A Letter

Tittle: A Letter
Cast: Kris, EXO members, an OC character
Genre: Romance, fluff

Dalam rangka menyambut kejutan keluarnya teaser EXO saya mempersembahkan FF buat Kris. Kamu kerennya biasa aja nggak kayak Suho sama Yeol. Tiba-tiba aja saya kepikiran dialog dialog ini ketika anak-anak ngomongin flashback ke sekolah.

***

pp

Baekhyun dan Suho sedang duduk malas di sofa hotel mereka. Iseng, mereka membuka sebuah majalah.

“Coba baca itu!” tunjuk Kai yang tiba-tiba muncul sambil membawa segelas tes di tangannya.

“Surat cinta?” tanya Baekhyun tidak percaya. Suho memaksa membaca. “Ini sepertinya bagus,” timpal Suho.

“Baca saja!” perintah Suho. Baekhyun menyikut Suho agar bergeser dan mulai membaca halaman majalah itu. Sempat membolak-balik karena dia hampir tidak pernah tahu ada majalah seperti itu, lusuh dan aneh.

“Cepatlah!” kata Jongin tidak sabaran.

***

My name is Helena Jung, half France half Korean.Oh okay, I supposed to write in Korean so yeah. Namaku Helena Jung. I was Kris favorite girl.

I was Kris favorite girl

Ketika dia hanya seorang anak kecil yang tidak mau turun dari taksi. Ketika ibunya harus memanggilnya berkali-kali. Saat dia pindah di seberang rumahku, bersebelahan dengan rumah Paman Gwen. Kris hanya sepinggang ibunya saat pertama kali aku melihatnya. Memakai kaos lusuh, berambut cepak dan mata kecil, sipit. Kris, begitu kata ibunya saat mengenalkan anaknya pertama kali. Ibunya -kami memanggilnya dengan Bibi Li- sangat cantik dan juga tegar terlihat dari urat yang menonjol di tangannya. Dia seorang single parent kurasa tapi aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi pada Bibi Li dan anaknya. Suatu malam, Bibi Li mengundang kami makan malam lalu dia mulai menceritakan kehidupan masa lalunya, kenapa dia pindah dan hal-hal lain. Dave dan Stacey mulai perang makanan, jadi aku bergeser ke sebelah Kris. Bibi Li lalu berkata padaku “Helena, say hi to Kris.” Lalu Kris kecil turun dari kursinya dan berkata, “Aku Kevin,” dan meninggalkan kami yang menatapnya aneh.

I was Kris favorite girl

Ketika dia mulai masuk ke sekolah dan semua memanggilnya dengan Fan -kipas. Aku masih ingat saat kami harus membuat puisi tentang teman sekelas. Mary Anthonio kebagian menulis tentang Kris. Jadi hari itu Mary membacakan puisinya keras-keras tentang Fan -kipas- yang berputar-putar di lapangan bola basket. Asal kau tahu saja, Kris-ku sangat suka bermain bola basket walaupun dia bukan yang terbaik tapi menjadi anggota tim basket tentulah sangat keren. Saat itu dia mulai punya teman dan mereka mulai memanggil Kris dengan Kevin bukan lagi Fan -Kipas. Aku masih heran kenapa dia tidak mau dipanggil dengan Kris.

I was Kris favorite girl

Saat Kris yang bertubuh kerempeng itu memanjat pagar Paman Gwen dan terjerembab di halaman belakang Paman Gwen hingga menabrak pot-pot bunga miliknya. Kris berakhir dengan kerja rodi selama satu minggu. Aku selalu menyempatkan diri meminum coklat panas di teras belakang Paman Gwen sambil melihat Kris berkebun. Saat Kris selesai berkebun, kami akan menghabiskan senja sambil berebut muffin madu buatan bibi Gwen bersama Dave dan Stacey.

Atau, saat Kris mengendarai sepeda mengelilingi kompleks perumahan. Itu kali pertama kami benar-benar berkenalan. Kris berusaha mengucapkan Bonjour karena mengira aku adalah gadis Perancis (yang benar saja). Aksennya sangat aneh, untuk berbicara bahasa Inggris saja aksennya aneh apalagi saat dia berbicara dengan bahasa Perancis. Rasanya aku ingin menertawakannya sambil mengelilingi kompleks. Untung saja hari itu Kris membawakanku dongeng Cina yang sudah dialih bahasakan. Aku sangat suka!

I was Kris favorite girl

Ketika Kris hanyalah seorang Kevin yang jarang tertawa. Saat ulang tahun sekolah, kami dibagi dalam kelompok dan bertugas membersihkan lingkungan. Aku, Kris, Mary, Mike, dan Wayne bertugas di daerah dekat hutan belakang sekolah. Saat itu hampir sore dan hujan mulai turun dan parahnya kami tersesat! Mary, Mike dan Wayne menyuruhku dan Kris untuk berteduh di dalam gua kecil karena kami tidak membawa jas hujan dan payung sementara mereka mencari jalan keluar. Kris menghidupkan api dengan kayu dan korek yang dibawanya (untuk membakar sampah sebenarnya, tapi karena sampah di sini didaur ulang, korek tidak jadi digunakan).

“Apa kau kedinginan, Jung?” begitu tanya Kris. Well, harus kuakui aku sangat syok saat mendengar dia memanggilku dengan Jung. Tidak seperti teman-temanku yang lain, yang lebih suka memanggilku dengan Hell (neraka) Kris lebih suka memanggilku dengan nama margaku. Harus kuakui itu membuatku terkesan.

“Ya, Kri… Kev… Kevin?” aku sedikit bingung saat harus memanggilnya. Dia sepertinya lebih suka dipanggil dengan Kevin tapi selama ini dia selalu dipanggil dengan Kris saat di kelas jadi aku mau tidak mau terbiasa dengan nama Kris.

“Tidak apa-apa, panggil saja dengan Kris kalau menurutmu lebih mudah.” Lalu dia tersenyum dan hampir tertawa! Dan itu kali pertama aku melihatnya begitu mempesona… dan tiba-tiba saja aku jatuh cinta.

Jadi malam itu kami terjebak di gua. Aku sudah menelefon ibuku dan bibi Li agar tidak khawatir mereka menyuruh kami berdiam diri menunggu hujan reda. Malam itu hujan memang sangat-sangat-sangat deras. Rasanya aku hampir menangis.

“Tidurlah, aku akan berjaga,” katanya.

Aku sempat bersikukuh untuk menemaninya namun jiwa tukang mengantuk itu sudah mendarah daging padaku, jadi kami berdua tertidur. Kris ternyata juga seorang buffalo. Aku memeluk Kris selama tidur. Dan aku sangat malu saat dia mengatakannya di pagi hari!

I was Kris favorite girl

Setelah kejadian itu, kami menjadi lebih terbuka. Kris selalu menunggu jam biologi atau fisikaku selesai karena jam olahraganya selalu berakhir lebih awal. Dia sering membawakan coklat, permen, roti, apa sajalah. Pernah sekali dia memberiku sebuah pot dengan tanaman kecil di atasnya. Akhir-akhir ini aku baru tahu kalau itu pohon mawar dari kebun belakang Paman Gwen!

Biasanya, sebelum menuju kelas Bahasa Korea (lucunya hanya ada 8 anak di kelas ini) aku dan Kris akan mampir ke kantin dan makan bersama, Dave sering ikut sambil membicarakan Stacey yang mulai berubah sejak menyukai guru bahasa Perancis kami. Lalu kami akan menyelesaikan makan siang secepatnya karena kami lebih banyak mengobrol dan berlari menuju kelas bahasa Korea. Kris ingin ke Korea jadi dia harus belajar bahasa sementara aku, sungguh memalukan kalau aku tidak mendapat pendidikan bahasa Korea secara formal.

Di kelas, aku selalu duduk di kursi paling belakang dengan Kris. Aku mudah bosan dengan pelajaran bahasa sementara Kris, entahlah pria itu seperti kamus bahasa. Dia pernah mengerjakan esai kami sendirian tentang novel sejarah Korea sementara aku tertidur di kasur kamarnya yang empuk. Padahal dia bukan orang Korea, yang benar saja.

I was Kris favorite girl

Saat itu aku sendirian di rumah. Ayah dan ibuku pergi ke Toronto untuk menemui kakakku. Aku terpaksa menginap di rumah Kris (pilihan yang lebih baik ketimbang menginap di rumah Paman Gwen). Hari itu Kris menyediakan fortune cookies karena hanya itu yang dia punya. Kami makan cookies itu sambil menonton acara komedi hari Jumat sore. Sesekali tertawa saat menemukan kertas yang terselip di dalamnya.

Aku menemukan cookies yang paling aneh bentuknya. Kris tidak mengambilnya. Itu aneh karena sebelumnya kami selalu berebut. Kris diam saja dengan segelas milkshake strawberry di tangan dan mata menghadap ke TV. Aku sempat melihat rahangnya mengeras dan dia menarik nafas.

Roti itu hampir seperti yang lainnya, hanya saja kertasnya berbeda. Di tulis dengan kuas dan tulisannya… tunggu…. ini hangeul. Ini pasti tulisan Kris. Hanya saja.

Aku ingat saat aku beranjak ke pantry dan menaruh kertas itu di sana. Kris duduk di pantry sambil menatapku yang sibuk membuat milkshake coklat, favoritku. Aku ingat bagaimana debar memenuhi dadaku, dan Kris hanya duduk saja, mengaduk milkshakenya tak bergerak sedikit pun. Saat akhirnya aku menaruh milkshake-ku yang sudah kosong separuh di depan matanya. Dia menatapku.

“Aku mencintaimu.” Itu dua kata. Dan duniaku rubuh saat itu. Dia tidak indah. Dia aneh, dan diam-diam gila.

“Uh… ehm…”

Kejadiannya begitu cepat saat aku berkata ‘ya’ lalu Kris berdiri dan meraih pinggangku lalu tiba-tiba saja aku merasakan strawberry di bibirku. Itu bekas bibirnya. Dan dia menciumku. Dan aku masih ingat perasaan itu, tidak tergambarkan dan luar biasa.

“You are my favorite girl.”

***

“Ah, jadi dari sini dia mendapatkan nama favorite itu,” komentar Baekhyun.

Kyungsoo membawakan minuman untuk mereka semua. Kyungsoo, Yeol dan Sehun duduk di karpet tebal berbulu sambil memakan snack. Mereka ikut bergabung sejak Baekhyun mulai membacakan surat itu.

“Lalu bagaimana?” tanya Sehun penasaran.

“Suratnya masih panjang. Ayo bacakan lagi!” itu suara Suho. Jongin melompati kursi karena capek berdiri dan menggeser Suho.

“Sorry, Hyung!” ucap Jongin cepat-cepat karena Suho terlihat akan membuka mulutnya.

“Ayo cepatlah!” Chanyeol memperingatkan Baekhyun.

“Oke-oke. Tapi kalian jangan banyak bergerak!”

Baekhyun mulai membaca surat itu lagi.

***

He’s name is Kris or Kevin or anything. And I’m in love with him

Kris, tidak suka pamer. Dan menjadi kekasihnya adalah hal hebat yang terjadi dalam diriku. Aku senang memainkan rambutnya yang panjang. Aku senang mengomelinya agar pergi ke barber shop. Aku senang berdiri di tepi lapangan basket dan berteriak “Kris, kau konyol! Berlarilah!” Aku senang dia membawakanku makan siang buatan ibunya, aku senang dia selalu menyempatkan diri menghampiriku sebelum naik bus sekolah. Padahal rumah kami berseberangan. Aku senang, menghabiskan Jumat malam di bukit dekat kompleks rumah sambil melihat bintang. Aku senang karena Kris bertubuh kerempeng jadi aku tidak perlu menyempurnakan tubuhku. Aku senang karena Kris tidak tampan, jadi tidak ada yang menyukainya, aku senang karena Kris adalah Kris. Dan karena dia adalah milikku.

Kris tidak berlaku berlebihan. Dan bagiku itu sempurna.

Kris mengajariku berbahasa Mandarin, aku mengajarinya berbahasa Perancis. Kalau kami keliling dunia, kami tidak perlu menyewa penerjemah jadi liburan kami akan berdua saja dan itu sukses membuatku malu.

Aku mencintai Kris. Aku sangat sangat mencintainya. Aku tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan bahwa aku serius tentang ini. Aku sangat mencintai Kris.

***

“Sepertinya wanita ini benar-benar mencintai Kris,” komentar Baekhyun.

“Hyung! Kau ini merusak suasana,” tegur Sehun. Sehun melemparkan bungkus snack yang kosong ke arah Baekhyun.

Suho menyikut Baekhyun dan membuatnya kembali membaca surat itu.

***

But time passes. But I was the girl he loved to kiss, he loved to hug. I was his favorite.

“I’ll be an artist.” Kurang lebih itulah yang dia katakan. Itu tahun terakhir kami. Beberapa minggu sebelum musim dingin tiba. Kami duduk di teras belakang rumah Paman Gwen. Stacey dan Dave berusaha mengumpulkan ranting pohon untuk dibakar di perapian.

“Well, itu mengejutkan,” kataku jujur.

“Aku akan pergi audisi minggu ini.”

“Oke. Aku akan menemanimu.”

“Aku tidak mau kau ikut. Itu… akan membuatku gugup.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Nanti kalau aku sudah jadi artis, aku akan mengenalkanmu kepada dunia. Kau akan berpacaran dengan Kris yang tampan yang diidolakan semua wanita!” ucapnya bersemangat.

“Jangan mimpi.” Aku menurunkan topi baseball nya hingga menutupi wajahnya.

“Kau sih tidak percaya padaku.”

“Oke. Aku percaya. Asal kau tidak melupakanku.”

Dan Kris memelukku dan mengatakan dia tidak akan berubah. Dia akan menjadi Kris-ku. Kris kecil yang takut dengan rumahnya. Kris yang penuh duka masa lalu. Tidak ada yang berubah. Tidak ada.

I was his favorite, when he came to my house in the spring day

“Jungs! I’ll off to Korea this summer!” teriak Kris dari lantai bawah.

Ibuku hanya menggelengkan kepala saat Kris dengan tidak sabaran naik ke lantai atas. Aku masih setengah bangun dengan rambut acak-acakan dan mata lengket. Baby doll-ku juga kusut. Ayahku sibuk dengan koran dan kopinya. Harusnya mereka menegur Kris yang mengganggu anaknya di pagi buta.

“Kau diterima?” tanyaku.

“YES!” Suaranya lebih dari sekedar yakin.

“OKAY I’M HAPPY. But…”

“Dear, don’t be sad. Please please.” Kris menarikku masuk ke kamar dan dia mulai bercerita tentang mimpinya. Tentang masa depannya, tentang masa depanku, tentang masa depan kami. Kris memelukku. Pagi itu sangat hangat. Aku sangat bahagia akhirnya Kris menemukan mimpinya walau dalam hati aku nyaris menangis. Aku takut ditinggalkan. Aku tidak ingin dia pergi. Aku sangat mencintainya.

So he left. And I was still his favorite girl

Musim panas. Dan aku tidak bersemangat. Kris sudah menghabiskan liburannya di pantai, gunung, danau, mall, oh kami sepertinya sudah mengunjungi semua tempat. Setelah kelulusan itu, Kris akhirnya mulai membereskan barangnya. Dan aku tahu, waktuku tidak lama.

Kami tidak akan berpisah. Dia hanya berada di tempat yang sangat jauh. Aku pernah ke Korea saat usiaku masih 5 tahun, mengunjungi kakek dan nenek. Setelah itu, merekalah yang berkunjung ke sini. Biaya ke sana jauh lebih mahal ketimbang membawa mereka ke sini. Jumlah anggota keluargaku empat, lebih banyak dua orang dibanding hanya mengirim kakek dan nenek ke rumah.

“You’re gonna be fine.” Dia sudah mengucapkan itu entah ke yang berapa kali.

“I’m gonna miss you.”

“Oh come on. Itu aneh kalau kau nggak kangen aku.”

Jadi itu hari terakhirnya. Kami mengadakan pesta perpisahan di rumah Bibi Li. Bibi Li masih akan tinggal di sini. Hanya Kris yang pergi, hanya Kris dan hatiku. Aku senang selama pesta Kris tidak membiarkanku bermuram durja, tangannya selalu melingkar di pinggangku. Hari ini dia tukang pamer, dia ingin semua orang tahu dia serius. Kuharap dia memang serius.

Keesokan paginya, aku mengalami serangan panik. Pukul 3. Aku tidur di kamar Kris bersama Stacey dan Mary. Kris tidur di sofa tengah bersama Dave, Wayne, dan Richard (Richard dan Wayne adalah sahabat Kris, anggota tim basket) setelah semalaman bertarung memainkan PS. Aku masih mendengar mereka berteriak saat jam 12 malam. Bibi Li mengungsi ke rumahku. Ibuku senang-senang saja karena itu berarti ada yang membantunya membereskan rumah.

Aku melihatnya masih tertidur. Dengan selimut berantakan. Dan dia lucu.

Kris terbangun saat aku tidak bisa mengendalikan tawa. Dia langsung duduk begitu menyadari aku memperhatikannya.

“Kau? Apa yang kau lakukan di sana?” suaranya sangat lirih.

“Aku melihatmu tidur,” jawabku. Menahan tawa.

Kris meraup selimut tebalnya dan menghampiriku. Dia membimbing tanganku menaiki tangga. Kami duduk di ayunan yang ada di balkon lama sekali. Kris sangat menghawatirkanku, itu membuatku menangis. Aku tahu itu salah menangis di depan Kris akan membuat hatinya goyah.

“Aku akan baik-baik saja. Kau harus istirahat. Perjalananmu besok akan panjang,” ucapku.

“Bagaimana aku bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini?” Aku masih ingat jelas suara itu. Ada nada tidak rela di antaranya. Aku sangat bahagia, Kris memperhatikanku.

“Aku akan ke America sementara kau menjadi trainee. Setelah waktunya tepat, kita akan bertemu lagi,” ucapku. Aku tidak mungkin tega membiarkan Kris memutuskan impiannya demi diriku.

“Jadi aku ingin memelukmu sampai pagi nanti. Kau favorite-ku.

He left but he brought my heart.

Aku ingin menggantungi jarum jam di dinding agar tidak bergerak. Aku tidak rela. Aku masih ingat perasaan itu. Takut, kacau. Aku sudah menyiapkan diriku berminggu-minggu. Tapi tidak menghasilkan apa pun. Aku masih ingat saat aku duduk di depan cermin dengan rambut basah yang tergerai, mata hitam dan sembab, serta hidung pilek bekas menangis. Kris memanggilku dari bawah dan aku tidak punya suara untuk menyahut. Aku hanya melihat bayanganku di cermin, gadis itu seperti retakan kaca, masih utuh tapi rapuh.

“Honey, ayo turun.” Suara itu masih terdengar nyata di telingaku. Saat pintu kamarku berderak dan kepala Kris menyembul. Lalu aku melihat bayangannya berdiri di sana beberapa saat sebelum menyadari perasaan biru yang menggelayutiku.

“Are you okay?” tanyanya.

“I’m fine.” Itu sebuah kebohongan. Kris bergeming beberapa saat ketika aku mulai menyisir rambutku.

“I love you,” bisiknya. Dia mengecup puncak kepalaku. Aku masih ingat jelas bagaimana jantungku bisa berhenti berdetak beberapa saat. “Aku menunggumu di bawah.”

Perasaan itu menggantung di sana. Seperti kesadaranku. Tiba-tiba saja aku sudah duduk di kursi belakang mobil Dave bersama Kris. Ingatan itu seperti kabur, terlalu abu-abu.

Roda mobil yang berputar seperti menggilas hatiku. Pelan dan pasti. Rata dengan tanah. Aku memang berlebihan, Stacey sudah mengatakannya entah yang keberapa kali hari itu. Kris tidak membiarkanku menangis, dia memelukku. Ini salah. Bukan begini. Kami tidak putus, hanya berpisah. Aku memang berlebihan.

“Kita sampai, Dude.” Dave berdeham beberapa kali.

“Are you okay?” tanya Kris padaku. Aku mengangkat bahu. Berharap beban itu tidak menggelayutiku lagi.

Kejadiannya begitu cepat saat Kris menurunkan koper, berjalan menuju terminal keberangkatan, melihat pemberitahuan di papan lalu suara itu berbunyi. Demi Tuhan, aku benci suara wanita yang mengingatkan Kris tentang pesawatnya!

“I have to… go?” ucap Kris.

“That’s not a question. Come on, pesawatnya nggak akan nunggu.”

“I’ll be back soon.”

“I hope so.”

“Please be healthy.”

“Please be safe.”

“I love you.”

“I love you.”

Lalu Kris melepaskan tanganku dan berjalan. Tapi kemudian dia berhenti dan berbalik, menarikku dalam pelukannya. Aku menegadah dan tidak menemukan hal lain selain matanya yang meneduhkan.

Aku masih ingat perasaan itu. Saat Kris menciumku di bandara, di depan semua orang. Dia menggigit bibirku beberapa kali sebelum akhirnya aku menarik diri karena kehabisan nafas. “Pergilah,” ucapku.

“You are my favorite.” Begitu katanya.

Tapi itu tadi bukan ciuman yang biasa. Itu ciuman perpisahan. Tadi sangat menyakitkan. Tidak seperti biasanya. Tidak seperti saat aku menghabiskan malam di sofa ruang tengahnya. Tidak seperti ciuman pertama kami. Itu aneh, aku tidak suka. Rasanya sakit, sakit sekali tapi aku tidak tahu di mana yang sakit. Tiba-tiba saja, dia sudah melambaikan tangan sebelum menurunkan topi team basket nya dan berbalik. Aku tahu benar aku sangat menyukai bahu Kris tapi melihatnya dari sini, aku tidak tahu bagaimana harus bersikap.

Dia pergi. Dan aku menangis. Di bandara.

Saat aku sudah berada di mobil, aku bisa melihat pesawat lepas landas, itu pasti Kris. Dia pasti kembali.

Life is hard

I moved to US. Hanya aku, aku kuliah di Amerika. Sementara Kris masih di Korea, tentu saja.

Bulan-bulan pertamaku terasa berat. Kris sesekali menelefonku atau mengirimu surat. Pernah sekali kami ber-video call dan aku bisa melihat dengan jelas kantung matanya. Kantung dari kantung mata. Aku tidak tega melihatnya seperti itu.

Semenjak kejadian itu, frekuensi komunikasi kami berkurang. Kris sibuk, aku sibuk. Aku ingin Kris istirahat. Lalu rutinitas dan tugas mulai menjadi temanku.

Sepertinya hidup memudahkanku.

Atau tidak.

Komunikasi itu terputus begitu saja. Aku tidak mengerti bagaimana ceritanya. Lalu tiba-tiba saja aku sadar, sudah 3 bulan dan tidak ada pesan. Aku tidak berani menghubungi. Aku menunggu dan menunggu. Hanya menunggu kalau ada surat di kotak pos flatku, atau ada pesan di iPhone-ku. Atau sekedar missed call di tabletku. Nihil.

Aku menyibukkan diri agar tidak memikirkannya. Dan aku benar-benar sibuk

Bersambung

***

“AH!” pekik Baekhyun.

“Apa?” tanya Chanyeol.

“Ini nggak asik,” ucap Baekhyun.

“Apanya?” tanya Suho.

“Tadi kau bilang apa? Bersambung?” tanya Jongin.

“Hah! Yang benar saja!” Sehun ikut kecewa. Dia membaringkan tubuhnya di karpet tebal itu.

“Sudah malam. Lanjutkan besok saja,” saran Kyungsoo.

Semua mengangguk-angguk. Mereka semua lelah dan mengantuk. Ditambah lagi, besok mereka ada latihan. Jadi tidur adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Sementara Kyungsoo membersihkan sisa perang snack bersama Suho dan Kai -Suho yang memaksa Kai-, yang lainnya sudah meringkuk di balik selimut tebal.

Ini malam yang panjang. Mereka ingin segera mengetahui kelanjutan cerita itu di majalah episode selanjutnya. Lucu sekali, membagi sebuah surat dalam dua majalah.

***

“Itu trick yang digunakan perusahannya,” kata Kyungsoo.

“Mereka tahu surat itu menarik,” Jongin sepakat.

“Kau sudah menemukan edisi selanjutnya?” tanya Chanyeol. Menujukannya pada Baekhyun.

“Suho yang menemukannya,” jawab Baek.

“Well, aku tidak benar-benar menemukannya. Aku meminta seorang staff membeli majalah.” Suho kemudian memamerkan cengiran.

“Hi guys!” teriak Luhan. Sehun berdecak. “Makhluk itu.”

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Xiumin. Tiba-tiba saja para anggota EXO M sudah bergabung dengan mereka.

“Kami membaca sebuah surat. Keren sekali!” jelas Kyungsoo.

Di menit selanjutnya, para pria EXO K menceritakan surat itu sedetail mungkin.

“Kami akan bergabung dengan kalian nanti malam!” putus Luhan.

“Lu!” tegur Tao. Tapi dia melihat Yixing yang begitu semangat, mata Xiumin yang membulat, Jongdae yang ikut memasang muka memelas -sayang sekali wajahnya aneh dan membuat yang lain tertawa- akhirnya Tao menyetujui usul Luhan.

“Oke baiklah. Kita akan tanya Kris nanti.”

“Kalian di sini!” tiba-tiba Kris muncul dengan hoodie merah dan celana hitam.

“Tidak ada siaran ulang,” putus Baekhyun. Yang lain mengangguk setuju sementara Kris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Lalu mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Kris merasa aneh karena sepagian tidak ada yang saling berbicara. Sampai waktunya coffeebreak, Kris akhirnya mengajak Suho berbicara.

“Ada apa ini?” bisik Kris.

“Apanya?” Suho balik bertanya.

“Kalian semua kenapa diam saja?”

“Oh itu…”

“Itu apa?”

“Ada apa?” tanya Baekhyun yang tiba-tiba datang dengan Jongdae dan Xiumin.

“Dia bertanya kenapa kita diam saja?” Suho menerangkan, tapi nadanya seperti bertanya. Lalu Kris memelototkan matanya.

Lay mendatangi gerombolan itu dan menepuk bahu Kris. “Nanti malam kita pindah ke kamar mereka saja ya?”

“Ke-ke-kenapa?” tanya Kris.

“Kau akan tau nanti.” Tao menepuk bahu Kris.

“Oke. Nanti malam kita tidur di kamar Korean boys asal jangan menatapku seperti itu.” Kris mendengus.

“Aku tidak menatapmu.” Suara Jongdae yang terkikik menghancurkan suasana tegang itu.

Luhan yang sedang perang dengan Kai dan Kyungsoo melempar topi pada Sehun yang sayangnya terkena kepala Jongdae. Suasana kembali kacau saat Jongdae membuat yang lain ikut berperang.

“Jongin itu menjijikkan!” teriak Joonmyun saat Kai melepas kaos kakinya dan melemparkannya ke arah Tao.

“Yeks! Itu bau sekali!” Tao menutup hidungnya dan berlari. Kris berusaha untuk melepaskan diri tapi sayangnya sepatu Tao yang dilempar tiba-tiba membuat dia harus terpeleset dan menabrak Jongdae. “Hoi atlit basket, kau harusnya bisa berlari dengan lebih gesit!”

Oke abaikan mereka. Itu akan bertahan lama.

***

Jadi mereka di sana, di ruang tengah hotel dengan snack di pangkuan. Yixing tadi sudah memasak tapi mendengarkan cerita tanpa makan snack sepertinya kurang menyenangkan. Kyungsoo membawakan coke dan membaginya. Yixing memakan cookies yang dia buat, tanpa membagi, itu enak sekali dan buatannya, sayang untuk dibagi. Kai memeluk milshake buatan Yixing, tidak mau diganggu. Baekhyun sudah memaksa mereka untuk membelikannya sebuah frame kacamata baru kalau ceritanya selesai -biaya berbicara sampai mulut keriting. Dan yang lainnya sudah mendapatkan posisi terbaik mereka.

“Ayo cepatlah!” suara Sehun mengingatkkan Baekhyun. Dia menatap sekeliling.

“Di mana Kris?” tanya Baekhyun tiba-tiba.

“Dia di kamar,” sahut Tao.

“Tidur,” lanjutnya.

Baekhyun mengangguk beberapa kali lalu mulai membuka majalah itu. Pantas saja tidak ada yang mau beli! Majalahnya seperti buku hukum, bertekuk-tekuk, jelek, banyak bacaannya, banyak angkanya. Kalau saja Suho tidak sengaja membalik halaman surat itu dan Jongin tidak memaksanya membaca, dia tidak akan tahu kalau di dalam majalah itu ada sebuah kisah spesial. Don’t judge book by the cover, Baek.

“Hyung!” That’s Sehun voice. Baekhyun menghirup nafas panjang dan mulai membaca.

***

I was okay, until he decided to leave or until the white Christmas came.

I decided to go back to my hometown. Dua tahun pelarian sudah cukup buatku. Aku hanya mengambil liburan natal dan tahun baru untuk dihabiskan di rumah orangtuaku. Tahun lalu, kami menghabiskan natal di flatku. Aku merasa kalau aku berlaku tidak adil kepada orangtuaku. Kufikir sudah cukup meratapi Kris. Membiarkan perasaan itu menggelayutiku tentu saja bukan ide yang bagus. Aku sudah cukup terpuruk.

Kalau diumpamakan, hubungan kami seperti sebuah kapal yang terombang-ambing di atas samudera yang memisahkan kami.

Masa bodoh tentang Kris. Aku muak dengannya.

Dan hari itu saat aku mendarat di bandara, aku merasakan deja vu. Tapi buru-buru kuusir saat aku melihat Mom, Dad and Karin? Aku tidak percaya bahwa Karin ikut menjemputku.

Aku baik-baik saja. Mom mengajakku berbicara tentang kuliah, kehidupan di flat, teman-temanku. Mom tau aku tidak ingin membicarakan Kris -aku heran apa terlihat jelas di jidatku. Dan Mom bercerita tentang pacar baru Karin yang merupakan partner kerja bosnya.

Saat kami tiba di rumah, Mom menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu. Aku sangat senang saat mendapati diriku baik-baik saja setibanya di kompleks. Kenangan mungkin lalu lalang di kepalaku tapi itu masih bisa ditanggung.

“Mum, ini mulai tua,” protesku sambil menunjuk tangga teras yang berderak saat kunaiki.

“I’ll fix them, Darling,” sahut ayahku.

Tapi kemudian Mom mulai bertingkah seperti biasanya, dia mengatakan kalau itu tidak apa-apa dan kami berdebat. Oh terserahlah, Mom selalu begitu.

Setelah insiden tangga berderak itu, Dad menyuruhku mengambil kardus yang tertinggal di mobil.

Aku sempat mengagumi pantulan diriku di kaca depan. Jauh berbeda sejak aku meninggalkan tempat ini. Rambutku jauh lebih panjang, berwarna coklat dan bergelombang. Dan wajah Asia itu, semakin terlihat, aku suka darah Dad! Dan mata Mom, aku suka sekali mata Mom jadi aku tidak perlu terlihat sipit walau wajahku benar-benar typical Korean girl.

Kardus itu tergeletak di jok belakang mobil. Saat aku melewati mobil, aku baru sadar bahwa sebuah mobil terparkir tepat di depan rumah Bibi Li. Aku melihat seorang pria dengan jaket hitam dan rambut cepak. Itu bukannya Steve Wen? Umh, dia kan wakil kapten tim basket.

Tunggu.

Itu artinya pria yang berdiri di sampingnya dengan rambut panjang yang dikucir dan jaket denim bututnya itu….. Kris?

Saat itu juga perasaan kebas itu menggelayutiku. Bibi Li melihatku berdiri dengan membawa kardus terakhir. Mereka ikut berbalik dan aku tahu itu sebuah kesalahan besar. Omong kosong soal aku melupakan Kris. Aku hanya memendamnya dalam-dalam. Aku masih sangat menyukai Kris. Bahkan dengan rambut noraknya itu.

Saat Kris menatapku untuk beberapa menit, aku sempat berharap kalau dia akan jatuh cinta lagi padaku. Sayangnya aku tidak sanggup, aku kalah dalam pertarungan tatap-menatap dan memutuskan berbalik. Harus kuaikui itu bukan perkara mudah. Aku belum benar-benar putus dengan Kris. Lalu tiba-tiba saja dia kembali muncul di seberang jalan dan menatapku. Cinta memang bukan perkara mudah.

The memories floating on my mind.

Aku masih setengah bangun saat Mom berteriak dari dapur menyuruhku pergi ke supermarket dan mendorongku sampai ke pintu. Setelah debat soal boots usang yang kupakai, Mom akhirnya pergi setelah melemparkan kunci mobil Dad padaku.

Sepertinya usahaku untuk bertingkah baik-baik saja tidak sukses. Kris berdiri di samping kotak posnya, dengan mantel tebal dan penutup kepala. Sengaja membiarkan dirinya dijatuhi salju. Aku berusaha mati-matian mengabaikannya. Sampai akhirnya mobilku menderu dan aku bisa melihat Kris menatap mobilku dari spion. Aku merindukannya.

Belum selesai di situ. Di siang hari Mom mengusirku agar pergi ke rumah Paman Gwen. Stacey sedang mengadakan pesta. Aku jelas menolak hadir -Kris pasti di sana. Tapi Mom tidak suka aku duduk seharian di depan TV sambil memeluk mangkuk sereal dan milkshake coklat. Akhirnya aku menyerah. Semoga saja dia pergi dengan Steve atau siapa saja.

Hari itu salju turun cukup banyak sehingga udara jadi lebih dingin. Hah aku benci dingin.

Dan di sana, di depan rumah Stacey aku memencet bel berkali-kali hingga pintu akhirnya dibuka dan… aku melihat wajah Kris.

Perasaan canggung itu langsung merayapi hatiku. Kurang ajar.

“Sta-Stacey sudah menunggumu,” ucapnya.  Ada nada kaget dan canggung. Aku hanya mengibas-ibaskan mantelku yang terkena salju. Saat menggantungkan mantelku, aku mendengar pintu ditutup. Bahkan dia masih menggunakan parfum yang sama. Saat itu, rasanya aku ingin memeluk tubuhku.

Untung saja Stacey berlari turun. “Helen!” pekiknya.

Aku melihat Dave memutar tubuhnya dari game dan menatapku. Kris menundukkan pandangannya, ugh.

“Senang kau mau ke sini, Dok.”

Ugh, dokter yah. Oke terserahlah itu lebih baik daripada Hell -neraka.

“Ayo naik, aku akan menceritakan banyak hal padamu,” ajak Stacey kelewat antusias. Saat aku menaiki tangga, aku sempat melihat Kris melirik -kuanggap itu sebagai halusinasiku- dan seorang wanita.

“Stace, siapa wanita tadi?” tanyaku.

“Yang di dapur? Oh itu Julia. Dia pacar Dave.” Penjelasan Stacey jelas melegakanku. Aku tidak mau menghadapi kenyataan kalau-kalau Kris sudah punya wanita lain.

Aku lebih suka hubunganku menggantung begini. Jauh lebih menguntungkan ketimbang harus memutuskannya secara jelas. Aku bisa mengatakan kepada seniorku si calon-dokter-yang-kurang-waras kalau aku punya kekasih di Korea jadi dia tidak perlu memaksaku pergi setiap Jumat malam. Atau aku masih bisa setidaknya berharap Kris akan kembali seperti dulu. Kris masih sama kecuali rambut panjangnya itu. Dia masih bermain PS dengan Dave dengan nachos di sampingnya.

Setengah beruntung, Stacey tidak membiarkanku memikirkan Kris lagi. Karena di sana ada Mary Anthonio si calon designer yang menjadikanku modelnya.

Kris, he’s my favorite

Kejadian itu di siang hari. Dua hari setelah aku pergi ke rumah Paman Gwen. Jadi di siang hari itu, Stacey mengundang kami untuk minum coklat bersama. Itu jelas bukan ulang tahunnya tapi dia ingin merayakannya lagi jadi kami duduk di meja panjang yang ada di taman belakang. Stacey sudah menutup atasnya sehingga salju tidak mengenai kami. Putih di mana-mana. Agak membosankan.

“Guys, maaf sekali. Makanannya akan terlambat.” Stacey muncul dengan telefon di tangannya dan wajah muram.

“Tapi aku punya panekuk!” Dave berseru sambil mengangkat nampan berisi beberapa mangkuk. Kris dengan cekatan memindah mangkuk-mangkuk itu ke meja. “Thanks, Dude,” ucap Dave.

Aku mendapatkan bagian terakhir. Kris menyodorkan mangkuknya hati-hati. Aku menerimanya tanpa sedikitpun menatapnya. Tapi aku melihat tangannya dan ada perasaan kosong dalam diriku. Aku ingin menggenggamnya.

“Jadi Jungs bagaimana kuliahmu?” tanya Dave. Aku tersedak karena aku tidak pernah menggunakan nama itu lagi. Dave mengernyit, memahami kesalahannya -tidak sepenuhnya salah. Sementara Kris mengudak panekuknya di tempatnya duduk.

“Biasa saja. Tidak begitu menarik untuk diceritakan.”

“Benar-benar tidak ada?” tanya Stacey ragu-ragu mengambil alih pembicaraan setelah melihat Dave merasa bersalah. Aku mengangkat bahu.

“Kenapa kau baru pulang tahun ini?” tanya Mary lugu. Kris tersedak. Aku sempat mendengar Wayne mengucapkan ‘dia juga kembali tahun ini’ yang membuat syarafku mati. Aku membeku di tempatku duduk. Kenapa kebetulan ini sangat sulit?

Mary merasa suasana itu menjadi aneh dan dia langsung meminta maaf dengan canggung, “Aku hanya penasaran.”

“Tidak apa-apa, Mary.” Aku terkejut mendengar suaraku. Semuanya menatapku penasaran, menungguku mengucapkan kalimat selanjutnya. “Apa?” hanya itu yang dapat kukeluarkan. Mereka menggeleng pelan.

Ugh seandainya saja aku punya cukup keberanian untuk mengajak Kris berbicara.

Selanjutnya aku tidak benar-benar ingat apa yang terjadi sampai acara selesai dan mereka pamit pulang. Stacey dan Dave membantu petugas katering membersihkan halaman mereka. Aku dilarang ikut membantu -itu perintah dari Stacey.

Jadi aku duduk di sofa tengah dengan buku anatomi di pangkuan dan segelas besar coklat panas sisa pesta di meja.

“Kau seharusnya tidak belajar di waktu liburan, Dok,” suara Dave mengejutkanku.

“Aku belum benar-benar jadi dokter, Dave.” Dave meringis.

“Ini Julia dia pacarku. Julia meets Helena, she’s a good friend of mine.” Julia mengulurkan tangannya untuk kujabat.

“Sejak kapan kau mengencani gadis?” tanyaku.

“Sejak kau pergi ke America, sayangku.”

“Kau gila, Dave.”

“Dia memang gila,” Stacey ikut membenarkan. “Makanya setelah kau lulus, orang pertama yang harus kau periksa adalah Dave. Aku tidak yakin dia masih waras.”

“Sorry soal itu, Jules tapi pacarmu memang sinting.” Stacey beralih pada Julia. Julia terkikik.

“Setidaknya aku menyelamatkan pestamu, Sis,” Dave membela diri.

“Hey Kris!” Tiba-tiba saja Kris sudah berdiri di tiang penyangga ruang tengah.

“Apa aku mengganggu?” tanyanya ragu-ragu.

“Nope. Come on sit down!” ajak Dave. Aku buru-buru menekuni buku anatomi yang luar biasa tidak menarik hanya untuk menghindari tatapan Kris.

“Well, aku hanya ingin mengajak Jungs ke luar sebentar. Apa boleh?” tanya Kris. Kris baru saja menyebut namaku? Oh, andaikan saja saat itu aku mati.

“Hey, dia mengajakmu.” Stacey menyikutku.

“Aku?” tanyaku. Tidak yakin yang didengar. Stacey mendorongku hingga hampir terjatuh, untung Kris memegang tanganku, refleks aku melepaskan tangan dan berdiri canggung. “I’ll be back soon, guys.”

“Nikmati waktumu! Jangan terburu-buru!” Dave berteriak dan Stacey memukulnya dengan bantal.

Kris membukakan pintu mobil untukku, itu kehormatan.

“Use your seatbelt, Ma’am.” Satu hal yang kulakukan adalah memegangi ujung jaketku. Kris memutar tubuhnya untuk memasangkan seatbelt. Aku bisa mendengar deru nafasnya di jarak sedekat itu.

Itu perjalanan yang indah. Tidak mungkin aku menemukan bintang di tengah musim dingin tapi malam itu aku menemukannya. Di mata Kris. Di bukit dekat kompleks, Kris meminta maaf padaku dan kami kembali seperti dulu, memenuhi takdir kami untuk saling mencintai.

Dia selalu menjadi favorite-ku, seperti milkshake cokelat. Sederhana tapi aku suka.

***

Baekhyun mendesah. “Aku jadi ingin milkshake,” ucap Baekhyun.

“Byun Baekhyun, itu tidak lucu!” protes Minseok. Jongin menunjukkan kesetujuannya dengan melempar bantal pada Baekhyun.

“Aw, itu sakit!”

“Ayolah lanjutkan.” Jongdae bersuara di tengah gemelutuk kacang dan potato chip.

Baekhyun meminum susu botolan sebelum akhirnya melanjutkan.

***

I was Kris favorite girl

Tapi cerita hanyalah cerita. Kris harus kembali ke Korea. Menggantungkan perasaanku lagi di antara laut yang memisahkan kami. ‘You are my favorite’ hanya itu yang diucapkan Kris sebelum kembali.

Harus kuakui bahwa aku benci saat tahun baru berlalu. Aku harus kehilangan Kris untuk kedua kalinya. Aku sangat mencintai Kris hingga rasanya aku tak sanggup menghalanginya meraih mimpi. Itu bagian dari kebahagiaannya, hanya saja aku tidak tahu bagaimana harus bahagia.

I’m in love with him… I do love him

Ketika Kris mengajakku bertemu di New York. Itu sudah setahun sejak pertemuan terakhir kami. Kami bertemu di sebuah perpustakaan di Brooklyn.

Aku hampir tidak mengenali pria berambut blonde yang turun dari jeep. Aku hampir tidak mengenali pria dengan white v-neck tipis dan blue jeans, oh yang benar saja! Jadi sekarang Kris menggunakan barang bermerek? Jadi dia sekarang sudah menjadi artis?

“Hey,” sapanya.

“Kau tahu ini bukan tempat yang baik untuk bertemu. Kita harus berbisik.”

“Aku tidak tahu tempat yang lebih aman.”

Lalu kami berjalan mengitari rak buku, saling berbisik di telinga dan sesekali berpura-pura sedang membaca buku. Hingga kami berada di ujung rak, Kris akhirnya menyatakan maksudnya. Yang membuatku menyesali telah datang ke perpustakaan.

“Kita harus mengakhiri ini.”

Aku tahu dia banyak berubah. Dia jauh lebih tampan. Kris lebih sering berbicara. Bahasa Inggris-nya sangat lancar dan sesekali dia berbicara dalam bahasa Korea. Aku tahu Kris sudah berubah. Tapi bukan begini. Aku menerima Kris bagaimanapun bentuknya tapi dia tidak harus merubah statusku. Aku merasa baik-baik saja. Apa yang salah?

Andai saja saat itu aku bisa menanyakan alasannya bukannya berdiri tenang dan menatapnya syok.

“Aku tidak bisa punya pacar. Aku akan segera jadi artis. Itu bagian dari kontrak.”

Harusnya aku tidak mengangguk dan pura-pura mengerti. Gadis yang berdiri di depan Kris hari itu sangatlah bodoh.

“Kau akan mengerti suatu saat. Kau masih jadi favoriteku.” Kris menggantungkan sebuah kalung di leherku. Liontinnya berupa cincin dengan nama lengkapnya dalam bahasa Mandarin melingkar. Itu indah. Sangat indah.

Kris mencium puncak kepalaku dan berlalu tanpa menunggu aku menegakkan tubuh dan menarik nafas. Dia bukan Kris ku yang dulu. Rasanya sangat asing.

***

“Aku punya firasat yang buruk.” Lay berkomentar.

“Aku juga,” Jongdae ikut membenarkan.

“Tidak mungkin dia mengabaikan gadis itu begitu saja.” Jongin ikut bicara. Chanyeol menambahkan, ” Tidak tanpa alasan.”

“Kalian ingin lanjut atau tidak sih,” protes Tao.

“Sorry Papa Panda!” Jongdae memamerkan deretan giginya lalu memeluk Tao.

“Lepaskan, Kim Jongdae.”

“Abaikan saja mereka, Baek. Cepat lanjutkan,” suara Luhan memerintah.

***

There’s no more Kris favorite girl

Aku tahu aku berlebihan tentang Kris tentang betapa aku mencintainya atau betapa aku memujanya. Tapi Kris seperti bagian kecil dalam diriku. Aku membiarkan dia mengakar dalam tubuhku.

Sedetik pun dalam hidupku, aku tidak pernah meragukan perasaan Kris padaku. Kris bukan hanya seorang kekasih, dia seperti masa depan yang berdiri tegak di hadapanku. Aku bisa melihat terang dalam dua bola matanya. Aku bisa melihat cerah dalam wajahnya. Kris, hanya Kris.

Kenyataan bahwa aku bukan gadisnya lagi, bahwa aku telah diabaikan, bahwa aku dibuang, bahwa aku dicampakan. Semuanya bukan apa-apa ketimbang menyadari bahwa tidak berhak mengganggunya di malam hari, protes karena dia lupa menelefon, memaksanya mengambil selca, mengiriminya puluhan kartu ucapan. Aku mungkin keras kepala, tapi aku tidak bisa meninggalkan Kris.

I was Kris favorite girl 

Saat aku mendarat di Korea akhirnya aku tahu.

Kris, bukan lagi pria biasa yang bisa kucintai. Biarpun aku seorang dokter sekalipun.

Kris adalah milik jutaan wanita, didamba dan dicintai. Kris adalah figur sempurna seorang pemimpin, seorang idola. Kris sekarang berambut hitam cepak dengan piercing di telinga. Kris adalah ikon fashion.

Di mana dia berjalan, di situ ratusan kamera menyorotnya. Di mana dia bergerak di situ para wanita berteriak padanya. Hal hal seperti ini tidak mungkin kubayangkan kalau aku tidak berada di Korea.

Aku tahu Kris banyak berubah. Dia hanya menemui ibunya sekali setahun. Dia mungkin tidak bisa ikut reuni SMA dan beradu PS hingga larut. Dia tidak lagi bisa minum milkshake strawberry di muka umum. Dan lagi, dia tidak bisa mencium seorang wanita di bandara.

Kenyataan itu sulit untuk dipagami.

***

“Hyung, mereka tidak kembali bersama,” suara Kyungsoo memecah hening.

“Hey guys!” Kris muncul dari kamar. “Apa yang kalian lakukan?” tanya Kris.

“Kau diam saja. Baekhyun akan melanjutkan ceritanya.” Luhan memerintah.

Kris berjalan terseok-seok ke dapur -efek baru bangun tidur- sebelum akhirnya duduk di pantry dan meminum segelas air.

***

Kris adalah bagian terbaik dalam hidupku.

***

Kris tersedak mendengar namanya.

“Itu bukan tentang kau. Jangan ge-er,” kata Jongdae.

“Uhm, oh, oke baiklah.”

Baekhyun mengulanginya lagi.

***

Kris adalah bagian terbaik dalam hidupku.

Aku tidak pernah merasa sehidup itu kecuali saat aku bersama Kris. Dia membuatku merasakan jantung yang berdetak, nafas yang memburu, perasaan aneh yang dimiliki manusia.

I was Kris favorite girl. Maybe I’m not his favorite anymore. 

But Kris, he’s forever my favorite.

With love,

Helena Jung

Note:

Nama mungkin dirubah oleh penulis.

***

“Sudah?” tanya Suho.

“Ya,” jawab Baekhyun.

“Jadi begitu akhirnya?” Tao mengerjap, tidak yakin.

Sementara yang lain sibuk berdiskusi-berdebat tentang kisah itu. Kris terpaku di tempatnya duduk.

Favorite girl  dan Helena Jung bukan hal yang asing di telinganya. Kisah itu nyata, nama itu sengaja tidak disamarkan agar orang-orang berfikir itu nama samaran. Kisah itu terjadi pada dirinya. Wanita itu menulis untuk Kris.

Kris bangkit dan mengambil dua majalah yang tergeletak di atas meja. Membacanya selama beberapa menit. Hingga dia selesai, hatinya seperti bimbang. Tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya sudah beku sejak dia memutuskan meraih mimpi. Itu mimpinya dalam genggaman tangannya. Tapi apa dia sudah melepaskan hal yang penting dalam hidupnya? Dia tidak tahu.

“Kenapa?” Tao menepuk bahu Kris. Kris menggeleng pelan.

Tapi keputusan sudah dibuat. Dia tidak bisa memutar waktu. Satu hal yang Kris tahu, gadis itu favorite-nya. Masih jadi favorite nya.

Advertisements

28 thoughts on “A Letter

  1. Ceritanya bgus,sweet yah walopun ada sedihnya,tapi ini keren,
    paling suka yg pas bagian nama penulis mungkin disamarkan yg padahal gak
    🙂

  2. HAH GITU DOANG ENDINGNYA
    Mentang2 marganya Jung gue jadi mikir itu Jessica atau at least, mukanya Helena kayak Jessica
    Oh ya itu ada typo. Tao jadi tau terus Suho tiba2 namanya jadi Joonmyeon terus ada satu lg yg typo tp w lupa apa ehehehe ((bawel!!!))

    • di otak gue muka dia mirip krystal gitu sih… jadi gue namain jung. radak bule gitu. iya makasih ya diingetin!!!!!!!!!! ketularan jadi miss typo nih

  3. author-nim tulisan kamu keren banget!
    aku pengen nangis karena aku sirik /plak/
    feelnya juga terasa sekali, penggambaran karaker si helenanya itu loh, wow sekali yah…
    pokoknya keren dan keep writing llah!

  4. Ya Tuhan adek!! Aku kira bakalan happy ending, taunya TT
    Rasanya aku mau jitak si ben-ben, tapi dia ga bisa disalahkan sepenuhnya sih 😐
    dari awal aku bacanya senyum2, makin lama aku kasian sama Helena :” Satu hal yang jadi keahlian Kris >> bikin orang lain patah hati </3
    bahasa kamu bagus banget TT aku baca ini kaya baca novel terjemahan *Seriusan

    • wkwkwkwk emang kak :’) aku juga sedih kenap dia harus berakhir seperti itu.
      AAAA KRIS KAN EMANG DEWANYA BIKIN PATAH HATI /EA
      MAKASIHHH {} amin amin. semoga bisa diperbaiki di masa mendatang :’)

  5. reaksi gue pas baca ini “hahaha” “ohh gitu” “hehehe” “Yah…” oke feel nya OKE BANGETNGETNGET! gue sukaaaaaaaaaaa hahahhaa

    ohya itu diawal gue bingung, baekhyun dan suho ngeliat majalah nah terus baekhyun nanya itu surat cinta? .___. terus selanjutnya lagi bilang itu majalah. Atau sebenernya majalahnya bentuk surat cinta? (?) gue juga bingung kenapa di awal tiba2 ada nama dave dan stacey dan itu ga dijelasin kayaknya mereka siapa, pas di akhir gitu gue baru sadar kalo mereka sahabatan kan? hehe

    gue suka banget pas lo tulis penjabaran katanya gitu, aduh susah dijelasin. i just fall in love <333 hihihi

    "Bulan-bulan pertamaku terasa berat. Kris sesekali menelefonku atau mengirimu" ini typo ya mengirimu :p

    ohiya ngomong2 pas baca gaya elo nyeritain baekhyun, kenapa gue jadi kena virus dia gini sih. aduh dia pasti lucu gitu deh<3 kalo si ai liat ff ini dan elo ada tulis kris nggak ganteng, dia pasti protes HAHAHAHA

    • ih erlina….

      jadi itu salah satu rubik di majalah, bentuknya kayak surat cinta gitu. jadi itu surat yang dikirim ke majalah. ngerti kan? O,O
      dave sama stacey sahabat kris-helen. tapi dave stacey sendiri itu sodara.

      iya makasih ya dikasih tau typo nya :DDDDD besok benerin deh (kalo gak males -_-)

      DIA EMANG GAK GANTENG. TAPI GANTENG BANGET. BANGET. BANGET. Lo suka baekhyun? :O

  6. okeh, firstly,
    can i have your twitter acc??
    ini FF was recommended by my friend and after i read it…
    well, yeah
    KALO KAMU BIKIN NOVEL, TELL ME FIRST TO BUY IT!! seriously!
    cara penulisan kamu mengingatkan aku ama campuran meg cabot, ilana tan, and ika natasya. still not perfectly made tapi bisa mengisi kekosongan *yah apalah bahasanya, hhahaha* all of them are my favorite and i think you can be one of them.
    dan yang lebih mengejutkan lagi, my friend told me that you’re 97line? really? really? really? i am your eonni then ><
    tell me your favorite writer too ^^
    ah… sumpah ini FF, bahasanya lembut and… nice. tiap perpindahan alur, you can move it smoothly. how could you do that? hhaha
    okay, sorry for this long comment ^^v

    • HALO AKU KAGET BANGET BACA KOMEN KAMU
      aku speechless terharu, kicep, muka alay gatau mau ngomong apa :O
      makasih buat temen kamu yang repot2 rekomendasiin, makasih kamu udah baca dan komen XOXO bangetlah pokoknya
      oh ya kamu liner berapa? iya masak aku bilang 97liner trs pada gak percaya 😦
      aku suka banyak penulis Stephanie Meyer, JK Rowling, Murakami, kadang Johanna Lindsey juga. ah banyak deh n___n kalo yang di indonesia aku mungkin lebih ke Lan Fang, Lia Indra.
      @shimshimin jangan nyesel karena aku suka nyampah /ditendang/

      • justru it’s funny kamu kaget di puji gitu ><
        udah aku follow yaaa^^ please follback, sama deeh, aku jg suka nyampah g jelas, hhaha. hope we can share many things ^^

      • hhahaha, brarti WP sdang kompakan error -__-
        waaa, yani eonni polle jusseyoo~ kalo d panggil kak yani brasa bukan fangirl kita *loh? kk~
        thanks yaa uda follback, need to know you more, jd kan bisa sharing2 gitu *wink* walopun harus brbagi kris juga, yaa, g papa deh, hhhaha

  7. justru it’s funny kamu kaget di puji gitu ><
    udah aku follow yaaa^^ please follback, sama deeh, aku jg suka nyampah g jelas, hhaha. hope we can share many things ^^

  8. makasih banget buat temen yang udah kasih tau blog ini, gara2 kepo aku jadi liat-liat yang lain, ah ngefans sma kamu ah.. eh (?) 97line? gue eonni dong -,-
    well, aku ga suka kris, ehm biasa aja, dan aku itu biasanya jadi korban ff yang bkal suka sama cast stelah baca, ini ga ngebuat aku naksir kris, tapi ini sukses ngebuat aku ga berenti baca ff yg cast nya aku sukanya biasa aja hehehe ,_,v ^__^
    keren, keep writting ya ❤
    salam kenal dari istrinya sungmin *lempar bunga* 😀

    • ah jangan gitu dong, tulisan aku masih perlu perbaikan kok n___n
      kamu line berapa emang? :O
      (aku bacanya sampe dua kali dan pelan pelan -_-v) oh iya aku ngerti maksudnya 😀
      aku suka sebel sih karena aku selalu bikin ff yang cast nya bias aku, gangerti juga kenapa tapi kalo gak biased suka berenti di tengah jalan –”
      SALAM KENAL AKU ISTRI Changmin, Kyu, Kris /heh/ *ditendang*

      • 94line, I hope I’m not too old to be fangirl hahahaha abis d dunia ini sekarang rasanya semua makin muda.. Hahahaha..
        Tapi itu pas buat yg d.o keren.. :b
        Ih suaminya kebanyakan -,- aku cuma satu si om umin, sisanya cuma oppa dan zelo hanya sekedar adik *nah kan berasa bgt tuanya* 🙂

      • nooo not at all. bestfriend aku juga 94liner kok XD malah ada fangirl yang seumuran changmin
        buat yang d.o?
        aku ngebet banget jadi noona lho :””) soalnya idol kpop tuh sukanya sama noona noona
        oya namamu siapa?

      • Tapi buat sungmin I’m just a little girl wkwkwkwk… Iya ff yg kamu buat castnya d.o itu loh saeng.. Haha
        Ehm naega bunga imnida 🙂
        You??

      • sama kayak changmin dan gyu 😦 aku kayak keponakannya 😦
        minchan not a real name though tapi sering dipanggil pake itu. tapi kalo mau panggil pake devy juga gapapa sih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s