Once In A Life Time

“There comes a point in your life when you realize who really matters, who never did, and who always will.” – Unknown

“Friendship isn’t about whom you have known the longest… It’s about who came, and never left your side” – Unknown

“Because once upon a time, we were best friends. And, yes, there’s been a lot of bad stuff in between. But none of that matters right now, okay? You need me, I’m there. Any time, any place, anywhere” – Dawsons’ Creek

This post actually dedicated to Nadia Rahmawati and Novi Pahlawaning. Happy Birthday Nopik!

Post ini juga pembersihan dari debu yang ada di blog karena sudah berbulan-bulan tidak memposting apa pun. Laziness overload and real life busyness. Tanpa maksud untuk tidak mengabaikan pihak mana pun saya mau bikin post tentang 2 sahabat saya sejak SMP.

***

Banyak orang yang percaya kalau sahabat itu ada. Ada juga kelompok yang tidak percaya. Saya beruntung karena saya mempercayai bahwa sahabat itu ada. Saya tipe orang yang mudah bergaul -menurut orang sih begitu. Menurut saya, saya punya banyak teman. Entah mereka menganggap saya teman atau tidak itu urusan mereka. Mulai dari yang cuma tahu, cuma kenal, kenal, temen sesekolah, temennya temen, sampai temen deket.

Tapi ada satu cerita ketika saya punya sahabat. Sebenernya saya juga nggak terlalu suka untuk bener-bener deket ke seseorang. Saya nggak bisa mempercayai orang 100%. Saya juga tipe orang yang cenderung punya kekhawatiran tentang hal-hal aneh. Singkat cerita, sejak kecil saya nggak punya temen deket. Paling ya temen main. Tapi saat SMP saya ketemu dua orang yang jadi sahabat saya sampai sekarang. Nara dan Nopik.

Kali ini saya nggak cerita tentang gimana saya ketemu dengan Nara dan Nopik karena ceritanya simpel aja sih. Kami punya film dan tim bola favorite yang sama. Sementara Nopik adalah sahabat Nara jadi lama-lama saya deket juga sama Nopik. Kali ini saya akan cerita arti mereka bagi saya, bagaimana kami tetep bisa bersahabat meskipun beda sekolah.

Dimulai dari Nopik…

Nopik itu seperti teman yang udah dewasa. Lebih seperti ibu. Nopik itu alim bangeeeet. Suka ngingetin sholat, ngingetin hal-hal yang dosa, pokoknya nopik itu seperti penjaga kita dari perbuatan dosa /lah. Nopik itu kadang aneh, suka cerita nggak jelas, suka ngomong tapi waktu suruh ngulang bilang “Nggak papa, Dep. Nggak jadi.” kemudian ketawa -_- Nopik itu seperti kakak yang bisa dibanggain. Gimana enggak coba Nopik itu pinter bangettttt dan baik banget. Nopik selalu mau ngajarin aku pelajaran. Di antara kami bertiga Nopik lah yang paling peduli dengan persahabatan kami. Nopik yang suka sms saat kehidupan SMA saya mulai bikin lupa dengan sahabat saya.

Nopik itu seperti ngerti banget apa yang lagi aku rasain. Kadang dia tahu kalau aku lagi nggak mau diganggu jadi dia nggak akan ganggu aku. Kadang juga dia mau nungguin aku buat cerita. Nopik itu penjaga rahasia, nggak ada rahasia ku yang bocor dari dia. Nopik itu seperti bantal yang selalu ada waktu aku nangis. Cerita sama Nopik itu seperti mendapat pencerahan juga sih soalnya dia kan alim.

Walau kadang Nopik itu aneh dan sulit dimengerti, kadang nggak jelas dia ngomongin apa. Kadang suka bikin sebel sama lemotnya tapi bagiku Nopik itu sangat-sangat-sangat berharga buat aku. I love her so damn muchhhhhh.

Tentang Nara…

Nara itu adalah orang yang paling nyebelin sedunia. Kalau orang mau tanya siapa orang yang paling aku benci jawabannya Nara. Nara itu suka asik sama kehidupannya, suka lupa. Nara itu bosenan kadang aku punya pikiran apa dia bosen juga ya temenan sama aku. Nara itu aneh, konyol, memalukan -hampir nggak punya malu sih-, heboh, berisik, kadang alay, kadang upay, kadang lebay juga. Nara itu kalau udah punya pacar suka asik sendiri. Yang ada galauin pacarnya mulu. Yang ada cuma pacarnya mulu.

Tapi Nara kadang lupa betapa aku sayang banget sama dia. Betapa besar aku benci sama dia aku akan selalu kembali ke dia. Walau aku berkali-kali cerita ke Nopik dan Andre kalau aku benci Nara, pada akhirnya aku juga kembali ke Nara. Terlihat seperti penghianat ya? Tapi ya memang begitu keadaannya. Kembali. Seperti Tuhan mengatakan bahwa jalanmu adalah bersamanya. Entah bagaimana saya akan selalu kembali.

Nara itu seperti saudara. Banyak hal yang mirip terjadi di antara kami. Hobi, hal-hal favorite, banyak yang sama. Tapi Nara itu lebih mengarah ke menyendiri. Walau Nara itu tong sampah dari cerita-cerita orang (jadi banyak banget orang yang cerita ke Nara) tapi saya tahu nggak semua orang yang cerita ke dia itu adalah sahabatnya. Mungkin hanya teman dekat sekilas, teman yang lagi deket. Atau hal-hal semacam itu. Setahu saya nggak banyak orang yang bertahan lama deket sama Nara. Nggak tahu kenapa. Hal ini juga berlaku buat saya sih. Cuma Nopik dan saya yang 5 tahunan tetap bersama.

Cerita sama Nara itu seperti berbicara sama diri sendiri. Tidak banyak orang yang bisa memahami jalan pikir saya. Kenapa saya melakukan hal bodoh, kenapa saya menangis untuk hal yang sepele, kenapa saya memperjuangkan hal yang tidak berguna, Nara tahu semua alasan di balik itu. Yang saya paling suka adalah, Nara jarang melarang saya. Nara ingin saya belajar dari pengalaman agar saya percaya dengan yang dia katakan karena saya sudah mengalaminya. Walau begitu, Nara tidak pernah membiarkan saya terluka. Saya juga tahu kalau Nara pasti juga menyayangi saya.

***

Ada banyak hal yang saya alami bersama mereka. Menangis, tertawa, marah, sedih, rindu. Semua saya pernah rasakan. Saya tipe orang yang tidak suka kalau orang lain menyebut sahabat saya sebagai sahabat mereka. Entah kenapa, rasanya seperti membagi seorang pacar. Seperti dipoligami. Itulah kenapa saya tidak sembarangan punya sahabat. Tapi hal itu juga yang membuat saya kadang bertengkar dengan mereka.

Saya, Nara dan Nopik masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, tingkat kepekaan, tingkat sabar, dll yang berbeda-beda. Pada intinya, saya selalu mengabaikan kekurangan mereka dengan memikirkan kelebihan yang mereka miliki, berapa berartinya mereka bagi saya. Saya tidak peduli bagaimana latar belakang mereka, bagaimana penampilan mereka, bagaimana penilaian orang terhadap mereka. Saya adalah sahabat mereka berdua dan saya jelas lebih tahu tentang mereka dibanding orang-orang di luar sana.

Bagi saya, bersahabat dengan mereka tidak membutuhkan alasan. Walau berawal dari sebuah kesamaan hobi, namun itu tak lagi menjadi hal utama setelah menjadi sahabat. Kesamaan hanya sebuah alasan dari alasan-alasan yang lain. Kami, selalu saling membutuhkan. Entah berapa lama kami telah meninggalkan luka di hati yang lain, entah berapa jauh kami telah pergi, kami akan menemukan jalan kembali. Dan hati-hati itu akan selalu terbuka.

Persahabatan itu bagi saya bukan sesuatu yang harus diperdebatkan. Yang saya sauka dari mereka adalah mereka tidak pernah menanyakan persahabatan kami padahal saya sudah melupakan mereka. Mereka membiarkan saya mencari. Kadang justru saya yang mempertanyakan persahabatan kami. Lucu juga ya.

Bersahabat dengan mereka itu tidak butuh rutinitas bertemu, saat kami saling rindu kami akan bertemu. Saat kami saling membutuhkan kami akan saling mencari. Dan pada akhirnya, situasi dan kondisi sering berpihak pada kami. Bersahabat dengan mereka itu tidak perlu mengumbar foto yang terlihat asyik karena saat bersama mereka saya melupakan hal-hal yang seperti itu. Saya terlanjur dengan percakapan kami. Lucu, begitu cepat waktu berjalan saat kami bersama.

Bersama mereka saya bisa menjadi diri saya. Mereka menerima saya apa adanya. Mereka tidak pernah mengharapkan saya menjadi orang lain. Saya bebas menjadi diri saya, bebas mengekspresikan apa yang saya rasakan. Bebas untuk memilih. Bebas untuk melakukan hal konyol dan memalukan tanpa perlu takut ditertawakan. Kami semua aneh, konyol dan menjijikkan tapi bagi kami itu menyenangkan.

Bagi saya, sahabat adalah mereka. Mereka mau mengingatkan saya saat saya melakukan kesalahan. begitulah gunanya sahabat. Menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. Bukannya menutupi kesalahan demi kebersamaan.

Dan yang terakhir, percayalah apabila mereka adalah sahabatmu. Mereka akan terus menjadi sahabatmu. Apabila tidak, itu artinya mereka tidak pernah menjadi sahabatmu.

Akhirnya, saya menyadari bahwa memiliki mereka adalah sebuah karunia yang Tuhan berikan kepada saya. Membiarkan saya merasa disayangi dan dilindungi, membiarkan saya tumbuh bersama orang-orang spesial ini. Betapa murah hati-Nya Tuhan saya {}

Dan satu lagi, ketika suatu saat saya tidak lagi memanggil mereka sebagai sahabat justru di saat itulah saya paling banyak memikirkan tentang mereka.

Semoga kalau ada di antara kami bertiga yang lupa akan satu sama lain, post ini akan mengingatkan kita kembali. Dan juga semoga bagi kalian yang belum menemukan sahabat, segera temukanlah. Tidak ada salahnya memiliki sahabat, sakit hati itu wajar. Dan bagi kalian yang sudah memiliki sahabat, selamat merangkai cerita bersama sahabat! Saya tunggu cerita kalian

 

With love and tears,

Devy.

I LOVE YOU GUYS

Advertisements

4 thoughts on “Once In A Life Time

  1. sahabat itu adalah orang yang akan kaucari ketika dirimu merasa sendirian.

    hai sahabatku, mungkin aku emang bukan orang yang bener-bener bisa bikin kamu seneng dengan hadirnya aku. tapi yang perlu kamu tau, aku sayang sama kamu.

    hai Devy Anwar Zhelsiana, berkat tulisanmu aku nyaris nangis hahahahaha. terharu kampret. sadar kalo aku emang kayak gitu. aku bosenan dan menyebalkan wakakak. tapi nggak ada yg bisa menolak pesona seorang Nara hahahahahaha.

    aku jadi kangen sama kamu. ayo maiiiiiiiiiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s