The Lousy Birthday

Well, actually this is supposed to be gift for Kyuhyun and Sooyoung. But I got the problem of login wordpress so I’m so sorry 😦
Aku nggak yakin kalau kalian bakal suka cerita ini karena aku sedang mencoba-coba berbagai bentuk cara dalam nulis. Karena aku bosan dengan yang kemarin-kemarin -_-v tapi kayaknya sama aja sih. Tauk lah.
Intinya adalah Happy Birthday Februari lines Cho Kyuhyun, Jung Yunho, Choi Sooyoung, Shim Changmin, and Moms and Dads ❤ I love youuu

Cast       :
Choi Sooyoung (SNSD), Shim Changmin (TVXQ), Cho Kyuhyun (SJ)

Summary:
Kyuhyun adalah mantan kekasih Sooyoung. Padahal Sooyoung kini merupakan pacar Changmin yang merupakan sahabat terbaik Kyuhyun.

***

The Lousy Birthday

“Changmin, sudah kubilang aku tidak akan datang,” ucapku. Hampir memohon.

Sudah satu minggu Changmin berusaha membawaku ke pesta ulang tahun Kyuhyun yang diadakan akhir minggu ini. Changmin bahkan membelikanku sebuah dress yang sangat indah. Kemudian sebuah sepatu yang begitu mempesona. Dia tidak perlu melakukan ini, sungguh aku tidak ingin datang.

“Ayolah,” rayunya.

“Changmin, kau tahu sendiri bagaimana hubunganku dengan Kyuhyun. Kau harusnya mengerti posisiku.”

“Apa salahnya? Kyuhyun tidak pernah mengungkit masalah ini. Hubunganmu dengannya sudah berlalu. Dia tetap bersikap biasa saja denganku. Kenapa kau begitu khawatir? Apa yang kau khawatirkan?”

“Tentu dia akan baik-baik saja denganmu. Kau itu sahabatnya. Sudahlah, aku tidak akan datang.”

“Sooyoung, kau tahu kan ini justru akan membuat hubungan kalian tidak segera membaik.”

“Changmin…”

“Aku hanya meminta kau datang saja. Kita membawakan kado untuknya lalu kau boleh pulang lebih dulu. Kumohon?” Changmin berjongkok di depanku sementara aku duduk di sofa. Aku tidak bisa menolaknya. Tidak. Aku tidak mau pergi. Aku tidak mau lengah hanya karena Changmin yang memintaku.

“Aku tidak akan pergi. Aku tidak mau menyakitinya lagi. Aku tidak bisa.”

“Kau tidak menyakitinya, Sayang.” Mata Changmin membulat, memamerkan bola coklat bening miliknya. Meyakinkanku hanya dengan menatapku dalam-dalam. “Kalau kau tidak datang kau justru akan menyakitinya,” lanjutnya.

Aku menghela nafas. Berdebat dengan Changmin adalah hal yang paling mustahil. Tapi aku benar-benar tidak ingin datang. Sudah seminggu aku menang dalam perdebatan dengannya, aku tidak bisa kalah begitu saja.

Aku masih ingat saat terakhir kali bertemu Kyuhyun. Aku masih ingat tatapan sakit hati itu. Aku masih ingat betapa tidak tahu dirinya aku. Tapi itulah yang disebut cinta, tidak tahu kapan datang dan perginya, tidak tahu pula ke mana akan berlabuhnya. Aku jatuh cinta pada Changmin saat aku masih bersama Kyuhyun. Dan aku memutuskan bahwa tidak ada gunanya meneruskan hubunganku dengan Kyu jika hatiku tidak lagi ada padanya. Aku cukup sadar diri untuk mengakui bahwa aku kejam tapi itu lebih baik daripada harus berselingkuh di belakangnya.

“Bagaimana?” tanya Changmin lagi. Masih menunggu jawabanku.

“Aku tidak tahu.”

“Kau akan datang,” putusnya. Jika nada bicara Changmin sudah begitu artinya itu sudah keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat.

“Aku tidak bilang begitu,” protesku. Changmin tidak menggubrisku.

Aku menghela nafas lagi. Membayangkan pertemuanku dengan Kyu membuat hatiku sesak lagi. Apa yang harus aku lakukan. Seandainya saja saat itu Kyuhyun tidak mengenalkanku pada Changmin dan seandainya saja Changmin tidak membuatku jatuh cinta. Aku merasakan perutku dicengkeram kuat-kuat. Mulas.

***

“Kau harus berdandan yang cantik,” Changmin mengingatkanku. Changmin memaksaku untuk menemaninya mencari kado untuk Kyuhyun. Bukan, ini bukan kado utama. Changmin sudah menyiapkan kado utama sejak lama, aku tidak tahu apa isinya. Ini kado cadangan yang harus kubawa. Changmin ingin Kyuhyun merasa senang.

“Jadi, apa yang paling dia sukai?” tanya Changmin padaku. Aku diam saja.

“Aha, bagaimana kalau sebuah PS baru?” tanyanya lagi.

“Dia sudah punya beberapa,” jawabku. Terlalu datar.

“Ah kau benar. Kau ada ide lain?” tanyanya. Keningnya berkerut, wajahnya terlihat begitu serius. Aku kadang lupa bahwa mereka lebih dari sekadar sahabat baik. Mereka seperti pinang yang dibelah dua. Terlalu mirip terlalu memahami satu sama lain.

“Belikan sebuah album saja,” usulku asal. Aku hanya ingin segera pulang.

“Ide yang bagus!” Changmin mengembangkan sebuah senyuman yang begitu sumringah.

Kenapa mereka bisa bertingkah biasa saja? Kenapa Changmin juga harus membalas perasaanku? Kenapa Kyuhyun harus mengatakan tidak apa-apa kepada Changmin? Kenapa Kyuhyun harus pura-pura bahagia di depan Changmin? Kenapa Changmin yang begitu memahami Kyuhyun begitu buta bahwa sahabatnya tidak benar-benar merestui hubungannya dengan Kyuhyun? Pada akhirnya, akar semua masalah itu berasal dariku yang begitu serakah.

“Jangan mulai menyalahkan dirimu lagi,” bisik Changmin padaku saat kami membungkus kadonya di toko kaset. Changmin lebih memahami diriku lebih dari diriku sendiri.

“Haruskah kita melakukan ini? Tidakkah Kyuhyun merasa kita pamer kemesraan padanya?” aku balas berbisik.

“Kenapa kau begitu berfikiran negatif terhadap dirinya? Bukannya hubungan kalian dulu baik-baik saja?”

“Kumohon, jangan mengingatkan itu lagi.”

“Oke. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud.”

Changmin meraih pinggangku saat kami berjalan ke luar toko. Aku menyandarkan kepalaku di dadanya. Rasanya hatiku begitu sesak dan aku hanya ingin memeluk Changmin. Hanya begitu saja. Seandainya saja malam ini bisa dienyahkan.

***

Dress merah ini seingatku tidak sesesak ini saat pertama kali Changmin menyuruhku mencobanya. Tidak, tubuhku bahkan tidak bertambah gemuk sedikit pun. Bukan dress nya yang membuatku sesak tapi dadaku. Rasanya aku ingin mati saja. Aku seperti disiksa oleh jarum jam yang begitu cepat bergerak. Changmin menungguku di ruang tengah dengan gelisah.

“Kau baik-baik saja kan?” tanyanya kesekian kali.

“Ya,” dustaku. Aku baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja. Aku harus mensugesti diriku bahwa tidak akan terjadi apa-apa malam ini. Changmin bersamaku dan semuanya akan baik-baik saja.

Aku melangkahkan kakiku keluar kamar dan aku melihat Changmin menjatuhkan remot TV.

“Kau sangat… indah,” pujinya. Aku tersenyum salah tingkah. Aku seperti melambung hingga ke angkasa tak hingga.

“Sudah, sudah ayo pergi,” ajakku. Changmin tertawa menggodaku.

“Katakan saja kau salah tingkah karena aku memujimu.”

“Kau tidak perlu mengatakannya dengan jujur, Tuan Shim.” Aku memukulnya dengan tas tanganku.

“Aw!” dia mengaduh dan aku yakin dia hanya berpura-pura.

Changmin memperlakukanku seperti pacarnya malam ini. Paling tidak Changmin selalu jahat padaku di hari biasa. Changmin suka melakukan pembullyan, Changmin suka iseng, Changmin selalu melakukan hal gila. Tapi malam ini harus kuakui Changmin begitu mempesona hingga tak sedetik pun aku bisa berhenti dari memandanginya.

“Tidak usah sebegitu terpesona. Kau sudah sering menatapku hingga kau bosan.”

“Kau sungguh tidak romantis,” sindirku.

“Aku hanya bercanda. Tapi kau sangat cantik. Pantas saja aku jatuh cinta padamu.” Aku mencubit perutnya dan dia menjalankan mobil.

Sejenak aku melupakan bahwa aku akan menemui mantan kekasihku. Karena Changmin, aku percaya semua akan baik-baik saja.

***

Sudah kuduga pesta ini bukan pesta ulang tahun biasa. Aku sudah curiga sejak awal. Sejak pertama kali melihat undangan berwarna hitam dengan tinta perak tergeletak di meja riasku aku sudah merasa ada yang aneh. Ini bukan hanya pesta ulang tahun Kyuhyun, ini pesta keluarga mereka. Ini sambutan kepulangan Cho Ahra, ini pesta keluarga Cho. Semua kerabat, rekan bisnis keluarga ada di sini dan mereka semua mengenalku sebagai kekasih Cho Kyuhyun bukan sebagai Choi Sooyoung.

“Kau baik-baik saja?’ tanya Changmin menyadarkanku.

“Ya.”

Changmin membukakan pintu mobil untukku dan aku melangkah keluar. Suara biola dari orchestra mengalun pelan.

“Silahkan masuk,” seorang pelayan membukakan pintu gedung untuk kami.

Changmin sempat mengucapkan terimakasih sementara aku telah tercengang memandangi gedung itu. Langit-langit yang tinggi dengan lampu-lampu berat yang menggantung di beberapa tempat. Berpuluh-puluh vas bunga bertebaran di seluruh ruangan. Di ujung lorong ada sebuah panggung orkestra bersebelahan sebuah panggung kecil dengan roti tart di atasnya -itu milik Kyuhyun tentu saja. Para tamu sibuk bercakap-cakap dengan sampanye di tangan mereka. Aku mengenal beberapa di antaranya.

“Sudah kubilang kau butuh baju itu,” Changmin berbisik padaku. Aku memaksakan senyum. Mencengkeram erat-erat lengannya. Anggap saja aku ketakutan. Changmin melingkarkan tangannya di pinggangku.

“Kita akan menemuinya. Tarik nafas dalam-dalam.” Dia mengingatkanku.

Aku merunduk saat langkah kami secara pelan menembus lautan manusia. Berbaur dengan yang lainnya. Tapi kakiku rasanya begitu berat. Rasanya aku ingin berputar lalu berlari keluar. Aku tidak bisa. Tapi tangan Changmin menahanku dalam peluknya, merengkuhku. Aku tahu aku aman dan tidak ada yang lebih aman selain dalam dekapan Changmin.

“Hey, man!” sapa Changmin.

“Yo!” sahut Kyuhyun. Aku mendengar derak langkahnya mendekat. Aku merunduk semakin dalam.

“Kalian datang!” serunya. Suaranya terlalu bahagia. Seharusnya dia tidak sebahagia itu. Itu terlalu riang untuk menyambut dua orang penghianat.

“Tentu saja. Ini ulang tahunmu,” jawab Changmin bijak. Dia menyikutku pelan. Aku harus memberikan kadonya. Aku menghela nafas pelan.

Aku menyodorkan kadonya. Sebuah kotak berwarna hitam dengan pita silver. Terlalu sederhana untuk pesta seperti ini. “Untukmu.” Tidak, aku tidak memandangnya.

Dia meraihnya dari tanganku. Tangannya mengocoknya pelan. “Well, terimakasih. Ngomong-ngomong ini apa?”

“Beberapa lagu. Sooyoung yang memilihkannya,” aku Changmin. Ingin rasanya aku mencekik Changmin, kenapa harus berkata seperti itu. Itu kesalahan. Aku mendesah.

“Benarkah? Perhatian sekali,” ucap Kyuhyun. Aku tahu itu sebuah sindiran untukku. Aku memaksakan senyum.

Kami bungkam beberapa saat.

“Well, kalian bisa menikmati pestanya. Aku harus menemui yang lain. Kita akan bertemu lagi nanti,” pamit Kyuhyun pada kami. Dia menepuk bahu Changmin sebelum pergi.

Aku meniup poniku. Akhirnya.

“Tidak sesulit yang kau bayangkan bukan?” tanya Changmin.

“Karena ada kau,” jawabku.

Changmin mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Mencari-cari. Kemudian segerombolan pria melambai padanya. Itu geng nya. Ada Yunho, Jaejoong, Junsu, dan Yoochun. Di sebelahnya ada gerombolan yang lebih kecil: Minho, Jonghyun, dan Jonghyun. Changmin menatapku sejenak.

“Kau mau bergabung dengan mereka?” tanyaku.

“Apa boleh?” tanyanya.

“Pergilah. Aku baik-baik saja.”

“Benarkah? Kau tidak akan marah?”

“Apa aku terlihat seperti marah? Pergilah. Aku akan mengambil makanan,” kataku sambil menunjuk meja makanan panjang di sudut ruangan.

“Terimakasih,” ucapnya. Mengecup keningku sebelum pergi.

Aku menghela nafas. Aku sendirian. Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Aku mensugesti diriku sendiri.

“Nona Choi?” tanya seorang pria, Tuan Woo. Aku pernah bertemu dengannya dua kali. Yang pertama saat ulang tahunnya dan yang kedua saat ulang tahun pernikahannya. Keduanya saat aku bersama dengan Kyuhyun.

“Ah, Woo-ssi. Anda masih mengingat saya?”

“Tentu saja. Kau sangat menawan hari ini!”

“Terimakasih. Anda datang sendirian?”

“Oh tidak-tidak. Istriku sedang dalam perjalanan. Ada urusan yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.”

“Ah, tetap saja. Pasangan yang sibuk.”

“Kau sendiri kenapa tidak bersama Kyuhyun? Apa kalian sengaja berpisah untuk menemui tamu?”

Aku menelan ludahku.

“Nona Choi?”

“Maaf-maaf. Tapi kami sudah tidak bersama lagi.” Aku menekan airmataku agar tidak tumpah.

“Ah, sayang sekali.” Guratan kecewa jelas telihat di wajahnya. “Padahal aku kira aku akan segera mendapatkan undangan pernikahan,” lanjutnya.

“Ah, bisa saja. Aku bukan wanita yang baik untuknya.”

“Ah, Nona Choi. Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Kalian benar-benar serasi! Ah, sayang sekali.”

“Yah sayang sekali. Tuan Woo aku harus permisi. Saya undur diri.”

“Tentu-tentu. Tapi kau tetap harus mengunjungiku sesekali,” ingatnya.

“Dengan senang hati. Aku sangat terhormat mendapat undangan itu.”

“Ah kau bisa saja.”

“Mari, Tuan. Saya permisi.”

“Silahkan, Nona.”

Dan perbincangan itu berakhir juga. Tidak sepenuhnya. Ada puluhan mata yang menatapku janggal. Aku ingin sekali mengubur diriku hidup-hidup mengenyahkannya hingga tak ada seorang pun yang bisa melihatku lagi.

“Sooyoung?” sapa Ahra. Menepuk pundakku lagi.

“Oh, hai. It’s nice to meet you, Eonnie.”

“Ah, you look so pretty, My Darling.”

“You more. I miss you.” Dan pelukan itu berlangsung cepat. Mata-mata penasaran itu tak lagi memandang. Ya mereka mengira aku masih bersama Kyuhyun. Lucu sekali bagaimana kedekatanku dengan keluarga Cho ini mengubah pandangan mereka.

“Ah, I just heard your news. I’m so sad. Why?”

“News? Berita apa?”

“You and my brother.”

“Oh… him. Something happen with us. I can’t handle it for more. Mostly my fault. But, yeah. Maybe it’s better this way.”

“Oh darling, jangan menyalahkan diri sendiri. But I’m so sad, really, kamu nggak jadi adik iparku lagi.” Ahra menunjukkan wajah sedihnya secara berlebihan.

“I’m so sorry. But you’ll be my forever sister.”

“I hope so.”

Aku sudah beberapa kali mengunjungi Ahra ke Manchester. Kami sempat jalan-jalan di London, berbelanja di Tesco, bertransformasi menjadi mahasiswa Oxford selama satu bulan dan memancing di Liverpool. Yang paling menarik buatku adalah saat kami tinggal di peternakan di Merseyside. Banyak hal yang kami lalui bersama baik bersama Kyuhyun maupun tidak dan itu sangat mustahil ketika kami harus memutusakan pertemanan hanya karena aku dan Kyuhyun tak lagi bersama.

“Aku harus menemui yang lain,” pamitnya.

“Tentu saja.”

“Nikmati pestanya. Aku sangat senang kau bisa hadir di sini.”

“Aku juga.” Ahra memelukku sekali lagi kemudian menembus kerumunan pesta. Aku menghela nafas untuk kesekian lagi. Tidak. Itu jauh lebih baik. Tapi aku tidak akan menemui orangtua Kyuhyun. Tidak.

Jadi seperti inikah yang disebut sindrom pasca putus? Rasanya aneh dan sulit saat harus menghadapi orang-orang dalam posisi yang berbeda. Seperti harus beradabtasi ulang.

Aku bersandar di meja makanan. Dari sini, hampir semua kerumunan itu terlihat. Aku bahkan sempat melihat Changmin tertawa bersama Minho. Betapa tampannya Changmin saat seperti itu.

“Memandangi kekasihmu?” tanya seseorang. Deg….

Tunggu. Aku mengenalnya. Dia terlalu familiar bagiku. Sampanye di tanganku hampir saja terlepas kalau aku tidak segera sadar. Aku tidak akan menatapnya. Tidak sedikitpun. Anggap saja aku tidak mengenalmu, Cho Kyuhyun.

“Kau mau ke mana?” tanyanya lagi. Tangannya menggenggam pergelangan tanganku.

“Kyuhyun!” peringatku.

“Kau mau melapor pada pacarmu? Dia tidak akan percaya padamu. Dia jauh lebih percaya padaku.”

“Kyuhyun!” bentakku. Tetap tidak dengan suara keras. Aku tidak mau ada kegaduhan di sini.

“Atau aku akan pura-pura saja marah padanya. Mengatakan bahwa dia sahabat yang buruk. Sahabat yang tega menghianati sahabatnya. Buaknkah itu sangat menarik?”

“Jangan bawa-bawa Changmin! Demi Tuhan!” amukku. Aku berbalik dan menatapnya.

Kejadiannya sangat cepat: Kyuhyun menangkap tanganku di udara. Dia meletakkan sampanye nya dan mengunci tubuhku. dan dia menciumku. Entah berapa mata yang melihat kejadian itu aku tidak peduli, yang kuharapkan hanyalah Changmin tidak melihatku. Tidak, siapa pun boleh melihatnya. Asal jangan Changmin. Jangan Changmin.

“Kyuhyun! You are jerk!” umpatku. Aku mendorong tubuhnya hingga membentur meja. Ada suara berdenting dari piring dan gelas yang bergoyanag.

“Kau tahu, memutuskanku adalah kesalahan besar.”

Aku membatu pada tempatku.

“Apa yang bisa diberikannya? Bukankah kami sangat mirip? Bukankah aku punya jauh lebih banyak daripada dia? Apa yang dia punya tapi tidak aku punyai?” tanyanya lagi. “Kufikir kau benar-benar serius tentang hubungan kita,” lanjutnya.

“Kau tidak mengerti, Kyu. Aku jatuh cinta. Dan itu datang di saat yang salah. Aku tidak pernah memimpikan masa depan saat bersamamu. Tapi saat bersama Changmin, aku yakin dia adalah masa depanku.”

“Benarkah kau yakin?”

“Tentang yang lain, tidak. Tapi tentang Changmin, ya. Dia satu-satunya yang kuyakini.” Aku memutar tubuhku dan menatapnya. Menunjukkan bahwa aku serius. Demi Tuhan, aku serius. Aku mencintai Changmin dengan seluruh hatiku.

“Tetap saja, kau menghianatiku.”

“Maafkan aku.” Dan aku berlari menuju tangga yang berada di ujung lorong.

Aku tidak ingin memikirkan hal lain, tidak tentang Kyuhyun, tidak tentang orang-orang yang berada di bawah sana. Aku tidak peduli apa yang dunia katakan tentangku, tentang kebenaran ucapan Kyuhyun atau seberapa sakit hatinya kami berdua. Tidak, aku tidak peduli dan tidak ingin peduli. Aku hanya ingin Changmin. Aku hanya ingin Changmin memelukku, mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Aku hanya ingin Changmin tidak melihat kejadian tadi dan memilih untuk melepaskanku.

Sepertinya aku sudah cukup gila. Aku suka menyiksa diriku, itu jelas. Namun rasanya aku hanya ingin terus melangkah dan melangkah. Menjauhi tempat nista itu. Hingga aku sadar aku sudah berada di atap. Kemudian aku berteriak dan menangis.

Antara ingin ditemukan dan tidak diganggu, aku memilih untuk diam. Duduk di tepi bangunan. Menatap langit malam Seoul beserta lampu-lampu berpendarnya. Aku hanya ingin menangis dan sekali saja, aku ingin menjadi kecil, tidak terlihat tidak disadari keberadaannya.

“Choi Sooyoung!” teriak Changmin.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya. Changmin melepasnya dan melingkarkan pada pundakku.

“Jangan mendekat. Kumohon. Aku ini hina.”

“Apa yang kau katakan? Jangan berkata seperti itu!”

“Changmin….”

“Ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini. Gadis bodoh, lihat make up mu rusak semua.”

“Maafkan aku.”

“Maaf atas apa? Sudah. Berhentilah menangis.” Changmin memelukku dan aku membenamkan kepalaku di dadanya.

“Kenapa kau bisa menemukanku?”

“Changmin, aku melakukan kesalahan besar,” kataku lagi.

“Aku sudah tahu.”

Aku melepaskan pelukannya. Menjauhi tubuhnya. Jangan. Jangan begini. Jangan berakhir dengan seperti ini.

“Lalu?” tanyaku. Nada suaraku jauh lebih berani dari yang kumaksudkan.

“Lalu apa?” dia balik menanyaiku.

“Kau tidak ingin marah atau mengatakan sesuatu?”

“Aku tidak tahu.” Itu jawaban Changmin yang paling menggantung. Dari seluruh percakapan antaraku dan dia yang tercipta selama ini. Jawaban itu adalah jawaban paling menggantung yang pernah kuterima.

“Katakan saja. Aku baik-baik saja.”

“Apa?” tanyanya.

“Kalau kau ingin menghentikan ini semua.”

“Choi Sooyoung. Bagaimana kau bisa mengatakannya? Astaga, aku bahkan tidak pernah berfikir seperti itu.”

“Jadi?”

“Lupakan saja yang tadi.”

“Kau tidak serius.”

“Sungguh aku serius.”

Aku mencubit perutnya. “Kau bohong.”

“Astaga, bagaimana agar kau percaya?”

“Kenapa kau tidak marah?”

“Bukannya kau bilang kau mau masa depanmu denganku? Jadi kita lupakan saja yang ada di masa lalu.”

“Bijak sekali,” sindirku.

“Sungguh. Kita anggap saja itu impas. Aku menyakiti Kyuhyun dan dia menyakitiku. Bagaimana?”

“Ini semua karena aku.”

“Jangan mulai lagi. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

Changmin berdiri dari tempatnya. “Lagipula aku juga yang mencintaimu.”

“Tumben sekali kau mengatakan kau mencintaiku,” godaku.

Changmin memalingkan wajahnya. “Jangan mulai mempermalukanku.”

Aku memeluknya dalam pelukan yang super-super hangat dan nyaman. Aku tidak ingin melepaskannya walau hanya untuk sebentar saja.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu.”

Aku yakin semuanya akan baik-baik saja sekarang. Dan benar kata Changmin. Semuanya sudah impas. Aku membayar sakit hati Kyuhyun.

***

“Jadi kau mau kita ke apartemenmu atau apartemenku?” tanya Changmin saat kami berada di mobil.

“Kau harus mengantarku pulang dulu.”

“Jadi kita menginap di apartemenmu?” tanyanya.

“Menginap?” aku mencoba memperjelas. Changmin tertawa.

“Hanya mempersiapkan masa depan. Siapa tahu kau mau.”

“CHANGMINN DEMI TUHAN!”

Changmin tertawa tergelak.

“Tidak ada yang menginap malam ini!” teriakku.

“Tidak bisa begitu. Kau harus membayar perselingkuhanmu tadi.”

“Kau benar-benar licik.”

“Kau bilang kau mau masa depan?”

“Berhentilah mengucapkannya!” aku melemparinya dengan boneka yang diletakkan di depan mobil.

Changmin masih tidak mau berhenti tertawa.

“CHANGMIN! BERHENTI MENGGODAKU. KAU HARUS MENCUCI OTAKMU SEGERA!”

KKEUT

***

Hah. Finally! Capeksss sekali. Setelah terbengkalai 2 minggu akhirnya selesai juga. Once again, Happy Birthday Changmin! I do do do love you.

Advertisements

22 thoughts on “The Lousy Birthday

  1. Aih aih awal-awal bacanya nyesek sama hubungan antara changsookyu ini haaaahh.. tapi pas baca kebawah-bawahnya apalagi pas baca yg bagian changmin oppa bilang mau mempersiapkan masa depannya sama soo unnie haha bikin ngakak

    • halo makasih ya udah baca udah komen jugaaaa. makasih lo yaaa :””)
      hahaha itu otak porno saya -_- /heh/ nggak ding, habis changmin juga sih suka ngaku kalo dia suka nonton film porno. dasar.

    • CHANGSOO shipper yaaa? ADUH AKU JUGA ADUHHHH </3
      Iya maaf ya kalo kyuhyun jahat di sini soalnya pengen diantagonisin tapi gagal /gelundung/ 😦
      maaf ya kayaknya nggak disequel soalnya aku nggak begitu suka bikin sequel. tapi mungkin akan ada kok fic changkyuyoung lagi. sering-sering aja mampir ke sini. makasih yaaa <3333 laf

  2. Ceritanya seru, feelnya dapet.
    Sequel thor, pengen liat kelanjutan hubungan ChangSoo (?) Hahahahaha
    deabak!!! ~ ^^

  3. omonaaaaaaaaaaaaa baru ada kesempatan baca ini ><
    "Gadis bodoh, lihat make up mu rusak semua.”
    ini lagi sedih2 situasinya masih aja dialognya….. XD
    suka deh pokoknya. gak ngerti mau komen apalagi ._.

  4. ini first time gue baca ff disini. and oh my God I dont know what to say, it is just.. CUTE!
    changmin and sooyoung, the-height-above-average couple haha xD kyuhyun kaya cowo yang maksain kehendak ya hahaha
    waiting for your next fanfictions 😀

  5. Aihh Ya Tuhan! kyuhyunnya…..-_- sumpah , itu parah banget. Baru kali ini nemu ff yg kyu nya licik gitu wkwk. Ikutan nangis nih pas klimaksnyaT.T

  6. aigoo, pesonanya choikang itu memang terlalu kuat sampai bisa bikin choisoo jatuh hati padahal dia udah sama chokyu, hahaha! rasakan cho, rasakan!
    aku sukaaaa banget jalan ceritanya yang sederhana tapi terkesan nyata, hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s