Combine as One (Chapter 3)

Combine as One

Chapter 3 – Park Min Chan

Namaku Park Min Chan. Usiaku 17 tahun dan aku bersekolah di SMA Jung Yang, salah satu SMA terkenal di Seoul. Umma ku meninggal saat aku masih SD, 2 tahun kemudian Appa meninggalkan aku dan kakakku untuk bekerja di Kapal Pesiar. Dulunya Umma lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Beliau bekerja sebagai staff perusahaan ponsel di Korea. Sedangkan Appa bekerja sebagai pelayan restoran.

Kematian Umma berdampak besar bagi keadaan ekonomi keluarga kami. Aku sangat menyayangi keluargaku. Tapi aku berusaha untuk menerima kematian Umma yang mendadak itu dengan lapang hati.

Aku satu-satunya yang paling tegar ketika Umma meninggalkan kami. Appa sangat menyayangi Umma dan sangat-sangat memujanya, suatu cinta yang mungkin akan jarang kau temui. Bahkan setelah sekian tahun lamanya Appa masih menyimpan perasaan itu, hanya untuk Umma. Unnie ku, Hyun Ra, dia bukan orang yang cukup tegar untuk menghadapi kematian. Dia mengalami masa sulit sebagai remaja karena cintanya yang selalu saja kandas. Aku ckup prihatin tentang hal itu. Maka, jika kedua orang yang kau sayangi berpegang padamu, siapa yang harus kau pegang untuk membuatmu tidak terjatuh? Tidak ada kecuali Tuhan.

Aku tidak cukup dekat dengan teman-teman wanita. Bukan karena aku kuper atau bagaimana, aku hanya tidak menyukai dunia mereka. Aku seorang yang realistis walau dalam beberapa hal aku pemimpi yang sangat hebat. Seperti, aku mencintai Choi Minho. Rapper Shinee. Perasaanku benar-benar tak tergambarkan. Aku tidak pernah cemburu soal kedekatannya dengan gadis lain, toh dia juga bukan punyaku. Tapi aku selalu berharap suatu saat aku bisa mengatakan cintaku padanya, walau ¾ pikiranku mengatakan tak akan terbalas. Aku tidak peduli soal hal-hal semacam itu.

***

Rumahku masih berbentuk setengah Hanbok, dengan halaman besar di tengahnya. Yang berbeda adalah isi rumahku. Benar-benar modern. Kebanyakan lantainya dari kayu walau dalam beberapa ruangan adalah keramik atau tegel. Temboknya kebanyakan sudah berupa bata. Kamar mandinya menempel dengan tanah, jadi selalu ada undak-undakan rendah untuk menuju ke dalamnya.

Satu hal yang menjadi favoritku dari rumah ini adalah kamarku. Aku menyukai kamarku. Itu wajar. Tapi kamarku terlalu berharga buatku.

Temboknya berwarna putih gading. Barang-barangnya kebanyakan terbuat dari kayu cokelat tua. Sebuah doube bed menghadap jendela rayban yang dinding disampingnya berupa bambu-bambu yang ditata apik. Aku yang merengek kepada Appa tahun lalu karena melihat desain seperti ini di sebuah tabloid.

Kaca rayban merupakan kaca yang terlihat putih dari dalam dan hitam dari luar. Jadi kau tetap bisa menikmati pemandangan dan tetap mendapatkan privasi. Berpuluh-puluh atau mungkin beratus-ratus foto Minho tertempel di Styrofoam yang ada di dinding. Di samping lemari pakaianku, terdapat meja belajar. Kebanyakan sih memang buku-buku pelajaran dan gadget favoritku. Tapi pada bagian atasnya terdapat DVD plus tape yang biasa aku gunakan untuk mendengarkan lagu-lagu favoritku. Aku mempunyai hampir semua album Shinee. Berpuluh-puluh poster dan ratusan foto dalam laptopku. Sudah kubilang, aku jatuh cinta dengan Minho tanpa alasan yang jelas.

***

Aku tidak cukup peduli soal sekolah. Sangat berbeda dengan Hyun Ra Unnie. Aku lebih memilih nonton konser ke luar kota dan pulang larut malam ketimbang belajar semalaman untuk ulangan besok. Toh nilaiku juga tak pernah parah-parah amat. Aku punya teman untuk hal-hal seperti itu, namanya Hee Yun Ji. Dia seorang laki-laki dan seumuran denganku. Keluarganya berantakan jadi dia menjadi agak bad boy. Tapi dia lebih baik daripada teman lelakiku yang lain. Maksutku dia bisa dan mau menjagaku untuk urusan pergi jauh-jauh.

Jadi beberapa hari yang lalu aku pergi ke konser Shinee. Dengan Yun Ji tentu saja. Aku tidak akan melewatkan konser ini setelah kevakuman Minho sekian lamanya. Aku juga tidak mengerti kenapa dia harus vakum seperti itu. Jika hanya sakit atau kelelahan, dia kan hanya bakal beristirahat beberapa hari. Tapi sudahlah aku tidak peduli. Yang penting aku akan ketemu Minho! Bagaimanakah wajahnya? Masihkah tetap tampan seperti biasanya? Suaranya yang berat itu… Ya Tuhan, jantungku akan selalu berdetak lebih kencang saat bertemu atau memikirkannya.

Aku sudah mengantri seharian. Dan aku berada di barisan paling depan. Aku meminjam Toyota Prius milik Unnie karena Fortunerku kehabisan bensin. Uang sakuku sudah habis untuk membeli tiket konser ini. Aku cukup pintar untuk membawa sandwich. Makan siang ingat?

Konser berlangsung meriah hampir 2 jam. Minho tidak banyak menari. Aku cukup penasaran soal itu. Aku sangat senang memandang matanya. Indah. Dengan suara Jonghyun sebagai backsound, kau bisa bayangkan seberapa cepatnya jantungku berdetak. Dia seperti malaikat, batinku. Aku kelelahan malam ini, meneriakkan nama-nama mereka, bernyanyi dan berjoget. Tapi aku benar-benar puas karena Minho memandangku dalam waktu yang lama. Bolehkan sesekali aku GR.

Aku sampai rumah saat Hyun Ra sudah tidur. Aku makan Philly Cheese Steak nya dengan lahap. Yang paling aku sukai darinya adalah, Hyun Ra sangat pintar memasak. Bisa diterima.

***

Aku tidak menemukan Hyun Ra pagi ini. Sepertinya dia sudah ada pekerjaan di rumah sakit. Tak ada makanan yang ditinggalkannya maka, aku memilih memakan cereal favoritku. Ruang makanku memiliki TV dan ini bagus karena jika tidak, aku bakal tidak menggunakannya seumur hidup.

Aku jarang berbelanja, jarang berdandan dan jarang melakukan hal-hal yang sering dilakukan perepuan pada umumnya. Kecuali nonton konser tentu saja.

Hyun Ra pulang sekitar pukul 7 malam. Sepertinya dia agak kelelahan.

“Sudah pulang?” tanyaku begitu melihatnya keluar dari mobil.

“Tentu. Maaf tidak sempat membuatkanmu makan. Kau makan apa seharian?”

“Cereal. Dan delivery ayam. Sudahlah biasa saja.”

“Kemarin Appa menelefon.”

“O ya apa katanya? Kapan pulang?”

“Masih tidak bisa dipastikan katanya. Dia menyampaikan salam untukmu.”

“Ummh,” aku cukup kecewa mendengarnya.

“Aku juga merindukannya,” ucap Hyun Ra seakan membaca raut sedihku.

Aku tidak mau percakapan sedih ini berlangsung. Hyun Ra pasti akan menangis dan aku harus kuat di depannya. Padahal aku sendiri justru sangat ingin menangis. Aku dulu sangat dekat dengan Appa, lebih dari Hyun Ra. Kami sering berkebun, memancing, mengecat pagar dan lainnya. Kini semuanya tinggal memori.

Aku menyandarkan diriku di tembok. Kemudian berjalan masuk ke kamarku. Lebih baik aku tidur. Besok kan sekolah.

***

“Min Chan, udah beli tiket?” tanya Chae Yun saat aku tiba di kelas.

“Konser minggu depan ya?” tanyaku.

“Iya. Kau mau lihat? Katanya Minho akan berulang tahun keesokan harinya?” tanyanya lagi.

“Umh, well aku tidak tahu. Aku agak malas menyetir ke daerah itu. Ramai dan sepertinya Hyun Ra tidak akan mengijinkan aku membawa mobil sendiri,” kataku.

“Yah.”

“Maaf.”

“Kau bawa mobilku saja,” sahut seorang temanku. Yeon Shi. Dia gadis paling kaya di kelasku. Atau mungkin di sekolah? Dia selalu berganti-ganti mobil.

“Sudah kubilang daerah itu ramai. Aku tidak diijinkan menyetir sendirian.”

“Aku yang menyetir. Ayolah,” Yeon Shi mulai merengek.

“Oke-oke. Oya nanti aku nitip tiket deh ya?”

Mereka berdua mengangguk setuju.

Untuk hal-hal seperti nonton konser aku selalu menjadi sasaran. Aku bakal selalu ‘bisa’ untuk diajak. Walau kadang melalui hal-hal yang cukup rumit seperti ijin dari Hyun Ra.

***

“Unnie, bolehkan aku nonton konser minggu depan?” tanyaku pada Hyun Ra.

“Pokoknya dilarang menyetir,” katanya.

“Aku bersama Yeon Shi dan Chae Yun,” kataku.

“Sejak kapan kau berteman dengan mereka?”

“Sejak mereka memberiku tumpangan.”

Hyun Ra agak bingung dengan jawabanku tapi aku tak ambil pusing. Intinya aku boleh melihat konser itu.

***

Pagi ini aku sudah bersiap-siap untuk berangkat.

“Min Chan?” sapanya pagi itu. Aku sedang sarapan sambil menonton kartun.

“Kenapa, Un?”

“Kau benar-benar akan nonton konser?”

“Tentu saja.”

“Berhati-hatilah. Aku meyayangimu,” kata Hyun Ra sambil memelukku.

“Oh well, aku juga. Unnie kenapa sih?”

“Tidak apa-apa hanya merasa aneh.”

“Kau mungkin kurang istirahat.”

“Mungkin.”

Usai makan aku berangkat bersama Yeon Shi dan Chae Yun berangkat menggunakan mobilnya. Pada akhirnya akulah yang menyetir karena Yeon Shi mual, perjalanan kami kan cukup panjang.

Konser malam itu tetap seperti biasanya. Meriah, ramai, dan menyenangkan. Kecuali untuk satu hal, Minho. Untuk alasan yang tidak aku mengerti, dia selalu menangis saat mendengar “Minho, kami mencintaimu.”  Toh biasanya dia juga selalu mendengar itu dan hanya tersenyum. Dia berkali-kali meminta maaf jika tidak menjadi idola yang baik. Mengucapkan terima kasihnya karena telah dicintai selama ini dan lain-lain. Pada intinya dia mengatakan hal-hal aneh. Kebanyakan para Shawol menangis saat mendengar hal tersebut tapi entah mengapa aku tidak menangis.

Konser usai sekitar pukul 10 malam. Besok Minho ulang tahun, batinku. Aku sudah menyiapkan kado khusus untuknya. Aku akan menunggu mereka sampai mereka pulang.

“Kau mau menungguku?” tanyaku pada Yeon Shi dan Chae Yun.

“Berapa lama?” tanya Chae Yun.

“Tidak tau.”

“Aku harus pulang,” kata Chae Yun.

“Aku juga,” kata Yeon Shi.

Aku merasa sedih.

“Kupikir kau bisa membawa mobilku. Aku bisa pulang dengan Chae Yun. Yakan, Chae Yun?” ucap Yeon Shi sambil menatap Chae Yun.

“Tentu saja,” ucap Chae Yun.

“Umh, okelah,” aku menyetujui.

Yeon Shi memberikan kunci mobilnya padaku. Aku menunggu di depan gerbang. Perasaanku tak menentu. Aku melihat Minho dan bergegas menghampirinya.

“Minho, aku Shawol,” kataku begitu di depannya.

“Oh ya? Sedang apa kau di sini?” tanyanya.

“Ini untukmu. Dua jam lagi kan kau ultah,” kataku sambil menyerahkan kado.

“Oh terima kasih sekali.” Dia tersenyum sangat manis.

“Mungkin itu tak seberapa. Tapi terimalah,” kataku. Memamerkan senyumku.

Dia menatapku kaget. Seperti syok. Seakan pernah melihatku. Kemudian menatap mataku dan kembali tenang.

“Oh tidak. Aku sangat menghargainya kok,” katanya menenangkan pikiranku.

Aku masih senyam-senyum bahagia tentu saja. Sangat bahagia. Hampir pingsan atau mati berdiri? Malaikat itu berdiri di depanku. Dan dia tersenyum padaku, hanya untukku.

“Aku permisi dulu ya,” dia pamit.

Aku menuju ke mobil Honda Jazz merah milik Yeon Shi. Tak selang berapa lama, sebuah mobil hitam keluar. Aku melihat Minho sendirian menyetir. Walau memang tidak jelas. Tapi aku meyakininya dengan pasti. Aku mengikutinya.

***

Jalanan terlalu ramai, atau justru sepi dan mereka bergerak terlalu cepat? Aku berusaha mengikuti mobil Minho. Bisa dibilang aku ngebut. Entah hal apa yang terjadi semuanya terjadi terlalu cepat, sebuah truk menabrakku dan aku pusing setengah mati. Sedetik yang lalu aku berhasil menyusul mobil Minho. Jika truk itu menabrakku, aku juga yakin mobil Minho juga tertabrak. Aku berusaha sekeras mungkin untuk keluar dari truk. Adrenalinku memompa cepat. Aku tidak peduli seluruh tubuhku kesakitan. Dalam pikiranku hanya satu, Minho.

Beberapa menit kemudian seseorang menarikku keluar. Dengan sisa tenaga yang aku punya, aku berlari, aku melihat kaosku yang tadinya berwarna putih telah terlumur darah. Jika saat aku mengikuti tadi aku masih tidak yakin itu Minho atau bukan, maka untuk kali ini, seluruh tubuhku mengatakan itu Minho. Aku menarik lelaki itu. Minho. Tubuhnya hanya lecet di beberapa bagian, tapi detak jantungnya terlalu cepat. Aku panik seketika.

“Kita harus menyelamatkan wanita itu lebih dulu. Kita hanya punya satu kendaraan,” kata seorang pria. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Kepalaku terlalu pusing dan bau darah di mana-mana.

Beberapa detik kemudian seseorang menarikku.

“Tidak! Selamatkan dia!” teriakku.

Aku tidak mengerti, aku kan masih bisa bangun. Aku jauh lebih sehat bila dibandingkan dengan Minho.  Mungkin darahku lebih banyak keluar, mungkin. Aku menangis. Ketakutan memikirkan detak jantung Minho. Aku memegang dadanya. Tuhan, tolong selamatkan dia. Dengan cara apa pun, Tuhan.

Lelaki itu mungkin menimbang sejenak sebelum menarik Minho dari pelukanku. Aku merasa lega. Pandanganku kemudian berubah gelap dan semuanya lenyap.

***

Aku terbangun dengan melihat cahaya putih menyilaukan mataku. Itu pasti lampu. Aku melihat wajah Hyun Ra menangis di sampingku.

“Dia baik-baik saja,” kupikir seorang Dokter mengatakannya pada Hyun Ra.

Hyun Ra masih menangis sambil memegangi tanganku.

“Unnie aku baik-baik saja,” kataku.

Dia memelukku seketika.

Aku masih merasa tidak tenang. Aku mencarinya. Apakah aku berada di rumah sakit yang berbeda darinya? Kemudian aku mendengar beberapa orang berbicara di luar.

“Jantungnya tidak berfungsi.”

“Jantung buatannya tak akan bertahan lama.”

“Kita butuh donor secepatnya.”

“Jika tidak ada respon sampai besok pagi, kita harus melepas jantung buatan itu.”

“Kumungkinan terburuk.”

Pendengaranku jauh lebih jernih ketimbang penglihatanku. Aku kelewat syok saat mendengar nama Minho berada di antara rentetan kalimat-kalimat kabar buruk itu. Separah itu kah keadaan Minho? Jadi selama ini dia sakit jantung dan berusaha menyembunyikannya? Seakan aku terjatuh ke suatu tempat gelap dari tebing tertinggi. Minho, orang yang aku cintai…

“Unnie akan kembali sebentar lagi,” kata Unnie ku sambil mengecup keningku.

Aku memencet bel pemanggil suster di samping tempat tidurku. Tak lama kemudian seorang suster masuk ke kamarku.

“Ada apa?” tanyanya.

“Bisa mengantarku ke kamar Minho?” tanyaku.

“Kamu kan baru sembuh,” kata suster itu.

“Siapa tau ini terakhir kali aku melihatnya. Aku fansnya,” aku membujuk.

Suster itu mendorong kursi rodaku. Aku sangat sehat. Hanya luka di seluruh tubuh. Aku masuk ke kamar Minho dan pertahananku mungkin akan runtuh seketika jika tidak dipegangi oleh suster dan kenyataan bahwa aku sedang duduk di kursi roda. Aku melihatnya tidak berdaya di ranjang.

“Bisa tinggalkan aku sebentar?” tanyaku.

Suster itu mengangguk setuju.

Aku mendekati Minho. Dia tersenyum. Dia separuh hidup. Minho tidak memiliki jantung. Au tidak menyukai kalimat terakhirku. Menggigit bibir.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan lagi. Aku tidak ingin dia pergi. Bukankah dia begitu berharga bagi fans-fansnya. Hari telah berganti. Aku merasakan mual berlebih. Dia hanya punya waktu beberapa jam dan kemungkinannya terlalu tipis…

Aku membuka jendela di kamarnya. Menghadap ke arah jalan. Aku melihat lautan lilin dinyalakan di bawah. Aku melihat beberapa diantara mereka menangis. Mewakili perasaanku yang terlanjur mati mungkin. Aku merasakan keputus asaan yang mendalam. Mereka meneriakkan nama Minho saat melihat gorden jendela ini disibakkan. Aku sangat mengerti perasaan mereka. Aku satu diantara mereka. Aku tidak bisa memikirkan apa pun kecuali  mukzizat Tuhan.

Aku kembali mendekati Minho.

“Minho, aku mencintaimu. Seandainya aku punya cara untuk menghidupkanmu.”

Aku keluar dan menemui seorang Dokter.

“Jika seseorang meninggal dan orang itu mendonorkan tubuhnya, apakah Minho pasien pertama yang akan mendapatkannya?” tanyaku pada Dokter itu.

“Tentu saja.”

“Tolong bawakan aku surat pendonoran sekarang.”

Dokter itu berlari. Sedikit bingung dengan perkataanku tadi mungkin. Dia tiba dengan stopmap berisi surat-surat. Aku mengisinya secepat mungkin.

“Jangan katakan pada siapa pun,” kataku.

“Kau tidak berniat bunuh diri kan?” tanya Dokter itu khawatir.

“Tidak tentu saja.”

“Karena kupikir lukamu tidak parah. Dan kau akan sembuh total.”

“Tentu-tentu.”

Aku kembali ke tempatku semula. Aku memegang tangan Minho. Dulunya dia seseorang yang hanya ada dalam khayalanku. Kini dia berbaring di depanku. Aku tidak percaya.

“Hai, Minho. Aku Minchan. Kau menyimpan hadiahku tadi ya?” tanyaku begitu melihat boneka beruang ada di atas meja, di sampingnya.

“Seharusnya, kau hari berulang tahun kan Minho? Saengil Chukkae, Oppa,” aku mencium bibirnya. Tanpa ijin. Terserahlah. Mau dia marah yasudah. Aku kan tidak bisa menahan diri. Bibirnya kelewat dingin di bibirku. Seperti orang yang mati. Aku kaget.

Pikiranku berkelana entah ke mana, aku menemukan ide. Seandainya aku bisa menukar nyawaku… Aku berdoa pada Tuhan.

“Tuhan, jika kau ijinkan, bolehkah aku menukar nyawaku dengannya? Aku mencintai laki-laki ini Tuhan. Tuhan, aku yakin jika dia hidup dia akan lebih berarti daripada aku. Aku tidak akan bunuh diri. Aku hanya ingin Kau menukar nyawaku dengannya. Boleh ya Tuhan? Plis, plis. Bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagiMu? Tapi sebelum itu, biarkan aku menyampaikan beberapa hal untuknya…… Minho, aku mencintaimu. Aku memang fansmu tapi kau seseorang yang emh, tidak bisa digambarkan. Seseorang yang bisa menjadi motivasiku selama beberapa tahun ini. Minho, jika Tuhan mengijinkan niatku ini, maukah kau menjaga nyawamu nanti? Cintailah fansmu. Mereka sangat menyayangimu. Mungkin lebih daripada aku semoga kita bertemu suatu saat. Terimakasih Minho ……Tuhan, aku sudah selesai. Tolong kabulkanlah doaku tadi.”

“Aku mencintamu, Hyun Ra, Appa… dan kau, Minho.”

Aku memejamkan mataku. Semuanya berubah terlalu menyilaukan. Putih. Bukankah seharusnya semuanya hitam saat aku menutup mata? Aku tidak tahu. Mungkin Tuhan mengabulkan permintaanku. Aku merasa bahagia. Bukankah tadi aku sedang menggenggam lelaki yang kucintai? Kematian yang indah jika begitu. Hatiku makin bahagia, seakan semakin lama semakin tidak muat saja, kebahagiannya terlalu besar dan hatiku terlalu kecil untuk merasakannya. Wow seperti akan meledak. Aku tidak merasakan apa-apa lagi. Semuanya seperti tinggal cahaya-cahaya dan cahaya. Putih. Kosong. Menyilaukan. Aku sudah mati, sepertinya. Hidup Minho jauh lebih berarti. Kematian ini indah, terimakasih Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s