Adam dan Hawa

Sepenggal kisah dari mereka.

Adam dan Hawa

Dalam bayang malam yang pekat, angin berhembus meniup helai rambut panjang Hawa, bisikkan kerinduan dari Adam untuknya. Teruntai tanya untuknya: sudah sejauh mana kau kelilingi bumi? Hawa menatap langit yang berhias bulan, sudah dekat. Setiap hari semakin dekat menuju hari pertemuan kita lagi, bisiknya kembali. Awan tipis menutupi bulan menyisakan sinar putih gading tanpa gambaran jelas bentuk sang rembulan.

Satu, dua dan tiga. Angka itu sudah lama terlewatkan oleh mereka. Angka itu hanya sepersekian dari jalan yang telah mereka tempuh, dari langkah yang telah mereka tancapkan pada tanah bumi, hanya sepersekian dari keinginan mereka bertemu kembali. Mereka lupa menghitung karena itu hanya akan sia-sia saja. Mereka lelah tapi tak menyerah. Sebentar lagi, selalu sebentar lagi. Mereka mendongeng pada burung-burung yang akan menyampaikan rindu mereka ber-mil-mil jauhnya. Berkicau di tiap paginya sampaikan salam dari sang pemilik hati di belahan yang lain. Hanya sebuah pesan selamat pagi tanda mereka masih bertahan hari itu.

Mereka selalu menatap matahari yang sama tiap harinya. Selama matahari masih bersinar, selama itu mereka harus melangkah, selama itu mereka harus mengejar matahari yang tenggelam di barat karena tiada lagi yang bisa mereka yakini selain itu. Adam dan Hawa bertanya pada bintang ketika malam, bagaimana para bintang menempuh ratusan juta tahun cahaya hanya untuk menemani malam sunyi mereka yang terpisah. Mereka bertanya di belahan yang berbeda, pada bintang yang sama. Bintang hanya menempuh jalurnya sama seperti kedua orang itu mengikuti ke mana langkah menuntun mereka. Berdasar insting, abaikan pikiran yang lain.

Adam dan Hawa berjalan menuju suatu tempat yang sama. Menghabiskan setiap detiknya dalam rindu yang tak tersampaikan, dalam kesendirian yang menyelimut pekat, pasti akan ada harinya. Angin bertiup setiap kali rindu meledak dalam dada, membisikkan dongeng dari jauh tentang perjuangan belahan jiwanya di tanah yang lain. Menjadi penghibur yang lebih dari sekedar melegakan.

Pada Adam, Hawa bertanya: haruskah aku bertahan? Tiada yang menjawab. Deru dongeng angin berkata: hanya dirimu yang tahu apa yang kau lakukan. Lalu Hawa menatap samudera sejajar pandangnya. Kuceritakan padamu suatu hari kekasih, mengapa aku tidak berhenti saja.

Karena sejak awal selalu sama, kita selalu lebih dekat dengan pertemuan kita setiap harinya. Kalau kau menemukan ribuan alasan bertahan untuk apa berhenti demi sebuah alasan.

Ini hanya jarak yang bisa kita tempuh dengan langkah dan waktu yang hanya bisa berputar ke depan. Kalau aku pernah menanti dalam hitungan tahun, apa artinya aku menanti dalam hitungan jam dan bulan? Kalau aku pernah melakukannya, aku bisa melakukannya pula padamu.

Lalu dongeng angin kembali berputar di angkasa, bercerita pada jagat raya tentang dua hati yang segersang gurun, terombang-ambing bagai ombak lautan, tapi tetap seindah langit musim semi, dan sekuat badai yang mengamuk di lautan.

Suatu saat, akan tiba waktunya kita menginjak Jabal Rahmah bersama.

 

“Kita akan bertemu lagi. Sejauh apapun jarak pisahkan kita, sekejam apapun waktu menyiksa rindu antara kita. Kita akan bertemu lagi. Suatu saat nanti.” – litemints

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s