Secuil Romantisme

Cast: Yunho TVXQ, Ahn Hana (aku)
Genre: Romance
Length: about 1500 words

FF ini pernah digunakan untuk lomba yang diselenggarakan oleh UKLI Solo. Kalau kalian pernah baca di blog mereka itu punya saya ya. Entah sedang bejo atau gimana, ff ini menang juara 1 😀 saya senang sekaliiii yihaa! Walau belum dapet sertifikatnya ;; saya ikhlas kok karena saya cuma pengen tahu kemampuan saya nulis seberapa.

Oya, satu hal yang belum saya ungkapin waktu itu. “This story dedicated to Jung Yunho, the one and only U-Know. The man who almost perfect. I couldn’t love you because you are too awesome for me. No matter how much word I’ve said and written, it couldn’t explain how much I love you.”

***

Secuil Romantisme

Yunho, pria yang duduk di sudut ruangan itu, bagiku sangat seksi. Dia selalu datang ke kafe ini setiap akhir pekan yaitu Sabtu dan Minggu. Dia selalu duduk di kursi paling pojok dekat jendela karena dia suka memandangi keluar jendela. Kalau sudah ke sini Yunho bisa duduk berjam-jam dengan ditemani satu teko kecil Cappuccino –bisa untuk 3 sampai 5 gelas- dan sekardus Tiramisu.

Yunho tidak pernah mengganti pesanannya. Yunho juga tidak suka memesan coklat. Yunho selalu membawa notebook dan catatannya. Yunho biasanya datang dengan tubuh yang dibalut jaket dan menggunakan masker –agar tidak dikenali. Tentu saja, siapa yang tidak kenal Yunho. Yunho itu artis terkenal. Aku juga terkejut saat pertama kali bertemu dengannya bahkan aku hampir berteriak. Menurutku, Yunho sangat seksi saat menggunakan kaos V-Neck hitam dan jeans biru serta sneakers super mahalnya. Aku pernah memintanya untuk sering menggunakan pakaian itu dan dengan baik hati dia mengiyakan.

Aku tidak pernah berpura-pura tidak mengenal Yunho tapi aku juga tidak menceritakan pada siapa pun bahwa Yunho selalu mampir di tempatku bekerja. Entah bagaimana selama ini Yunho tidak pernah ketahuan oleh penggemar atau pun media bahwa kafe ini –mungkin- kafe favoritenya. Sesungguhnya aku lebih suka begini. Tidak ada orang-orang yang perlu mengganggu pemandanganku setiap akhir pekan.

Yunho tidak tahu namaku, itu asumsiku. Dia tidak pernah memanggil namaku padahal tag name di dadaku jelas menunjukkan siapa aku. Lucu, Yunho tidak pernah berfikir mesum terhadap wanita membuatku memberinya nilai +1000. Yunho hanya perlu memandangi meja kasir untuk mencariku lalu saat aku menatapnya dia hanya perlu tersenyum. Senyum favoriteku! Bibir pink nya akan tertarik melengkung sempurna, matanya akan berbinar-binar. Oh bagaimana bisa ada pria setampan dia.

Suatu hari aku pernah tidak masuk karena sakit. Jung Hee, rekanku di kafe melapor bahwa pria yang selalu datang tiap akhir pekan itu –Yunho- langsung membawa pulang Cappuccino dan Tiramisu-nya. Kemudian menitipkan salam untukku. Aku jadi penasaran apa Yunho merindukanku? Atau dia suka memandangiku? Ah, itu kan hanya harapanku saja. Aku ini siapa dan Yunho itu siapa harusnya aku tau diri.

***

Aku hanya bekerja di kafe setiap akhir minggu. Setiap Senin sampai Kamis aku bekerja di perpustakaan kota. Dan aku hidup sendirian di Seoul. Keluargaku pindah ke Jepang beberapa tahun yang lalu. Aku memilih menetap di sini karena aku suka Seoul. Tidak ada alasan lain, aku hanya lebih suka Seoul ketimbang Kyoto. Aku suka teman-temanku di sini. Aku masih berhubungan baik dengan keluargaku. Mereka kadang mengunjungiku, kadang aku yang mengunjungi mereka. Jarak tidak membuat kami memutuskan hubungan. Keluarga tetaplah keluarga sejauh apa pun kalian berpisah.

Setiap awal minggu aku selalu menanti akhir pekan untuk segera tiba kembali. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat Yunho. Maksudku bukan Yunho yang di TV tapi Yunho dengan cangkir kopinya. Yunho yang memakai kacamata saat membaca sambil meminum kopi dari cangkirnya – yang menurutku sangat seksi. Yunho yang sangat-sangat kurindukan.

Aku tidak pernah berani memanggil namanya, lidahku rasanya terlalu kelu. Aku selalu memanggilnya dengan Tuan. Dari raut wajahnya, dia tidak suka dengan panggilan itu tapi aku lebih nyaman. Memanggilnya dengan Yunho akan membuat keadaan seperti aku memang mengenalnya. Well, rasanya aku harus menggaris bawahi pernyataan bahwa Yunho pelanggan di kafe tempatku bekerja dan kebetulan saja dia selalu datang di waktu aku bekerja.

Aku pernah jatuh cinta saat aku masih tujuh belas tahun. Bukan dua puluh lima. Rasanya sekarang aku begitu pemilih. Sementara teman-temanku mulai bertunangan dan ada beberapa yang menikah, aku masih belum memiliki tambatan hati. Satu-satu nya pria yang paling dekat denganku adalah Yunho. Yah itu pun karena frekuensi bertemuku dengannya adalah yang paling sering. Bukan sering, lebih seperti rutin. Dalam konteks ini aku mengabaikan yang tidak seusia denganku.

***

Hari ini aku pulang paling terakhir. Sabtu malam. Sabtu keempat Yunho tidak mampir ke kafe. Rasanya seperti yang kemarin-kemarin itu hanyalah mimpi. Aku tidak suka keadaan ini. Aku malas ke kafe, aku malas bekerja, aku tidak berdandan saat bekerja, tidak pula bersikap riang. Yang ada di otakku hanya, “Kemana Yunho? Kenapa dia tidak datang? Dia tidak merindukanku? Atau dia lupa? Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja? Apa sesuatu terjadi padanya? Atau dia sudah memiliki kekasih jadi akhir pekannya digunakan untuk berkencan?” Semua pertanyaan itu pada akhirnya membuat diriku sakit sendiri. Membuatku berakhir kecewa.

Aku mengunci pintu terakhir dan melihat jam di tanganku. 23.20 KST. Sudah hampir tengah malam. Aku pasti sudah ketinggalan bus terakhir. Bisa-bisa aku berjalan sampai rumah. Walau malam hari, Seoul tidak pernah sepi. Lampu-lampu masih terang dan jalanan masih tetap ramai. Ke mana saja orang-orang ini akan pergi. Kuputuskan untuk menunggu di halte siapa tau masih ada bus terakhir yang lewat. Sedikit berharap Dewi Fortuna berpihak padaku hari ini.

“Nona! Nona!” teriak seseorang. Sepertinya dia memanggilku. Aku menolehkan wajahku. Pria itu berbungkuk, agak terengah-engah. Mungkin dia tadi mengejarku.

“Anda memanggil saya?” tanyaku hati-hati.

“Ya.” Dia berdiri tegak dan mengatur nafasnya. Tubuhnya tinggi dan kekar. Dia menggunakan jaket dan kacamata dan masker berwarna hitam.

“Ada perlu apa?”

“Kau tidak mengenaliku?” tanyanya.

Aku mengerutkan dahi. Memandanginya seksama. Instingku mengatakan dia Yunho tapi aku menolaknya mentah-mentah. Untuk apa Yunho mengejarku seperti ini.

“Mungkin aku sudah gila tapi kau mirip sekali dengan pelanggan di kafe. Cepat katakan apa yang Anda inginkan, Tuan.”

Dia malah terkekeh pelan dan menaikkan kacamatanya. Membuatku tercekat. Aku tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Yunho. Bingo! Aku menang.

“Kau pikir masih ada bus yang lewat, Nona?” tanyanya. Kemudian dia menarik tanganku menuju mobilnya. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar menyentuh pria ini. Jari-jarinya benar-benar pas memenuhi sela jariku.

Aku duduk di kursi depan. Yunho memakaikanku sabuk pengaman. Aku masih diam, tidak percaya. Sementara jantungku seperti ingin melompat-lompat. Hanya ada aku dan Yunho di mobil ini! Yunho, iya Yunho yang sering di TV. Yunho yang diinginkan jutaan gadis, Yunho yang pintar menari, Yunho yang duduk di kafe, Yunho yang kupandangi, Yunho yang kurindukan. Oh Tuhan, rasanya aku seperti ingin pingsan saja.

“Tuan Jung,” aku membuka pembicaraan saat ban mobil mulai berputar.

“Hm?”

“Apa kabar Anda?” Aku tidak tahu harus bertanya apa lagi karena pertanyaan yang  lain rasanya tidak pantas untuk ditanyakan.

Dia hanya tertawa. Aku juga memaksakan sebuah senyum.

“Siapa namamu?” dia balik bertanya padaku. Suaranya terlalu seksi bagiku.

“Hana. Ahn Hana.”

“Nama yang bagus Nona Ahn.”

“Tidak perlu menggunakan Nona, Tuan.”

“Kau juga tidak perlu menggunakan kata tuan. Panggil aku Yunho saja. Oke? Ngomong-ngomong kau lebih cantik tanpa seragam kafemu.”

Skak mat. Darahku mengalir deras ke pipiku. Membuat pipiku semerah tomat. Aku bingung harus membalas bagaimana jadi aku hanya tersenyum.

Dia berbelok di bundaran pertama.

“Anda tahu rumah saya, Tuan?”

“Sudah kubilang jangan gunakan kata tuan lagi, Nona. Kau tidak sedang bekerja.”

“Baiklah. Tapi kau tau di mana rumahku?”

“Ya, aku mengikutimu setiap malam. Sepulang kau bekerja.”

“Untuk apa?” tanyaku bingung dan tak percaya.

“Hanya memastikan kau selamat sampai di rumah. Jadi akhir pekan berikutnya kita bisa bertemu lagi.”

Yunho, apa kau ingin membunuhku. Mungkin wujudku sekarang seperti es yang sedang mencair. Yunho, Yunho, kau membuatku gila.

“Lalu ke mana saja kau selama ini?” tanyaku penasaran.

“Merindukanku?” dia malah balik bertanya.

“Tidak.” Sanggahku.

“Kau berbohong. Terlihat jelas kau merindukanku.”

Aku diam saja. Tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak ingin berbohong lagi.

“Tenang saja. Aku juga merindukanmu,” ucapnya dengan santai. Tidakkah dia tahu bahwa aku hampir-hampir tidak bisa bernafas.

“Yun, bisakah kita kembali seperti semula?”

“Aku tidak mengerti.”

“Kau tidak seharusnya bertingkah begini. Ini membuatku salah paham.”

Yunho membanting stir mobil. Menepikannya. Membuat jantungku hampir saja copot. Yunho memandangiku seksama.

“Dengar, aku memang menyukaimu jadi kau tidak sedang salah paham,” ucapnya tegas. Tiap kata yang diucapkan terdengar terlalu jelas.

“Tidak bisa begitu. Aku tidak pantas untukmu. Bisakah kita kembali ke keadaan awal saja? Harusnya hanya aku yang jatuh cinta. Kau tidak pernah tertarik padaku. Seharusnya begitu.”

“Don’t be mellow dramatic, please?” Dia menarik nafas sejenak.

“Aku benar-benar menyukaimu. Jadi tolong jangan menolakku. Kita masih bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa di depan teman-temanmu. Hubungan ini hanya kau dan aku. Bagaimana? Kau sudah bilang kau juga menyukaiku. Jangan katakan kau tidak pantas untukku. Itu membuatku jijik dengan diriku sendiri. Kumohon,” Yunho memandangiku dengan mata yang penuh pengharapan.

Aku menyentuh pipinya. Tulang-tulangnya begitu sempurna di tempatnya. Wajahnya benar-benar lebih tampan dari yang selama ini kulihat. Aku mencintaimu, Yunho. Aku benar-benar mencintaimu. Bukan karena semua hal yang kau milikki tapi karena nyatanya aku hanya menginginkanmu. Aku benar-benar mencintaimu.

Yunho memenjarakan mataku sehingga tidak bisa memandang yang lain. Dan untuk pertama kalinya, aku dapat merasakan rasa bibirnya di bibirku. Kemudian dia tersenyum.

“Aku mencintaimu,” ucapnya.

“Aku lebih mencintaimu.”

“Untuk yang itu aku percaya.”

Aku tertawa pelan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar jatuh cinta. Mungkin aku tidak akan merasa sendirian lagi. Ah, menjadi kekasih rahasia Jung Yunho sepertinya tantangan yang lebih dari sekedar menyenangkan.

Rasanya aku tidak ingin ini berakhir. Malam, angin, bintang, dan Yunho. Semuanya sempurna. Aku mencintaimu, Yunho. Sangat mencintaimu. Aku memandangi karya seni Tuhan –Yunho. Dan dia tersenyum dengan begitu indah. Kali ini, senyumnya benar-benar untukku.

Dan aku tidak sedang bermimpi.

KKEUT

Advertisements

9 thoughts on “Secuil Romantisme

  1. sebenernya mau jadi sillent reader aja *ohok* tapi ini bener2 hard to resist to comment banget. aaaaaaaaaaaaa (?)
    bagus banget dev. ngebayangin kalo Hananya itu aku #cuih tapi beneran gak heran kalo ff ini menang lomba. emang bagus kok 😀 Yunhonya bener2…. ❤

  2. lebih tepatnya nemu hahaha iseng sih :p
    sayangnya aku gak punya wp :v aku kan cuma freelance author di wls /siapa yang nanya
    iya sama samaaaaa~

      • jadi kan aku liat wls, kali aja ada ff baru gitu tapi ternyata gak ada. aku cek comment box eh kamu semua.
        aku buka terus kamu ngereblog dan yaudah aja aku buka wp kamu hahahahah
        ah gak ngerti main wp. sudah lewat masanya (????)
        kalo tiga tahun yg lalu mungkin masih ngerti tapi sekarang otakku makin bebel. dulu padahal mainannya blog terus temanya kode html #SOK
        kenapa jadi curhat ya-_-

      • ruwet amat deh perasaan -_-
        aku udah 3 kali ganti wp /jederrr/ soalnya dulu isinya alay semua hoahahahah.
        aku bisa pake sih html tapi kalo pake warna nggak apal kode nya /shoot/
        nggak papa berarti saya bakat jadi psikolog B)

  3. author-nim! terimakasih telah membuat saya sebagai reader jumpalitan gara2 baca ff ini >_<
    kata2nya membius reader ngebayangin jadi Hana huehe, emang cocok jadi jawara 😀
    ini ff pertama yg bikin aku deg2an setengah sadar(?) tanpa perlu unsur nc2an <—- ketauan yadong

    keep writing ya author-nim~ saya nantikan ff selanjutnya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s