dokter Dongjin.

Aku mengangguk. Dokter Dongjin keluar dari kamarku. Jadi begitu cara kerja jantungku? Aku sedikit protes terhadap diriku sendiri. Dan gagal ginjal? Wow seperti penyakitku kurang saja ya.

“Kau tidak apa-apa kan?” tanya kakakku khawatir.

“Tidak. Aku lebih suka begini, tidak ada rahasia,” aku meyakinkannya.

Aku bisa menerima segalanya dengan mudah. Bisa dibilang begitu sih, kalau aku menangis atau bagaimana akhirnya juga tidak  berarti kan? Membuang tenaga. Lebih baik aku mencari hal yang bisa aku kerjakan.

Aku kini suka membaca, lebih dari yang dulu-dulu. Aku melatih otakku bermain catur. Atau kadang membuat lagu. Aku masih suka menyanyi di sini. Cuman tidak bisa berolahraga lagi, ya ampun cita-citaku tak kan terwujud. Ah sudahlah, aku tidak ingin memikirkan hal itu.

***

Aku sudah berbulan-bulan berada di sini. Aku tidak lagi jenuh, aku mencoba menikmatinya. Aku berteman dengan beberapa pasien di sini, Shinee sering menghibur mereka. Shinee adalah keluarga terbaikku. Mereka selalu menemuiku walaupun jadwal kegiatan mereka sangat padat. Tapi mereka tetap menyempatkan diri. Aku merasa senang setiap kali mendengar celotehan Taemin dan Key Hyung atau kekonyolan Onew Hyung. Jjong Hyun sering mengajariku membuat lagu. Dia musisi yang sangat baik.

Aku melupakan kapan aku akan pergi atau settingnya nanti akan bagaimana. Aku hanya perlu bahagia selama sisa hidupku ini. Semuanya karena Taemin, dia adalah penghibur terbaik. Mungkin dialah alasan aku tidak ikhlas untuk pergi. Taemin, satu-satunya adikku. Aku masih mengingatnya setiap momen ketika dia meminta bantuan padaku. Ketika dia mengungkapkan kejujurannya, kepolosannya. Aku menyayanginya, mungkin lebih dari Minsuk. Entahlah aku sendiri juga tidak tau.

Shawol memahami kesehatanku yang sedang buruk. Itu hanya alasan. Onew Hyung pernah bilang di suatu acara bahwa aku harus menjaga kesehatan karena sempat terdampar di rumah sakit karena kelelahan. Bodoh aku masih terus di sini. Tapi aku lega mendengarnya. Dia juga bilang bahwa aku sedangg berlibur ke tempat rahasia. Dan menurutku itu konyol, berlibur? Sakit dibilang berlibur. Mereka aneh-aneh saja.

Warga rumah sakit ini juga sangat baik. Aku sendiri juga bingung, mengapa keberadaanku di sini masih menjadi rahasia? Tidakkah para pasien yang telah keluar dari rumah sakit ini menyebarkan berita tersebut? Atau mereka mengerti keadaanku? Yang tidak boleh diganggu. Well, aku tidak terlalu peduli juga, toh aku kan untung. Mereka orang-orang yang baik, aku menyimpulkan.

***

Ini sudah hampir 4 bulan dan aku mulai bisa leluasa. Aku sering pulang, aku bisa mengisi 2-3 acara dalam sehari. Tetapi hanya menari maksimal 4 lagu. Aku merasa jauh lebih baik. Jantungku sama sekali tidaka pernah protes seperti bebrapa bulan yang lalu. Aku lebih sering membintangi iklan dan menjadi model majalah. Itu pekerjaaan yang cukup ringan. Aku maish tidak boleh berolahraga. Dan Shawol masih tidak mengetahui penyakitku yang berangsur membaik.

Aku kembali di rawat di rumah sakit, untuk menjalani pemeriksaan. Bukan karena kumat sih hanya ingin mengetahui perkembangan jantungku.

Pagi ini Dokter Dongjin ijin dan digantikan oleh seorang dokter muda. Dia seorang wanita, kupikir dia masih sangat muda. Namanya Park Hyun Ra. Dia cantik, tubuhnya sangat bagus. Tingginya semataku, rambutnya sangat hitam, dia memiliki lesung pipi. Seandainya dia tidak menggunakan kacamata, mungkin aku akan sesering mungin memandang matanya, warnanya coklat tua.

Hyun Ra wanita yang sangat kalem. Dan pagi itu dia mengajakku jalan-jalan. Ke taman belakang kesayanganku.

“Mereka staf di sini kan?” tanyaku pada Hyun Ra begitu sampai di taman.

“Tentu saja. Kadang beberapa anggota keluarga juga ikut. Mengusir jenuh,” kata Hyun Ra.

Dia duduk di sebelahku.

“Bolehkah aku main basket?” tanyaku padanya.

“Tidak!” larangnya.

Aku memasang wajah sedih.

“Tidak dengan mereka. Kau bisa bermain denganku. Aku kan tidak terlalu hebat, maka kau tidak akn terlalu capek,” katanya.

Aku senang setengah mati. Respek mendadak, aku memeluknya.

“Ayo!” aku menariknya menuju lapangan. Aku bermain basket dengannya, tidak terlalu lama hanya 10 menitan. Dan aku sama sekali tidak lelah. Kami kembali menuju kamarku, dia mengantarku.

“Aku akan kembali nanti, mandi dan sarapanlah dulu,” katanya.

Kemudian dia berlalu meninggalkanku. Aku menatap punggungnya. Dia gadis pertama yang memeberiku kebahagiaan setelah sekian lama, batinku.

Aku masuk dan mandi segera mandi. Seperti apa yang dia perintahkan tadi.

Advertisements

2 thoughts on “Combine as One (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s