Jarak

Aku tidak tahu dari mana aku harus memulai, sama seperti jarak tanpa arah yang hanya menghubungkan dua titik, A dan B, tidak peduli dengan arahnya. Ini bukan surat tapi bisa saja menjadi surat. Karena ini ditujukan kepada siapa pun yang terpaut oleh jarak.

Jarak

Kepada siapa pun yang berada di luar sana, jangan lupa. Kau membawa hatiku bersamamu.

Sebelum aku menceritakan apa pun padamu kau harus tahu tiga hal yang selalu menghantuiku, kau mungkin sudah tahu salah satunya –aku tidak suka bunyi jarum jam. Aku akan memberitahumu dua yang lain: 1. Aku takut kehilangan, entah apa pun itu; 2. Aku takut mengecewakan.

Kau boleh saja menganggap itu konyol tapi itu sungguh 3 hal tersebut selalu menggangguku. Aku tidak bisa tidur dengan bunyi jarum jam, aku tidak bisa tidur saat mengecewakan ibuku, aku bisa menangis berhari-hari saat aku kehilangan. Aku bisa berteriak di malam hari saat tengah tidur karena dihantui salah satunya, aku bisa menangis dalam tidurku, dan aku bisa tidak merasakan apa-apa. Jadi kau tahu sampai level apa ketakutan itu berimbas padaku.

Suatu ketika aku membaca surat dari seorang putri pilot kepada ayahnya yang tengah hilang bersama dengan pesawatnya, lalu aku teringat padamu.

Aku tidak takut kalau kau tidak peduli padaku.
Aku juga tidak takut kalau kau hanya bermain-main.
Apalagi, soal kepastianmu, aku tidak berani berharap banyak.

Tapi, aku takut aku tidak bisa bertemu lagi. Karena aku takut kehilanganmu.

Mungkin kau bukannya hilang atau apa, mungkin kau melupakanku seiring berjalannya waktu dan menenggelamkanku di antara kenangan-kenangan baru yang kau miliki. Aku takut aku menjadi seonggok foto yang kau simpan di gudang penuh debu, yang kadang kau lupa akan keberadaannya. Aku takut bilamana kita bertemu lagi, kau tak lagi mengenaliku. Karena saat itulah aku kehilanganmu.

Aku tahu ingatan manusia ada batasnya, tapi aku pengingat yang baik. Aku masih ingat saat aku menjadi ambisius karena gagal menerima piala paduan suara saat TK, temanku yang menerimanya saat itu, sejak saat itu aku menjadi terobsesi mendapat piala. Kejadian itu lebih dari 10 tahun yang lalu dan aku masih mengingatnya.

Jadi aku tidak akan mudah lupa denganmu. Aku mengingatmu secara mendetail, bagaimana kau berjalan, bagaimana kau tersenyum, bagaimana kau tertawa, bagaimana kau melucu, bagaimana kau berbicara, bagaimana kau serius, bagaimana kau mengerutkan keningmu, bagaimana kau makan, bagaimana suaramu. Semuanya masih seperti kemarin bagiku.

Aku tidak takut saat jarak memisahkan. Yang kutakutkan adalah saat aku tidak bisa mengalahkan jarak untuk menemuimu sehingga aku kehilanganmu.

Aku takut saat jarak membuatmu kecewa padaku.

Aku takut saat jarak dan gerak jarum jam bersahabat untuk membuatku menghitung jarak dan waktu.

Jarak ini tidak hanya menghubungkan titik tempatku saat menulis dengan titik tempatmu berdiri. Jarak ini menghubungkan sebuah titik di hatiku yang entah terhubung padamu atau tidak. Jarak ini menghubungkan titik di otakku yang mengingatmu secara mendetail dengan suatu titik di otakmu yang menyimpan ingatan tentang ku. Jarak ini menghubungkan banyak hal, masa lalu yang sudah kita lewati, masa sekarang saat kita harus berjuang, atau bahkan masa depan di mana kita hanya bisa berencana.

Aku selalu memandang ke arah barat, ke arah kau sedang berada, aku selalu berharap kau sedang memandang ke timur dan pandangan kita bertemu di antara langit biru luas yang membentang di angkasa. Klise. Tapi bukankah itu bagian keindahan yang diciptakan bagi kita.

Sepertinya lebih dari sering aku menyesali tentangmu. Tentang bagaimana aku banyak memikirkanmu justru setelah kau pergi. Tentang aku yang tidak bisa bersikap pasti karena bayangan masa lalu. Sampai jarak menyadarkanku, bahwa kau tidak seharusnya terpisah dariku.

Pertanyaanku hampir selalu sama, mengapa jarak harus memilih kita untuk dipisahkan. Walaupun aku selalu tahu bahwa “Tidak ada cinta yang hebat datang tanpa perjuangan” tapi aku sering iri kepada mereka yang punya cukup waktu untuk bersama. Karena setiap detiknya aku selalu ketakutan akan kehilanganmu. Bahwa suatu hari aku tidak bisa mendengar suara kantukmu sebagai pengantar tidur. Bahwa aku tidak bisa mengganggumu di antara kesibukanmu. Bahwa aku hanya menjadi pengganggu yang ingin kau enyahkan.

Sebegitu takutnya aku akan kehilanganmu.

Aku tidak tahu dari mana harus memulai karena aku ingin bertanya, dari mana kita sebenarnya memulai? Karena tiba-tiba saja aku sudah menautkan hatiku padamu. Karena aku tidak punya cukup alasan mengapa memilihmu. Yang jelas kau seperti jawaban atas ketiga ketakutanku.

Karena setiap kali memikirkanmu, aku ingin berusaha mempercayai orang lain. Sekali lagi.

Bahwa kau akan mengalahkan jarak ini dan melambaikan tangan tepat di depan mataku. Bahwa aku bisa melihatmu lagi dan menyentuhmu untuk membuktikan bahwa kau nyata.

Karena setiap kali aku bersamamu, aku merasa aku berada di rumah. Bersamamu aku tidak perlu menjadi orang lain, bersamamu aku menemukan zona nyaman itu. Bagiku tidak penting kata orang tentang tak seharusnya aku memaksakan jarak karena aku tidak mendapatkan itu semua saat bersama orang lain. Karena walaupun jarak membentang kau selalu membuatku sempurna.

Karena bagiku kau seperti rumah, tempat di mana aku selalu pulang.

Salam Rindu,

Aku.

Snapshot_20140320

Snapshot_20140319

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s