Seoul and Soul – Part 2

Title: Seoul and Soul – Part 2
Cast: Shim Changmin, Jung Yunho, Yul (OC), Girl.
Genre: Random
Length: more than 1000 words

Hahaha ini part 2 nya yaa. Tolong sebelumnya jangan terlalu banyak mengharapkan saya bikin lanjutannya. Karena saya juga bingung. Dan nggak tega /kenapacoba Okay daripada makin penasaran baca sendiri aja sih 😛

***

SEOUL and SOUL

Bagian 2

Kau tak bisa bayangkan apa yang kurasakan pagi ini. Alarm yang mengusikku pagi ini padahal aku tengah memimpikannnya, perut yang mengusik karena jadwal tidak teratur serta kepala yang terasa begitu berat. Tidak pernah ada pilihan bagiku. Kehidupan akan selalu seperti ini. Berputar dan menjadi rutinitas. Kau akan menerimanya, memakluminya kemudian menganggapnya hal yang biasa.

Tapi tubuhku pagi ini menggigil kedinginan. Walau aku sudah memakai pakaian berlapis-lapis. Tapi rasanya angin musim dingin ini menusukku hingga ketulang-tulang. Aku berlari dengan payungku. Menyusuri jalanan Seoul yang selalu kulewati tiap pagi. Bertemu dengan wajah-wajah yang juga melakukan rutinitas yang sama denganku. Melewati jalanan ini. Tidakkah mereka bosan dengan pemandangan ini?

Tapi pertahanan tubuhku runtuh seketika ketika aku mencapai toko bunga tempatku bekerja. Manajerku menyambut dengan sebuah raut penuh duka. Aku memahaminya sebagai sebuah pertanda buruk. Dan semua dugaan memang terbukti, ia menyodorkan amplop ke tanganku. Melipat tanganku agar menggenggamnya. Tidak mengatakan sepatah kata pun. Aku tau apa maksutnya. Toko ini ditutup selama musim dingin berhenti. Tahun yang lalu musim dingin tidak semengerikan ini jadi bunga-bunga masih ada yang tumbuh tapi tahun ini, sepertinya semuanya memburuk.

Aku memaksakan sebuah senyuman agar membuatnya tidak merasa bersalah. Dia menepuk bahuku sebelum meninggalkanku terpaku di depan tokonya. Sendirian. Tak tahu apa yang akan kulanjutan selanjutnya.

Aku tidak lagi punya alasan pergi ke SM Entertainment dan merasakan kehadiriannya. Aku tidak lagi bisa menitipkan bunga-bunga matahari kepada resepsionis cantik itu. Aku tidak lagi bisa bertengkar dengan satpam yang sering menyindirku untuk segera keluar jika urusanku sudah selesai. Jadi begini, rutinitasku memutuskan polanya. Di sini. Di titik ini.

Termasuk memutuskan ikatanku pada SM Entertainment. Ehm, lebih tepatnya pada artisnya.

***

Aku memutuskan untuk meninggalkan apartementku sementara waktu. Mencoba berusaha melupakan segala bayang tentangnya. Bukan hal yang mudah bagiku, tapi aku akan mencobanya.

Jadi aku menghabiskan beberapa minggu belakangan ini di Universitas. Dari pagi hingga malam. Aku sering menumpang tidur di rumah temanku walau pun aku tidak merasa punya teman, tapi mereka merasa aku adalah teman mereka jadi mereka mengiyakanku. Jika tidak, aku akan pulang ke apartement dan duduk di ruang depan. Tak perlu masuk ke kamar. Dan tak ada lagi konser, tidak ada lagi hal-hal yang menyangkut dengannya.

Tapi pagi ini berbeda karena aku terpaksa tidak ke Universitas –satpam Universitas mulai tahu kegiatanku- dan temanku sedang dalam tour ke luar kota. Aku sudah duduk di sofa ruang tengah selama hampir 30 menit. Menimbang-nimbang, membuat skenario apa yang akan terjadi ketika aku membuka pintu kamar dan memutuskan masuk. Apakah aku bisa menghadapi puluhan poster itu? Apa aku bisa menghadapi wajah-wajah tersenyum bahagia yang ada dalam poster? Apa aku bisa menahan diriku untuk tidak menangis? Apa aku bisa tetap berjalan tegak dan beristirahat dengan tenang? Aku meragukan jawabannya.

Tapi aku ketakutan, kehilangan tujuan dan harapan. Aku tidak punya hal lain untuk dilakukan. Aku kehilangan rutinitas yang membuatku sibuk, yang membuatku melupakannya barang beberapa saat saja. Aku hanya tidak mengerti sejak kapan hidup menjadi sesulit dan serumit ini.

Entah bagaimana aku berjalan, tiba-tiba aku mendapati tubuhku berjongkok di trotoar depan SM. Aku merasakan ngilu luar biasa di ulu hatiku. Nyatanya aku tidak bisa sedikit pun menghentikan pikiranku darinya, tidak sedikit pun bisa mengendalikan tubuhku menjauh darinya. Aku merasa begitu lemah dan rapuh. Bahkan diriku sendiri saja tidak bisa kukendalikan. Benar-benar ada yang salah denganku.

“Apa yang kau lakukan di luar? Ayo masuk di luar sangat dingin,” sapa Nona Yul. Dia resepsionis yang selalu kutemui setiap pagi.

“Tidak, aku baik-baik saja.”

“Kau tidak terlihat baik. Ayo masuk saja. Aku membawa dua kopi. Kau mau? Kita bisa berbincang di lobi. Mumpung jam makan siang,” ajaknya. Agak memaksa karena dia menarikku.

Jadi kami berbincang –atau tidak, aku tidak benar-benar merasa mendengarkan- selama jam makan siang. Nona Yul memberiku frappucino yang jelas membuat hatiku lebih baik. Paling tidak dia membuatku merasa ditemani. Aku tidak sedikit pun menyinggung tentang Changmin karena aku memang tidak ingin melibatkan Changmin dalam hidupku. Tapi Yul menceritakan banyak hal tentang SM, hal-hal umum yang diketahui semua orang. Dia menceritakan hidupnya yang bagiku sangat menyenangkan. Menanyaiku tentang Indonesia tapi tidak benar-benar puas dengan jawaban yang kulontarkan. Jadi karena Yul membuat hariku lebih baik, maka aku berjanji menemuinya di akhir minggu mentraktirnya balik.

“Kau harus banyak istirahat,” katanya padaku. Aku mengangguk mengiyakan hanya mengiyakan tanpa berjanji lalu pamit pulang.

Selama hidupku aku selalu bermimpi bekerja di SM. Mencari kesempatan menemui Changmin. Itu sudah sejak dulu ada dalam otakku. Aku berharap, kalau saja aku tidak diharuskan kembali ke Indonesia aku bisa bekerja di sini. Aku bisa memandang Changmin sebanyak yang aku mau, aku bisa mencintainya sebanyak yang aku inginkan, aku bisa mendambanya sepuasku. Tidak akan ada kata kurang, tidak akan ada perasaan takut terampas. Hanya ada waktu tak terhingga yang menemaniku mencintai Changmin.

***

Aku ingin tetap di Korea.

Begitu tulisku di e-mail. Aku sadar aku belum bisa meninggalkan Korea dan segala pikiran delusional tentang Changmin. Kalau pun aku pulang, belum tentu aku bertahan hidup. Kalau aku pulang, aku akan makin tersiksa. Kalau aku pulang, aku akan kehilangan jati diriku. Dan aku berharap perusahaan yang memberiku beasiswa mau menempatkanku di Korea. Aku tidak peduli dengan jabatan selama gajiku cukup dan aku bisa memenuhi kebutuhan fangirling, aku akan tetap baik-baik saja.

Jadi aku mengutarakan keenggananku untuk pulang. Pada intinya aku mengungkapkan bahwa Seoul telah merubah banyak hal dalam diriku, membuatku merasa lebih baik. Dan aku suka Korea. Aku mau bekerja di Korea dan di tempatkan di posisi yang sesuai dengan ijasahku. Intinya begitu.

Selama beberapa bulan terakhir aku menghadapi ketakutan luar biasa terhadap pesawat yang melintasi udara. Aku bahkan tidak mau menginjakkan kakiku di Incheon. Aku takut kalau-kalau aku didorong oleh sesuatu yang membawaku harus terbang pulang. Akan lebih baik jika aku menjauhi Incheon. Incheon selalu membuatku merasa risau.

Selama di sini, aku seperti melompat melewati lubang waktu. Di sini waktu seperti berhenti. Aku tidak pernah menghitung hari, tidak peduli dengan denting jam, aku melakukan apa yang aku suka dan rasanya jauh lebih baik. Spontanitas, penuh tantangan, tidak ada yang mengekang dan mengendalikan. Rasanya luar biasa.

Dan aku yakin, aku punya tujuan baru untuk diraih. Mendapatkan pekerjaan untuk tetap di Korea. Untuk sementara waktu aku merasa lebih hidup.

***

Pada awalnya, rencana akhir mingguku hanya minum kopi saja. Tapi mendapati e-mail balasan pagi ini, aku lebih dari sekedar bersemangat. Aku merasa hebat. Aku akan tetap di Korea dengan beberapa syarat. Tidak ada yang sulit atau mungkin karena aku saja yang merasa luar biasa jadi hal itu menjadi tidak terlalu rumit bagiku.

Aku mengunjungi Yul eonnie sore ini. Menunggu di lobi SM selama beberapa menit. Aku merasa baik-baik saja dan itu aneh. Aku belum bisa mengendalikan perasaan kebas dan kalut saat memandang poster tapi di lobi SM sore ini aku merasa baik-baik saja. Aku tidak takut menemukan Changmin, aku justru berharap menemukannya masuk lewat pintu depan, melenggang melewati lobi dan orang-orang menatapnya kagum. Lalu masuk ke lift dan lift ditutup. Skenario selesai. Bukankah itu sangat menarik?

Yul meminta izin mengganti pakaian dan mengambil tasnya. Aku mengiyakan. Aku sibuk dengan kamera yang berada di tanganku hingga suara mobil berhenti dan kilatan blitz dari luar menyilaukan mataku. Bukan wartawan hanya fans. Tapi tiba-tiba aku tercekat. Leherku seperti dicekik, skenario ku terwujud.

Changmin dan Yunho melenggang santai memasuki lobi. Menunggu tidak sabaran di depan lift. Matanya merasa terganggu dengan blitz-blitz dari luar. Tapi bedanya di lobi hanya ada aku –bukan banyak orang- yang memandanginya dengan kagum. Yang lain-lain entah kenapa sepertinya tidak peduli. Aneh sekali. Aku mendapati matanya yang mempesona. Tulang pipinya yang sempurna. Otot-otot tubuhnya yang menonjol di leher dan tangan. Tubuhnya yang terbalut sempurna dengan mantel beludru yang kujamin luar biasa mahal. Aku belum pernah berada sedekat ini dengan Changmin. Maksudku, benar-benar melihat Changmin bukan Changmin yang berpura-pura bahagia saat konser. Tapi Changmin, hanya Changmin, Tuan Shim Changmin.

Changmin menaikkan kacamatanya. Sepertinya menyadari aku memandangnya secara berlebihan. Lalu dia mengernyitkan kepala, menyenggol Yunho. Aku membuang pandangan, pura-pura tidak menatapnya, tidak mau dijadikan tersangka. Dalam hati aku merutuki kesempatan langka untuk menatapnya ini. Ini kesempatan luar biasa. Waktu-waktu terbaik dalam hidupku. Aku ingin mengabadikannya tapi tidak mau bertaruh terlalu tinggi, aku tidak mau diusir keluar dan harus membuat Yul kerepotan membelaku.

Changmin tidak sedikit pun melepaskan pandangannya. Sialan, sialan, sialan. Kenapa tidak segera pergi? Kenapa harus berdiri di sana. Aku menggertakan gigi-gigiku tidak sabaran. Lift terbuka dan Changmin beserta rombongannya masuk ke lift. Aku menghembuskan nafas lega. Agak berlebihan. Tapi tetap dengan kekecewaan karena kehilangan pemandangan.

Nona Yul muncul dari kerumunan yang bubar itu. Agak terengah-engah.

“Kau berlari?” tanyaku.

“Ini untukmu.” Dia tidak menjawab malah menyodorkan secarik kertas yang dilipat untukku.

“Dari siapa?”

Yul menunjuk ke lift tapi rautnya berubah. “Mereka sudah naik ke lift?” tanyanya.

“Changmin?” aku balas bertanya. Meyakinkan. Suaraku tidak bergetar seperti biasa aku menyebut  namanyanya.

“Entahlah. Aku hanya disodori.” Dia menggaruk kepalanya.

Aku membuka lipatan kertas itu.

“Sepertinya kita harus makan besar malam ini,” ucapku.

“Makan besar bagaimana?” tanya Yul.

Aku menariknya keluar SM. Aku tahu ini tidak baik bagi kejiwaanku tapi untuk sekali saja seumur hidupku aku ingin merasakan bahagia yang berlebih.

***

Jangan menatap secara berlebihan. Kkk.

KKEUT

Advertisements

2 thoughts on “Seoul and Soul – Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s