Combine as One (chapter 5)

Combine as One

Chapter 5 – Choi Min Ho – Terbuang

Aku menikmati suasana ini. Taemin mengajakku menari walau aku tidak boleh kelelahan. Aku renyum di sana sini. Secepat itukah jantung ini bisa diajak berkompromi? Aku heran dengan Dokter Dongjin yang biasanya sangat mengkhawatirkan kondisi jantungku. Aku baru saja tersadar dari obat biusku kan. Umma justru bilang bahwa aku tidak perlu khawatir soal itu, Dokter Dongjin tau mana yang terbaik untukku.

Aku senang para fansku tersenyum. Kebanyakan dari mereka justru menangis waktu aku melihat mereka. Yang terbaik, pesta kembang api khas mereka. Ini indah. Terimakasih Tuhan sudah memberiku jantung baru. Kesempatan hidup kedua.

Deg. Jantungku seakan melompat. Bukan sakit, hanya mengingatkan. Pikiran itu. Gadis yang ada dalam otakku. Terlalu jahatkah aku? Tidak termaafkan? Aku tidak tau.

“Kau kenapa, Oppa?” tanya Krystal padaku.

“Tidak apa-apa. Apa kabar? Lama tidak bertemu,” kataku.

Kami berpelukan.

“Merindukanku ya?” godanya.

“Kau pasti lebih merindukanku,” aku balas menggoda.

“Sangat merindukanmu kalau begitu!” katanya.

“Aku lebih merindukanmu.”

“Aku lebih dari lebih merindukanmu.”

“Aku lebih dari lebih dari lebih merindukanmu.”

Dia hanya tertawa.

“Oya, selamat ulang tahun,” katanya sambil mencium pipiku. Aku salah tingkah.

“Oh, emh, terimakasih,” aku tersenyum tulus. “Kau baik banget,” kataku.

“Masak cuma dengan begitu aku dibilang baik?”

“Bagaimana dengan jahat? Kau tidak mau menjadi baik kan?” candaku.

“Tentu aku mau! Ah yasudah aku baik saja. Kau yang jahat!”

“Aku juga baik!” aku protes.

“Baik dari mana,” katanya dalam pikiranku.

“Diamlah!” bentakku.

Dia kembali menghilang.

YoonA noona memberikanku kado berupa bola basket bergambar wajah chibiku. Lucu juga. Changmin Hyung malah memberiku hadiah sebotol sampanye yang langsung kutolak. Dia malah menghabiskannya bersama Kyuhyun Hyung, Sungmin Hyung dan beberapa lainnya. Kado terindah bagiku adalah aku bisa memeluk keluarga Shineeku yang paling aku rindukan. Onew Hyung, Jjong Hyung, Key Hyung, Taeminnie, dan Shawol. Hidup ini indah.

Pesta sudah usai karena satu jam lagi hari berganti. Aku harus kembali ke ruang rawat. Aku bertemu dengan Krystal di lorong.

“Hai,” sapaku.

“Oh hai,” jawabnya.

“Mau ke mana?” tanyaku.

“Keluar. Mau balik ke kamar ya? Aku antar mau gak?” tawarnya.

“Boleh,” jawabku.

Kami bergandengan sepanjang jalan. Aku senang berada di samping Krystal. Dia gadis yang menarik, baik dan cantik. Aku senang tertawa bersamanya. Dia lucu.

“Nah sudah sampai,” katanya sambil melepaskan tanganku.

“Kau mau pergi?” tanyaku memgang tangannya.

“Eh? Memangnya kenapa?”

“Mau menemaniku gak? Kita kan udah lama gak ketemu,” kataku.

“Sepertinya menarik.”

Aku senang mendengarnya, aku memeluknya.

Kami hanya berbincang-bincang. Dia tinggal cukup lama. Krystal sangat mengerti posisiku. Dia mau menerimaku apa adanya. Mungkinkah aku mencintainya?

“Menurutmu bagaimana?” tanya pikiran itu.

“Kau ngapain sih. Ganggu.”

“Oke. Silahkan bermesraan dengan gadismu yang menyenangkan, lucu dan lain sebagainya.”

“Diam!”

“Aku mencoba diam! Jangan membentakku!”

Aku menggebrak meja di depanku. Mengagetkan Krystal.

“Waeyo, Minho?” tanya Krystal.

“Anio. Tidak apa-apa. Aku hanya agak pusing,” aku berbohong.

“Baiklah mungkin aku terlalu lama di sini. Aku akan memanggil perawat untuk memasang infusmu. Istirahatlah,” katanya.

Aku memeluknya lagi. Lalu mencium keningnya.

“Terimakasih,” kataku.

“Oke tidak apa-apa Minho. Aku senang melakukannya.”

Aku menarik tangannya lagi.

“Krystal,”

“Ne?”

Aku mencium pipinya. Terasa lembut.

“Aku permisi dulu,” katanya sambil berlalu. Pipinya berwarna merah. Akankah dia juga menyukaiku?

Aku memilah-milah kemungkinan kebahagian dan yang melukaiku nantinya. Sepertinya aku bakal bahagia kalau seandainya aku bakal bersama Krystal. Setidaknya selama ini aku bahagia jika selalu bersamanya. Di sampingnya selalu membuatku nyaman.

“Kau bisa kan menjaga pikiranmu itu?” bentak pikiran yang lain.

“Kenapa? Kau tidak suka?” aku mencoba meneriakkan pikiranku. Seakan tamparan.

“Setidaknya kau kan bisa menghormati perempuan!” dia membentak.

“Salah siapa kau ada di sana? Salah siapa kau mau menukar nyawamu?”

Aku menggebrak meja di depanku. Di luar kemauanku. Aku terhenyak. Sepertinya dia kelewat marah. Aku merasakan sakit hati dan terluka memenuhiku. Bukan perasaanku. Perasaannya.

“Seharusnya aku tidak melakukan itu. Bodohnya aku. Maaf. Aku hanya seorang…” katanya, terluka. Dia tidak meneruskannya. Pikiran itu lebih mirip suatu silet yang mengiris kulit. Bukan sakit tapi perih.

Jantungku memompa cepat. Dia tidak menyukaiku sekarang. Apalagi aku sudah menyakiti pemiliknya. Aku merasa bersalah tapi tidak menunjukkannya Aku perlu waktu untuk memahami ini semua.

Seorang perawat masuk dan memasangkan infuse untukku. Aku kembali berbaring. Merasa tidak berdaya kembali. Ruangan berubah menjadi sepi, dia lenyap. Benar-benar tidak ada. Aku memejamkan mata. Tidur adalah hal yang kubutuhkan saat ini.

***

Hari-hariku di rumah sakit membosankan. Minsuk sering pergi. Dia tidak bisa terus-terusan cuti. Sesekali anak Shinee mengunjungiku. Mereka masih sibuk menyiapkan album baru. Aku mungkin harus banyak bekerja keras ketika keluar dari sini. Aku tidak mau menggagalkan harapan mereka.

Aku sering sendirian. Membaca buku dan berjalan-jalan. Aku mati bosan. Dokter Dongjin sering menemaniku, dia sepertinya tau aku butuh ditemani.

“Dokter itu ke mana,” tanyaku pada Dokter Dongjin.

“Oh Rara. Dia keluar dari sini. Pindah sejak beberapa hari yang lalu. Dia kembali mengalami masa sulit. Dia pergi ke luar negeri melanjutkan studinya,” jelas Dokter Dongjin.

“Umh,” kataku kecewa.

“Aku permisi dulu. Maaf ya,” kata Dokter Dongjin sambil memberesi barang-barangnya.

“Tidak apa-apa dokter.”

Aku kembali merasa keseepian. Lebih tepatnya semakin kesepian. Aku mencoba menelefon Taemin tapi HP nya mati. Begitu pula dengan yang lainnya. Mereka sedang sibuk sepertinya.

Tiba-tiba aku merindukannya. Biasanya dia berisik di pikiranku.

“Hai, halo kau di sana?” tanyaku pada pikiran itu.

Tak ada jawaban. Aku merasa hampa.

“Hai, jawablah! Aku sendirian,” ulangku lagi. Masih tak ada jawaban.

“Ah sudahlah tidak ada artinya berbicara denganmu,” kataku lagi. Kesal.

***

Sudah dua minggu aku di sini dan aku justru bakal gila seandainya aku tidak segera dikeluarkan dari sini.

“Woi! Aku membutuhkanmu tau!” aku meneriakkinya.

“Oh ya?” tanyanya datar. Benar-benar tanpa nada.

“Ke mana aja sih?”

Dia diam saja.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Park Min Chan.”

“Umurmu berapa?”

“Tujuh belas. Ada apa? Tumben kau menyanyaiku?”

“Aku hanya ingin tau. Seandainya aku bisa melihat wajahmu.”

“Tutup matamu!” perintahnya.

Aku menurut. Awalnya aneh. Kepalaku agak sedikit pusing. Kemudian aku melihat bayangan seorang gadis di kaca. Seakan itulah bayanganku.

“Kau melihat apa yang aku lihat,” katanya.

Aku perlu memahami perkataannya. Jadi akan seperti memori bagiku? Bisa diterima.

Minchan suka menggunakan kaos. Itu kesimpulan pertama. Rambutnya panjang berwarna hitam jika pada tidak terkena cahaya dan coklat jika terkena cahaya. Cantik. Matanya berwarna kecoklatan. Kulitnya sangat putih seputih Kyuhyun Hyung. Dia memiliki kelopak mata asli yang tidak dimiliki oleh orang Korea asli.

“Darah campuran?”

“Kayak di Harry Potter aja. Gatau hehe. Setauku aku lahir dan besar di sini. Orangtua ku juga cuma di sini. Mereka tidak memberitauku soal keluarga mereka. Sepertinya bukan hal yang baik. Dan aku tidak mau mengetahui hal itu,” jelasnya.

Aku kembali terlarut bersama kenangannya. Mirip film yang tidak jelas mau dibawa ke mana. Tidak ada arah. Aku hanya perlu memahami wajah gadis itu. Tingginya mungkin sedadaku atau lebih tinggi? Entahlah. Dia tidak terlalu dekat dengan para gadis. Katanya kurang menarik. Aku tidak peduli. Film itu berhenti saat ia memutar wajah teman kakaknya, Chan Gi. Dia seperti mual. Menghentikan semua pikirannya mengalihkan pikiran.

“Memikirkan kakakmu?” tanyaku.

“Emm, bisa ditebak ya?” tanyanya.

“Memangnya kakakmu seperti apa? Mungkin aku bisa mencarinya dan mengatakan bahwa kau masih ada dalam kepalaku.”

“Tidak perlu Minho. Biarkan dia mencoba melupakanku.”

“Memang kau tidak merindukannya?”

“Tidak merindukannya? Aku sangat merindukannya tau! Tapi ya sudahlah. Ngapain mikir itu.”

Aku heran kenapa aku tidak melihat wajah kakaknya. Bahkan namanya aku tak tau. Dia mencoba menutupinya sepertinya.

“Kau bisa mengendalikan pikiranmu ya?” tanyaku.

“Ya begitulah. Agar kau gak keganggu lagi.”

“Oh!” aku kaget. “Maaf ya soal beberapa hari yang lalu. Aku membentakmu.”

“Aku sudah memaafkannya sebelum kau minta maaf.”

“Umh, oke. Terimakasih.”

Dia diam saja.

***

Belakangan ini Krystal banyak nongkrong bersamaku. Dia sering menemaniku seharian. Hal itu jelas mengurangi frekuensi berbicaraku dengan Minchan. Krystal tidak suka aku melamun, berfikir atau membiarkanku bermain dengan pikiranku. Sepertinya dia tau, atau mungkin punya firasat untuk hal itu. Hal itu juga menurunkan tingkat kegilaanku.

“Kau idiot!” kata Minchan tiba-tiba.

“APA?”

“Mau ku ulang? Bodoh kau tidak mendengarnya?”

Aku tau dia bosan setengah mati. Dia sedang mencari topik.

“Mau makan apa, Minho?” tanya Krystal.

“Pancakes? Grilled Cheese Sandwich? Terserahlah.”

“Sejak kapan kau suka makanan seperti itu?” tanya Krystal heran.

“Sejak aku menginginkannya!” teriak Minchan di kepalaku.

“Diamlah. Kau menyulitkanku,” perintahku pada Minchan.

“Ya sepertinya enak sih,” aku mencari alasan.

“Umh, oke. Aku akan tanya Dokter dulu apa kau boleh makan itu,” kata Krystal.

“Oke. Terimakasih Krystal. Kau yang terbaik.”

“Huh! Kenapa kau selalu menganggapnya manis?” tanya Minchan sewot.

“Kenapa sih. Kau gak suka sama dia ya? Bagaimana kalau sama YoonA noona? Kau mau aku sama siapa? Kau? Kau kan gak ada,” cibirku.

Dia sepertinya tersinggung.

“Aku tidak pernah memaksamu untuk mencintaiku kok. Silahkan saja lakukan apa yang kau sukai. Aku tau aku sudah tak ada,” katanya sebelum pergi. Dia kembali hilang.

“Minchan!” aku mencoba memanggilnya.

Dia tidak menjawab. Keheningan kembali melingkupiku. Aku merasa bersalah.

“Hai, lama menunggunya ya?” tanya Krystal sambil membuka pintu. Dia membawa dua piring berisi pancake strawberry.

“Tidak kok.”

Aku memakan pancake ku bersamanya.

“Krystal,” kataku begitu kami selesai makan.

“Ya?”

Aku mendekatkan tubuhku kepadanya. Dia tidak menjauh. Aku menahan tangannya. Aku menatap matanya lurus-lurus, mungkin membuatnya terpaku. Perutku justru mulas, jantungku mulai sakit. Wajahku semakin dekat dengan wajahnya, dan semakin dekat, dan aku menciumnya. Dia membalas ciumanku. Lembut, sederhana. Prosesnya hanya sebentar karena jantungku tidak menyukainya sehingga aku menarik diriku menjauhinya. Membuatnya kaget.

“Aku keluar dulu ya, kau tidak apa-apa kan?”

“Tidak-tidak. Pergilah. Aku baik-baik saja.”

“Istirahatlah.”

Aku berbaring di tempat tidurku. Memaksanya bicara padaku.

“Katakan aku kenapa?!” teriakku padanya.

Tak ada hal lain. Aku merasa bodoh. Selama ini aku membayangkan seorang berbicara denganku padahal itu hanya aku sendiri? Imposibble ya ampun ini keterlaluan.

“Aku benar-benar ada!” teriaknya. Marah saat aku memikirkan bahwa dia hanya hayalanku.

“Bagaimana mungkin kau nyata?”

“Aku tidak tau. Suatu saat kau akan tau.”

“Kenapa jantungku seperti tadi?”

“Reaksiku berlebihan. Maaf. Aku tidak bisa menahan diri,” jelasnya.

Aku tau perasaannya. Seakan aku yang mengalaminya. Bingung karena harus bagaimana. Aku tidak ingin menyakitinya tapi aku juga tak ingin mengabaikan perasaanku.

“Aku tidak apa-apa. Berbahagialah,” katanya. Kemudian dia menghilang.

Kata terakhirnya menusukku hingga ke dalam. Benarkah aku dibolehkan berbahagia? Dengan menyakitinya? Sebagian hatiku menolak keegoisanku tapi separuhnya justru memaksaku untuk memenuhi hakku. Mana yang harus kupilih? Aku mencoba memahami apa yang aku inginkan namun tak sanggup memutuskan. Aku menjaga baik-baik pikiranku, takut tiba-tiba Minchan mendengarnya tanpa sengaja.

Entah sampai mana aku berkelana aku tidak tau. Memilah mana yang baik mana yang buruk. Kemungkinan bahwa dia akan mengambil jantungnya kembali membuatku bergidik. Sesulit inikah jika satu tubuh dihidupi dua jiwa? Aku pusing memikirkannya. Benarkah dia nyata? Haruskah aku menomor satukan perasaannya? Atau justru aku sudah kelewat egois untuk hal ini? Aku memejamkan mataku. Tidur adalah hal terbaik, begitulah kata gadis ini, Minchan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s