Combine as One (Chapter 6)

Combine as One

Chapter 6 – Choi Min Ho – Feeling

Minchan hilang selama berhari-hari. Aku tidak bisa memikirkan hal lain kecuali menemukannya. Aku bingung dan merasa bersalah. Menyakiti jiwa yang sudah begitu baiknya padaku? Adakah solusi yang menguntungkan kami berdua?

Aku benci ini. Tapi Minchan adalah tujuanku ketika aku sedang kesepian. Mungkin aku terlalu memanfaatkannya? Entahlah. Tapi dia kan sudah pergi. Aku belum sempat mengucapkan terimakasih padanya atau setidaknya bersikap baik padanya. Hanya itu kan yang bisa kulakukan untuk membalas nyawanya? Namun tak satu pun pernah kulakukan. Bodoh. Aku terlalu bodoh!

***

Aku sedang bermimpi. Ini sih asumsiku. Settingnya lebih mirip kotak putih. Semuanya putih. Kemudian muncul gambar-gambar berwarna hitam. Seperti film. Tabrakan itu… Aku menyaksikannya kembali. Dalam sudut pandangku dan Minchan. Aku menitikkan air mata saat dia berteriak menyelamatkanku. Bodoh. Aku benar-benar bodoh! Gadis itu terlalu baik padaku. Aku berteriak. Bingung. Satu hal yang ada dalam pikiranku, aku harus memanggilnya, kembali. Setidaknya jika dia harus pergi, aku harus bisa berterima kasih kepadanya!

Aku memenuhi ruangan itu dengan meneriakkan namanya. Dan tubuhku tertarik oleh tornado berwarna abu-abu. Dan aku terbangun.

“Minchan,” panggilku saat aku terbangun. Setengah berteriak.

“Nuga?” tanya Krystal.

“Bukan siapa-siapa. Kau masih di sini ya?” tanyaku.

“Tentu. Aku tidak akan meninggalkanmu,” katanya.

“Terimakasih, Krystal,” kataku sambil menggenggam tangannya. Dia tersenyum manis menatapku.

Aku mulai bermain pikiran lagi, hal yang paling kubenci. Aku bakal memikirkan Minchan lagi. Minchan Minchan dan cuman Minchan! Aku mulai mengalihkan pikiran ke hal-hal seperti TV an lagu. Oke ini berhasil tapi tetap tidak membuatku lupa.

“Hai,” sapanya. Membuatku kaget.

“Minchan?”

“Perlu dijawab? Siapa lagi?”

“Ya ampun kamu ke mana aja sih? Aku nyariin kamu tau gak!” aku memarahinya.

“Anggap aja aku tidur. Memangnya kenapa? Ada perkembangan apa aja? Eh kamu pulang kapan sih? Gak ada jadwal? Aku bosen liat kamar ini.” dia mencecarku dengan pertanyaan.

“Babo. Kalau aja kamu lagi di depanku, aku bakal menjitakmu!”

“Kan aku juga perlu tidur. Mengendalikan emosiku.”

“Emangnya kenapa? Marah sama aku?”

Dia cuman diam saja. Topiknya sulit.

“Minchan? Maaf.”

Dia kembali mengunci pikirannnya. Aku mencoba menembusnya tapi tidak bisa. Memaksanya dan tetap saja gagal.

“Berhentilah! Kau menyakitiku!” teriaknya.

“Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kau meminta maaf. Berhentilah!” lanjutnya.

“Oh maaf,” kataku cepat-cepat.

“Sudahlah. Itu bukan hal yang penting,” dia mengalihkan topik.

“Lalu mengapa pergi?”

“Aku memikirkan hal lain yang selalu membuatku pusing.”

Bersamaan dengan itu, gambar tentang seseorang memenuhi pikiran kami. Gadis itu berambut panjang bergelombang dan berwarna coklat. Belum sempat dia berbalik, Minchan mengunci pikirannya lagi.

“Wae?”

“Aku tidak perlu menceritakannya. Tidak apa-apa tidak penting.”

“Aku kan satu-satunya temanmu sekarang.”

“Teman ya? Sejak kapan kita berteman huh?”

“Saat ini? Setidaknya kita bisa saling berbagi kan?”

Dia menimbang-nimbang sejenak. Memainkan perasaan.

“Ayolah,” rayuku.

“Oke deh. Bisa diterima.”

“Aa terimakasih Minchan. Aku mencintaimu.”

Jantungku seakan melompat. Kaget dan syok. Aku memahami kalimat terakhirku. Oh Ya Tuhan aku salah ngomong lagi. Pasti sakit buatnya. Tapi dia sudah terlanjur hilang sebelum aku meminta maaf. Parah. Kapan aku tidak menyakitinya? Kapan kami benar-benar berteman?

“Secepatnya Minho,” dia menjawab pertanyaanku. Membuatku terbengong syok.

***

Pagi ini aku sendirian. Lebih tepatnya memilih sendirian. Aku memang sedang tidak ingin diganggu. Aku kan juga butuh waktu sendirian. Minchan selalu memenuhi pikiranku bahwa sesekali aku perlu sendiri. Katanya, sendiri itu damai, tenang, dan menyenangkan. Maka aku mencobanya. Menikmati kesendirianku.

10 menit, 15 menit, 20 menit, aku mulai bosan.

“Lakukan sesuatu yang lebih berguna!” perintahnya padaku.

“Seperti apa?”

“Basket? Di sini ada lapangan basket? Atau berlari atau apa sajalah. Kau gak bisa memanfaatkan kesendirianmu,” sarannya. Mengomel.

“Oke. Aku ganti baju dulu. Kau tutup mata bisa?”

“Tanpa disuruh ya Choi Minho, memangnya aku apaan. Gini-gini aku gak pernah ngintip kamu mandi tau!”

“Oke-oke. Aku percaya deh.”

“Sejak kapan kau percaya sama aku?”

“Kapan aku ganti bajunya??!!!” aku meneriakkinya.

Dia mendesah sebentar sebelum lenyap. Pikiranku kembali kosong. Dor. Aku mengageti diriku sendiri agar tidak melamun. Menyebalkan rasanya.

Aku mengganti pakaianku secepat mungkin. Umh, basket ya? Sepertinya aku lama gak basket. Ah pasti menyenangkan bisa pamer keahlian.

Aku telah selesai berganti pakaian dan sedang berdiri di lapangan basket. Memegang bola. Hari masih pagi jadi aku bisa berolahraga cukup lama. Aku memainkan bola basket di tanganku memutarnya di atas jari telunjukku. Bola berputar tak lama kemudian hampir jatuh jika aku tak memeganginya.

“Lakukanlah lagi!” perintah Minchan.

Aku menurut. Kembali memainkan bola tersebut di atas telunjukku.

“Sekarang putarlah bolanya. Semakin cepat putarannya semakin bagus.”

“Untuk apa?”

Dia tidak menjawab. Oke aku kembali menurutinya. Bola berputar lebih stabil di atas telunjukku. Aku mengulanginya saat hampir jatuh. Wow ini keren banget. Bola ini bakal terus berputar selama aku mau!

“Mau main?” tegur seseorang. Aku kaget dan menjatuhkan bolanya.

“Memangnya kau mau?” tanyaku.

“Boleh sih. Sama mereka aja ya? ”

“Umh, oke.”

Aku berjalan menuju tengah lapangan. Ada 4 orang menunggu. Aku mendapat tim 1 orang lelaki gemuk dan satunya seseorang yang kurus dan pucat. Oh ini gak adil!

Permainan mulai dimulai dan aku menikmatinya. Ini menyenangkan banget aku lama gak seperti ini. Dan laki-laki ini jago banget. Dia udah memasukkan 3 bola ke ringku padahal aku belum berhasil memasukkan satu bola pun ke ringnya. Ah ya timnya juga kompak sih parah.

“Kau mau menang kan?” tanya Minchan mengagetkanku.

“Tentu saja!”

“Sekarang oper bolanya ke laki-laki gemuk itu!”

Aku menuruti perintahnya.

“Lari ke sudut kanan. Biar mereka yang memainkan.”

Aku kembali menurutinya.

“Tangkap bola dan berikan ke lelaki gemuk itu lagi lewat belakang. Bisa kan?”

“Kayak apa?”

“Biar aku yang mengendalikan. Bisa kan?”

“Caranya? Aku gak ngerti Minchan!”

Tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan aku tidak lagi mengendalikan tubuhku. Minchan mengendalikannya. Wow bagaimana bisa? Apalagi sih ini.

Aku malah menjadi penonton. Lebih mirip seperti itu sih. Minchan bermain sangat baik. Aku memahami jalan pikirannya. Setiap strategi yang dia bangun. Dia bisa main basket ternyata.

“Kau bisa main basket?” tanyaku.

“Jangan membuyarkan konsentrasi! Nanti aja tanyanya!”

Kenapa dia malah sibuk sendiri begini ya ampun ini kan tubuhku. Keegoisanku mulai keluar. Eh ya ampun, sekali-sekali lah dia kan juga pasti pengen bergerak. Aku kembali menekuni pikirannya. Aku mengerti sekarang apa kelemahan dan kelebihan lawan, dan timku juga. Minchan ini keren banget!

“Trims.”

Aku serasa tersedak saat dia mengomentari pikiranku.

Skor berakhir dengan 20-15 timku memenangkan game ini.

“Trims ya, Minho,” katanya. Kemudian kepalaku pusing dan aku kembali mengendalikan tubuhku saat aku membuka mata.

“Ini aneh. Bagaimana bisa?”

“Apanya?”

“Kau… mengendalikan tubuhku? Yang benar saja!”

“Oh rahasia itu.”

“Ah Minchan gak asik deh.”

“Beneran ini rahasia tau. Haha,” katanya sambil tertawa.

“Dulu kau pemain basket…?”

“Emh, aku cuma suka main basket aja. Lagian itu kan game yang bisa aku mainin sama anak-anak cowok. Aku gak punya temen cewek tau!”

“Oh ya? Kupikir kau cewek tulen.”

“Eh aku emang cewe tulen cuma aku gak suka aja main sama anak-anak cewek yang ribet gitu.”

Aku memahami bahwa Minchan ini sangat cuek. Ketera sekali dari nada suaranya.

“Bukannya kau punya Eonni?” tanyaku.

“Terus kenapa?”

“Yakan kau bakal mirip dia gitu. Ya paling enggak mencontoh dia. Atau dia juga kayak kamu gitu?”

“Yah dia mah terlalu tulen mungkin. Aku sama dia tuh beda banget tau! Aku kan lebih berisik. Aku gak nyangka kau bakal banyak bicara gini Minho. Beneran kupikir kau pendiem banget. Lebih mirip patung,” katanya kembali sambil tertawa-tawa.

“Gimana aku bisa diem kalau di kepalaku ada anak yang selalu mencecarku dengan pertanyaan, cerita aneh, dan lain sebagainya!” sindirku.

“Ya deh, maaf ya.”

“Niat gak tuh minta maafnya?”

“Niat dong. Minchan gitu.”

“Eh kok kamu gak pernah cerita soal keluargamu?”

“Aku gak mau mikirin mereka. Lebih mudah kalau aku mencoba ngelupain mereka. Aku kan sudah mati,” jawabnya sedih.

“Oh, maaf, Park Minchan,” aku merasa bersalah.

“No problem.”

“Tapi kau gak bakal mati di hati mereka kok. Aku yakin,” hiburku.

“Terimakasih Choi Minho. Itu berarti banget bagiku.”

“Aku senang berarti buatmu. Setidaknya cuma itu kan yang bisa kulakukan buatmu?”

“Yap.”

Kami kembali menjaga pikiran masing-masing. Aku masih bisa melihat pikiran yang tak dia jaga dengan ketat. Dia memikirkan jawaban terakhirnya. Aku tau apa yang akan dia katakan atau lebih tepatnya apa yang sebenarnya ingin dia katakan.

“Kau kan udah berarti banget buatku. Sejak dulu. Kau cuman terlalu bodoh gak mengerti itu. Selalu saja ya semua laki-laki seperti itu. Gak peka. Oh dan ya, kau kan cuma butuh berbahagia untuk membuatku bahagia. Sorry sih soal Krystal. Aku emang iri sama dia. Tapi bener deh Minho aku rela kamu sama siapa pun selama kamu bahagia. Seandainya aku punya keberanian buat ngomong, aku bakal ngomong kalo aku itu cuma pengen kamu bahagia. That’s what I called Love. Making you happy in your… err second life?”

Aku bergidik. Sedalam itu kah perasaan gadis ini? Aku kembali merasa bingung. Manakah yang harus kulakukan? Membahagiakannya? Dengan cara yang dia inginkan sepertinya bisa dicoba, aku cuma butuh bahagia. Benarkah dia akan bahagia? Kenapa aku tidak yakin? Bukankah wanita selalu ingin cintanya terbalaskan? Rumit. Aku memang tidak pernah mengerti cara berpikir mereka.

Tapi dalam setiap pikirannya tadi, dia benar-benar bersungguh-sungguh. Aku masih menjaga pikiranku sebaik mungkin. Takut dia mencuri dengar. Jadi dia benar-benar rela berkorban? Setelah nyawanya, jantungnya, ginjalnya, kini perasaannya? Tegakah aku merenggut segalanya dari dia? Semua yang seharusnya menjadi miliknya? Aku sudah mengambil 3 yang penting lalu sekarang satu lagi? Dan sepertinya aku tidak memanfaatkannya dengan baik. Pantaskah aku berbahagia di atas sakit hatinya? Atau kalau boleh kubilang, pengorbanannya yang terlalu mustahil dilakukan oleh orang lain.

Aku menghembuskan nafas panjang. Dia juga telah memberikan kebahagiaan untukku. Apalagi yang harus kudapatkan darinya? Entahlah seakan semuanya kurang dan belum cukup saja.

Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan menanyainya soal permainan tadi. Dia menjelaskan banyak hal padaku. Setidaknya ini bisa menjadi pelarian sementara dari pikiran yang menyesakkan seperti tadi.

***

“Selamat pagi Choi Minho,” sapanya padaku.

“Ne, pagi Park Minchan.”

Aku bangun dan menghadapi rutinitas pagiku seperti mandi, sarapan dan sebagainya. Pukul 09.00 Dokter Dongjin tiba di kamarku.

“Pagi Dokter,” sapaku masih setengah mengunyah sushi.

Aku tersedak dan langsung meraih air putih.

“Ah ya ampun Minho kalau makan gak usah nyapa,” kata Dokter Dongjin sambil geleng-geleng kepala. Aku cuma meringis.

“Bagaimana harimu? Udah dua hari aku tidak mengunjungimu. Dia masih sering ke sini ya?” tanya Dokter Dongjin.

“Siapa?”

“Gadis itu. Yang kurus tinggi putih berambut panjang. Dia pacarmu ya?” tanyanya lagi. Menggodaku.

“Krystal? Bukan. Memangnya kenapa?” aku balik bertanya.

“Tidak apa-apa. Sepertinya dia naksir padamu.”

“Ya ampun Dok. Kau kan udah ehek, tua tapi sumpah nih jiwamu muda banget. Masih sempet-sempetnya godain aku.”

Dia mulai serius memeriksaku. AKu agak khawatir dengan mukanya yang tegang, mengendur, kembali tegang dan terus begitu. Apa jantungku aneh? Walau aku merasa biasa saja sih. Kan pemiliknya sering marah saat aku membicarakan Krystal. Upss apakah dia dengar itu? Kuharap tidak. Bisa-bisa aku serangan jantung dadakan.

“Ada yang salah ya?” tanyaku khawatir.

Dokter Dongjin tidak menjawab pertanyaanku. Menulis hasil pemeriksaannya.

“Dok?” ulangku.

“Tidak. Justru kupikir kau perlu berkemas-kemas.”

“Aku boleh pulang?” tanyaku kegirangan.

“Umh, harus banyak istirahat seminggu ke depan tapi kufikir akhir bulan ini kau sudah bisa mejalani jadwalmu. Ah Minho, aku bakal merindukanmu.”

“Dokter jangan gitu ah. Aku bakal sering main ke sini kok. Sesibuk apa pun Shinee nanti Dokter gak akan terlupakan. Kan karena dokter juga aku bisa kembali.”

Aku memeluk Dokter Dongjin yang selama hampir satu tahun ini menjadi teman terbaikku. Menjadi ayahku. Aku menyayanginya untuk alasan yang jelas dimengerti semua orang.

Aku turun dari tempat tidurku. Agak merasa aneh juga karena 3 hari ini aku tidak memakai infuse. Tapi itu justru baik sih.

Aku berjalan menuju almari pakaianku dan mengemasi pakaianku. Aku tidak akan lagi tinggal di sini, batinku. Aku mulai mengemasi seluruh barang yang ada di ruangan. Parfum, segala macam gadget, obat dan lainnya. Dokter Dongjin dengan setia menemani serta membantuku.

“Kau pulang naik apa?” tanya Dokter Dongjin.

“Entahlah. Menelepon Minsuk mungkin. Tapi aku lebih baik memanggil taksi.”

“Kalau ku antar saja bagaimana?” tanya Dokter Dongjin.

“Baiklah. Ke dorm Shinee saja. Aku mau pulang. Aku kangen sekali dengan mereka.”

“Ke mana pun yang kau mau,” katanya sambil keluar. Kepikir dia mengambil kunci mobil.

Aku menggeledek koper besarku keluar kamar. Semuanya sudah bersih. Tak ada yang tersisa. Aku mencangklong tas besar. Aku memandangi berkeliling. Ah ya ampun teddy itu. Hampir saja lupa. Aku mengambilnya dan tertegun sejenak. Memikirkan pemberinya. Kemudian keluar dan menutup pintu rumah sakit itu. Baiklah kuharap aku tak kan dirawat lagi di sini. Aku berjalan menuju pintu keluar.

“Kenapa kau senang?” tanyaku pada Minchan.

“Mwo?”

“Aduh jangan pura-pura gak ngerti gitu Park Min Chan.”

“Sejak kapan kau jadi cerewet Choi Minho?”

“Sejak kau ada di kepalaku. Sepertinya kau mengajariku banyak kosakata sehingga aku selalu punya hal untuk dikatakan.”

“Beneran itu maksa banget!”

“Jawab pertanyaanku tadi bocah tuyul!”

“Yang mana?”

“Kenapa kau senang? Ah sebodo amat ngomong sama orang gila mana ngerti.”

“Ciye manyun. Haha ya gak papa dong kan sekali-kali.”

“Gila.”

“Emang.”

“Menular.”

“Kau kan juga udah tertular. Gak usah munafik! Kekeke.”

Aku membayangkan dia sedang menari di depanku berputar-putar seperti orang gila di sepanjang lorong. Tiba-tiba aku berhenti.

“Kenapa berhenti?” tanyanya.

Aku kembali teringat saat suara-suara memenuhi kepalaku. Saat aku koma, antara hidup atau tidak. Boneka, nyawa, Tuhan. Jantungku berdetak kencang, keringatku mulai menetes padahal hari tidak panas.

“Kau kenapa?” tanya Minchan lagi.

“Minho! Jawab aku? Kau kenapa? Apa yang bisa kulakukan? Minho tolong jangan begini. Ini menyulitkanku!” katanya. Meneriakkiku.

“Jika kau yang menukar nyawa, kau yang berdoa di saat aku koma, kau juga yang memberi boneka ini?” tanyaku.

Dia hanya diam saja. Takut menjawab atau bingung.

“Memang itu merubah keadaan?” tanyanya.

“Tidak kufikir. Tapi itu benar kan?”

“Kufikir kau tau jawabannya,” jawabnya kemudian menghilang.

Jadi kami pernah bertemu. Fans terakhir yang kutemui? Maksutku, saat kecelakan itu kufikir dia fans terakhir yang kutemui. Aku merasa aneh. Perasaanku kacau balau. Mengingatnya menatapku menohok hatiku. Aku masih ingat tatapan berbinar gadis itu, dia kini sudah tiada. Aku merasa kehilangan padahal aku kan bukan siapa-siapanya tapi aku benar-benar tidak rela melihat cahaya itu lenyap dari matanya.

“Jangan menyalahkan diri sendiri. Itu kemauanku. Sudahlah. Itu tidak penting. Ayo cepat turun. Kufikir Dokter Dongjin sudah menunggu kita di bawah,” katanya tiba-tiba.

Aku menuruti apa yang dia inginkan. Untuk pertama kalinya, aku bukannya merasa ingin membalas budi baiknya, tapi aku merasa bahwa aku memang membutuhkannya. Aku berjanji pada diriku sendiri tak akan pernah melenyapkannya walau dalam posisi apa pun. Aku tidak akan egois lagi, tidak kepadanya. Perasaanku berubah seketika. Aku merasa bersyukur bahwa aku dicintai dengan begitu dalamnya. Minchan, membuatku mengerti apa yang dimaksut cinta. Kufikir ini memang rumit, tapi begitulah kenyataannya kau rela mengorbankan apa pun jika telah jatuh cinta. Hanya untuk melihat orang yang kau cintai bahagia.

Park Min Chan telah mengubah pandanganku terhadap hidup keduaku…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s