Seoul and Soul – Part 1

Title: Seoul and Soul
Cast: Shim Changmin, Jung Yunho, Girl.
Genre: Random
Length: almost 2000 words

Draft ini sudah ngendon si laptop saya bertahun-tahun. Serius saya dulu lupa naruhnya di mana. Dan kali ini saya mau bikin twoshoot *tumben* hahaha gatau lah nanti mau gimana. Maunya sih twoshoot tapi gatau deh nanti. Dan lagi, ini fic pertama saya yang bikin saya mulai mau nulis lebih banyak fic /ea

***

SEOUL AND SOUL

Bagian 1

Aku berjalan gontai, memaksakan tubuhku tetap melangkah menapaki tiap anak tangga. Menuju apartemenku. Tidak, ini bukan apartemen mewah seperti dalam TV. Ini hanya sebuah kamar di sebuah rumah susun di pinggiran Seoul. Mau minta apa, aku hanya seorang pelajar yang mendapat beasiswa sekolah di Seoul. Mendapat tempat tinggal tanpa perlu berbagi saja sudah untung.

Aku menghempaskan tubuhku di kasur. Masih kelelahan akibat tugas kuliah yang memaksaku tidak tidur dua hari ini. Aku menatap dinding-dinding kamarku. Lalu langit-langitnya. Kehilangan warna karena telah tertutup oleh ratusan foto dan poster yang kutempel sedemikian rupa. Menampilkan segala pose yang ditimbulkan satu tubuh. Ah, yah… dua tahun di sini dan aku masih tidak bisa menemuinya. Bodoh. Bukankah dia alasan mengapa aku mau berada di kota ini. Alasan mengapa aku pergi ke sini.

Tiba-tiba aku merasa sendirian. Musim gugur yang sedang tiba dengan angin sepoi-sepoinya menimbulkan udara dingin di kamarku. Mengetuk jendela kamarku berkali-kali. Suaranya seperti menggema. Ya, aku sendirian. Di tengah kota ini, dengan segala kepadatan serta hiruk-pikuknya aku masih merasa sepi. Bahkan bunyi lalu lalang kendaraan di jalan yang masih sayup-sayup terdengar tetap tidak menghiburku. Hanya ada aku, Seoul dan angan-angan akan bayangnya.

Aku merindukan kehangatan rumah yang tak lagi kurasakan sejak aku menapakkan kakiku di Seoul. Meninggalkan segala cerita tentang Indonesiaku. Lalu aku menangis. Memang tidak berarti tapi cukup melegakan bagi hatiku. Aku semakin kelelahan, kepalaku semakin berat. Dan aku terlelap dalam gelap.

***

Alarm mengusikku pagi ini. Masih berada dalam keadaan setengah sadar, aku memaksa tubuhku pergi ke kamar mandi. Aku harus bekerja.

Aku tidak menemukan apa pun di kulkas. Kehabisan makanan. Masih untung aku punya simpanan uang hasil aku bekerja di toko bunga. Ya toko bunga itulah satu-satunya harapanku. Bukan soal uang yang kubutuhkan untuk bertahan hidup tapi tentang dia…

Aku mengeratkan mantel buluku. Tiupan angin semakin kencang. Dingin pun semakin menyengat merasuk hingga tulang-tulang dan ujung persendianku. Sebuah tas bergantung di pundak kananku. Tangan kananku membekap sebuah map penuh tugas. Dan tangan kiriku membawa sebuah keranjang berisi beberapa karangan bunga. Dan aku tiba di depan gedung. Ah, SM Entertainment. Aku menghela nafas sebelum melangkah masuk.

Resepsionis itu memamerkan sebuah senyum penuh semangat saat mendapatiku. Aku menaruh keranjang berisi karangan bunga itu di mejanya. Dan dia memberikan beberapa lembar uang.

“Yang ini untuk…?” tanyanya. Mengangkat sebuah karangan bunga matahari.

“Dia,” jawabku lemas. Memaksakan sebuah senyuman.

“Aku akan menyampaikannya.”

“Terimakasih. Samapaikan salamku untuknya. Semoga harinya menyenangkan,” kataku.

Aku berbalik. Menatap lobi agensi terbesar di Korea Selatan itu. Dan sebuah poster yang dibingkai kaca menarik perhatianku. Dia. Dengan segala pesonanya membuatku terpaku. Setiap lekukan di wajahnya, terasa begitu indah untuk dilihat.

“Nona?” tegur resepsionis tadi. Dia berdiri dan menepuk pundakku. Aku menoleh.

“Oh ya maaf. Aku hanya… aku permisi dulu,” kataku berpamitan. Aku menyunggingkan senyuman sebelum akhirnya meninggalkan satu-satunya tempat di mana aku bisa menemuinya.

Obsesi, ya obsesi. Aku memang seperti terobsesi padanya. Segala hal yang ada di dalam dirinya menarikku masuk dan masuk dan masuk. Aku seperti ingin mengenalnya lebih dan lebih. Walau akhirnya itu hanya berupa cita-cita bodoh belaka. Tapi aku masih enggan memahami realita. Aku benci kenyataan beserta segala hal rumit di dalamnya. Aku suka berangan-angan dan dia hanya angan-anganku, jadi aku menyukainya.

Segala hal yang menyangkut dia memang menjadi rumit. Tidak ada satu pun kata klise yang bisa menggambarkan secara tepat bagaimana proses aku menyukai pria ini. Bagaimana tepatnya rasa itu atau bagaimana rasa itu bisa timbul. Tidak ada yang bisa menggambarkannya. Dan entah kenapa aku tak pernah menarik diriku dari khayalan bodoh tentangnya. Dasar fangirl, batinku.

***

Menyusuri setiap lorong Seoul University adalah kegiatanku setiap hari. Mencari seseorang yang mungkin –sampai saat ini belum- bisa mengisi hatiku. Melupakan khayalan bodoh tentang artis itu. Tapi dari ribuan mahasiswa di sini tak ada yang menarik hatiku –belum.

Aku selalu menjadi pusat perhatian karena kulitku yang jauh lebih gelap dari mereka. Tubuhku yang tidak seproposional wanita-wanita ini dan aku yang masih enggan memakai pakaian ala wanita Korea yang kufikir terlalu terbuka buatku. Aku bukan mahasiswa yang peduli soal teman. Well, aku tidak punya teman itu kesimpulannya. Semuanya hanya sebatas teman ngobrol. Aku lebih suka menghabiskan waktuku di perpustakan atau berselancar dengan internet yang membuaiku dengan segala macam hal yang mendukung untuk menjadi fangirl.

***

Jalanan Seoul menjadi lebih padat saat jam pulang kerja. Aku sering memanfaatkan kesempatan ini untuk berjalanan-jalan bersama SLR ku. Menjadi fotografer lepas adalah penghasilan terbesarku tetapi itu jika aku beruntung ada yang mau menggunakan tenagaku.

Dan kali ini aku tidak ke mana-mana hanya berjalan menyusuri trotoar. Mencoba mencari objek pada setiap taman yang kulewati tapi tetap tak mendapatkan apa pun yang menarik. Yang menarik tentu saja, dia. Aku mengeratkan mantel buluku karena angin bertiup semakin kencang sepertinya musim dingin datang lebih awal tahun ini. Musim dingin, musim favoritnya.

Aku merindukannya… Sudah lama dia tidak tampil di acara musik regional. Yah, bintang besar sudah sepantasnya dia mulai merajut karir internasionalnya. Membayar kerja kerasnya.

Dan kerinduan itu menimbulkan kegelisahan yang jelas mengganggu suasana hatiku sore ini. Aku merasa sendirian. Aku merasa hampa dan tidak berarti. Ratusan wajah yang ada di hadapanku, yang lalu lalang di jalanan, tidak berarti apa-apa untukku. Aku benar-benar sendirian. Aku mengusap air mataku yang tak terbendung. Menggunakan kedua jariku tanpa melepas kacamataku.

Didorong oleh rasa hampa yang merongrong, menggerogoti setiap ruang dalam tubuhku, aku berdiri di depan SM Entertainment. Untuk kesekian kalinya. Dan bangunan megah itu justru mencabik-cabik perasaanku semakin dalam. Sebuah wajah yang terpampang pada bagian depannya jelas membuatku semakin kalap. Merasa kebas. Tak lagi merasakan kaki-kakiku.

Aku memilih duduk di pinggir trotoar di seberang jalan. Memeluk tubuhku sendiri karena rasanya seperti akan pecah berkeping-keping. Aku menghembuskan nafas panjang berkali-kali untuk menenangkan hati tapi tidak berarti. Aku berdiri dan meraih SLR ku. Memotret sebuah poster itu. Hanya poster. Tak lagi seperti dulu saat aku masih bisa menemuinya dalam konser-konser.

Dan salju benar-benar turun hari ini. Tapi langit belum menampakkan kepekatannya. Palet warnanya begitu sempurna. Dan aku membuat poster itu seperti hidup. Bagiku semua khayalan tentangnya akan hidup tak peduli itu nyata atau maya.

Tapi kebahagiaan sesaatku memudar saat mataku secara tak sengaja menangkap sosok yang sangat kurindukan. Berdiri di ambang pintu kaca yang setiap pagi kulewati. Menunggu partnernya, rekan, sahabat dalam segala hal. Mobil yang lalu lalang di depanku tak berarti lagi. Aku terus memandanginya. Tubuh kurus-putih jenjangnya. Rambut coklat bergelombang miliknya. Bentuk bibirnya yang aneh dan berwarna pink itu.

Dan dia melepaskan kacamata hitam miliknya. Memamerkan bola mata coklat gelap favoritku. Bola mata yang membuat segalanya jauh lebih baik saat aku memandangnya. Sebuah ciptaan Tuhan yang paling sempurna bagiku. Dan dia tersenyum, menyeringai. Menikmati salju yang turun. Musim dingin selalu menjadi favoritnya.

Dia kini menatap lurus ke depan. Pandangan kami bertemu. Aku yakin 100% dia melihatku. Aku tak peduli dia memperhatikanku atau tidak. Mengetahui fakta bahwa dia memandangku sudah memberikan euphoria berlebih yang timbul. Mungkin setara dengan ganja atau heroin atau apalah itu. Aku tidak pernah mengkonsumsinya dan tidak ingin. Aku telah mendapatkan heroinku. Tak cukup peduli bagaimana hal ini nantinya akan merusak hariku atau tidak. Aku hanya terlalu bahagia…

Yunho datang menghampirinya. Menepuk pundak yang lurus itu. Lalu dia membisikkan sesuatu pada Yunho. Dan ketika usai, mereka berdua menatapku. Tatapan Yunho lebih mirip mengintrogasi. Tapi aku tak akan lengah, aku takkan kalah, aku takkan menyia-nyiakan moment langka ini.

Kameraku masih berada di tanganku dan talinya masih menggantung di leherku. Jelas menunjukkan bahwa aku syok mendapati mereka. Bodoh, bukannya aku mencoba memotret mereka tapi aku justru terus menatapnya. Hanya dia, melupakan sosok sempurna lainnya yang berdiri tegap di sampingnya. Hanya dia yang mampu memaksa mataku untuk terus-menerus menatapnya padahal ada sosok lain yang seharusnya lebih kusukai. Jantungku terus menerus menimbulkan irama yang lebih cepat dibanding biasanya.

Dia megganti posisinya, berdiri bersandar pada pinggiran pintu. Tangannya bersedekap di dada. Dia masih menatapku tajam. Dan aku tak cukup peduli jika dia akan membenciku atau merasa terganggu. Aku hanya tidak ingin moment ini terbuang sia-sia.

Tapi sebuah klakson panjang mobil menyadarkanku dari lamunan ini. Mengingatkanku bahwa aku dan dia hanya statis, seperti ini. Seperti mobil-mobil yang berjalan ini, tak leluasa mengatur kecepatannya. Terjepit di antara mobil-mobil lainnya. Terpaksa harus mengikuti yang lainnya. Agar tetap bisa berjalan, maju. Seperti aku, harus terus mengingatkan diri sendiri –mengklakson- bahwa aku tak bisa terus berdiri menatapnya. Aku harus berjalan saat yang lainnya juga melangkah. Suka ataupun tidak harus mengikuti arus jalanan –kehidupan. Tak peduli kau ingin berlari cepat atau berjalan bagai siput yang lain-lainnya tetap tidak akan menggubrismu. Ya, itu semua jika kau ingin maju, terus hidup.

Deru mobil-mobil kini mulai mengusikku. Keramaian selalu saja membuatku merasa makin sepi. Dan sebuah hasil karya Tuhan yang berdiri sejajar denganku, menimbulkan gejolak emosi yang tak beraturan. Bagaikan beda potensial, mampu menyerang bahkan membunuh. Kepalaku terlalu pusing mencermati suara yang kini bagai dengung lebah. Sementara tubuhku masih terlena atas bukti kekuasaan Tuhan itu. Shim Changmin.

Aku menyadari sesuatu menetes di bibirku. Bukan butir salju. Tapi darah. Aku syok dan mengalihkan pandanganku darinya. Menyeka hidungku beberapa kali tapi menyadari bahwa darahnya tak kunjung berhenti. Aku memutuskan untuk menatapnya terakhir kali dan mengambil fotonya sebelum meninggalkan trotoar bersejarah itu.

Aku akan merindukanmu… Shim Chang Min.

***

Aku masih berada di Seoul. Tinggal satu tahun lagi dan aku akan kembali ke Indonesia. Satu tahun lagi dan semua hal tentang Changmin sepertinya harus hilang. Aku harus memulai kehidupan baru begitu sampai di Indonesia.

Aku masih bekerja di florist di mana anak SNSD biasa memesan bunga. Mencari kesempatan untuk tetap memijakkan kakiku di SM Entertainment walau aku tahu itu tak berarti apa pun. Tapi setidaknya mendapati cakram warna dari ratusan bunga di toko cukup member gairah bagi kehidupanku yang hampa ini. Terus menerus mengingatkanku bahwa dunia ini masih memiliki keindahan, selain Changmin tentu saja.

Tapi tetap saja hidupku tak berubah walau sejak aku bertemu dengannya sore itu…

Aku menghembuskan nafas dalam-dalam menatapi langit-langit kamarku. Bagaimana sosok manusia itu terus menerus mengusik kehidupanku? Bagaimana bayangannya tak pernah membiarkanku beristirahat walau hanya tuk sedetik? Seandainya saja aku bisa beristirahat dari segala obsesi bodoh ini. Aku sudah cukup lelah menghadapi beberapa tahun terakhir dengan perasaan yang tidak pernah menentu. Terombang-ambing, tidak pasti.

Aku bahkan lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Bagaimana rasanya dicintai. Aku juga lupa siapa laki-laki yang kucintai sebelum Changmin. Siapa masa laluku di Indonesia? Siapa laki-laki yang dulu pernah mengisi ruang hatiku? Sebelum Changmin tentu saja.

Tapi yang kuingat hanya dia. Laki-laki Korea, kurus, putih, dengan suara melengking itu. Orang yang kucintai sebelum Changmin adalah Changmin. Setelah Changmin pun juga Changmin. Kesimpulannya aku hanya mencintai Changmin. Sejak dulu, entah sejak kapan tepatnya. dan masih mencintainya, entah sampai kapan.

Dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ringan yang terlintas di benakku membuatku tersadar bahwa seluruh sudut ruang di tubuhku ini memikirkannya, mencintainya dan mengharapkannya. Walau segala teori rasionalitas membuktikan kemustahilannya, tapi mimpi tetaplah mimpi tidak ada yang bisa mengubahnya. Aku bermimpi mendapatkan hatinya. Shim Chang Min.

KKEUT

Advertisements

4 thoughts on “Seoul and Soul – Part 1

  1. authorr… ini bagus banget. serius.
    bukannya berlebihan, ini terlalu sempurna.
    bahkan aku lebih suka baca cerita2mu dibanding koleksi novel2 teenlitku. 🙂

    coba ajukan beberapa cerita author ke penerbit. pasti diterima 🙂
    potensi kaya gini jangan ditahan-tahan thor, ya? 🙂

    • halo makasih istri yunho yang lain!!! MAKASIH BANGET BANGET BANGET aku tersanjung :’) iya mungkin kalau ada waktu aku coba nulis novel. tapi makasih banget kamu bikin aku ada niat nulis novel lagi. sering sering mampir ya 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s