The Crossing Path (Foreword)

TCP

***

The Crossing Path
(Foreword)

kachang

Shim Changmin adalah pria berusia 27 tahun. Di usia ke 17 dia mendapat beasiswa di University of California, Barkeley dalam bidang arsitektur. Pria jenius dari Korea itu berhasil sukses di negeri orang. Sejak saat itu dia tidak pernah berencana untuk kembali ke Korea. Betapa keras orang tuanya berusaha memulangkannya, si jenius Changmin selalu memiliki cara untuk berdalih. Dia justru berhasil membawa adik pertamanya Shim Sooyeon bersamanya.

Pagi itu, Shim Changmin sedang bersiap-siap menggulung kemejanya hingga sampai siku. Yunho, roommate-nya yang lebih tua sudah berangkat terlebih dahulu ke tempat bekerja. Changmin telah pindah dari California ke New York sejak dia menyelesaikan S2 nya. Usianya hampir 23 tahun saat itu. Seorang kenalan dari Profesor-nya dulu menawarinya sebuah pekerjaan sebagai asisten dosen di New York University. Itu artinya perpindahan setelah hampir 6 tahun menyesuaikan diri dengan langit cerah, ombak yang menggulung dan angin sepoi-sepoi dan terutama matahari California.

Hari ini tepat tahun keempatnya menjadi asisten dosen. Gajinya tidak bisa dibilang sedikit, dia berhasil menyewa apartemen di daerah Brooklyn –30 menit berkendara dari NYU namun setidaknya apartemennya jauh lebih murah daripada di daerah Manhattan. Changmin juga menjadi tentor lepas untuk SAT/ACT para mahasiswa Korea dan Jepang. Dan lagi, dia seorang arsitek. Sekali dua kali dia tetap terlibat dalam pembangunan baik rumah maupun gedung. Saat itulah dia mendapat gaji besar-besaran.

Perkenalannya dengan Jung Yunho, seorang pria Korea yang bekerja sebagai pengacara sebuah firma hukum memberinya lebih banyak keuntungan misalnya saja jaringan yang lebih luas. Yunho sudah menjadi roommate-nya selama 6 tahun belakangan—sejak mereka masih di California- dan Changmin tidak berniat untuk pindah. Yunho sudah membantunya dalam banyak hal termasuk menjadi salah satu alasan untuk tidak kembali ke Korea. Yunho sudah seperti keluarganya sendiri. Yunho sempat tinggal di California bersama Changmin selama setahun sebelum pria itu pindah kerja ke Williamsburg. Di tahun berikutnya, Changmin mendapat pekerjaan di New York dan mereka akhirnya kembali menjadi roommate.

Changmin menghisap kopi espresso paginya di Stumptown Coffee sambil menikmati croissant dengan selai strawberry. Changmin tidak pernah merasa tua meskipun kini dia sedang menempuh pendidikan Professor-nya. Dia selalu menjadi pria yang luar biasa cerdas sejak duduk di bangku sekolah dan baginya bertemu dengan orang-orang yang sama-sama memiliki otak cemerlang jelas melegakan, dia bisa berbagi pemikiran. Tapi New York sangatlah sibuk dan ramai. Seberapa keras pun dia mencoba, dia harus mengakui bahwa dia merindukan ketenangan Pulau Jeju. Dia merindukan beberapa teman masa kecilnya yang polos dan apa adanya, wanita-wanita penjual sayur tukang gosip di daerah pedesaan dan semacamnya.

Dia tidak pernah meninggalkan keluarganya. Dia bahkan membawa mereka berlibur di Los Angeles akhir tahun lalu. Changmin dan kedua orangtuanya serta adiknya masih sempat menghabiskan musim panas bersama di California saat mengunjungi Sooyeon. Tapi Changmin tidak punya rencana untuk kembali. 10 tahun di Amerika telah mengubah banyak hal dalam dirinya dan dia tidak sanggup menghadapi perubahan lain saat tiba di Korea. Akan jauh lebih baik bila dia tetap menjadi pria Amerika dan orangtuanya bisa menerima keputusannya.

“Hey Max, how are you today?” itu suara Stella Kim. Warga Korea yang lain, seorang gadis berusia 24 tahun yang baru saja menyelesaikan pendidikannnya di bidang Science. “Aku menulis beberapa artikel minggu ini kuharap ada beberapa yang dimuat,” lanjutnya.

Stella Kim tinggal di Greenwich Village bersama dengan beberapa teman dan saudara atau entahlah –Changmin tidak pernah tau pasti. Changmin tidak sengaja mengenalnya saat mereka bertemu di perpustakaan NYU. Lalu di minggu berikutnya, Changmin menemukan Stella sedang duduk sendirian di taman di daerah Williamsburg, dekat dengan kantor Yunho hyung. Pertemuan tidak sengaja itu membuat mereka akhirnya saling bertukar nomor telefon.

Stella mengambil kursi tepat di hadapan Changmin. “Professor, apakah hari ini jadwalmu sangat padat?” tanyanya lagi.

“Kurang lebih begitu. Ada beberapa diskusi dan ada rapat untuk pameran.”

“Kau tidak ingin makan siang bersamaku?” tanya Stella.

“Apa itu sebuah ajakan?” Changmin balik bertanya.

“Tergantung bagaimana kau menangkapnya.” Stella mengabaikan Changmin beberapa saat hingga akhirnya dia kembali dengan segelas kopi di tangannya.

“Kapan kau kembali ke sini?”

“Dua hari yang lalu. Seorang teman baikku baru saja pindah kemari jadi aku terpaksa sedikit menunda kepulangan.”

“Apa kau tidak ingin mengenalkannya pada Changmin?” tanya Changmin sambil tertawa pelan.

Stella mengangkat alisnya. “Oppa-ya! Apa tidak cukup kau mengenalku saja?” lalu memasang wajah cemberut.

“Baiklah kita akan makan siang hari ini asal kau mau menemaniku berbelanja ke supermarket sore nanti,” kata Changmin sambil membersihkan mulutnya dengan tissue.

“Benarkah?” Stella membelalakkan matanya. “Tentu saja. Kita bertemu di taman.”

Changmin tersenyum mengiyakan gadis itu sambil mengangkat tasnya. Stella sempat membalas lambaian tangan Changmin saat pria itu memacu kendaraannya menuju ke tempat kerjanya.

***

BPBH-asCMAEVO8K

Stella Kim, 24 tahun lulusan New York University dengan gelar Bachelor of Science dengan major di bidang Food Science. Cita-citanya untuk bergelut di dunia musik pupus setelah ayahnya yang over-protective mengirim putri tunggalnya ke Amerika hanya demi menjauhkannya dari klub paduan suara yang telah diikutinya sejak duduk di SD. Dia terpaksa meninggalkan teman-teman baiknya dan juga kekasihnya. Sejak saat itu, Stella bertekat melupakan Korea dan menjadi gadis Amerika.

Pertemuannya dengan Changmin terjadi di tahun keduanya di New York. Saat dia yang sering menumpang tidur di perpustakaan kampus bertemu dengan seorang pria Korea yang asyik berdiskusi di ruang diskusi yang dibatasi oleh kaca. Perkenalan singkat mereka –Changmin meminjam pensil Stella untuk sebuah penyempurnaan sketsa- ternyata dapat berlanjut hingga sampai saat ini. Stella sangat mengagumi Changmin, jujur saja, pria itu masih muda dan telah menjadi seorang asisten Professor. Dan tentu saja, Stella telah membuktikan sendiri seberapa supernya otak Changmin.

Stella Kim kini bekerja serabutan dari mulai menulis artikel makanan bergizi sampai artikel fashion dan membuat blog. Sekali dua kali dia akan bergabung dengan musisi kampus untuk bernyanyi di bar atau saat pesta. Tidak ada yang ingin dilakukannya saat ini –tujuan hidupnya masih belum jelas- sementara dia tidak ingin kembali ke Korea –menetap- karena dia tidak ingin menyesali keputusannya selama ini.

Bagi orang, Stella Kim adalah wanita super beruntung. Kedua orangtuanya yang kaya mampu mengirimnya ke Amerika. Dan lagi, dia cukup pintar untuk masuk dan bertahan di New York University. Setidaknya, selama dia berada di Amerika dia tidak pernah kelaparan. Perapian di rumahnya selalu hangat sepanjang musim dingin dan di musim panas dia masih sempat pergi ke pantai dan pergi berjalan-jalan dengan teman-teman seperguruan tingginya. Stella selalu menjadi idola setiap kali kembali ke Korea –tentu dengan paksaan. Semua teman-temannya akan bertanya mengenai Amerika, berlagak tertarik dan semacamnya. Padahal yang dia rasakan selama ini adalah dia selalu berada dalam bayang-bayang ayahnya.

Dalam kepulangannya ke Korea, dia tak sedikit pun menemui seorang teman dari sekolahnya dahulu. Hanya Sooyoung, anak teman ayahnya yang kebetulan juga selalu sekelas dengannya sejak di bangku taman kanak-kanak, yang bersedia menemuinya. Sooyoung adalah sahabat terbaiknya di Korea walaupun dalam beberapa tahun terakhir mereka sama-sama sibuk terutama setelah samudera memisahkan mereka. Tapi setidaknya mereka masih sempat mengunjungi satu sama lain.

Stella sangat suka nongkrong di Brooklyn Public Library bersama dengan klub buku yang diikutinya. Perpustakaannya hanya berjarak 3 blok dari apartemen Changmin dan itu memberinya alasan untuk mampir ke apartemen sang arsitek. Stella bahkan sudah bertemu dengan roommate Changmin yakni seorang pengacara yang berusia satu atau dua tahun di atas Changmin, namanya Jung Yunho. Stella lebih senang memanggilnya dengan Papa Bear setelah Yunho memberinya hadiah berupa teddy super besar di natal tahun kedua perkenalan mereka.

Entah bagaimana, sejak ia bertemu dengan Changmin, ritme kehidupannya terasa lebih santai, lebih rileks. Membuatnya makin tertarik dengan sang arsitek. Entah itu sesuatu yang buruk atau sesuatu yang baik.

***

yunho

Seorang pria berusia 29 tahun dengan kacamata di batang hidungnya, merapikan jasnya. Pria berambut cepak itu terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Seorang pengacara berkulit hitam dengan kumis lebat dan badan yang jauh lebih tinggi dan berisi menepuk pundaknya. “Mr. Jung, milikmu ketinggalan,” ucap pria berkumis itu.

“Oh, thanks Kerry! Aku akhir-akhir ini makin pelupa saja,” keluhnya.

“Tidak apa-apa. Kau tergesa-gesa pulang? Apa anak laki-laki itu masih tinggal bersamamu?” tanya Kerry.

“Changmin? Yea begitulah. Kurasa tinggal bersamanya tidak begitu merepotkan. Kami punya tiga kamar tidur. Changmin mengubah salah satunya menjadi galerinya sekaligus ruang kerjanya sementara aku bisa menggunakan ruang kerja yang lebih nyaman.”

Kerry tertawa kecil. Mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran.

“Setidaknya kau jauh lebih bahagia setelah dia akhirnya menyusulmu kemari. Kau banyak membicarakannya saat dia berada di California.”

Jung Yunho tertawa pelan, mengingat beberapa tahun yang lalu saat dia benar-benar kesepian. Saat itu Changmin, pria Korea pertama yang dikenalnya sejak menginjakkan kaki di Amerika, tinggal jauh di California setelah setahun kebersamaan mereka. Changmin sudah seperti adiknya sendiri. Saat dia harus pindah ke Williamsburg dan mengontrak flat di pinggiran, kehidupannya tidak begitu baik. Dia tinggal di kota besar tanpa seorang pun yang terasa seperti keluarganya. Dia harus bekerja banting tulang demi keluarganya di Korea.

Yunho pindah ke Amerika setelah kekasihnya yang seorang penari mendapat tawaran kerja di California. Saat itulah dia berencana merintis karir di Universitas terdekat yang akhirnya membuahkan pertemuan dengan Changmin. Yunho ingat benar wajah seorang mahasiswa Korea yang selalu nongkrong di pinggir pantai dengan sebuah buku sketsa di depannya dan pensil di tangannya. Yunho saat itu bekerja di sebuah restaurant pinggir pantai sembari menunggu resume-nya diterima.

Boa Kwon, kekasihnya, sudah lebih sukses darinya. Wanita itu bergabung dengan sebuah klub dance dan membuatnya menjadi seorang guru menari di sebuah sekolah seni. Sekali dua kali, Boa Kwon dan klub nya akan menggelar konser di pinggir pantai pada akhir minggu. Sekali dua kali, Boa akan menyanyi di restaurant. Boa dan Yunho telah berkencan sejak mereka duduk di bangku Universitas. Dan kepindahan mereka ke Amerika adalah bukti keseriusan mereka untuk terus bersama.

Setelah kepindahan Yunho ke Williamsburg, Boa tidak ikut pindah karena dia akhirnya menandatangi kontrak dengan sebuah agensi di Los Angeles. Itu berarti mereka harus rela saat jarak memisahkan mereka. Sebagai gantinya, Yunho dan Boa sama-sama mendapatkan penghasilan yang jauh lebih melimpah, mereka sama-sama dapat hidup lebih baik sambil mengejar cita-cita mereka. Tahun ini akan menjadi tahun ke 10 kebersamaan mereka. Tahun keempat sejak mereka berpisah dan hidup berjauhan dan luar biasanya, mereka masih mencintai satu sama lain.

Kehidupan cinta Yunho mungkin sedikit berubah setahun belakangan sejak dia bertemu dengan seorang designer dari Korea yang terlibat masalah hukum tentang hak cipta. Bukan kasusnya yang bermasalah, melainkan wanita itulah yang menjadi masalah lain. Wanita itu lebih muda 3 tahun dari kekasihnya dan mereka berdua memiliki nama marga yang sama. Boa, selalu menjadi wanita mandiri yang sangat dewasa. Terkadang, hal seperti itu sedikit menjenuhkan bagi Yunho, terlalu serius.

Sementara Yuri Kwon sang designer adalah cerminan dari gadis-gadis metropolitan Seoul. Pakaian-pakaian model terbaru, tas-tas dan aksesoris bermerek serta rambut panjang yang lebat. Gadis-gadis yang sering pergi ke kelas yoga di tengah rutinitas mereka serta mengikuti kelas belly dance dengan alasan ingin bertemu dengan teman-temannya. Yuri Kwon bagi Yunho mungkin bukan wanita yang dewasa dan bisa diajak untuk membagi beban tapi wanita itu adalah wanita mempesona yang membuatnya menelan ludah setiap kali wanita itu tersenyum sinis. Seberapa keras pun dia mencoba, dia tidak bisa menampik kenyataan bahwa Yuri sangat menawan.

Tidak menampik, dia lebih sering menghabiskan waktu setahun belakangan dengan Yuri ketimbang dengan kekasihnya. Awalnya memang hanya sekedar diskusi antara partner-client di luar kantor namun seiring berjalannya waktu, Yuri sering mengisi kehidupannya lebih dari apa yang ia pernah pikirkan. Yunho sering menemani wanita itu makan malam, pergi ke bar untuk sebuah pesta bersama dengan fashion designer dan rekan kerja yang lain, menemani keliling New York untuk berbelanja hingga pergi ke New York Fashion Week.

Yuri tahu Yunho punya kekasih dan wanita itu lagaknya tidak ambil pusing. Yuri juga berkencan dengan seorang pengusaha di Korea namun hubungan mereka nampaknya tidak berjalan dengan baik. Yuri dan Yunho sama-sama seperti menemukan penyegaran saat saling bertemu satu dan lainnya. Seperti mereka dapat menarik nafas sementara waktu, seperti mereka dapat beristirahat dari keseriusan. Sejenak saja, mereka ingin melakukan kesalahan. Mungkin saja, Yunho hanya sedang mengalami Commitment Issue.

***

tumblr_m69f56Tmmz1rs4vslo1_1280

Wanita berambut coklat berombak itu bernama Choi Sooyoung. Usianya tepat 24 tahun di tahun ini. Dia seorang anak dari golongan menengah ke atas —chaebol kid. Dia merupakan lulusan Department of Communication and Information, College of Social Science, Inha University. Sejak dia dilahirkan, kehidupannya selalu penuh hingar-bingar. Sehingga lingkungannya pun tak jauh-jauh dari chaebol-kid yang lain. Sooyoung sejak kecil selalu pergi ke sekolah-sekolah ternama dan bergaul dengan orang-orang pintar yang lain.

Sooyoung selalu menjadi gadis yang disukai teman-temannya. Walaupun keluarga Choi sangat tersohor di kalangan para jutawan Korea, Sooyoung selalu menjadi gadis yang tidak membeda-bedakan status sosial. Gadis itu sangat ramah dan menyenangkan untuk diajak berteman. Terhitung sejak dia duduk di bangku sekolah dia selalu memiliki sahabat dekat. Dia tidak pernah absen dari kegiatan-kegiatan di sekolah. Sooyoung mungkin bukan siswa terpintar atau terkeksis di sekolahnya namun Sooyoung punya banyak teman yang mau terus bersamanya.

Ketika duduk di bangku perguruan tinggi pun Sooyoung justru memiliki sahabat yang berasal dari fakultas maupun Universitas yang berbeda darinya; Yoona seorang mahasiwi teater, Jessica lulusan International Relations dari Universitas Stanford, Yuri sang designer lulusan dari Perancis, dan masih ada beberapa lainnya.

Kehidupan keluarga Sooyoung hampir sempurna. Seorang kakaknya merupakan artis teater yang sering tampil di acara internasional. Ayahnya seorang pebisnis di bidang properti dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang selalu siap sedia mengurus kedua anak perempuannya. Sooyoung punya kakek-nenek yang bisa dikunjungi setiap natal, dua paman yang sangat senang memanjakannya dengan pakaian bagus, gadget baru dan tas-tas lucu. Kedua sepupunya yang sama menawannya dengan dirinya juga selalu siap menemaninya setiap kali dia ingin pergi ke villa keluarga atau hangout khas anak muda. Sooyoung hampir memiliki semuanya. Hampir semua kecuali satu, cinta.

Sooyoung memutuskan pindah ke Amerika setelah dia memenangkan lomba liputan di sebuah majalah dengan meliput pentas teater kakaknya di Hokkaido, Jepang.  Dia melihat kemungkinan sukses baginya jauh lebih besar dibanding terus bergulat dengan para idol di Korea. Terjebak dalam komentar netizen sudah membuatnya cukup lelah. Cita-citanya sebenarnya hanya satu: menerbitkan sendiri buku-buku favoritnya.

Jadi, saat itu hampir akhir tahun saat orangtuanya akhirnya menyetujuinya tentu saja dengan bantuan sepupu-sepupunya, Choi Siwon, Choi Jiwon dan Choi Sulli. Sooyoung mungkin tidak akan pernah berhenti berterimakasih kepada Sulli. Gadis itu secara tidak langsung membukakan pintu kebebasan bagi dirinya dan Sooyoung tidak akan melupakan itu. Sooyoung sangat menyayangi Sulli seperti saudara kandungnya sendiri bahkan kadang, melebihi bagaimana dia menyayangi Soojin –tidak berarti bahwa dia tidak menyayangi Soojin, tapi sejak kecil, Sooyoung sudah lebih dekat dengan Sulli. Begitulah ceritanya, di awal tahun nanti, Sooyoung akan mengepak masa lalunya dan pergi ke Amerika. Menemukan dunia baru yang mungkin merubah hidupnya.

***

vict

Victoria Song, usianya menginjak 20 tahun saat dia menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam. Dia berasal dari Qingdao, Shandong, China dan kehidupannya di sana tidak begitu menyenangkan. Dia diabaikan oleh kedua orangtuanya yang sibuk mencari uang sejak kecil. Dia tidak punya banyak teman karena dia terus-menerus pindah rumah, dia tidak pula begitu berbaur dengan teman-teman di sekolahnya karena dia tidak ingin orang-orang mempertanyakan tentang keluarganya.

Victoria muda lebih sering makan siang di pinggir lapangan baseball ketimbang di kantin. Selama bersekolah, Victoria lebih banyak berkenalan dengan para pria daripada gadis-gadis. Victoria selalu berambut panjang ekor kuda yang membuat para laki-laki senang menarik rambutnya. Dan bagi beberapa gadis –terutama saat mereka masih di SMA- Victoria tak lain adalah ‘gadis China si pencari perhatian’ dan itu sudah membuatnya cukup malas untuk tidak melakukan persahabat dengan seorang gadis lain manapun. Setidaknya dua anak gadis keluarga Liu yang mengasuhnya bertingkah baik padanya.

Victoria sempat menghabiskan masa SMA di Korea saat seorang tetangganya di China menawarkan diri menjadi orangtua asuh. Setelah lulus dari SMA-nya Victoria yang berusia 19 tahun memutuskan untuk kembali ke China dan meminta orangtuanya untuk mengizinkannya pergi ke Los Angeles untuk meneruskan pendidikannya. Impiannya tidak lebih menjadi seorang guru senam tapi kalau dia bisa berharap dia akan senang hati menjadi seorang penari. Dan dia pun kembali tinggal keluarga Liu yang dengan baik hati mengurusnya selama di Korea.

Victoria Song, Jackie Liu dan Amber Liu adalah satu paket. Sejak Victoria pindah ke LA, kedua Liu bersaudara itu sangat bersemangat. Victoria pintar memasak dan mereka hampir tidak pernah makan masakan China –kecuali saat saudara mereka datang atau mereka pergi ke resto China- dan Victoria bisa mengambil alih dapur mereka dan menyediakan makanan kapan pun mereka mau. Jackie Liu bekerja di sebuah industri fashion di New York sementara Amber masih duduk di sekolah menengah atas. Victoria memutuskan pindah ke North California beberapa bulan setelah kedatangannya di LA. Sementara dia mengajar bahasa China dan Korea, dia juga bekerja di sebuah cafe pinggir pantai.

***

Cho-Kyuhyun-super-junior-19923867-472-590

“Cut!” teriak Cho Kyuhyun yang duduk di depan monitor kecil.

Para artis membungkuk memberi hormat sementara kru-kru bertepuk tangan. Kyuhyun terkekeh perlahan. Sementara beberapa orang sibuk mengemasi kamera, lighting dan sebagainya, Kyuhyun memilih untuk duduk di atas meja di pojok ruangan. Seorang laki-laki menghampirinya.

“Masih merindukan masa lalu?” tanya pria yang lebih muda darinya itu.

“Kadang.”

“Kau tidak merindukannya?” tanya pria itu lagi.

“Kadang,” jawab Kyuhyun menahan tawa. Kemudian dia meraih batang rokok dan menyulutnya.

“Sejak kapan kau mulai merokok, Hyeong?”

“Sejak Hyeong kesayanganmu memilih pergi tanpa pamit pada temannya yang tidak berharga ini.”

“Dia masih sering menanyakanmu. Bagaimana pun juga dia masih temanmu. Kalian dulu sangat akrab.”

“Choi Minho, aku bukannya membencinya. Aku hanya tidak terima dia meninggalkanku begitu saja. Dan dia tidak memberikan kabar atau apa pun padaku. Kalau Yunho Hyeong secara tidak sengaja bertemu dengannya dan bercerita padaku maka aku tidak akan tahu apakah pria brengsek itu masih hidup atau sudah mati,” jelas Kyuhyun panjang lebar.

“Yunho?”

“Seniorku saat kuliah dulu. Dia seorang pengacara di New York,” ucap Kyuhyun. Minho manggut-manggut.

“Oya, ngomong-ngomong Minho, kau tahu apa pekerjaan Changmin sekarang?” tanya Kyuhyun.

Minho menggeleng. “Memangnya kau tahu, Hyeong?”

“Arsitek dan merangkap asisten dosen.”

Lalu keduanya tertawa bersamaan. Minho berdiri dari tempatnya duduk. “Kita bertemu di pesta malam nanti, aku akan mengundang Jonghyun Hyeong.” Kyuhyun mengangguk tanda setuju. Setelah Minho mengambil tasnya, pria itu meninggalkan Kyuhyun sendirian di bekas ruang syuting.

Cho Kyuhyun berusia 26 tahun. Dia tamat dari pendidikan hukumnya sekitar 4 tahun yang lalu. Walaupun dia bekerja sebagai seorang Lawyer namun passionnya sesungguhnya berada di bidang seni. Dia berhasil menjadi sutradara terkemuka tanpa harus menempuh pendidikan formal di bidang tersebut. Keinginannya untuk terjun di dunia seni telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah namun kedua orang tuanya memiliki gengsi yang tinggi. Kakaknya, Cho Ahra berhasil kuliah di Manchester dan bertahan di sana, maka yang Kyuhyun bisa lakukan untuk menyenangkan orangtuanya adalah memenuhi permintaan mereka untuk menempuh pendidikan hukum.

Kyuhyun, Minho dan Jonghyun telah bersahabat sejak masuk di sekolah menengah. Ada seorang lagi, yakni Shim Changmin yang entah kenapa melarikan diri ke Amerika tanpa berpamitan pada seorang pun di antara mereka. Kyuhyun bisa saja menyusul sahabat karibnya itu namun dia hanya ingin menguji kesetiakawanan Changmin. Kyuhyun tahu bahwa Jonghyun telah bertemu Changmin beberapa tahun yang lalu dan Changmin menitipkan salam tapi Kyuhyun berusaha acuh-tak-acuh, mengabaikan segala hal yang membuatnya makin merindukan Changmin. Baginya, Changmin adalah seorang sahabat yang begitu brengsek dan penuh rahasia, seseorang yang paling berharga sepanjang hidupnya.

***

Acc. Sosi

“Seo Joohyun! Sudah kubilang berapa kali kalau kau tidak bisa menggunakan bahan alam seenaknya saja.”

“I’m sorry Professor.”

“Kufikir kau mahasiswi yang cepat belajar.”

“…”

“Aku mau design baru ada di mejaku besok pagi atau kau tidak akan mendapat nilai.”

Seo Joohyun merapikan kertas-kertas yang berserakan kemudian memasukkannya dalam map. Joohyun membungkukkan badan lalu berpamitan kepada Professornya. Bunyi pintu berderak di belakangnya. Joohyun menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu. Dia memukul jidatnya dengan map yang dipegangnya. “Bodoh.”

“Dia menolaknya lagi?”

Joohyun menjatuhkan map-nya tanda terkejut. “Changmin-ssi, kau tidak seharunya mengejutkanku.”

Changmin terkekeh pelan. “Maaf, maaf, tapi apa yang kau lakukan dengan mapmu?” Changmin merunduk mengambil map yang terjatuh, beberapa kertas menyembul keluar. Joohyun menariknya cepat-cepat.

“Professor Hobart mengatakan aku salah memilih bahan. Aku benar-benar buruk mengenai hal ini.”

“Kau tak ingin aku melihatnya?” tanya Changmin.

“Kau pasti sangat sibuk. Lagi pula aku juga harus memperbarui design-nya sebelum besok pagi. Beliau ingin bertemu denganku besok pagi,” ucap Seohyun. Terdengar nada lesu di antara. Dia sudah pasrah kalau harus mengulang mata kuliah ini.

“Kau tidak ingin aku membantumu?” tanya Changmin lagi.

“Aku tahu kau sibuk, Changmin-ssi, jadi tidak usah tidak apa-apa. Aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Kalau kau tidak mau aku membantumu membuat kau bisa membuatnya sendiri dan biarkan aku mengoreksinya terlebih dahulu. Bagaimana?” tawar Changmin.

Seohyun membulatkan matanya. “Benarkah? Apa itu tidak merepotkanmu? Terimakasih banyak!”

Changmin menahan tawanya. “Temui aku sore nanti di kantorku. Kuharap kau sudah punya ide untuk merombaknya sedikit.”

“Aku akan berusaha. Sekali lagi, terimakasih.”

Changmin menepuk bahu Seohyun sebelum beranjak masuk menuju ruangan Professor Hobart. Seohyun tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Dia masih menatap punggung asisten dosen favoritnya itu menghilang di balik pintu.

Seohyun sudah mengidolakan pria itu sejak pertama kali menginjakkan kaki di New York University. Asisten dosen tersebut masih muda dan tidak seperti aisten dosen yang lain, Changmin sangat tampan, baik hati dan ramah dan tidak terlihat seperti pria-pria rajin, rasanya mustahil saja. Tapi kehadiran Changmin jelas memberikan motivasi bagi Seohyun untuk berangkat kuliah. Setidaknya dia bisa menemukan Changmin di lorong kampus, di studio design, di kelas, atau di parkiran. Hanya Changmin yang mau memanggilnya dengan Seohyun –seperti permintaannya- sementara teman-teman dan dosennya lebih memilih memanggil dengan nama aslinya, Joohyun.

Di awal tahunnya, Seohyun masih sangat kikuk dan mudah panik ditambah lagi dia tidak cukup percaya diri untuk menggunakan bahasa Inggris. Dia terus-menerus berdiri mematung di depan lokernya setiap kali pergantian jam usai. Changmin yang menyapanya kala itu –dan reaksi Seohyun tentu saja mengejutkan Changmin. Seohyun yang mengagumi Changmin mendapat durian runtuh saat itu. Tidak ada yang lebih baik selain mengenal Changmin secara personal.

Seohyun sangat mengenal Changmin walau Changmin mungkin hanya menganggapnya sebagai seorang mahasiswi Korea yang butuh banyak bantuan. Seohyun selalu membawakan Changmin bekal makan siang dan diam-diam menaruhnya di kantor Changmin. Seohyun selalu membelikan buku baru untuk Changmin saat dia pergi ke toko buku. Seohyun juga tahu semua lagu yang ada dalam playlist Changmin yang terus diputar di kantornya. Seohyun juga tahu di mana Changmin tinggal. Tapi Changmin tidak mengenal Seohyun sebaik gadis itu mengenalnya.

Seo  Joohyun adalah seorang mahasiswi Korea yang cukup beruntung untuk mengenyam pendidikan di NYU. Usianya 23 tahun dan dia sedang menyelesaikan semester akhirnya di bidang Arsitektur. Kehidupannya statis dan hampir monoton. Seohyun seorang gadis pintar yang selalu pergi ke sekolah-sekolah dengan grade tinggi. Kedua orangtuanya berasal dari golongan menengah. Dia anak tunggal maka dari itu orangtuanya mampu membiayayai-nya ke mana pun dia ingin menempuh masa depannya. Selama ini Seohyun tidak pernah benar-benar menginginkan sesuatu, bahkan mengenai masa depannya sekalipun. Dia pergi dan memilih jurusan yang dipilihnya berdasarkan masukan dari orangtua dan guru-gurunya.

Jadi, dalam kehidupan social pun Seohyun juga terkesan statis, biasa saja. Seohyun bukan anak-anak cheers yang selalu berada di lapangan setiap hari, dia hanya mengikuti salah satu grup music teater di kampus. Seohyun juga memiliki beberapa teman namun hanya sekedar teman sekelas dan teman jalan-jalan. Dia tinggal di flat sederhana bersama seorang teman. Kehidupannya pun biasa saja, dia termasuk golongan manusia-manusia cerdas di kelas, hampir tidak pernah absen kecuali Changmin mengajaknya nonton pameran, tidak ada seorang pria pun yang sedang dekat dengannya selain Changmin.

***

image001-748491

Choi Siwon seorang CEO muda dari Choi Group. Siwon merupakan keturunan keluarga Choi yang terkenal sebagai keluarga yang memegang peran penting dalam perekonomian Korea. Kehidupannya tidak jauh berbeda dari kehidupan para CEO muda lainnya. Berkutat pada pekerjaan, kunjungan proyek, hingga meeting di berbagai tempat. Dia menjadi satu-satunya anak pria yang lahir dari keluarga Choi. Adik  dan ketiga sepupunya semuanya wanita. Maka jelas sudah bahwa kepemimpinan Choi Group jatuh ketangannya. Lagi pula keempat nya tidak ada yang cukup tertarik di bidang bisnis.

Siwon sangat dekat dengan sepupunya Choi Sooyoung sehingga sering disangka sebagai kekasihnya. Selain karena Sooyoung adalah sahabatnya, dahulu Siwon pernah memiliki kisah dengan salah seorang sahabat Sooyoung. Sooyoung sering menjadi perantara di antara keduanya. Sooyoung banyak membantunya dalam berbagai hal sehingga Siwon merasa bahwa dia juga harus melindungi Sooyoung. Walaupun mereka cukup dekat, Sooyoung tidak semudah itu untuk menceritakan masalah pribadinya pada Siwon. Sehingga Siwon hanya bisa melakukan apa yang bisa ia lakukan seperti membantu Sooyoung untuk pergi ke Amerika.

Adiknya, Choi Jiwon sejak kecil telah tinggal bersama keluarga pamannya karena mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Choi Jinri. Mereka tinggal bersama di San Fransisco, California. Mereka hanya akan bertemu di liburan musim panas dan akhir tahun saat natal dan tahun menjelang. Walaupun begitu, Siwon tetap berkomunikasi dengan baik pada keduanya.

Siwon seseorang yang sejak dahulu menjadi idola para wanita. Kalau dia cukup berengsek, dia bisa saja memiliki beberapa  wanita sekaligus. Namun Siwon tidak sebrengsek itu.

Sajangnim, Miss Im is already arrived.”

“Sure, let her in,” jawab Siwon.

Im Yoona memasuki ruangan kantor Siwon dan Siwon menyambutnya dengan sebuah pelukan. “I miss you, darling.”

Yoona hanya tersenyum simpul. Dia tahu benar, Siwon tidak pernah benar-benar mencintainya. Dan Siwon cukup brengsek untuk urusan pura-pura jatuh cinta.

***

Mereka pernah terikat di masa lalu dan di masa sekarang. Mereka mungkin juga akan bertemu di masa depan. Namun bila akhirnya jalan hidup mereka saling memotong di antara satu dengan yang lainnya lagi, cerita di masa lalu yang berusaha dikubur pasti akhirnya akan terungkap lagi. Terkadang, sesuatu yang dianggap selesai bagi sebagian orang adalah sebuah awal yang menuntut penjelasan bagi sebagian orang lainnya.

Advertisements

9 thoughts on “The Crossing Path (Foreword)

  1. waahhhh sebuah pengenalan yg panjang utk tw msing” karkter tuk setiap cast.

    jgn lama” wat part 1 nya krn biasanya klo authornya ngenalin karkternya trprinci bgini kmungkinan bsr part 1 nya bkal lama.

    gomawo

  2. coyyy pusing banget bacanya ini orangnya banyak banget e___e.
    Belom bisa komen selain mumet /minta ampun. Yakali belum tau ceritanya gimana tapi ditunggu yakk. Semungut :*

  3. HALOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO
    gue ninggalin komen biar lo semangat. Masih inget kan pas gw membanjiri personal chatroom dengan CAPSLOCK and such ^^ *emot menipu
    Ditunggu part satunya. Jangan lama-lama. Jangan php kayak bias lo. Pokoknya gamau tau ini fic harus kelar, gak boleh digantungin kayak otp yg itu. Udah cukup gw nyesek bulan lalu gara2 si cewek.
    Pokoknya semangat! Doaku menyertaimu :*

  4. Devyyyyyy semangat buat ff nyaaaaa. Ini cast nyaaa favorit semua kecuali si tante terbuang. Hahhahaa.
    Selain cast nyaaa menarik, ini ff bisa buat santapan euyyy. Secara laper bgt ama ff changsoo. Wkwkwkk.
    Love yaaaaa. Ditunggu part 1 dan selanjutnya dan selanjutnya ~~~~

  5. Jadi ini baru prolog dan perkenalan tokoh? Baru pembuka aja udah keren banget, pasti ceritanya bakal jauh lebih keren dan kayaknya bakal complicated banget. Aahhhhhh aku tunggu kelanjutannya, dan aku harap couple utamanya ChangSoo ㅋㅋㅋ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s