Delapan

Delapan

Aku suka menulis. Dan kamu harus tahu itu!

Kadang aku menulis tapi bukan tentangmu, tapi pernah pula itu mengenaimu, mungkin juga aku hanya sedang ingin menulis tanpa maksud. Jadi kalau aku menulis sesuatu dan kau rasa itu tentangmu, mungkin kamu benar tapi bisa juga tidak.

Mungkin aku tidak ingin kau tahu jadi aku berpura-pura itu bukan buatmu, mungkin itu untuk orang lain, mungkin pula aku memang sengaja ingin mengetes reaksimu. Aku tahu kamu tahu. Jadi sesuaikan saja situasinya. Kalau tidak cocok, maka itu bukan buat kamu. Aku hanya sedang menulis. Sudah kubilang aku suka menulis.

Kalau aku menulis, aku tidak suka diganggu. Tapi kamu suka menggangguku. Tidak percaya? Tiba-tiba saja ada berita bahagia tentangmu. Entah kenapa aku bahagia. Padahal itu tentangmu yang notabene tidak ada sangkut pautnya denganku. Jadi kuasumsikan, aku suka mendengar kabar tentangmu. Itu kesatu.

Lalu lagi, kalau aku bisa tersenyum dalam perjalanan pulang dan dalam keadaan teramat lelah hanya karena wajahmu seperti lewat sepersekian detik, itu tandanya kamu hebat! Aku memikirkan banyak hal, tapi tidak pernah membuatku merasa itu lucu. Tapi kamu lucu, dan itu membuatku tertawa. Bagiku itu menarik. Aku mudah tertarik. Tapi kalau sudah begitu, itu artinya kamu lebih dari sekedar menarik. Tidak mudah menjadi lebih dari, pertanggung jawabannya pun lebih besar. Intinya, kalau aku tertawa karena memikirkanmu berarti kamu menarik. Dua.

Jadi cerita soal kabarnya begitu. Kamu akan menjadi pemimpin. Kita pernah berdebat soal pemimpin bukan? Dan aku mau kamu jadi nomor satunya. Aku tidak suka nomor satu, aku lebih suka menjadi nomor dua selama kamu nomor satunya. Aku lebih suka kamu menjadi pemimpin. Toh seharusnya memang aku makmum mu kan? Aku pendukung setiamu. Aku dengan senang hati memberikan tempat buatmu. Bagiku, kamu harus nomor satu. Kamu yang layak jadi nomor satu! Tapi jangan menduakanku loh, aku lebih suka tidak kau pilih daripada harus berbagi! (Oh, mungkin juga tidak) Aku mau jadi satu-satunya nomor duamu. Soal berapa jumlah makmum tambahan bisa diurus belakangan. Oh aku melantur kan, ini berarti yang ketiga.

Kamu sudah tahu kan betapa anehnya aku, silahkan saja kamu melanjutkan membaca toh ini juga sebagian ini bukan tentangmu –atau mungkin juga tidak, mungkin ini keseluruhannya tentangmu, oh entahlah biarkan aku menulis.

Mungkin akan sewajarnya kau menemukan aku diam-diam berdoa buatmu karena diam-diam aku suka kamu bahagia, aku suka melihatmu tersenyum. Kamu harus terbiasa dengan itu. Aku suka sekali menyebut namamu dalam doaku. Itu membuatku merasa jauh lebih baik. Itu membuatku merasa bahwa aku telah melakukan sesuatu untukmu (tenang saja aku tidak pernah berdoa tentang bagaimana perasaanmu padaku, aku hanya ingin kamu sukses dan bahagia! aku tidak bohong) padahal aku tidak melakukan apa pun. Ini menggelikan. Tapi menyempatkan bibirku menyebut namamu dalam keadaan yang khusyuk itu mungkin jadi yang keempat.

Bagaimana pun juga ada banyak yang menggelitik perasaaanku akhir-akhir ini. Aku tidak cukup menarik bagi orang-orang semacam kamu. Aku mungkin terlalu konyol dan memalukan. Jadi agak menggelikan bagaimana aku bisa membayangkan kemungkinan itu. Sungguh lancangnya aku. Kalau aku sudah gila, mungkin aku akan berjalan dengan ember KFC menutupi mukaku yang tidak tahu malu, tentu dengan melubangi matanya agar aku tetap bisa melihat. Konyol kan aku? Itu karena aku lancang memikirkan kamu! Lima.

Kamu harus tau, kalau aku mungkin tidak tertarik padamu. Aku sudah terlalu banyak kecewa dan tidak mudah membuatku percaya. Aku mati rasa. Tapi aku tau, kamu menyimpan perih dan aku juga penuh luka. Biarkan aku jadi obatmu. Lalu kita saling menyembuhkan satu sama lain. Bisa kan kita jadi saling membutuhkan? Karena keadaannya yang menjebak menjadi seperti itu. Bukan salahku. Ini salah keadaan. Aku bukan pengontrol keadaan. Kalau sudah karena keadaan, bisa jadi ini yang keenam.

Kalau aku sudah rela kamu manfaatkan jangan sia-siakan itu. Kamu boleh saja toh aku yang menyodorkan diri dan bagiku tak masalah selama aku bisa membantumu. Sudah kubilang, aku sudah terlalu terbiasa dimanfaatkan. Jadi tidak akan aku membencimu karena hal yang membuatmu menjadi lebih baik. Paling tidak, kau sudah menghidupkan perasaan yang mati, sesuatu yang lama kucari dan kutemukan sejak aku terjebak bersamamu. Kalau aku sudah membiarkanmu meremukkan hatiku itu artinya nomor 7.

Tidak masalah kalau aku bukan alasan bahagiamu, yang penting kamu bahagia. Itu sudah cukup buatku. Delapan.

Kalau sudah sampai 8 itu artinya aku jatuh cinta padamu. Aku suka angka 8 karena tidak ada ujungnya. Maka kalau kamu sudah di angka 8 ini, sudah pasti ini takkan berujung.

PS: Aku sedang meromantisi diri sendiri, kamu jangan sotoy!

***

Gue gak tahu kenapa gue nulis ini. Konyol banget. Lama gak nulis kayaknya bikin otak gue rada ngadat. Orz dunia perkuliahan gue ini menyita waktu nulis banget jadi gue harap tulisan aneh bin ajaib ini bisa bikin mood nulis saya balik. Draft saya sudah narik-narik minta dilanjutin.

Oya, ini berawal dari gue yang bingung ngetweet apa tiba-tiba aja kepikiran dan kayaknya butuh penyaluran daripada nyampah di timeline. LOL, shame on me. Oke bye ajalah gue udah ngantuk besok kuliah pagi. Jadi selamat malam. Selamat meromantisi diri sendiri dalam mimpi!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s