Déjà vu – February

Aku lelah dengan kisah romantis Februari karena semuanya terasa memuakkan bagiku jadi biarkan aku menulis ini.

Februari bagiku masih seperti bulan-bulan yang lain. Tidak ada yang berubah kecuali ketiadaan nenekku. Hari ulang tahun ibu dan ayahku juga tidak bergeser barang sehari. Februari bagiku masih sama, seputar ulang tahun mereka dan sederet idol K-Pop –Victoria, Kyuhyun, Yunho, Taeyeon, Sooyoung, Changmin.

Bulan ini masih seperti tahun lalu saat setiap pagi diselimuti awan tipis dan embun dingin, siang dengan terik dan mendung yang silih berganti dan sore yang kadang datang bersamaan dengan hujan serta malam yang anginnya merasuk sampai ke tulangku. Bulan ini masih sama, kecuali aku tidak sedang mengerjakan ujian praktek dengan jas lab SMA-ku. Bulan ini masih sama kecuali aku bertemu dengan orang-orang baru dan kegiatan yang tidak bisa aku jelaskan secara jelas tapi bagiku, bulan ini masih sama, ini bulan Februari yang lain.

Omong kosong soal Februari adalah bulan kasih sayang. Aku tidak merayakannya. Aku sudah berprinsip seperti itu. Februari memang penuh kasih sayang karena banyak orang penting dalam hidupku yang lahir di bulan ini bukan karena hari itu. Aku sedang tidak ingin berdebat jadi terimalah kenyataannya. Toh, Februari bagiku tidak pernah menyediakan kisah romantis picisan, Februari bagiku selalu berhasil meremukkanku.

Dulu sekali, aku ingin tahu bagaimana rasanya jatuh cinta lalu seseorang memberitahuku. Selang beberapa waktu dia hanya memenuhiku dengan rasa kecewa dan aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Seseorang datang lagi, mengingatkanku tentang rasa itu tapi dia membuatku mempertahankan itu seorang diri. Kalau saja jatuh cinta bisa dilakukan sendirian, aku akan melakukan itu. Siklus itu terus berulang seorang datang mengingatkan perasaan itu, lalu dia perlahan membuatku lupa karena hanya luka yang tersisa. Aku bukannya takut untuk jatuh cinta, tapi bukankah aku sudah terlalu banyak terluka?

Aku memang lebih suka menanggung perasaanku sendirian. Kalau aku suka maka aku akan bertahan kalau tidak aku akan pergi. Akan lebih mudah bagiku karena tidak meminta balasan dari siapa pun. Toh, aku memang selalu menanggungnya sendirian. Siapa yang mau berbagi bersama dengan orang sepertiku?

Sungguh, aku tidak ingin membuat paragraf berakhiran tanda tanya namun apa dayaku? Semua yang terjadi ini selalu mengundangku dalam pertanyaan lain dan lainnya dan lain.

Kembali lagi soal Februari, rasanya aku akhir-akhir ini sering merasakan deja vu. Tentang hujan, tentang coklat, tentang stadium, tentang lampu, tentang hangat, tentang roti. Aku sering terjebak dalam situasi di mana aku bahkan tidak bisa mengontrol diriku untuk tidak terjebak dalam perasaan itu. Itu sering mengganggu terus terang saja. Kalau perasaan itu mengambang di permukaan untuk kedua kalinya apa itu tidak mengganggu? Kalau itu menyenangkan tentu itu sebuah bonus, tapi yang hadir bukanlah itu. Artinya adalah, aku harus menghadapi perasaan menyiksa itu dua kali.

Aku tidak tahu bahwa aroma cokelat, manisnya roti atau dentum bola bisa begitu mengganggu. Karena hal-hal itu berhasil menarikku ke dalam masa lampau. Di suatu tempat di mana aku tidak ingin kembali dan tidak berencana untuk kembali. Dan sang pemilik masa lampau sepertinya punya kecanduan tentang menyiksaku di bulan Februari. Berita baiknya, aku tidak terjebak seperti beberapa tahun yang lalu.

Tidak banyak yang bisa kuingat secara jelas. Semuanya sekarang terasa samar-samar seperti pandangan di antara kabut tebal pegunungan. Tapi aku mengingat banyak, tentu saja aku ingat banyak. Siapa yang tidak akan ingat dengan seorang yang membuatnya menyia-nyiakan hampir 5 tahun untuk sesuatu yang jelas-jelas tidak pasti, untuk sesuatu yang hanya menyakitinya. Seperti kau menggantungkan sebongkah batu besar pada sebuah benang tipis yang kau tahu dengan jelas bahwa benang itu akan putus tapi kau tetap mengharapkan sebaliknya.

Namun apa pun yang kutinggalkan di Februari-Februari yang lalu…–hmmm, sebenarnya aku hanya tidak ingin menjadi orang yang munafik…- aku hanya ingin Februari-ku tahun ini tahu bahwa aku pernah hidup di masa lalu dan mustahil bagiku untuk melupakannya, betapa pun kerasnya aku mencoba aku masih mengingatnya karena Februari yang telah berlalu sudah lebih dahulu mengenalku, dia sudah tahu banyak tentangku –bahkan mungkin terlalu banyak-, dan dia tahu benar bagaimana membuatku melambung lalu menghempaskanku begitu saja. Aku tidak berharap banyak, aku tahu itu hanya membuatku kecewa juga… tapi setidaknya biarkan waktu memulihkannya walau sampai sekarang belum seluruhnya pulih tapi di beberapa bagian aku tahu bahwa sesuatu memang tidak bisa diperjuangkan. Setidaknya, aku ingin meminta maaf sebelum aku membuat kesalahan. Kalau suatu saat Februari tahun ini menemukan kesalahan tentang hal ini, aku sungguh tidak sengaja melakukannya. Aku tidak pernah berniat seperti itu.

Kadang, ada hal-hal yang menggelitik buatku bahwa semua yang terjadi ini sebenarnya ulahku sendiri membuang yang baik dan mempertahankan yang tidak pantas dipertahankan. Tapi aku bisa apa? Apa aku memilihnya? Aku dan dia sama-sama tidak tahu. Aku sudah berkali-kali menanyakan padanya tapi dia juga tidak tahu karena kami sama-sama tidak melakukan apa apa. Namun sesungguhnya aku tahu aku pantas disakiti.

Namun akhirnya, aku hanya ingin mengatakan terutama pada diriku sendiri bahwa deja vu hanyalah deja vu yang terus menghantui. Bahwa deja vu mungkin nyata mungkin juga tidak. Dan kenyataannya aku sudah cukup banyak berteman dengan perasaan tidak nyata, maka akhirnya kurasa ini semua sudah cukup buatku.

Aku mau Februari-ku yang nyata. Di mana awan akan melengkungkan senyumnya, matahari pagi malu-malu menyapa, dan air hujan yang bisa dinikmati bukan untuk menyembunyikan air mataku. Jadi, walau aku suka mengungkit masa lalu tidak berarti aku hidup di sana kecuali aku ingin kembali ke sana dan kalau saat itu sampai datang, akan kupastikan kau tahu agar kau tidak merasakan sakit hati.

Selamat ulang tahun Februari masa lampau, kau hanya perlu tahu aku tidak akan membuat kesalahan yang sama di tahun ke-6. Dan kau, tidak perlu menyesali apa pun yang terjadi di tahun ke-3 karena semuanya sudah berlalu dan tidak ada artinya lagi bagiku.

Selamat bulan Februari, selamat melanjutkan Februari. Selamat menikmatinya.

Advertisements

One thought on “Déjà vu – February

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s