Tidak Pernah Sama Lagi

Saat kau jatuh cinta, kau bukan orang yang sama lagi

Namun saat kau patah hati, kau benar-benar menjadi orang yang berbeda.

***

Kau boleh tertawa hingga menangis meratapi nasib yang menghampirimu. Menulis hingga menghabiskan berlembar-lembar kertas yang mana tintanya akan luntur oleh air mata lalu kau remas menjadi sebuah buntalan yang berakhir di tong sampah atau kalau kau cukup muak, menyobeknya menjadi remahan kertas kecil kecil yang berantakan di meja dan berjatuhan di lantai. Tiket bioskop itu nyatanya masih dalam dompetmu, utuh tak tersentuh. Kau berharap bisa mengenyahkan apa yang ada di masa lalumu tapi kau tidak pernah kuasa atasnya. Mereka mengapung sesekali, terkatung-katung dalam ingatanmu menolak dienyapkan padahal kau ingin merogoh otakmu dan menarik paksa mereka keluar. Tidak apa menyakitkan sesekali kalau berikutnya tak perlu teringat lagi.

Boleh saja pura-pura menyukai udara malam dengan bintang. Padahal kau tidak bisa mengenyahkan rasa di kulitmu yang terbakar saat menyentuh lengannya tanpa sengaja dalam kemelut angin malam yang dingin. Berpura-puralah kau baik-baik saja dengan angin itu padahal kau ingat dengan jelas bagaimana bau angin itu yang meniupkan bau parfum yang beradu dengan keringatnya di balik jaket baseball warna hitamnya. Hidungmu yang bodoh yang mengirimkan impuls sehingga sampai di otak dan kau menyimpan ingatannya sampai saat ini. Hingga kau mencium parfum yang sama, kau akan selalu menoleh berharap itu dia. Menyedihkan.

Kau menggenggam jemari yang lain, berharap bisa memenuhi tanganmu kembali. Lihat saja berapa lama mereka mampu menggenggammu yang berupa remahan remuk, kau yang hanya berupa serpihan di tangan mereka. Mereka tidak mampu menahanmu lebih lama. Mereka akan lari, pergi begitu saja tapi apa kau perduli? Bukankah yang kau ingat hanya setangkup tangan dengan kuku-kuku bersih yang panjang yang menggenggammu erat sepanjang jalan, selama film berputar atau selama kau makan. Jemari yang meraih tanganmu saat kau membaca dengan serius hanya untuk memaksamu memperhatikannya. Lalu perlahan dia menggenggammu lebih erat, lebih erat lagi hingga kau tak merasakan tanganmu, lebih erat hingga yang kau rasakan hanya kekuatan bahwa kau menggenggam dunia yang kau inginkan, lalu lebih erat lagi dan kau pikir kau sudah begitu sempurna karena kau tak merasakan apa pun. Lalu, kau remuk olehnya.

Sejauh mana kau peduli soal memahami. Kau mencoba memahami bagaimana orang lain berfikir, melihatnya pemikiran dari sudut yang lain, kau mencoba mencari bagaimana solusi bisa diterima melalui berbagai pandangan. Kau mencoba menulis untuk membuat orang lain mengerti, tapi mana yang lebih kau mengerti, orang lain atau dirimu sendiri? Manakala kau bercerita, lupakah kau yang mana kau sesungguhnya dan mana yang kau impikan, kau kira kau memahami dirimu tapi kau tidak bisa memahami bagaimana dirimu pasang surut jatuh cinta padanya. Berlari lalu dengan gilanya pulang dan menghadapi penolakan yang berulang. Kau tidak mengerti bagaimana dia dalam bayanganmu seorang penggila sains yang berakhir melukis dengan musik rock di studionya. Bagaimana dia bisa melukis dengan otot-otot yang menonjol bekas latihan dengan timnya dulu. Sampai mana kau bisa memahaminya karena kau merasa tidak pernah bisa, lalu kau merasa begitu frustasinya dan kau begitu lelah tapi kau tidak mau menyerah.

Berbohonglah bagaimana indahnya mimpimu. Tentang burung-burung, kupu-kupu atau apa saja yang indah. Karena kau hanya memenuhi mimpimu tentang khayal-mu yang tak pernah terwujud, bagaimana rasanya berada dalam dekapannya kembali, merasakan panas tubuhnya, tangannya yang menyusuri helai rambutmu dan detaknya yang bisa kau dengar tepat di telingamu. Definisi keindahanmu berubah seiring dengan hadirnya dia, lalu kau mencoba kembali mengingat-ingat keindahan sebelum kau bertemu dengannya tapi kau sudah lupa, tercuci otak dengan menyedihkannya meratapi keindahan itu. Separuhnya meronta, sisanya menginginkannya kembali. Pergolakan dalam dirimu menyiksamu hingga kau ingin menendang udara, menangis semalaman, berteriak dan melakukan apa pun untuk mengenyahkannya. Tapi mereka makin menyiksamu, kau ingin kembali.

Kau ketakutan. Ingin berlari tapi tidak tahu ke mana. Kau takut mengakuinya bahwa kau tidak menginginkannya dan membutuhkannya di saat yang bersamaan. Kau ditarik pada dua magnet yang berbeda, uji saja elasitas hatimu, seberapa kuat mereka meregang sebelum akhirnya terputus. Kau takut kehilangan dia sepenuhnya, maka kau masih menariknya sekali-kali dengan sehelai benang yang tidak cukup kuat. Kau menahannya apa pun caranya, tapi kau tak mau mengakuinya.

Kau tahu dengan jelas bahwa baginya jatuh cinta padamu hanya sebuah persinggahan dalam perjalanan panjang hidupnya. Kau tahu dengan jelas bahwa kau tidak mampu memahaminya dan dia banyak melukaimu. Namun kau menginginkannya dan kau tidak bisa mengenyahkannya dan itu menyakitkan di ulu hatimu setiap kali kau memikirkan dan menuliskannya. Bahkan kesesakan di dadamu bukan hanya sekedar hiperbola dalam tulisan. Lalu kau bangun tembok yang tebal hingga tak ada yang mampu menggempurmu lagi, namun dia masih menggerogotimu perlahan. Tenggorokanmu akan terasa panas setiap kali kau menyebut namanya, pita suaramu bergetar merinding, bibirmu akan ketakutan sekaligus bersemangat di setiap kalinya. Padahal kau hanya masa lalu yang dibuang.

Kau tidak ingin menjadi lemah maka kau menjadikan dirimu tak tergapai padahal kau hanya sebuah gelas berisi kenangan yang pecah, yang mana isinya bercucuran dan tajamnya melukai diri sendiri. Berteriak-teriak kesakitan meminta tolong pada diri sendiri. Berpura-pura baik-baik saja dan bertingkah memuakkan. Mau sampai kapan kau begini.

Kau menginginkan sebuah perpisahan yang sesungguhnya, kau ingin menangis meratapi kepergiannya di depan matamu. Memohonnya tidak pergi dan diabaikan olehnya. Sebuah perpisahan resmi yang mana kau bisa merasakan saat terakhir kalinya menyentuh sel tubuhnya, menghirup baunya, memanggilnya dan terlihat begitu frustasi di matanya. Lalu dia tetap meninggalkanmu. Kau ingin mengakhirinya dengan begitu dramatis sehingga yang kau ingat hanya sakit hati.

Kau begitu menyedihkan hingga kau terlelap. Lalu kau lupa. Karena kau kira di mimpimu kau sedang bersamanya.

***

Maka, aku tidak bisa menjadi sama lagi bila mana setiap kali aku tertidur aku menangis dalam tidurku dan berteriak saat membayangkanmu meninggalkanku.

Aku sudah mencoba, dan aku begitu frustasi. Maafkan aku, aku gagal lagi untuk kesekian kalinya.

Advertisements

One thought on “Tidak Pernah Sama Lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s