Obrolan Kopi

tumblr_lk28zpmegH1qgh11mo1_500

 

***

 

Obrolan Kopi

Kita bertemu hari ini. Dalam aroma kopi.

Denting lonceng itu cafe berbunyi saat aku memasuki cafe sore tadi. Matahari senja menembus kaca-kaca cafe. Bau kopi langsung menguar kuat beradu dengan suara mesin kopi dan gelas yang diaduk. Seorang barista tersenyum padaku sambil mengucapkan selamat datang. Antrian hari ini tidak begitu panjang, orang-orang sepertinya masih sibuk berbelanja dan sore hari bukan waktu favorite untuk ngopi berlama-lama.

Sudah lama sekali sejak aku terakhir kali datang, dan rasanya aku begitu merindukan bau kopi di sini. Musik mengalun pelan, kakiku berderak sembari menunggu antrian. Kalaupun tidak memesan apa pun, berdiri di sini bagiku sudah sangat menyenangkan.

“Bonus segelas Frappe, mana yang anda pilih?” tanya barista itu kepada seorang pria di depanku. Aku masih memandangi langit senja yang memerah di kejauhan. Ah andai saja gratisan itu milikku. Toh kopi di sini tidak bisa kunikmati harian, itu artinya cukup mahal. Cukup mahal untuk hal yang sepadan.

Aku menatap pria yang tak kunjung beranjak itu tepat saat dia memalingkan pandangannya ke arahku.

“Eh…” hanya itu yang keluar dari mulutnya sementara aku hanya berdiri kaku. Dia tersenyum kepadaku dan menunjukkan bangku tempat dia menaruh sweater-nya. Aku mengernyit bingung sebelum dia akhirnya menunjuk tempat itu lagi, dan aku baru memahami maksudnya. Aku keluar dari barisan antrian dan menuju tempatnya menunjuk tadi.

Di bagian bawah di ujung. Tepat di mana kau bisa melihat mobil lalu lalang memasuki mall. Tempat yang sama seperti dulu.

Dia datang dengan nampan berisi minuman dan makanan. Tak banyak yang berubah kecuali rambutnya yang mulai memanjang, selain itu dia masih sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Masih dengan kaos v-neck dan celana jeans, sneakers usang kesayangan serta kuku panjang.

“Java Chip,” ucapnya padaku. “Masih belum berubah kan?” tanyanya. Aku mengangguk sambil menahan tawa. Rasanya menyenangkan mendapati seseorang mengingatmu hingga detail kecil yang sepele seperti itu. Sebuah red lava cake disodorkan padaku selanjutnya. Favorite-ku yang lain.

Dia masih sama dengan hot coffee-nya dan croissant dengan selai strawberry. Dia tidak benar-benar suka kopi panas, yang dia inginkan hanya sebuah kopi dengan paper cup sehingga dia bisa menggambar di sana. Menit berikutnya, aku membuktikan ucapanku karena dia mengeluarkan spidol hitam dan mulai menggambar, di cup kopinya. Aku tersenyum bangga pada diriku sendiri. Kepuasan yang entah berasal dari mana.

“Apa yang sedang kau kerjakan?” tanyanya sambil membuka selai strawberry-nya. Aku memotong cake ku perlahan.

“Banyak hal… mmm, hal-hal baru kurasa. Kau sendiri?”

“Tidak banyak yang berubah,” jawabnya. Itu artinya dia masih terjebak dengan rutinitas memuakkan seperti tahun lalu. Pasti semuanya masih terasa sama baginya. Kecuali tentang aku.

Kami tidak berbicara lagi, berpura-pura menyibukkan diri dengan kunyahan di mulut padahal sesungguhnya tidak ada yang bisa kami bicarakan. Segala topik menjadi terlalu sensitif untuk dimulai. Aku pun tidak tahu bagaimana aku harus bersikap hari ini.

“Sendirian saja?” tanyaku akhirnya. Rasa penasaranku sudah membumbung tinggi.

“Yea begitulah.” Dia tersenyum kecut menertawakan diri sendiri. Lucu, hampir mustahil rasanya membayangkan dia sendirian hanya untuk minum kopi seperti ini. Kalau aku yang datang ke mari sendirian, itu sangat wajar karena sedari dulu aku suka menyendiri di sini tapi dia tidak. Dia tidak pernah suka makan di luar apalagi membeli segelas kopi. Mungkinkah dia sudah berubah.

Lantunan lagu blues memenuhi ruang kesunyian di antara kami yang kembali timbul. Pisau makanan kami beradu dengan piring. Aku tersedak saat dia menyisihkan bagian ujung croissant-nya dan menaruhnya di piringku. Sesuatu yang selalu dilakukannya sejak kunjungan pertama kami dulu. Aku sangat suka strawberry dan dia tidak tega membiarkanku tidak mencicipi selai strawberry maka dia selalu menyisihkan bagian ujung dengan selai yang tebal di dalamnya.

“Umh, maafkan aku,” ucapnya saat menyadari apa yang sedang terjadi padaku. “Kebiasaan lama sulit dihilangkan.” Wajahnya memamerkan permohonan maaf.

“Tidak apa-apa, aku hanya terkejut saja kau masih mengingatnya,” akuku. Lalu tertawa pelan. “Tidak apa-apa, aku akan memakannya.” Aku memotong potongan yang diberikannya sebelum akhirnya merasakan selai strawberry yang lengket di lidahku.

“Kau masih sama seperti dulu,” candanya, mengomentari soal kejujuranku yang banyak mengingat tentang masa lalu.

“Yea, tidak ada alasan untuk berubah mengenai itu.” Aku menyesap frappucino perlahan usai menyelesaikan kalimatku, baunya menguar perlahan. Dia mengeluarkan buku sketsa yang kuhadiahkan tahun lalu, sudah hampir penuh. Lalu dia mulai sibuk dengan pensil dan kertas berwarna kuning kecoklatan.

“Masih suka menggambar?”

“Tentu saja, tidak ada alasan untuk berubah mengenai itu,” ucapnya, mengopi jawabanku tadi. Aku mencibirnya dan dia tertawa perlahan.

Kami terus bercakap di bawah sinar matahari yang menerobos kaca-kaca dinding yang dipasang tinggi. Lagu-lagu terus mengalun di belakang percakapan kami tanpa sedikit pun terlalu berisik maupun terlalu pelan. Tidak ada kecanggungan entah kenapa. Rasa yang tadi sempat hadir tak bertahan lama. Jam terus berputar, kami bercerita seperti kala burung pagi sahut menyahut berkicau, tentang banyak hal yang dulunya selalu kami bicarakan tapi tak pernah kami bicarakan lagi selama ini.

Detik berputar.

Menit mengikuti. Dua kopi tambahan sudah separuh habis. Uap dari kopinya yang tadi mengepul hilang perlahan. Cream dalam frappe-ku mulai mencair.

Matahari mulai temaram di kejauhan. Warna oranyenya mulai memudar digantikan oleh abu yang kebiruan. Burung-burung mulai terbang menuju sarangnya. Sebentar lagi gelap.

“Yea jadi begitulah aku menjelaskan kepada mereka tentangmu.” Dia menutup percakapan sore itu dan mengepak barangnya yang berserakan di meja, pensil, penghapus, berbagai macam kertas, ponsel, earfone dan fotoku. Foto yang tidak sengaja terjatuh dari dalam buku sketsanya.

“Ups. Rahasiaku terbongkar,” ucapnya tanpa dosa. Aku terkekeh penuh kemenangan. Rasanya lebih seperti melegakan mengetahui bukan kau sendiri yang masih punya banyak kenangan. Kadang semua itu terasa seakan-akan aku begitu konyol dan bodoh. Dan kenyataan itu membuatku merasa jauh lebih baik. Sesuatu di masa lalu bukan hal yang harus dibenci.

Dia menyodorkan jaketku saat aku berdiri dari tempat dudukku. Rasanya pasti menyenangkan kalau dia masih kekasihku. Itu tadi pasti akan jadi coffee dating yang akan dibicarakan terus-menerus selama berbulan-bulan. Dia masih bercakap-cakap aku sekali-kali menimpali, membukakan pintu cafe dan membiarkanku lewat terlebih dahulu sebelum akhirnya dia menutupnya dan membuat bunyi lonceng berdenting kecil di belakangnya.

Kami berdiri di depan cafe.

“Kurasa ini saatnya berpisah?” tanyanya.

“Yea, jangan lupa sampaikan salamku.” Aku mengingatkannya.

“Kau juga, sampaikan salamku.”

“Karena aku baik hati aku akan menyampaikannya, Tuan Ikut-Ikut.” Lalu kami tertawa bersamaan.

“Terimakasih untuk traktiran kopinya,” kataku.

“Bukan masalah,” jawabnya enteng.

Aku melirik jam dan membuatnya mengikuti apa yang kulakukan. “Aku pergi?” Dia menunjuk ke arah lobi dan aku menunjuk arah tempat parkir menandakan kami tidak akan menuju tempat yang sama. Dia beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan mundur sambil melambaikan tangan sampai beberapa meter sebelum akhirnya aku melihat punggungnya yang tertutup sweater abu-abu.

Oh entahlah.

Apakah itu tadi lambaian tangan bahwa kami tidak akan bertemu kembali dan sore ini hanya basa-basi singkat sebelum perpisahan atau lambaian tangan yang sama seperti saat aku kembali bertemu dengannya kala itu.

Yang jelas, tanpa perlu bersusah payah, aku menemukan jalan memperbaiki keadaan secara tak terduga. Berdamai dengan masa lalu.

Bersama senja, aku mencatat dalam bau kopi.

Kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s