Masalahnya, Aku Bahagia

Aku meragukan sekuat apa aku bertahan.

Lucu, kalau kebahagiaanmu menjadi suatu masalah. Tidak benar-benar menjadi suatu masalah, tapi itu sesuatu yang membuat segala hal menjadi lebih sulit. Itu dasar dari segalanya. Kau hanya melakukan apa yang membuatmu bahagia. Aku bahagia denganmu dan itu masalahnya.

Aku tidak seharusnya bahagia dengan keadaan seperti ini. Ini miris dan aku tidak tahu harus bagaimana. Serius saja, aku selalu bertanya-tanya apakah kita melangkah? Atau kita hanya bertahan saja? Lalu mau sampai kapan? Ini sia-sia dan menghabiskan waktu. Tapi toh, apa aku pernah peduli? Aku selalu mengabaikannya saat bersamamu.

Kau tahu dengan benar posisiku. Entah kenapa, aku merasa kau sebenarnya tahu tapi kau tak ingin menyakitiku. Itu yang membuatku pusing. Kau berusaha membuatku baik-baik saja tapi aku tidak bisa begitu. Harusnya aku tahu diri, tapi aku terlalu keras kepala untuk memperjuangkannya. Sudah sejak lama aku pribadi yang keras kepala.

Aku menyayangimu. Aku berusaha mengatakannya padamu. Tapi sepertinya kau tidak peduli. Tapi sepertinya kau peduli. Tapi sepertinya kau tak masalah. Tapi sepertinya kau bingung. Tapi sepertinya kau tidak tegas. Tapi tapi tapi, aku menyayangimu.

Simpel saja, kau membuatku bahagia. Dan itu lebih dari cukup.

Aku bahagia dengan sebuah pesan di pagi hari darimu.
Aku bahagia dengan pesan di malam hari, walau aku harus menunggu padahal aku sudah mengantuk.
Aku bahagia saat kau memintaku menemanimu.
Aku bahagia kau selalu berusaha ada untukku walau mungkin kau tidak mengusahakannya.
Aku bahagia mendengarmu berbicara.
Aku bahagia karena kau membuatku tertawa.
Aku bahagia karena kau selalu memaafkanku.
Aku bahagia saat aku bisa mengetahu apa yang kau lakukan, apa yang akan kau lakukan, apa yang ingin kau lakukan.
Aku bahagia saat kamu berkata kamu sedang bahagia.
Aku bahagia saat kau jatuh hati padahal aku sedang kecewa.
Aku bahagia saat kau menceritakan tentang keluargamu.
Aku bahagia saat kau memaksa dirimu tetap terjaga padahal aku tahu benar dari suaramu kau sudah terkantuk.
Aku bahagia, selama itu kamu.

Pada dasarnya aku tahu benar bahwa ibuku mungkin benar. Saat beliau berkata “Emang enak?” aku sepenuhnya paham. Tapi apa mau dikata aku tidak ambil pusing jadi itu selalu baik-baik saja.

Toh aku cukup tahu diri. Aku masih punya kaca untuk tahu diri.

Aku lelah terus terang saja. Tapi aku bahagia. Masalahnya kau membuatku bahagia. Masalahnya, orang lain tidak bisa. Masalahnya kenapa harus kamu? Masalahnya aku tidak mengendalikannya. Masalahnya pada perasaanku.

Aku selalu merasa sedih saat aku tidak bisa melakukan apa pun untukmu. Tidak berguna.

Padahal kau lebih sering membuatku bahagia dibandingkan sedih.

Aku menyayangimu. Lalu aku bisa apa?

Jadi, terus terang saja… bagaimana menurutmu? Masih tidak peduli?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s